“I love you.”
Bagi seorang Ceo sekelas Justin Achazia Adley, pekerjaan adalah bagian dari hidupnya. Dan uang adalah segalanya.
Tapi untuk seorang karyawan biasa seperti Serena Ayu Kinanti, hidupnya adalah bagian dari pekerjaan. Dan jika bukan karena uang yang ia pinjam berjumlah banyak pada perusahaan, bekerja adalah hal terakhir yang ingin dia lakukan setiap harinya.
Bagaimana jika keduanya dipertemukan? dan ternyata Justin adalah anak pemilik perusahaan di mana Serena bekerja. Akankah uang menjadi masalah bagi keduanya?
"Sabar-sabar yah ngadepin Pak Justin, dia emang gitu orangnya. Kalo dia marah kamu diem aja, tapi siapin air banyak-banyak, mulutnya pedes level mampus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ade Annisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELUARGA
"Nena! Bangun sudah subuh!" Subuh ini sama seperti subuh-subuh sebelumnya, ibu Nena yang sibuk membuatkan sarapan untuk keluarga tercinta, harus disibukan juga dengan membangunkan anak gadisnya.
"Kamu ini perempuan kok malas sekali, lihat tuh adik kamu saja sudah rapi."
Kebiasaan ibunya yang sama sekali tidak mengganggu kejiwaan Nena adalah membanding-bandingkan dirinya dengan adik laki-lakinya yang masih remaja.
"Ardi! coba kamu bangunkan itu kakak kamu, suruh dia ganti niat solat subuhnya jadi solat dhuha!" kesal sang ibu begitu menyadari sinar surya yang dengan tidak permisi menelusup masuk lewat jendela dapur.
Bagi Ardi perintah ibunya sama seperti titah yang agung. Karena jika dirinya tidak juga melaksanakan titah sang ibu, maka kekesalannya yang sedari tadi ditujukan untuk kakak perempuannya akan berpindah secara otomatis pada dirinya.
"Lo mau gue sambit pake sendal apa disirem pake kuah sayur," tawar adik Nena dengan tidak ramah.
"Kuah sayurnya enak enggak?" tanya Nena sebelum menentukan pilihan, dengan mata masih terpejam.
"Lo mabok AC kayaknya di tempat kerjaan lo ya? Lo mau bangun apa gue tinggal?" Sang adik kembali memberi penawaran yang dua-duanya begitu sulit untuk ditentukan sebagai pilihan oleh Nena. Tawar menawar antara kakak beradik itu memang sering terjadi hampir setiap pagi.
"Emang udah jam berapa sih? Adek aku yang ganteng," tanya Nena dengan nada malas.
"Lo sengaja ngajak gue ngobrol mulu biar bisa merem lebih lama kan? Kali ini gue nggak bakal ketipu!" Tegas Ardi.
"Kamu ini bangunin apa ngajak diskusi sih, Di! Kakak kamu bukannya bangun malah makin nyenyak," teriak sang ibu dari arah dapur yang jaraknya tidak begitu jauh dengan kamar Nena.
"Disiram aja ya, Bu. Mbak Nena nya nggak mau bangun nih!" Ardi mencoba meminta persetujuan.
"IYA SIRAM SAJA!" Sang ibu mengizinkan, dan dengan kecepatan cicak menangkap nyamuk menggunakan lidahnya, Nena turun dari ranjang menyambar handuk dan berlari ke kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur. Dia tahu adiknya itu tidak pernah main-main dengan ancamannya jika sudah mendapat izin dari kanjeng mami mereka.
Nena bertemu ibunya yang masih sibuk dengan penggorengan, dan gadis itu mencium sekilas pipi sang ibu.
"Jangan marah-marah mulu sih, Bu! entar cantiknya pindah ke aku loh," goda Nena, sang ibu berdecak sebal kemudian menggeleng.
"Nanti kalo kamu tinggal sama ibu mertuamu bagaimana? Nanti Ibu yang dituding nggak ngajarin kamu loh!" Tutur Marlina ibu Nena yang usianya belum genap setengah abad, katanya dulu waktu ibu Nena menikah usianya masih belasan tahun, dan hal itu tidak menurun pada putrinya karena sampai usia Nena 26 tahun pun anak gadisnya itu belum juga menikah.
"Kalo gitu Nena nyari calon nya yang ibunya udah almarhum aja!" Jawab Nena asal.
"Kamu yah kalo dibilangin, pantas saja sampe sekarang belum ada yang mau, calon mertua mana yang mau disumpahi mati sama calon mantunya!" Sang ibu naik pitam. Nena segera masuk ke dalam kamar mandi.
Nena tidak pernah keberatan jika harus mendengar ocehan ibunya setiap hari. Bagi Nena omelan sang ibu adalah lagu paling merdu di dunia, dia tidak tahu sampai kapan dirinya akan terus mendengar ocehan serupa jika nanti dia sudah menikah.
Setelah mandi, ganti baju dan menunaikan salat subuh yang nyaris kesalip solat duha, Nena merapikan barang bawaannya, bergegas menuju meja makan untuk sarapan.
Nena membuka ponselnya, seperti biasa, selalu banyak pesan dari teman kerjanya, belum lagi chat grup teman kantor Nena yang seringkali dia abaikan. Tapi ada satu pesan yang menarik perhatiannya, nomor pengirim tidak terdaftar di kontak ponsel gadis itu.
Apa kamu baik-baik saja?
Nena ingin mencoba mengabaikan pesan itu seperti pesan-pesan sebelumnya, gadis itu sudah biasa mendapatkan pesan dari nomor baru seperti itu, biasanya orang iseng atau orang yang ingin berkenalan dengannya, yang sebagian besar teman kantor tempat ia bekerja.
"Kalo gue bales ini pesan, berasa kaya orang ngebet kawin nggak si, ngarep kalo pesan nyasar ini berasal dari calon imam gue yang masih nyangkut di hati orang barang kali," batin Nena.
"Dimakan Na sarapannya, kamu kok ngelamun gitu."
"Euh, enggak kok, Bu. Ayah mana?" tanya Nena mulai menyuapkan satu sendok makanannya kedalam mulut.
"Tadi sehabis subuhan dia tidur lagi, katanya kepalanya pusing," jawab sang ibu wajahnya tampak khawatir.
"Ayah udah mulai cuci darah yah?" Tanya Nena dengan hati-hati. Sang Ibu mengangguk.
"Ibu pakai uang yang dari kamu." Kali ini Nena yang mengangguk. Pembahasan tentang ayah memang selalu meninggalkan kesedihan di hati keluarga Nena, mereka tahu segala macam pengobatan untuk ginjal ayahnya itu pasti terasa menyakitkan, tapi untuk merelakan ayah mereka pergi untuk selamanya sepertinya mereka masih belum bisa, masih ada sedikit harapan agar ayah Nena bisa sembuh setidaknya tidak lagi merasa sakit.
Dulu ayah Nena pun pernah dalam keadaan seperti ini, dan setelah dilakukan berbagai cara termasuk operasi yang Nena tidak mengerti atau tidak mau mencari tahu untuk apa, satu tahun ayahnya sembuh dan sekarang kambuh lagi. Nena selalu tidak tega jika melihat ayahnya kesakitan.
"Kamu kapan ngenalin calon mantu Ibu?" Tanya Marlina pada putrinya, pertanyaan itu terdengar cukup santai namun nyatanya hal itu membuat Nena merasa makanan yang baru saja dia telan masih tersangkut di tenggorokan, gadis itu segera mengambil jatah teh manis yang sebenarnya milik adiknya.
"Sapi!" umpat Nena yang merasakan lidahnya seperti terbakar. "Kok lo nggak ngomong sih, Dek, kalo tehnya masih panas," omel Nena, sang adik tampak menahan tawanya agar tidak meledak.
"Lagian masih ngebul gitu main disosor aja, kewalat kakak minum teh aku." Ardi mengambil kembali jatah teh manis yang kakak perempuannya ambil.
Anak remaja yang sebentar lagi akan lulus SMA itu memang selalu sopan dan memanggil kakak pada Nena, tapi hanya di depan kedua orangtua mereka. Dan Nena tidak pernah mepermasalahkan hal itu, gadis itu cukup asik sebagai seorang kakak sekaligus teman adu mulut bagi adiknya.
"Baru ditanya kapan ngenalin calon mantu aja kamu udah stres begitu, gimana kalo Ibu tanya kamu kapan Nikah?" Ledek sang ibu dengan nada sesantai mungkin.
"Jangankan calon suami, Bu! calon pacar Nena aja belum kelihatan batangannya, " jawab Nena ambigu.
"Anu apaan nih?" Tanya sang adik yang lebih mengarah ke sindiran.
"Hidung lah! menurut lo!" sewot Nena, Ardi tidak lagi menanggapi ocehan kakaknya yang menurutnya kurang se ons itu, andai saja orang yang sering memuji kakak perempuannya itu sempurna, tahu kelakuan gila kakaknya ini, mungkin mereka akan mencabut kembali pujian itu.
"Ya cari dong Na, kaya judul film yang kamu tonton itu loh, ’ku kejar cintaku sampai ke Negri sebrang’ itu ya kalo nggak salah," ibunya mulai ngaco, Ardi jadi tahu bakat gila sang kakak itu diturunkan dari siapa.
"Kaya maling aja Bu dikejar. Ini jodoh loh, Bu, gak bisa asal tangkep, kalo yang aku tangkep ternyata masih milik orang, ibu mau jidat aku yang sebelah sini dilakban juga." Nena menunjuk kening sebelah kiri yang tidak diperban.
"Nggak papa lah, Kak. Lumayan sepuluh juta," ledek sang adik.
"Lo mau otak gue geser kena tampol mulu?"
"Emang udah geser si," jawab Ardi santai, Nena yang kepalang snewen langsung menendang kaki sang adik yang duduk di hadapannya.
"Masa kamu kalah sama adek kamu, Ardi aja udah punya pacar," sindir Marlina lebih tepatnya mengadukan kelakuan anak bujangnya pada sang kakak.
"Apaan sih, Bu. Orang Ardi cuman temenan," sangkal nya.
"Temen tapi kok tiap malem minggu diapelin mulu," sindir Marlina.
"Bu ...." Ardi sedikit frustrasi.
KREK
Nena menancapkan garpu pada telor ceplok dengan gerakan begitu sadis. Tatapannya mengancam. Membuat Ardi dan ibunya menoleh seketika dengan dahi berkerut.
"Awas Lo yah, Dek! Lo jangan sampe buntingin anak orang. Gue nggak bakal ngizinin lo ngeduluin gue. Syarat buat ngelangkahin gue berat, lo nggak akan kuat," celoteh Nena yang entah mengapa jadi mengutip kalimat bang Dilan.
"Biasa aja kali tuh biji mata." Ardi menghembuskan napasnya kasar, kesabarannya mulai terkikis. Bisa-bisanya sang kakak mengancamnya dengan tidak senonoh. Emang gue penjahat kelamin apah. Pikir Ardi yang mulai geram. "Tadi ibu masak nasi goreng ini nggak kebanyakan micin kan?" Lanjutnya dengan menatap curiga pada ibunya.
"Enggak, Ibu nggak pake micin," jawab Marlina sedikit bingung, ikut menyebutkan nama salah satu penyedap rasa yang acap kali dituding sebagai penyebab kebodohan kaum muda. Itu micin sejenis narkoba kali ya. Sampe segitunya.
***
Ardi