NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Sekretaris

Rahasia Sang Sekretaris

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: By.DarkRose

𝐇𝐈𝐀𝐓𝐔𝐒‼️‼️‼️‼️‼️‼️‼️


Di siang hari, Rania adalah sekretaris magang yang paling menyedihkan. Berkacamata bulat, rambut di Cepol asal dan baju yang kedodoran selalu menjadi makanan empuk sang CEO perusahaan yang tampann namun berdarah dingin, perfeksionis dan tak memiliki belas kasihan.

Namun, demi melunasi hutang ibunya yang menumpuk, Rania dengan ikhlas menjalani hidupnya di bawah tekanan bahkan Rania rela melakukan pekerjaan lainnya yang cukup ekstrem di malam hari.

Dengan berubah menjadi sosok gadis bernama "milky" bermata abu-abu yang imut dan kostum gotik yang menggemaskan di sebuah Dark Moon Maid Cafe.

Petaka berawal ketika seorang pelanggan VVIP misterius bermasker hitam datang dan memesan tempat khusus bersamanya.

Begitu pria itu membuka suara, Rania nyaris terkena serangan jantung.
Pria yang meminta pelayanan imut bermantra 'Moe-moe Kyun' tidak lain adalah bosnya sendiri di kantor yang paling dia benci !

Untungnya, Arkan bosnya sama sekali tidak mengenalinya.

bac

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Gaun Pilihan CEO

...Pagi di Bandung terasa begitu segar, namun bagi Rania, suasana di dalam mobil Arkan terasa sangat mencekam....

...Pria itu baru saja mengumumkan bahwa investor yang mereka temui nanti malam ingin mengadakan makan malam yang lebih eksklusif di sebuah restoran atap yang mewah....

...Arkan menoleh ke samping, menatap Rania yang pagi itu mengenakan kemeja krem standar dan kacamata bulat tebalnya....

...Ia menghela napas panjang, lalu memutar kemudi mobil dengan tiba-tiba....

..."Kita tidak akan ke kantor atau hotel sekarang," ucap Arkan dingin....

...Rania yang sedang mencatat jadwal di buku saku langsung mendongak....

..."Maaf, Pak? Ada perubahan rencana?"...

..."Ya. Penampilanmu," Arkan melirik Rania dengan tatapan merendahkan....

..."Gaun yang kamu pakai kemarin malam terlalu sederhana. Dan kacamata itu... benar-benar merusak estetika. Kamu terlihat seperti pengantar koran, bukan sekretaris seorang CEO."...

...Rania merasa pipinya panas karena malu....

..."Ini adalah pakaian terbaik yang saya punya, Pak. Saya rasa sudah cukup formal untuk acara kerja."...

..."Bagi standar orang biasa mungkin iya, tapi tidak untuk standar saya," tegas Arkan....

...Arkan memarkir mobilnya di depan sebuah butik mewah di kawasan pusat kota Bandung....

...Rania hanya bisa terdiam saat mereka masuk ke dalam ruangan yang harum oleh wewangian mahal itu....

...Pelayan toko segera menyapa mereka dengan sangat ramah....

..."Cari gaun yang elegan untuk sekretaris saya. Pastikan warnanya tidak norak," perintah Arkan tanpa menoleh sedikit pun pada Rania....

...Rania merasa seperti boneka yang sedang didandani. Ia dibawa masuk ke ruang ganti oleh para pelayan....

...Mereka mengeluarkan gaun demi gaun, dan setiap kali ia mencoba sesuatu, Arkan selalu menggeleng dari balik tirai....

..."Terlalu banyak payet," kata Arkan....

..."Terlalu terbuka."...

...Setelah mencoba hampir sepuluh gaun, pilihan akhirnya jatuh pada sebuah gaun A-line berwarna emerald green yang bahannya jatuh sangat indah di tubuh Rania....

...Gaun itu tidak memiliki banyak pernak-pernik, namun potongannya sangat mewah....

..."Bagus," komentar Arkan pendek saat Rania keluar dari ruang ganti....

...Namun, Arkan belum puas. Ia menunjuk ke arah wajah Rania....

..."Satu hal lagi. Lepas kacamatamu."...

...Rania tertegun....

..."Tapi Pak, minus saya tinggi sekali. Kalau saya lepas, saya tidak bisa melihat apa-apa dengan jelas."...

...Arkan mengeluarkan kotak kecil dari saku jasnya, sebuah kotak berisi lensa kontak bening....

..."Saya sudah minta staf saya mencari optik terdekat pagi tadi untuk menyiapkan ini sesuai ukuran matamu. Pakai sekarang."...

...Rania merasa jantungnya berdegup kencang karena panik. Ia tidak pernah memakai lensa kontak biasa di depan Arkan karena ia takut pria itu menyadari perbedaan warna mata yang ia gunakan saat menjadi Milky....

...Namun, dengan tatapan Arkan yang begitu tajam, ia tidak punya pilihan. Ia masuk kembali ke ruang ganti dan dengan gemetar memasang lensa kontak itu....

...Saat Rania keluar, ia harus memejamkan mata sejenak karena silau. Saat ia membuka mata, penglihatannya perlahan menjadi tajam. Ia menatap cermin di depan butik....

...Ia terkesiap....

...Tanpa bingkai kacamata tebal yang selama ini menutupi wajahnya, matanya terlihat jauh lebih cerah dan hidup. Riasan tipis yang diberikan pelayan butik tadi membuat fitur wajahnya yang selama ini tersembunyi kini terlihat sangat menawan....

...Rania tampak benar-benar berbeda. Ia terlihat anggun, dewasa, dan sangat cantik....

...Arkan yang sejak tadi berdiri membelakangi Rania, berbalik badan....

...Saat matanya menangkap sosok Rania yang berdiri di depan cermin, Arkan membeku. Napasnya seolah tertahan di tenggorokan....

...Ia sudah tahu bahwa sekretarisnya ini memiliki wajah yang manis jika dirawat, tapi ia tidak menyangka transformasi ini akan memberikan dampak yang begitu kuat baginya....

...Jantung Arkan, yang biasanya berdetak stabil saat menghadapi klien atau negosiasi bisnis, mendadak berdegup kencang tanpa alasan yang jelas....

..."Sudah selesai?" tanya Rania dengan suara ragu, merasa sangat tidak nyaman menjadi pusat perhatian....

...Arkan berdeham keras, berusaha menutupi rasa terkejutnya....

..."Ya... lumayan. Jauh lebih baik daripada tadi pagi."...

...Ia segera berbalik dan berjalan menuju meja kasir untuk membayar gaun itu, seolah ingin menyembunyikan ekspresi wajahnya yang tampak bingung dan terpesona....

...Dalam perjalanan kembali ke hotel, suasana di dalam mobil terasa lebih sunyi dari sebelumnya....

...Rania menatap ke luar jendela, ia merasa sangat aneh. Ia merasa seperti sedang mengenakan topeng lain....

...Jika identitas Milky adalah topengnya untuk bebas, maka gaun ini adalah topengnya untuk bekerja....

...Ia khawatir, dengan wajah yang kini terekspos tanpa kacamata, Arkan akan lebih mudah membandingkan wajahnya dengan sosok Milky....

..."Rania," panggil Arkan tiba-tiba....

..."Ya, Pak?"...

...Arkan menatap jalanan di depannya dengan pandangan serius....

..."Kamu tahu, kalau kamu selalu tampil seperti ini, mungkin aku tidak perlu marah-marah setiap pagi di kantor."...

...Rania tertawa hambar....

..."Saya tidak bisa memakai gaun seperti ini setiap hari ke kantor, Pak. Pekerjaan saya banyak di depan komputer, bukan di acara perjamuan."...

..."Saya hanya bilang, kamu ternyata punya sisi yang tidak pernah kamu tunjukkan," gumam Arkan....

..."Sisi yang... cukup menarik."...

...Kata-kata itu membuat Rania merasa tidak enak....

...Menarik? Apa maksudnya?...

...Sesampainya di hotel, Arkan membiarkan Rania kembali ke kamarnya untuk bersiap....

...Rania segera masuk dan mengunci pintu. Ia menyandarkan tubuhnya di pintu, napasnya terasa berat. Ia memandang bayangannya di cermin lagi....

...Rania yang ia lihat di cermin bukanlah Rania yang biasa ia kenal. Ia melihat seorang wanita yang terlihat percaya diri dan mempesona....

...Jika orang asing melihatnya, mereka pasti akan memujinya. Tapi bagi Rania, wajah ini adalah ancaman....

...Aku harus segera menutupi wajah ini lagi setelah acara nanti malam selesai, pikirnya....

...Sore itu, Rania menghabiskan waktu dengan mencoba menenangkan dirinya sendiri....

...Ia menyadari bahwa Arkan bukan lagi bos yang hanya peduli dengan laporan. Arkan sekarang sudah mulai memperhatikan detail-detail kecil tentang dirinya dari tahi lalatnya sampai penampilannya....

...Ketika waktu makan malam tiba, Rania harus kembali keluar dan menghadapi Arkan. Ia tahu ini akan menjadi malam yang sangat panjang....

...Di restoran atap hotel, pemandangan kota Bandung di malam hari terlihat sangat indah dari ketinggian....

...Lampu-lampu kota gemerlap seperti bintang di bawah mereka....

...Arkan sudah menunggu di meja yang dipesan. Saat Rania datang, Arkan kembali terpaku....

...Tatapannya tertuju pada Rania, tidak lepas sedikit pun....

..."Duduk," ucap Arkan, kali ini dengan nada yang jauh lebih lembut....

...Rania duduk di depannya....

...Mereka mulai memesan makanan, dan selama menunggu, Arkan terus menatapnya. Rania merasa sangat tidak nyaman....

..."Kenapa Bapak menatap saya terus?" tanya Rania akhirnya, setelah tidak tahan dengan keheningan itu....

...Arkan menyesap anggur merahnya perlahan....

..."Karena kamu terlihat berbeda malam ini, Rania. Aku baru sadar, selama ini aku terlalu sibuk memarahimu sampai tidak melihat siapa sebenarnya orang yang bekerja untukku."...

...Rania tersenyum tipis....

..."Mungkin karena Bapak lebih suka melihat dokumen daripada melihat orang di depan Bapak."...

...Arkan tertawa kecil....

..."Mungkin kamu benar."...

...Malam itu berjalan dengan percakapan yang lebih santai....

...Arkan tidak lagi berbicara soal kontrak atau laporan. Ia justru bertanya tentang latar belakang Rania, hobinya, dan kenapa ia memutuskan untuk mengambil magang di perusahaan Arkan....

...Rania harus berhati-hati....

...Setiap jawaban yang ia berikan harus sesuai dengan data palsu yang sudah disiapkan Pak Tedy....

..."Saya hanya gadis biasa, Pak. Tidak banyak yang menarik dari hidup saya," jawab Rania....

..."Orang biasa tidak punya mata yang secerah itu," gumam Arkan pelan, hampir tidak terdengar oleh Rania....

...Rania berpura-pura tidak mendengarnya. Ia memfokuskan diri pada makanannya....

...Namun, dalam hatinya, ia merasa takut. Arkan sedang menyelidiki dirinya secara personal, bukan lewat tim investigasi, melainkan lewat interaksi langsung....

...Ini jauh lebih berbahaya....

...Saat mereka selesai makan malam, Arkan mengajak Rania untuk berjalan sebentar di balkon restoran....

...Angin malam Bandung yang dingin membuat Rania sedikit menggigil, namun gaunnya terasa cukup hangat....

...Arkan berhenti di tepi balkon, menatap ke arah kerlip lampu kota....

..."Rania, apa kamu pernah merasa... kalau ada sesuatu yang disembunyikan orang di sekitarmu?"...

...Rania menegang....

...Apa dia sudah tahu?...

..."Maksud Bapak?" tanya Rania dengan suara yang berusaha senormal mungkin....

...Arkan menoleh ke arahnya, tatapannya kini berubah serius, sangat dalam, dan penuh rasa ingin tahu....

..."Aku merasa ada seseorang yang sedang bermain denganku. Seseorang yang sangat pintar, yang berani bertindak di balik layar, tapi tetap ada di dekatku."...

...Rania menahan napas....

...Ia menatap Arkan, berusaha membaca isi pikiran pria itu....

..."Mungkin itu hanya perasaan Bapak saja. Dunia ini besar, Pak. Mungkin ada hal-hal yang memang tidak harus Bapak ketahui."...

...Arkan tersenyum miring....

..."Atau mungkin, aku hanya perlu lebih jeli untuk melihat kebenaran yang ada di depanku."...

...Arkan melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga bahu mereka hampir bersentuhan....

...Rania merasa terjebak....

...Ini adalah saat yang paling intim yang pernah mereka bagi, dan suasana di balkon ini membuat segalanya terasa lebih nyata....

...Arkan menatap mata Rania lagi mata tanpa kacamata yang sekarang terlihat sangat jelas bagi Arkan....

...Arkan memperhatikan setiap detail wajah Rania dengan sangat saksama, seolah sedang memecahkan teka-teki yang paling sulit....

...Rania ingin mundur, tapi ia tidak bisa....

...Ia merasa kakinya terpaku....

...Arkan adalah bosnya, pria yang ia takuti, tapi malam ini, ia melihat sisi Arkan yang belum pernah ia lihat sebelumnya....

...Sisi yang rentan, sisi yang penasaran, dan sisi yang... entah kenapa, terasa sedikit lebih manusiawi....

..."Rania," panggil Arkan lembut....

..."Ya, Pak?"...

..."Tetaplah seperti ini besok....

...Jangan pakai kacamata itu lagi."...

...Rania tertegun....

...Ia tidak menyangka Arkan akan meminta hal itu....

..."Tapi Pak..."...

..."Ini perintah," potong Arkan singkat....

...Arkan berbalik dan berjalan masuk kembali ke dalam restoran, meninggalkan Rania yang masih berdiri mematung di balkon....

...Rania menyentuh wajahnya sendiri. Ia masih bisa merasakan tatapan Arkan tadi....

...Tatapan yang bukan lagi tatapan bos ke sekretaris, melainkan tatapan seorang pemburu yang mulai menemukan jejak buruannya....

...Rania sadar, malam ini segalanya berubah. Bukan hanya identitasnya yang terancam, tapi juga perasaannya sendiri. Ia merasa bingung, takut, dan di saat yang sama, ada sesuatu yang aneh berdesir di hatinya....

...Ia harus segera mengakhiri semua ini. Ia harus segera kembali menjadi Rania yang culun sebelum Arkan benar-benar menemukan siapa sebenarnya Milky yang ada di balik sosok sekretarisnya ini....

...Tapi untuk malam ini, ia tidak punya pilihan. Ia hanya bisa berdiri di sana, menatap lampu-lampu kota, dan berharap besok pagi akan membawa jawaban atas segala kebingungannya....

...Ia tidak akan membiarkan Arkan menang. Dia adalah Rania, dan dia akan terus berjuang. Tidak peduli gaun apa yang harus ia pakai, atau kebohongan apa yang harus ia katakan....

...Ia akan tetap bertahan....

...Sampai akhir....

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
yang banyak update nya 😉😉😉
Tya
bagusssssss bgttt
Tya
crazy up dong authorrrrrr😭🙏 gbisa bgt cerita sebagus ini ditunda2 buat dibaca😭
Watini Salma
kalau sekarang MLM Minggu berarti besok kantor libur dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!