Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10: Pesan dari Noval dan Ajakan untuk Visha
Setelah tidak masuk kerja selama tiga hari karena sakit, Noval akhirnya kembali. Meski belum terlalu sehat, ia memaksakan diri bekerja karena sejumlah deadline sudah tidak bisa ditunda.
Tapi kemudian, Noval menyadari ada perubahan signifikan dari sikap Azka. Kecurigaan yang selama ini dirasakan dan ia semakin yakin.
Azka biasanya tenang, rapi dan profesional, kini terlihat sangat kontras. Ia kerap menyerahkan tanggung jawab kepada Noval, seperti tidak memiliki gairah untuk bekerja.
Ketika memberikan arahan, Azka sering melakukan kesalahan sehingga dikoreksi oleh divisi terkait. Ia bahkan seakan tak peduli dengan kelalaian itu.
Hingga pada suatu siang, Noval menemui Azka di ruangan. Ia mulai tidak tahan dan menginterogasi Azka tentang apa yang terjadi padanya.
“Pak, sebenarnya ada masalah apa sih?” tanya Noval, duduk menghadap Azka.
Azka pura-pura tidak mengetahui maksud Noval, “Masalah apa?”
Disini Noval minta Azka jujur, berhenti menutupi kebohongannya lagi. Ia mendesak supaya Azka terbuka, menceritakan perihal alasan perubahan sikapnya.
Tapi Azka masih tidak mau, ia enggan memberitahu Noval.
“Ayolah pak, kita sudah kenal hampir dua tahun lho. Saya kalau ada apa-apa, selalu cerita ke pak Azka. Tidak adil kalau bapak merahasiakan masalah seperti ini,” rayu Noval.
Mendengar kalimat itu, Azka mulai memperhatikan. Ia melihat Noval dengan tatapan kosong, tapi raut wajahnya kelihatan sekali jika ia sedang berpikir.
“Saya janji, akan jaga rahasia pak Azka,” sambungnya lagi meyakinkan.
Menyadari bahwa ia juga butuh penyaluran beban masalah, Azka pun akhirnya bersedia menceritakan masalahnya kepada Noval.
“Jadi begini, Val. Kamu ingat kan sebelum saya kecelakaan. Hari dimana saya baru mengenal Sesilia sebagai kepala divisi quality control?” ungkapnya mengawali kisah.
“Saya masih ingat, lalu?” respon Noval.
Azka mulai menceritakan setiap detail yang telah terjadi hingga kondisi perasaannya sekarang.
Ia memberitahu tentang kondisi ingatannya sempat menganggap Sesilia sebagai istrinya. Cerita terus berlanjut sampai ingatannya mulai pulih dan mengakui kalau Sesilia Kaylani adalah sosok yang ia kagumi.
“Pak Azka suka sama Sesilia?” ujar Noval masih sedikit terkejut.
Azka merasa tidak yakin, tapi juga tak membantah.
“Tapi saya sudah berusaha untuk menghindari, saya tidak mau terjerumus lebih dalam,” dalih Azka.
Mulai dari sini, terjadilah obrolan yang sebenarnya masih sama-sama tidak tahu harus berbuat apa.
Namun karena Noval sejak awal menolak keras peluang terjadinya perselingkuhan, ia memberikan saran tegas ke Azka.
“Kalo dari saya, bapak tidak punya alasan lagi untuk bingung. Ingatan pak Azka sudah pulih. Bapak ingat kalau Visha adalah istri pak Azka. Jadi, lupakan Sesilia,” ucapnya dengan nada serius.
“Tapi Val, saya masih sulit menahan rasa ketertarikan pada Sesilia,” jawab Azka.
Noval tidak peduli. Ia tetap pada pendiriannya. “Itu hanya alasan, pak. Kalau memang pak Azka niat, pasti bisa kok,” ujarnya.
“Oke Val. Saya coba ya,” kata Azka.
***
Sore harinya, langit terlihat sangat cerah. Meskipun matahari telah merunduk pelan di langit, membalut perumahan dengan cahaya jingga yang hangat.
Azka bergegas melepas sepatu, nyaris tak peduli jika satu di antaranya terlempar ke sisi lain. Pintu rumah dibuka cepat hampir membentur dinding. Langkahnya panjang dan buru-buru, seperti ada sesuatu yang tak boleh tertunda sedetik pun.
Tas dan barang bawaan ia letakkan begitu saja di kursi dekat pintu, tanpa sempat dirapikan. Nafasnya masih belum teratur ketika ia melangkah menuju dapur, tempat bau santan dan rempah yang menyambut seperti pelukan.
Di sana, Visha berdiri dengan celemek bermotif bunga, tengah memegang sendok kayu dan mengaduk pelan sayur lodeh yang mendidih di atas kompor. Wajahnya tampak tenang, tak menyadari kehadiran Azka telah masuk dari ambang pintu.
Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan mendekat.
“Visha, ayo kamu ganti pakaian,” ujarnya seperti orang panik.
Sempat terpaku, Visha merasa seperti tertangkap di antara kejutan dan keraguan. Tapi dalam benaknya, ada bisikan halus yang membuat ia tak kuasa berkata tidak. Meskipun ragu, ia tetap mengikuti meski belum tahu ke mana ajakan itu akan membawanya.
“Sebentar, aku matikan kompor dulu,” ucapnya.
“Mau kemana sih?” kata Visha lagi.
Sambil menarik tangan istrinya, Azka mengajak lari sore keliling komplek perumahan tempat mereka tinggal.
“Hah? Jogging? Serius kamu?” Visha serasa tak percaya.
Padahal ia sangat mengetahui kalau Azka tidak terlalu suka olahraga lari. Ia merasa heran kenapa Azka mendadak mengajaknya lari sore.
Singkat cerita, mereka sudah berada di teras rumah melakukan pemanasan ringan. Dilanjutkan dengan berjalan pelan, hingga keduanya mulai berlari kecil, beriringan menyusuri jalan setapak yang masih sedikit basah akibat hujan tadi siang.
Azka di sisi kanan, Visha di kiri. Beberapa menit setelahnya, nafas mereka mulai berpacu, tawa kecil tak pernah lolos dari bibir Visha terutama saat Azka menoleh sambil tersenyum. Tak ada perlombaan, hanya kebersamaan terasa ringan dan lepas.
Langkah kaki mereka mungkin cepat, tapi waktu seolah melambat di antara desir angin sore dan suara detak jantung yang mulai beradu.
“Kamu kenapa sih? Kok tumben sekali ajak aku lari seperti ini,” tanya Visha penasaran.
“Aku sedang banyak masalah di kantor. Aku ingin tahu, kata kamu kalau lari begini bisa mengurangi beban, jadi tidak ada salahnya aku coba, ya kan?” jawab Azka yang kini mulai memperlambat kecepatan.
Meski masih antara yakin dan tidak yakin, Visha berusaha untuk mempercayai. Ia kemudian teringat masalah yang sedang Azka hadapi. Namun ketika Visha bertanya, Azka tak menjawabnya dengan jelas.
“Kamu tidak akan mengerti juga kalau aku jelaskan. Intinya sedang banyak masalah, tapi masih aman kok. Aku cuma sedang penat saja,” jelas Azka.
Visha kembali mengiyakan karena tidak ingin menambah masalah Azka jika melontarkan pertanyaan-pertanyaan lain.
Tiga puluh menit kemudian.
“Yeay! Aku menang,” ujar Visha setelah tiba di rumah lebih dulu daripada Azka.
“Ah kamu curang!” respon Azka tidak terima.
Dituduh seperti itu, Visha justru menggoda, “Lho, curang apa? Kalah ya kalah saja, tidak perlu banyak alasan.”
“Haha, iya, iya,” ucap Azka sambil tersengal.
Ia duduk di teras, sedangkan Visha masuk ke dalam rumah mengambil minum untuk Azka.
“Sebentar, aku ambilkan minum,” kata Visha.
Tak lama berselang, Visha datang dari arah dapur membawa segelas air putih dingin dari kulkas. Tanpa banyak bicara, ia menyerahkan kepada Azka dengan keringat membasahi rambut.
Azka menyambut sambil mengangguk pelan. Tangannya gemetar ringan saat menerima gelas. Tanpa menunggu lama, ia langsung meneguk habis dalam satu tarikan panjang. Seakan dahaga bukan hanya karena lelah, tapi juga karena beban tak kasat mata.
Tanpa ia sadari, Visha memperhatikan dalam diam, lalu duduk perlahan di sisi Azka. Ada jeda singkat, sebelum akhirnya ia bersuara pelan, namun terasa dalam.
“Gimana? Sudah lebih baik?” tanya Visha.
“Lumayan,” jawab Azka yang sekarang malah menjatuhkan diri, tidur telentang di teras.
Dalam posisi ini, Azka sedang merasakan tentang nikmat karena telah menyalurkan beban-beban yang sebelumnya menekan dengan berlari.
Selain itu, ia juga merasa lega karena berhasil membuat momen bahagia baru untuk Visha. Hitung-hitung menjadi salah satu upaya melupakan Sesilia.
“Azka! Malah melamun! Ayo masuk, makan, lalu mandi,” ujar Visha membangunkan Azka dari rebahnya.
Seketika saja Azka langsung bangkit berdiri dan masuk ke dalam rumah. “Lapar! Makan time!” teriaknya.
Sedangkan Visha merapikan sepatu yang tadi diletakkan Azka begitu saja di teras.