Terbiasa hidup dijaga oleh pengawal pribadinya yang tampan, membuat Ellena diam-diam menaruh hati pada pria itu. Namanya Marco, dan usianya jauh lebih matang dari Ellena.
Saat tahu pengawalnya sudah dijodohkan, Ellena menyusun rencana licik untuk menjebak Marco agar menikahinya. Akankah Ellena berhasil menjerat Marco dengan tali pernikahan impiannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MSP # Bab 7
Ellena memandang rumah kontrakan milik Marco dengan pasrah. Dia akan memulai hidup dalam keadaan sederhana karena memang itu yang menjadi risiko seorang istri laki-laki sederhana yang bekerja sebagai pengawal pribadi seperti Marco.
Semua kesederhanaan itu sudah ada dalam bayangan Ellena karena beberapa kali dia bertanya pada pengawalnya itu tentang kisah hidupnya. Sekarang dia akan menikmati semua yang ada dalam khayalannya itu dan menjalani hari sbagai istri seorang Marco.
Marco mengajak Elena untuk masuk dan beristirahat di rumah kontrakannya yang tidak memiliki banyak barang. Hanya ada lemari kecil, meja lipat kecil, dan juga kasur ukuran single.
“Untuk sementara, kita tinggal di sini dulu sampai aku menemukan tempat yang lebih baik lagi,” kata Marco sembari meletakkan beberapa barang mereka di kamar yang tidak lebih luas dari kamar Ellena itu.
“Kak Marco, apa kita akan tinggal di sini?” tanya Ellena memastikan. Dia terbiasa hidup mewah dan berkecukupan, jadi sangat aneh baginya tinggal di rumah sepetak yang dijadikan tempat tidur, ruang tamu, dapur, ruang makan, sekaligus ruang keluarga itu. Ada dapur kecil di samping kamar mandi yang menambah kesan sempit tempat tinggal Marco itu.
“Nanti kalau aku sudah dapat tempat yang lebih baik, kita akan pindah. Ini cuma sementara saja, Ellena. Tidak apa-apa, kan?”
“Em, ya tidak apa-apa sih sebenarnya. Tapi kenapa kita nggak tinggal di rumah Papa saja,” kata Ellena.
Dia ingin tahu alasan kenapa Marco tidak mengajaknya pulang ke rumah Tuan Alland. Padahal, di sana temlat Marco bekerja, sekaligus rumah orang tua Ellena sendiri.
“Kamu adalah tanggung jawabku Ellena. Kamu istriku, jadi ayahmu sudah tidak bertanggung jawab lagi untuk memberi kamu tempat tinggal, makanan dan semuanya,” jelas Marco yang kini menyandarkan tubuh di dinding kamar. Dia menatao Ellena yang sejak tadi memperhatikan ruangan di kamar ini yang mungkin membuat istrinya itu tidak nyaman.
“Semuanya?! Apa itu berarti aku sudah tidak bisa kuliah lagi?” tanya Ellena bingung.
“Kenapa tidak? Tentu saja boleh dong. Tapi, sekarang biaya kuliah kamu jadi tanggung jawab aku, Ellena. Jadi, kuliah yang benar dan jangan main-main. Supaya kerja kerasku nanti tidak sia-sia,” jawab Marco.
Sebagai pengawal pribadi Ellena sejak lama, Marco sangat tahu bahwa Ellena tidak pernah serius dalam hal belajar. Dulu malah dia sering menemani Ellena belajar yang berujung dengan tidurnya gadia itu di meja belajar.
“Em, iya deh. Demi Kak Marco yang sudah menikahiku, aku rela belajar dengan sungguh-sungguh,” celetuk Ellena yang kini menggeser tubuh agar bisa mendekati sang suami.
Sayangnya, aksi Ellena itu tidak mendapat sambutan baik oleh Marco. Secara terang-terangan, Marco menjauh saat Ellena bergerak semakin mendekat.
“Ellena, aku akan berusaha menjadi suami yang baik buat kamu. Tapi, aku tidak akan bisa sempurna menjalani peran sebagai suami, karena aku belum siap menyentuhmu lagi setelah malam itu,” kata Marko sambil memegang tangan Ellena.
Laki-laki itu menatap wajah dengan rasa bersalah. Wajar saja jika dia belum siap melakukan kewajibannnya sebagai suami, karena selama ini Ellena hanya dianggap sebagai majikan saja oleh Marco dan tidak lebih.
“Maksud Kak Marco apa ya?” Ellena mulai curiga. Dia memicingkan mata dan mengamati detail ekspresi suaminya itu.
“Maaf, Ellena. Aku belum bisa memenuhi kewajiban untuk memberimu nafkah batin. Aku harap, kamu bisa memberiku waktu sampai aku siap.”
Mendengar itu, Ellena jadi teringat bahwa rahasianya untuk bisa menjerat Marco, lama kelamaan pasti akan terbongkar juga.
***
Kembang kopinya jangan lupa.
sana sama Otor aja... pasti mau dia...