NovelToon NovelToon
RAHASIA DIBALIK WAJAH INNOCENT

RAHASIA DIBALIK WAJAH INNOCENT

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Nikahmuda / Poligami / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Yutantia 10

Bulan gadis 18 tahun terpaksa menikah dengan Bharata, majikan ibunya karena dijebak.
Karena tidak ingin ibunya dipenjara, Bulan terpaksa menjadi istri ke 3 Bharata yang sudah berusia 39 tahun.
Tetapi setelah menikah, Bharata justru kecewa karena dibalik wajah innocent Bulan, dia menyimpan rahasia besar.
Bulan ternyata adalah sugar baby sahabatnya sendiri yang bernama Satria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENIKAH UNTUK YANG KE 3 KALINYA

SAH

Kata itu keluar dari beberapa orang saksi pernikahan setelah Bharata mengucap ijab kabul.

Pernikahan sederhana itu dihadiri oleh ibu dan paman Bulan serta kedua istri Bhara dan beberapa orang saksi.

"Maafkan Bulan Om Satria. Ini bukan keinginan Bulan. Bulan terpaksa." Gumam Bulan dalam hati. Air matanya menetes menyadari kenyataan kalau dia sudah sah menjadi istri Bharata.

Bianca istri kedua Bhara terus saja memandang sinis ke arah Bulan. Dia merasa posisinya terancam saat ini. Apalagi Bulan yang masih sangat muda dan cantik tentu saja bisa merebut semua perhatian Bhara.

Arum menitikkan air mata melihat putrinya resmi menjadi istri ke 3 majikannya. Rasanya seperti mimpi baginya. Awalnya dia menolak jika Bulan harus menikah dengan Bharata demi membayar ganti rugi 1 milyar itu. Tapi setelah Dilla meyakinkannya dan Bulan sendiri yang berkata bersedia. Arum akhirnya merestui.

Dilla, entah bagaimana perasaan wanita itu. Ada perasaan sedih dihatinya. Sebagai seorang wanita pasti sedih jika harus berbagi suami. Dulu hanya 2, tapi sekarang bertambah lagi menjadi 3. Ya, bisa dipastikan jika waktu Bhara untuknya akan semakin berkurang. Tapi ada sedikit rasa bahagia, saat melihat suaminya tersenyum bahagia. Apalagi kemungkinan suaminya memiliki keturunan lebih besar sekarang.

"Nak, jaga diri baik baik ya. Kau harus menurut pada suamimu. Jadilah istri yang baik. Ibu yakin jalanmu tidak akan mudah karena harus berbagi suami. Tapi ibu yakin, kau akan mampu melewatinya." Arum memeluk putri kesayangannya.

"Ibu juga jaga diri, mulai sekarang ibu tidak perlu bekerja lagi. Tuan Bhara sudah berjanji akan memberi ibu uang bulanan. Jangan lupa untuk selalu minum obat. Bulan akan sering mengunjungi ibu."

Rasanya berat sekali untuk berpisah dengan ibunya. Mereka bersama selama 18 tahun. Dan mengingat ibunya hanya akan tinggal sendiri dirumah membuat Bulan sedikit mengkhawatirkannya.

Setelah ibu dan pamannya pulang. Bharata membawa Bulan menuju rumah yang akan dia tempati nanti.

Bulan merasa sangat tegang selama diperjalanan. Dia sudah tidak memakai kebaya lagi. Dilla mempersiapkan sebuah dress cantik berwarna peach yang sedikit terbuka dibagian dadanya.

Bulan hanya diam saja selama diperjalanan. Dia terus memegangi kalung pemberian dari Satria. Pikirannya melayang memikirkan Satria.

"Bulan takut Om, Bulan merindukan Om Satria," batin Bulan.

Bulan tersentak kaget saat Bhara tiba tiba menggenggam tangannya.

"Kenapa ekspresimu seperti itu? aku hanya memegang tanganmu. Jangan terlalu tegang."

Bhara menetap belahan dada Bulan yang sedikit terlihat. Mengetahui itu, Bulan reflek menutup dadanya dengan tangan.

"Shit, bahkan juniorku langusng menegang hanya karena melihat sedikit belahan dadanya." Umpat Bhara dalam hati. Dia merasa benar benar tak sabar ingin memakan istri barunya itu.

Bhara mendekatkan wajahnya ke wajah Bulan. Dekat, dekat dan semakin dekat hingga Bulan bisa merasakan aroma nafas Bhara. Bulan reflek menutup kedua matanya.

"Kenapa kau menutup matamu?" Bhara ingin tertawa melihat Bulan yang tiba tiba menutup rapat kedua matanya.

"Sepertinya dia belum pernah sedekat tadi dengan seorang pria. Aku bisa melihat jika dia sangat gugup. Pasti dia belum pernah berciuman," batin Bhara.

Mobil mereka memasuki sebuah rumah mewah yang sangat besar. Besarnya hampir sama dengan rumah yang ditempati Dilla.

"Ini rumah peninggalan orang tuaku. Dulu rumah ini ditempati Pamanku. Tapi aku sudah mengusirnya karena dia ketahuan korupsi uang perusahaan." Bhara menjelaskan kepada Bulan.

Kaki Bulan serasa gemetar memasuki rumah semewah itu. Dia belum bisa percaya jika dia akan menjadi nyonya rumah itu.

"Ayo, aku akan memperkenalkanmu pada seluruh pekerja disini." Bhara menggandeng tangan Bulan memasuki rumah mewah itu.

Bharata memanggil seluruh pekerja disana yang berjumlah sekitar 10 orang. Bhara memperkenalkan jika Bulan adalah istri ke tiganya sekaligus nyonya baru dirumah ini.

Setelah selasai memperkenalkan Bulan. Bhara mengajak Bulan naik ke lantai atas menuju kamar mereka.

Kamar itu sungguh luas dan mewah. Apalagi hari ini kamar itu dihias untuk kamar pengantin. Aromanya sangat wangi. Aroma bunga mawar memenuhi seluruh kamar itu. Ranjang king size dengan seprei putih bersih yang bertabur kelopak bunga mawar sungguh membuat hati siapapun terpesona melihatnya.

"Apa kau suka?" tanya Bhara penuh antusias.

"Hem." Bulan mengangguk walau hatinya tidak menginginkan ini semua.

Setelah mereka masuk, Bhara langsung mengunci pintunya.

Bulan duduk ditepi ranjang sambil memegangi liontin kalungnya.

"Bulan takut Om, tolong Bulan Om. Bulan sangat takut. Bulan hanya mau melakukannya dengan Om. Bulan tak menginginkan pria lain." Mata Bulan mulai berkaca kaca.

"Kau kenapa sayang?" Bhara duduk disamping Bulan dan menatap wajah istri barunya itu.

"Ti tidak apa apa Tuan." Bulan menjawab dengan terbata bata.

"Jangan panggil aku tuan, aku suamimu. Panggil saya aku mas atau sayang."

"Baik Tuan." Tubuh Bulan gemetar saat Bhara mendekatinya dan melingkarkan tangannya di pinggang Bulan. Baru kali ini ada pria lain yang menyentuhnya selain Satria. Rasanya sungguh tidak nyaman.

Bhara memegang tengkuk Bulan lalu mencium bibir indahnya. ******* dan menghisapnya perlahan. Bulan hanya diam saja, dia tidak membalas.

"Kenapa rasanya seperti ini. Sungguh tidak nyaman. Tidak semanis ciuman Om Satria. Om Tuhan, maafkan aku. Tak seharusnya aku membandingkan suamiku dengan pria lain." Guman Bulan dalam hati.

Bulan menarik bibirnya saat dia mulai kehabisan nafas. Bhara tersenyum melihat tingkah Bulan.

"Kenapa kau tidak bernafas? Mungkin kau belum terbiasa. Tenang saja, aku akan mengajarimu. Lama lama kau akan bisa mengimbangiku." Ternyata sikap Bulan yang tak membalas ciuman Bhara diartikan lain oleh Bhara. Bhara menganggap jika Bulan adalah gadis polos yang belum pernah berciuman.

Bhara kembali menyesap bibir manis itu. Kali ini Bulan mulai membuka mulutnya. Bhara yang tak mau kehilangan kesempatan langsung memainkan lidahnya dalam mulut manis Bulan.

Tangan Bhara sudah mulai kehilangan kendali. Tangan itu mulai menyentuh bagian dada Bulan. Bulan segara menarik diri saat Bhara mulai meremas gunung kembarnya.

"Maaf Tuan, sa... saya ingin ketoilet sebentar." Kata Bulan dengan terbatas bata.

"Baiklah." Ada sedikit raut kecewa di wajah Bhara.

Bulan mondar mandir didalam kamar mandi. Pikirannya sangat kacau.

"Apa yang harus aku lakukan? Ingin menghindar rasanya tidak mungkin. Aku sangat takut. Aku tidak siap jika harus melakukan hubungan badan dengan pria selain Om Satria." batin Bulan.

"Sayang kenapa lama sekali?" Terdengar teriakan Bhara dari luar.

"I... i...iya, sebentar lagi." jawab Bulan.

"Sepertinya dia terlalu gugup. Aku harus memakluminya, ini pertama baginya." Guman Bhara sambil terus tersenyum senyum membayangkan tubuh Bulan.

Beberapa saat kemudian Bulan keluar dari kamar mandi. Bhara berjalan ke arahnya dan menyodorkan sesuatu.

"Pakai ini, tadi Dilla yang menyiapkannya."

"Apa ini?" Bhara tersenyum mendengar pertanyaan Bulan.

"Ini namanya lingerie, pakailah sekarang."

"Kenapa aku jadi bodoh saat didepannya. Aku sudah tahu benda apa ini tapi kenapa tadi aku bertanya. Aku bahkan sudah sering memakainya saat bersama Om Satria." Bulan merasa sangat gugup hingga dia menjadi gadis bodoh didepan Bharata.

Bulan menatap pantulan dirinya di cermin. Lingerie warna hitam itu mengekspos seluruh lekuk tubuhnya yang seksi. Entah kenapa Bulan merasa risih dan malu harus memakainya didepan Bhara. Padahal biasanya dia sangat percaya diri memakainya didepan Satria.

1
chika aprilia zubaidah
tim satria tp gak tahu deh terserah othor aja🤣
Gia Nasgia
welcome to the wold my baby Hiro🥰🥰
Gia Nasgia
Ternyata Tiara suka dgn pria dewasa juga🤭
Gia Nasgia
Happy forever Satria and Moon😍😍🥰🥰 terimakasih kk abd tetap cemungut😘👍💪
Gia Nasgia
congrats Papa gula and Moon😍🥰🥰
Gia Nasgia
Tom and Jerry old 😂😂
Gia Nasgia
Cieee papa gula gass pool😍
Gia Nasgia
Enak aja
Gia Nasgia
Tim nya Satria Moon
Gia Nasgia
Klau melihat antusiasnya papa gula kayaknya mereka nggak balikan,Satria fix jodohnya Moon😍
Gia Nasgia
Apa Moon jodohnya papa gula
Gia Nasgia
Jangan blang klau mobil Satria yg di tabrak ayu
Gia Nasgia
Dasar lambeh turah minim ahlak😡
Gia Nasgia
Akhirnya benar "berpisah🥺
Gia Nasgia
Mode garangnya Bhara
Gia Nasgia
B ,mama Dilla adalah mama sambung pilihan😍
Gia Nasgia
Semoga aja ada cctv😂
Gia Nasgia
jangan marah bunda Moon😂 demi B
Gia Nasgia
Hahaha emang enak di cuekin😂
Gia Nasgia
Bulan klau kamu ingat surga kamu harus bisa memafkan inti nya di sini siapa yg bisa mengendalikan diri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!