follow igku @zariya_zaya
Bagaimana perasaanmu jika melihat calon suamimu berada di dalam kamar hotel dengan wanita lain dimalam pernikahanmu? Pasti nyesek senyesek-nyeseknya.
Itulah yang terjadi pada Kinan. Wanita malam itu dikhianati oleh calon suaminya sendiri dimalam sebelum acara pernikahan berlangsung. Alih-alih menadapat simpati karena tersakiti, Kinan malah di caci dan di cemooh karena bertubuh gendut dan berwajah pas-pasan.
Banyak hal yang tejadi dan Kinan hampir bunuh diri, tapi seorang pemuda desa menyelamatkannya dan membantu mengatasi maslahnya. Kinan mulai menjalani program pengurusan berat Badan dengan pemuda desa bernama Pram. Ia ingin membuktikan pada mantan yang mengkhianatinya, si Andra, kalau Kinan juga bisa berubah jadi cantik seperti wanita lainnya.
Apakah Kinan berhasil? Simak kisah Kinan dan ikuti terus ceritanya.
Seperti apa kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 7 Kedatangan Andra
Keputusan Kinan menjual rumahnya ditentang oleh Cecyl dan beberapa anggota keluarga Kinan yang lainnya. Entah apa reaksi ibu Kinan bila sampai beliau tahu putrinya telah menjual rumah satu-satunya milik keluarga. Namun, Kinan tak punya pilihan lain, baik dirinya dan kedua orangtua Kinan sudah tak punya simpanan lagi gara-gara uang mereka telah mereka habiskan untuk persiapan pernikahan Kinan yang gagal total.
Meski pernikahannya batal, uang yang sudah terlanjur dibayar, tak bisa dikembalikan. Untuk saat ini, satu-satunya cara agar Kinan bisa mendapatan uang untuk biaya operasi ayahnya adalah dengan menjual rumahnya. Berat memang, tapi inilah hal terbaik dan tercepat yang bisa dilakukan Kinan demi menyelamatkan nyawa ayahnya.
"Maafkan kami, Kinan. Sebagai keluarga, kami tidak bisa banyak membantu. Kau tahu sendiri seperti apa keadaan kami. Kami bisa bertahan juga berkat bantuan ayahmu. Aku cuma bisa berharap, semoga masalah ini cepat selesai dan paman bisa kembali membaik," ujar Cecyl yang akhirnya mau tidak mau menerima keputusan Kinan menjual rumahnya.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku mengerti, aku tak ingin merepotkan kalian. Aku harus pergi, tolong jaga ayah dan ibu baik-baik. Aku akan segera kembali," ujar Kinan dan ia buru-buru masuk ke ruang ibunya berada dan melihat sekilas keadaan ibunya yang hingga detik, ini masih belum sadar juga.
"Maafkan Kinan, Bu. Kinan terpaksa mengambil keputusan ini. Ibu harus kuat ya, Bu. Ibu segalanya bagi Kinan. Bagaimanapun juga, Kinan akan lakukan yang terbaik supaya ayah bisa kembali sehat. Setelah itu, kita bertiga akan hidup bahagia lagi seperti sebelumnya. Sebisa mungkin Kinan akan membahagiakan kalian berdua. Tidak akan ada duka lagi, Kinan pamit Bu. Kinan akan segera kembali," isak Kinan sambil mencium punggung tangan ibunya. Air matanya bercucuran deras kala melihat betapa lemah dan pucatnya wajah ibu tercinta Kinan saat ini. Hal itu semakin membuat hati Kinan serasa teriris belati, tapi ia tak mau terus menangis di sini sementara ayahnya membutuhkan pertolongan secepatnya.
Setelah pamit pada ibunya yang belum terjaga, Kinan bergegas keluar dari rumah sakit menuju rumahnya dengan hati hancur dan perasaan bercampur aduk. Sebenarnya, ia ingin sekali menjerit untuk meluapkan semua amarah yang terpendam. Namun saat ini, Kinan harus fokus pada kesembuhan ayahnya dan mengesampingkan perasaan pribadinya yang kini telah hancur bagai debu. Tak ada lagi yang tersisa selain luka yang begitu dalam, tapi Kinan berusaha tegar dan kuat melanjutkan hidup. Demi kedua orangtua Kinan, ia rela melakukan apa saja termasuk berjuang menjadi pribadi lebih baik lagi setelah ini. Itulah keyakinan yang ia miliki sekarang.
Kinan menghentikan angkot pertama yang lewat di depan rumah sakit. Ia tak peduli pada tatapan aneh semua mata seluruh penghuni angkot. Mungkin mereka mengira Kinan adalah wanita gila karena cuma naik angkot saja, harus pakai baju pengantin segala. Atau bisa jadi, mereka berpikir Kinan kabur di hari pernikahannya sehingga tak sempat ganti baju lagi.
Apapun yang dipikirkan semua orang tentangnya, Kinan sudah tidak peduli. Ia terus memikirkan keadaan ayahnya yang sedang kritis di rumah sakit. Ia juga menghubungi beberapa pengacara dan juga teman yang bisa membantunya menjual cepat rumah Kinan sekarang. Beruntung, ada orang bersedia membeli dan kini Kinan harus menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan agar ia bisa mendapatkan uang secepatnya.
Sesampainya di rumah, Kinan terkejut karena ia melihat ada mobil sedan hitam dan sangat familiar terparkir rapi di depan pagar rumahnya. Sontak Kinan langsung buang muka dan memasang wajah sesinis mungkin ketika melihat siapa pemilik mobil tersebut.
"Mau apa kau datang kemari, ha? Bukankah kau mau pergi ke Eropa? Apa pesawatnya kecelakaan? Sehingga kalian batal pergi?" sentak Kinan langsung. Ia benar-benar tak ingin melihat wajah orang yang bersandar dibadan mobilnya.
Orang yang dibentak Kinan, siapa lagi kalau bukan Andra, mantan calon suaminya yang baru saja pergi meninggalkannya dan telah menghancurkan hidupnya sampai seperti ini. Kinan hanya heran, bisa-bisanya pecundang itu berani menampakkan diri setelah apa yang ia perbuat pada Kinan dan keluarganya. Lebih anehnya lagi, Andra datang kemari sendiri, tanpa ditemani ibunya yang sombong dan pelakornya yang sok kecantikan itu. Benar-benar tidak punya malu.
"Kau bakal pergi denganku kalau kau tak membuka aib ini Kinan. Dan kau sudah jadi istriku sekarang," ujar Andra. Wajahnya benar-benar menjengkelkan. Sudah begitu, masih berlagak sok tak bersalah atas gagalnya pernikahan mereka berdua.
Kinan tersenyum ketir. Ingin sekali ia membunuh pria didepannya ini, tapi tak enak dilihat banyak orang.
"Kau ingin aku diam dan pura-pura tidak tahu hubungan kalian, begitukah yang kau inginkan? Aku bukan bonekamu lagi, Ndra. Jangan berpura-pura didepanku karena aku sudah tahu, kau malu punya pacar gendut dan jelek sepertiku. Beruntung aku mengetahuinya sebelum kita menikah, jika aku mengetahuinya setelah menikah denganmu, aku bakal menyesal seumur hidup. Pergi kau! Aku tak mau melihat wajah bejaatmu lagi!" usir Kinan dengan kasar.
Kinan, hendak membuka pintu pagar rumahnya. Namun Andra tanpa malu mencegah langkah kaki Kinan sehingga tubuh mereka hampir saja bertabrakan.
"Aku tak tahu bagaimana kau bisa tahu itu, Kinan. Tapi ... aku masih ada rasa padamu. Ririlah yang menggodaku, ia terus saja mencari perhatianku ... aku ...."
"Sudahlah Ndra, jangan mengumbar cinta di sana sini. Aku restui kau dengan sahabat terbaikku, Riri. Kalian pasangan serasi, kok. Sekarang pergi dari sini! Cepat pergi!" teriak Kinan marah dan emosi. Namun yang diteriaki malah enggan meninggalkan posisi.
"Ini diluar dugaanku, Kinan. Aku datang kemari bukan untuk bertengkar denganmu. Oke, kalau kau marah padaku, aku terima. Tapi aku terkejut saat mendengar ayah masuk rumah sakit. Aku langsung datang ke rumah sakit begitu tahu ayah kritis. Aku melihatmu keluar dari rumah sakit dan mengikutimu kemari. Sungguh, bukan ini yang aku harapkan," ujar Andra lirih. Entah setan apa yang merasukinya sehingga ia bisa bicara seperti itu pada Kinan.
Dasar manusia tidak punya hati. Si Andra ini enaknya dimutilasii jadi 20 bagian lalu diberikan pada macan. Bisa-bisanya dia mencoba mendekati Kinan lagi dengan menarik simpatinya kembali setelah tega menyakiti dan menghancurkan hati Kinan.
Selama ini, Andra memang dekat dengan ayahnya dan ayah Kinan sendiri menganggap Andra seperti putranya sendiri. 8 tahun bukan waktu sebentar untuk Andra dekat dengan keluarga Kinan. Banyak hal, telah mereka lalui bersama dan yang membuat Andra semakin dekat dengan ayah Kinan adalah keduanya sering menghabiskan waktu bersama untuk memancing.
Kedengarannya harmonis memang, tapi mengingat semua perbuatan Andra yang sudah mengkhianati cinta suci Kinan, Kinan tak bisa memaafkan Andra lagi. Mungkin itulah pemicu ayah Kinan terkena serangan jantung dadakan. Ia tak percaya orang yang dikasihinya dan sudah dianggap seperti putranya sendiri, tega berbuat hal yang harusnya tak pantas ia lakukan dengan berselingkuh. Sepertinya, yang paling terluka di sini adalah Ayah Kinan.
Wajah sok merasa bersalah Andra sudah sangat menjijiikkan dimata Kinan. Sudah terlambat bila pria yang sempat singgah dihati gadis itu merasa bersalah padanya dan juga pada kedua orangtuanya atas pengkhianatan cinta Andra.
"Dia bukan ayahmu, untuk apa kau peduli padanya! Pergi kau dari sini! Aku muak melihatmu! Ah ... dan jangan pernah datang kemari lagi. Aku sudah menganggapmu mati. Pergi!" sentak Kinan mendorong tubuh Andra minggir ke samping karena ia menghalangi jalan Kinan.
"Kinan, aku tahu aku salah. Tapi ayah sangat baik padaku ... mana mungkin aku diam saja sementara dia sedang kritis di rumah sakit. Kalau kau butuh bantuan, aku bisa membantumu ..."
"Apa pedulimu!" teriak Kinan marah menyela kata-kata Andra. Kehadiran pria yang sudah menyakitinya di sini semakin membuka lebar luka Kinan kembali. "Pergilah dari sini, Ndra! Sudah cukup kau melukai hati dan jiwaku. Apa itu masih kurang? Kau datang kemari hanya untuk menertawaiku, kan? Sekarang tertawalah! Lihat aku! Berantakan dan hancur! Kau puas sekarang? Jangan pasang muka sok melasmu didepanku! Aku tak butuh bantuan apapun darimu." Kinan membuka pintu pagar dan tanpa di duga, Andrapun ikutan masuk ke dalam.
BERSAMBUNG
***
ceritanya Keren👏aq suka..
pengajaran: jangan pernah memandang hanya berdasarkan luaran sahaja.. sebenarnya d novel ini tuu banyak pengajaran yg bisa d ambil...
Terima kasih author udah bikin novel yg bagus ini...yg paling bikin seneng itu, HAPPY ENDING 😍💖...
#SUKSES SELALU AUTHOR ✨🌹