Siapa yang tidak mengenal Rayna Almahyra Farobi. Putri satu-satunya tuan Ardhi Al Farobi dan Tsurayya Ednika Frederick
Rayna, alias Ina memiliki seorang kakak lelaki bernama Rayhan Putra Farobi dan dua orang adik lelaki bernama Rayyan Alvarendra Farobi dan Rayendra Putra Farobi
Kebayang ya.. satu anak perempuan dikelilingi bodyguard-bodyguard kesayangan
Ina, gadis yang lembut, berwibawa, cerdas dengan segudang prestasi.
Lean, putra dari Leon (baca Love Story yaa) yang jatuh cinta pada Ina sejak pandangan pertama
Bagaimana kisah mereka?
Akankah Lean menjadi generasi ke 3 yang kandas percintaannya dengan satu keturunan yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qnoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 6
"Bunda…" panggil Ina
Aya mengalihkan perhatian dari buku yang di bacanya
"Na.. ada apa? Sini." Panggil Aya
"Bunda sibuk..?" Tanya Ina sambil duduk di samping Aya
Aya membelai rambut panjang Ina.
"Hanya baca buku. Ada apa?" Tanya Aya
"Ng…" Aya mencoba mencari cara untuk memulai pembicaraan
"Kamu lagi dekat sama seseorang ya?" Tebak Aya
Ina terkejut. Aya seakan bisa men screening isi kepalanya. Aya tertawa
"Nggak usah kaget gitu. Bunda dulu juga gitu kok." Kata Aya
"Bukan deket gimana sih bun. Jadi tuh dia sama Ina sudah kenal lama. Trus tadi tiba-tiba dia minta Ina buat jadi pacarnya." Kata Ina
"Siapa? Bunda kenal?" Tanya Aya
Ina menggeleng
"Anaknya bagaimana?" Tanya Aya lagi
"Dia baik. Tidak banyak bicara, tapi care. Bunda ingat preman yang pernah ganggu Ina dan teman-teman waktu SMP? Bang Lean yang hajar karena gangguin Ina.."
"Namanya Lean? Siapa orangtuanya? Teman sekolah?" Tanya Aya
Ina menggeleng.
"Bang Lean itu lebih tua tiga tahun dari Ina. Dia tinggal dengan ayah angkatnya, bunda. Orang tua aslinya sudah meninggal dunia." Kata Ina
"Kenal dimana?" Tanya Aya
"Kenal.. di tempat teman." Kata Ina. Gadis itu tidak berbohong karena iapun menganggap Leo sebagai temannya
Aya menghela nafas
"Perasaan Ina gimana?" Tanya Aya
"Ina bingung bunda.. Ina seneng aja sih kalau ada dia." Kata Ina
"Na.. bunda bukan melarang kamu untuk punya perasaan dengan lawan jenis. Wajar banget malah. Tapi, untuk sekarang sebaiknya kamu fokus sama sekolah dan kelulusan kamu dulu. Kalau dia serius, coba datang ke ayah dan bicara baik-baik." Kata Aya
Ina memandang bundanya dengan heran
"Emang dulu bunda gimana sama ayah?" Tanya Ina
"Ayahmu dulu langsung datang ke Opa dan Uncle untuk meminta bunda. Pas hari pengumuman kelulusan, hari itu juga ayah, nenek, abah Yai dan ummi datang melamar bunda."
"Bunda nikah muda banget berarti ya.." kata Ina takjub
Aya tertawa.
"Opa itu melihat ayah sudah sangat dewasa, bertanggungjawab dan bisa diandalkan. Ternyata opa juga sudah lama tahu ayah lho. Makanya setuju aja." Kata Aya sambil memandang Ina
"Jadi.. Ina nggak usah terima dia bunda?" Tanya Ina
"Untuk..siapa namanya tadi?" Tanya Aya
"Bang Lean, bunda.."
"Lean.. coba kamu ajak main ke rumah dan kenalkan ke ayah dan bunda." Kata Aya sambil tersenyum
"Coba kenalkan dulu ke Bunda biar bunda tahu siapa orang yang sedang gencar mendekati putri bunda."
***
Angin sepoi-sepoi membelai lembut siang ini. Cuaca tidak terlalu terik. SMU XYZ nampak sepi karena murid-murid sudah banyak yang pulang, jam bubar sekolah berdering sudah satu jam yang lalu
Tampak Ina duduk di depan ruang OSIS menanti Ian sedang rapat untuk pergantian struktur OSIS
Mereka sudah kelas 3, sudah harus fokus untuk ujian kelulusan. Tampuk pimpinan dan pengurus OSIS pun harus diserahkan pada adik kelas
"Na.."
Ina mendongak, nampak Lean sudah berada di dekatnya
"Bang Lean.. ngapain ke sini?" Kata Ina terkejut
"Ketemu kamu. Nggak boleh?" Tanya Lean sambil duduk agak jauh dari Ina
Ina tersenyum
"Bukan, abang biasanya kan sibuk urusan kampus, urusan cafe juga. Sempat-sempatnya ke sini." Kata Ina
"Suntuk Na. Di kampus jenuh, capek.." kata Lean sambil bersandar ke dinding
Ina membiarkan Lean istirahat sejenak. Suasana kembali hening diantara keduanya
"Na.." panggil Lean. Ina menoleh
"Pertanyaan abang kemarin.. sudah ada jawabannya?" Tanya Lean
"Sudah bang.." Jawab Ina
"Apa?" Lean memperbaiki posisi duduknya dan menatap Ina
"Ina..nggak bisa terima abang." Kata Ina
Terlihat tatapan kecewa dari Lean
"Apa karena latar belakang abang Na?" Tanya Lean
Ina menggeleng
"Ina nggak pernah pacaran bang. Ina nggak tahu, jadi semalam Ina tanya bunda. Kata bunda, Ina harus fokus di kelas 3 ini dulu.."
Lean menghela nafas.
"Trus..bunda bilang mau kenalan dulu sama bang Lean." Ujar Ina lagi
Lean menoleh menatap Ina
"Kata bunda, kalau bang Lean serius sama Ina harusnya datang ke ayah, bukan ke Ina..."
"Ina meragukan keseriusan abang?" Tanya Lean
Ina tertawa
"Ina sendiri bingung bang.."
"Na.. boleh abang tanya perasaan Ina?" Tanya Lean
"Perasaan Ina ke abang? Entahlah, Ina senang ketemu abang, senang main sama abang, kangen kalau lama nggak ketemu abang.."
"Seperti ke Ian?" Tanya Lean
Ina mengangkat bahu
"Mungkin kurang lebih seperti itu.." Kata Ina
Keduanya terdiam. Hanya semilir angin yang berhembus menerbangkan dedaunan kering
"Abang pergi dulu ya Na." Kata Lean tiba-tiba beranjak pergi
Ina menatap punggung lebar Lean yang semakin menjauh. Gadis itu menghela nafas.
"Na.." panggil Ian
"Eh udah selesai? Yuk pulang." Ajak Ina
"Gue denger percakapan elo sama bang Lean." Kata Ian
Ina terdiam
"Menurut elo gimana Yan?" Tanya Ina
"Ya nggak gimana-gimana. Udah betul lah kata bunda, kita fokus dulu ke kelulusan. Lagipula sudah saatnya kan bang Lean memperkenalkan dirinya ke ayah bunda kalau dia memang serius sama elo, kalo emang dia punya perasaan lebih ke elo.." Kata Ian
"Perasaan gimana?" Tanya Ina. Ian hanya mengangkat kedua bahunya
"Gue juga nggak tahu, mungkin kayak ayah bunda yang selalu saling sayang,saling percaya,saling support, saling jealous, entahlah.."
Ina menatap Ian
"Kayak bukan Ian." Kata Ina
Ian memandang Ina sambil tersenyum jail
"Ah ini masih gue kok." Kata Ian sambil merangkul Ina
Ina tersenyum, tanpa berniat melepaskan diri dari rangkulan Ian
Keduanya berjalan menuju mobil
***
"Kelompok Iron Eagle dan Phoenix dulunya adalah satu kelompok Fraternity bernama Gargoyle. Iron Eagle adalah barisan terdepan Gargoyle paling setia.
Belasan tahun lalu mereka pecah karena seorang anggotanya dianggap berkhianat menyelewengkan hasil rapat Dewan Mahasiswa.
Sebetulnya masih abu-abu tentang tuduhan itu. Namun mereka sakit hati dan membuat kelompok Phoenix dan melarang penggunaan nama Gargoyle. Akhirnya digunakan nama Iron Eagle."
Ardhi menyimak dengan seksama perkataan Beno. Tidak di pemerintahan, di lingkup kampus pun terbentuk politik yang mengkotak-kotakkan manusia
"Siapa Andre Phoenix?" Tanya Ardhi
Beno menyerahkan foto Andre. Ardhi memindai foto tersebut. Pemuda yang cukup tampan walau dandanannya tidak serapi Ray, namun mata elangnya mengingatkan Ardhi akan Ray. Dengan rambut sedikit panjang dari potongan lelaki kebanyakan
"Andre, ketua kelompok Phoenix. Dia satu universitas dengan Ray, mas. Dari awal mereka memang bersaing mulai dari nilai akademik Fakultas, kejuaraan karate hingga senat mahasiswa."
Ardhi kembali melihat candid foto Andre.
"Catatan kriminal kampus?" Tanya Ardhi
"Dia juga bersih. Hanya saja dia dikenal lebih flamboyan dibanding Ray yang dijuluki kanebo kering."
Kening Ardhi berkerut
"Kanebo kering?"
"Ehem.. karena sikap Ray yang terlalu kaku pada wanita. Beda dengan Andre." Kata Beno
Ardhi tertawa
"Lengkap juga penyelidikanmu." Puji Ardhi
"Satu lagi mas.." Beno menyerahkan sebuah foto.
Ardhi tertegun menatap foto itu
"Sudah lama sebetulnya dia ada di kota ini mas." Jelas Beno
"Dia…" desis Ardhi
ga seru klo ga baca novel sebelumnya..
cerita ini sebenarnya sangat bagus
ayo bantu ramaikan
sedih tapi Yo pingin ketawa
mati aku 🤣🤣🤣
ternyata kisahnya sambung menyambung...
aku jadi fans mu sekarang Thor...
cerita mu keren keren...