Seroang mafia masuk ke dalam novel poligami yang sangat dia benci, dia terjebak dalam raga seorang wanita lemah yang merupakan korban poligami dari suami materialistis.
Alina masuk saat ke dalam raga Alya saat dia meregang nyawa setelah didorong ke kolam renang oleh Monica yang merupakan istri kedua.
Alina membatu Alya untuk membalaskan dendam, dengan tau alurnya tentu sangat mudah untuk balas dendam namun Alina malah terjebak dalam jerat cinta CEO penikmat wanita yang merupakan partner bisnisnya.
Akankah Alya(Alina) dan Albert akan bersama? yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pura-pura manis
Radit, Monica dan juga Bu Mery menggelengkan kepala dengan perubahan Alya yang sangat drastis hingga mereka tidak tau lagi bagaimana cara untuk menghabisinya.
Alya seakan tau kelemahan mereka, dia juga sangat kuat sungguh-sungguh berbeda dengan Alya yang dulu, Alya yang dulu sangat lemah, tidak pernah sama sekali membantah karena dia cinta mati dengan Radit berbeda dengan Alya sekarang yang tidak ada rasa cinta sama sekali dengan Radit.
Alya dulu selalu mengemis cinta, selalu mengemis untuk disentuh namun sekarang tidak sama sekali, dia begitu masa bodoh dengan Radit, begitu cuek dan tidak ada perhatiannya sama sekali.
Dari kejauhan Radit menatap Alya yang sibuk di meja kerjanya, Alya nampak lebih cantik dari biasanya. Wajahnya begitu tajam, aura kecantikannya begitu menyala, entah mengapa sangat berbeda dengan biasanya tak hanya wajahnya kulitnya juga lebih cerah dan sedikit lebih gelap.
Radit menggelengkan kepala dengan perubahan tubuh Alya yang juga begitu drastis hingga dia sendiri bingung kenapa bisa seperti itu.
"Dia begitu sangat berubah, lebih cantik dan lebih menawan, aku sungguh tertarik dengan dia yang seperti ini," batin Radit.
Setelah selesai mengerjakan pekerjaannya Alya pergi ke kamarnya untuk istirahat namun saat masuk ke dalam ada Radit yang sudah menunggu di dalam.
"Apa yang kamu lakukan di kamarku?" kata Alya dengan dingin.
"Aku menunggumu, aku ingin tidur di sini," jawab Radit.
"Sayangnya aku tidak ingin tidur denganmu," sahut Alya.
Radit tersenyum gemas, dia mengira kalau Alya pura-pura menolak dan dia membuat Radit begitu tertantang.
"Sudahlah sayang, kamu pasti menginginkannya kan?" goda Radit dengan langkah mendekati Alya.
Alya menghindar saat Radit mendekatinya, dia sama sekali tidak ingin Radit menyentuhnya.
"Diam di tempatmu Radit," teriak Alya.
"Lebih baik kamu keluar atau kamu tau sendiri akibatnya," ancam Alya.
Bukannya pergi, Radit malah memegangi tangan Alya sehingga membuat Alya marah sehingga dia langsung melakukan membanting tubuh Radit di lantai.
"Auuuuwwww Alya," pekik Radit.
"Kan aku sudah bilang jangan mendekat ya beginilah kalau kamu tidak mengindahkan kata-kataku," ucap Alya.
"Aku ini kan suami kamu wajar kalau aku ingin bersua dengan kamu," sahut Radit.
Alya tertawa keras mendengar ucapan Radit yang menurutnya sangat lucu.
"Kamu pikir aku nggak tau kalau kamu hanya memanfaatkan aku saja," kata Alya.
"Aku mencintai kamu," pungkas Radit.
Bukannya meleleh dengan bualan Radit, Alya semakin tertawa keras.
"Radit Radit mendengar kamu mengucap kata cinta untukku membuat aku semakin muak saja, aku bukan Alya yang dulu yang suka akan kata cintamu," kata Alya.
"Sudah sana pergi, aku kamu istirahat atau kamu mau aku membanting kamu lagi," sambung Alya.
Dengan menahan sakit, Radit berdiri dia menatap Alya dengan tajam seakan tidak terima dengan perlakuan Alya.
"Cepat pergi, baru dibanting gitu saja udah keok," kata Alya yang semakin membuat Radit kesal.
Dengan langkah terseok, Radit keluar dari kamar Alya dan saat dia akan kembali ke kamarnya, Ibu Mery mendekati Radit yang jalannya terseok-seok.
"Kamu kenapa Radit?" tanya Ibu Mery.
"Radit habis dibanting Alya," jawab Radit.
Ibu Mery membolakan matanya, bagaimana bisa Alya membanting Radit.
"Kok bisa?" tanya Ibu Mery lagi.
"Radit ingin bermalam di kamarnya namun Radit malah dibanting," jawab Radit.
Ibu Mery nempak marah namun dia juga tidak bisa melakukan apa-apa selain memendam amarahnya karena Alya sekarang tidak bisa dilawan.
"Aku sungguh ingin menghabisinya kalau diteruskan begini dia menjadi penghambat kita untuk menguasai harta Brata," kata Radit.
"Betul tapi kita harus hati-hati Radit, kita harus memikirkan dengan matang cara menghabisi si Alya itu," kata Bu Mery.
"Iya, kita harus hati-hati atau kita sendiri yang akan habis di tangannya," sahut Radit.
"Betul, kelihatannya Alya berpura-pura cupu selama ini dan kini dia ingin balas dendam dengan kita," ucap Bu Mery.
Radit mengangguk, mungkin saja apa yang dikatakan Bu Mery benar adanya, bisa saja selama ini Alya pura-pura cupu padahal sebenarnya dia suhu.
Kali ini mereka berkonspirasi untuk membunuh Alya lagi kali ini mereka benar-benar matang mengatur siasat supaya berhasil.
Untuk sementara waktu, mereka menerima perlakuan Alya mereka juga akan bersikap manis supaya Alya tidak curiga.
Pagi sekali Monica dan Bu Mery sudah bersih-bersih membantu asisten rumah tangganya dan ini membuat Alya yang tengah berolah raga menjadi heran.
"Tumben mereka rajin," batin Alya dengan senyuman menyeringai.
Alya cukup tau kalau mereka sedang merencanakan sesuatu untuknya, di dunianya Alya adalah seorang ketua Mafia yang licik, dia yang sangat smart tentu dengan cepat mengetahui gelagat musuhnya.
Alya sangat kuat dan kejam, jika tidak suka dengan seseorang dia langsung menghabisinya terkadang ada juga disiksa olehnya. Dalam novel ini dia jauh lebih sabar dan baik hati daripada aslinya.
"Alya sarapan sayang, ibu sudah membuatkan kamu nasi goreng kesukaan kamu," kata Bu Mery saat Alya selesai berolahraga.
"Iya Alya ini juga susu dan juga telurnya telah siap," sambung Monica.
Alya mengerutkan alisnya dengan senyuman yang tidak enak. Alya yang sedari awal sudah curiga kini semakin kuat kecurigaannya melihat sikap Monica dan Bu Mery.
Sebenarnya dengan sikap mereka yang seperti ini justru membuat Alya semakin curiga.
"Aku tidak ingin makan nasi goreng," kata Alya.
Bu Mery mengepalkan tangannya, dia sungguh kesal sekali dengan Alya, sedari tadi dia memasak untuk membuatkan nasi goreng buat Alya namun Alya malah tidak mau.
"Kamu mau makan apa? biar ibu buatkan lagi," tanya Bu Mery.
"Bubur saja," jawab Alya.
Tanpa bertanya mau bubur apa, Bu Mery pergi ke dapur untuk membuatkan Alya bubur ayam padahal dia ingin bubur kacang hijau.
Alya pergi ke kamarnya untuk bersiap ke kantor, beberapa saat kemudian dia sudah bersiap.
Di ruang makan mereka sudah berkumpul termasuk Radit.
"Alya ini bubur ayamnya," kata ibu Mery.
"Siapa yang mau bubur ayam, aku pengen bubur kacang hijau," sahut Alya.
Bu Mery mengepalkan tangannya, dia sungguh kesal dengan Alya, Monica yang tau mengelus punggung Ibu mertuanya.
"Apa ini buatkan lagi?" tanya Bu Mery.
"Nggak usah sudah siang, aku harus ke kantor," jawab Alya.
Alya sarapan susu, telur dan juga buah.
"Oh ya Radit, udah kamu bersihkan mobilnya?" tanya Alya.
"Sudah," jawab Radit.
Sebenarnya Radit tidak suka Alya langsung memanggil namanya namun bagaimana lagi dia tidak bisa protes.
"Untuk laporannya bagaimana? sudah kamu siapkan?" tanya Alya lagi.
"Sudah Alya," jawab Radit.
"Bagus," sahut Alya.
Alya mengecek berkas yang akan dibawanya namun ada satu yang mungkin ketinggalan di kamar sehingga dia pergi untuk mengambilnya.
Monica, Radit dan Bu Mery melemas. Alya sungguh menyebalkan.
"Semoga dengan kita bersikap manis padanya, dia bisa kembali seperti dulu," kata Radit.
Bossss...
😀😀😀❤❤❤
😁😁