Berhijrah terkadang bukan perkara yang mudah, apalagi bayang kelam masa lalu bak sebuah benalu yang menggerogoti hati. Tak jarang membuat keyakinan merosot kembali.
Keinginan untuk menjadi lebih baik, terkadang di bumbui sebuah kesempurnaan. Bak
setiap pria yang mendambakan seorang istri sempurna, pun seorang perempuan mendambakan seorang suami yang sempurna. Namun terkadang keduanya tidak menyadari kalau mereka di ciptakan untuk saling menyempurnakan.
Inilah sebuah kisah. Perjalanan penuh Lika liku, mendambakan sebuah kesempurnaan untuk mencapai sebuah kebahagiaan.
Tidak pernah menyadari, berdiam di Zona nyaman sebuah kesempurnaan dan kebahagiaan, membuat hati buta.
Telat menyadari kalau kebahagiaan bukan milik dia yang hebat dalam segalanya, namun bahagia, milik dia yang mampu temukan hal sederhana dalam hidupnya dan tetap bersyukur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Siang kini berganti dengan malam. Setelah menjalankan shalat isya, Ansell dengan cepat mengganti pakaian koko nya . Bersiap turun ke ruangan kerja untuk menunggu kedatangan Raka dan David di sana. Seperti yang telah Ansell perintahkan, mereka akan datang untuk merundingkan segala kemungkinan yang akan terjadi pada perusahaan Rendra Group kedepannya.
Dari sudut lain, rupanya dari tadi Zahra memperhatikan pergerakan Ansell, raut wajahnya yang terlihat cemas, membuat Zahra bisa merasakan ada kegelisahan yang di rasakan suaminya.
Zahra perlahan mendekat, "Habib, apa terjadi sesuatu? dari tadi Adek perhatikan sepertinya Habib terlihat gelisah?" tanya heran Zahra, dengan tangan mulai membantu merapihkan pakaian suaminya.
"Tidak apa-apa, mungkin perasaan Adek saja," kilah Ansell dengan senyuman, sambil mengelus kepala Zahra.
"Dek Utun, istirahat duluan dengan Umie ya, Abie ke bawah dulu ada pekerjaan sayang," lanjut Ansell berbungkuk mengecup perut Zahra, seolah meminta izin pada anaknya.
"Iya Abie, jangan terlalu malam." sambung Zahra dengan senyuman.
"Iya Sayang, istirahat lah!" Ansell mengecup kening Zahra, dan bergegas turun ke bawah.
Bukan maksud Ansell tidak terbuka pada Zahra, hanya saja dia tidak akan membebani pikiran istrinya apalagi dengan hal yang belum tentu akan seperti apa kedepannya.
Saat sampai di bawah, rupanya David dan Raka sudah tiba di rumahnya, Ansell dengan cepat mengisyaratkan agar David dan Raka mengikuti nya. Tanpa penolakan dan perdebatan David dan Raka mengikuti Ansell masuk ke ruang kerja.
"Si Alex beneran kembali?" tanya David, itulah pertanyaan pertama yang ia lontarkan, penasaran akan keadaan sosok laki-laki yang pernah dekat dengan mereka.
"Orang nya belum kembali, tapi aksi nya sudah menjadi jadi," sahut Raka. Kini tiga laki-laki itu duduk bersandar di sofa.
"Dulu kau terlalu menyakiti nya Sell, sekarang dia bisa saja balas dendam dan langsung menghancurkan perusahaan kita." tutur David, dia kini mengeluarkan beberapa laporan dari bawahan nya. Tambah khawatir mengingat penyelidikan nya tadi sore kalau ternyata perusahaan milik Alex memiliki relasi yang lebih banyak dari perusahaan mereka, hingga suatu saat Alex bisa dengan mudah menjatuhkan Rendra Group.
Ansell langsung melihat semua dokumen itu,
"Perusahaan nya, benar benar bergerak di bidang yang sama dengan ku," batin Ansell mengendus kesal, di tambah lagi dua sahabatnya itu bukannya mencari jalan keluar tapi mereka malah memperkeruh suasana hati nya.
"Aku menyuruh kalian ke sini bukan untuk mempersulit keadaan, tapi cari solusinya," ketus kesal Ansell.
"Akh sungguh rumit Bos, apa mungkin dia masih mencintai Alika, bagaimana kalau dia kembali dan menagih janji mu Bos, Alika kan sekarang sudah menikah, jangan sampai ya nanti malah giliran Bos yang kena pukulan nya karena Bos tidak menepati janji." timpal Raka ikut memperkeruh suasana.
"Apa loe gak bisa diam hah, gue juga lagi berpikir bodoh," sahut Ansell dengan nada tinggi memarahi Raka.
Raka langsung gelagapan, perlahan bergeser mendekati David untuk mencari aman dari kemarahan Bos nya.
"Mampus loe, makanya jangan asal bicara," semprot David ikut menceramahi Raka.
"Gue hanya bicara fakta Vid," tukas Raka mencari aman.
Ansell menundukkan kepala, pikirannya kalut.
Dia bukan takut dan gelisah jika Alex kembali dan menjadi saingan bisnisnya. Bagi Ansell tidak masalah jika keuangan perusahaan nya akan melemah.
Karena dia sadar semua kekayaannya sejatinya bukan miliknya, tapi semuanya hanya titipan dan jalan agar kita kembali pada Nya, jika Allah sudah tidak mengizinkan ia untuk menjaga nya, makan semua hartanya bisa lenyap dengan mudah, namun sebaiknya jika Allah masih mengizinkan nya untuk menjaganya maka harta itu akan tetap menjadi milik nya meskipun banyak orang yang menginginkan nya.
"Ide bisa di tiru, tapi rezeki tidak. Seseorang bisa meniru usaha mu tapi tidak bisa meniru rezeki mu"
Itulah yang membuat Ansell lebih tenang dengan keadaan sekarang, karena dia yakin rezeki tidak mungkin tertukar, karena Allah melapangkan rezeki bagi siapa saja yang Ia kehendaki. Dan membatasi bagi siapa yang Ia kehendaki. Allah maha mengetahui dan maha melihat setiap hambanya.
Namun, yang menjadi pikiran Ansell sekarang bukan tentang perusahaannya, tapi khawatir bagaimana jika nanti Alex kembali dan masih menyimpan perasaan pada adiknya.
"Bagaimana kalau dia masih mencintai Alika, apa dia akan menggangu rumah tangga nya?" batin Ansell menghela nafas berat, kini dia mengingat kejadian lima tahun lalu saat dia dengan begitu buas memarahi lelaki yang merupakan teman sekaligus kekasih dari adiknya.
Flashback Lima tahun yang lalu.
Malam itu udara terasa lebih dingin dari biasanya, seperti biasa tiga laki-laki terlihat menumpangi sebuah mobil pulang dari pekerjaannya.
Ansell, David, dan Raka, tiga laki-laki yang sudah sejak dulu berjuang dalam kejamnya dunia perkantoran, di tahun ini mereka menginjak masa awal kejayaan nya.
Ansell duduk di kursi belakang terkulai lemas setelah menjalankan beberapa pertemuan. Sedangkan Raka, ia selalu setia mengemudikan mobil dan David duduk di sampingnya untuk menemani nya berbicara.
Jalanan terlihat sepi, suara rintikan hujan menemani kesunyian malam kala itu. Raut wajah kusut tergambar jelas dari wajah mereka. Lelah dan letih yang mereka rasakan setelah seharian penuh bekerja serasa ikut terhanyut dalam sepinya malam itu.
Raka yang bosan akan kesunyian kini mulai berbicara. "Bos, mampir ke Bar si Alex dulu yu! sepertinya kita butuh hiburan," pintanya dengan penuh semangat.
"Wah bener banget, bukankah kata si Alex kalau menjelang akhir pekan banyak daun muda di Bar nya," timpal David dengan begitu antusias.
"Wah membayangkan daun muda semangat empat lima loe kembali lagi ya." canda Raka sudah tersenyum cengengesan.
"Gimana Sell, kita ke sana?" tanya David memastikan.
"Terserah." jawab Ansell dengan singkat.
Mendengar kata terserah, Raka dengan semangat langsung menancap gas, mengerti kalau Bos nya tidak keberatan dengan keinginannya.
Di tempat lain, Alika terlihat keluar dari sebuah bioskop, tertawa kecil sambil merangkul tangan seorang lelaki di sampingnya.
"Mau mampir dulu ke Bar?" tanya lelaki itu sambil menggiring Alika ke parkiran.
"Langsung pulang saja Lex, Kak Ansell pasti akan marah kalau aku pulang larut malam," tolak Alika pada pada laki-laki yang merupakan pacar nya yang tidak lain adalah Alex.
"Tidak apa-apa, biar aku yang bicara kalau kau bersama ku," bujuk Alex dengan senyuman rayuan nya.
"Akh, baiklah karena ini yang kesekian kalinya kau mengajakku, kali ini aku ikut dengan mu," tutur Alika, kini dia mengeluarkan kunci mobil dan menyuruh Alex mengemudikan nya.
"Terima kasih Sayang,"
Dengan senang hati, Alex pun langsung merangkul Alika, mempersilahkan Alika masuk mobil dan bergegas menuju Bar.
Alika dan Alex kini sudah sampai di Bar, jarak dari bioskop ke Bar yang cukup dekat membuat mereka tidak membutuhkan waktu lama di perjalanan.
Pandangan Alika kini melihat pintu masuk Bar, ada sedikit keraguan di hati nya untuk turun mengikuti ajakan kekasih nya.
Walau mereka sering menghabiskan waktu bersama, namun ini kali pertama nya Alika mengikuti kemauan Alex untuk ikut ke Bar miliknya.
Lamunan Alika kini terbuyarkan saat Alex membukakan pintu dan mengulurkan tangannya, "Hei, kenapa bengong? ayo turun!" ajaknya dengan tersenyum manis.
"Akh iya, maaf," Alika langsung menerima uluran tangan Alex, dan bergegas mengikuti lelaki itu masuk ke dalam.
Alex terus menggenggam tangan Alika, memberi ketenangan pada sosok wanita yang baru pertama kali ini menginjakkan kaki nya ke tempat seperti ini.
"Alex, aku pulang saja, rasanya tidak nyaman berada di sini," rengek Alika, merasa gugup dan takut.
"Tidak apa-apa, kita masuk ke ruangan ku saja," tanpa menghiraukan Alika, Alex dengan lembut merangkul pinggang Alika dan menggiring masuk ke ruangan nya.
"Hanya dua puluh menit saja ya setelah itu aku pulang,"pinta Alika rasanya belum punya nyali besar untuk lama lama di sana.
"Iya, nanti aku akan mengantarmu. Duduk lah! Aku punya sesuatu untuk mu," Alex melepaskan rangkulannya, melangkah ke meja kerja nya untuk mengambil hadiah kecil yang sudah ia persiapkan untuk Alika.
"Sesuatu! Apa? hadiah kah?" Alika terkejut dan senang.
"Iya, hadiah untuk pacar ku yang paling pintar." sahut Alex, karena inilah alasan nya dia mengajak Alika ke tempat kerjanya.
"Benarkah, mana hadiahnya?" Alika begitu antusias, sudah sangat senang membayangkan akan seperti apa hadiah yang akan di berikan kekasihnya.
"Sebentar, seperti aku lupa menyimpan nya," goda Alex, sengaja mengulur waktu, gemas melihat ekspresi Alika.
"Cepetan! waktunya hanya 20 menit ya, jika kau belum menemukan nya aku pulang ya." ancam Alika dengan ekspresi menggemaskan.
"Iya bawel, aku sedang mencari nya." dengan tersenyum kecil, Alex perlahan meraih sebuah kotak kecil di atas mejanya dan bergegas mendekati Alika untuk memberikan nya.
Di perkiraan, mobil yang di kendarai Raka sudah berhenti di sana. Tiga laki-laki itu kini terlihat keluar bersamaan.
Mata Ansell langsung terbuka lebar, terkejut melihat mobil Alika yang terparkir di sana.
"Apa Alika di di sini? Alex sialan, bukannya aku pernah bilang jangan pernah mengajaknya ke sini," batin Ansell mengumpat kesal sambil berdiri mematung melihat mobil Alika.
"Kenapa bengong Bos, ayo masuk!" Raka menepuk bahu Ansell, matanya mengikuti kemana arah mata Bos nya memandang.
"Mobil Alika?" Raka ikut terkejut, sudah tau bagaimana ketegasan Ansell pada Alika, yang selalu membatasi pergaulan Alika, berharap adiknya tidak ikut terjerumus ke kehidupan gelap seperti nya.
"Bedebah itu, awas saja kalau berani memberikan minuman beralkohol dan melebihi batasan nya pada Alika," Ansell mengepalkan tangannya, geram sendiri membayangkan kalau sampai lelaki itu berani menyentuh adiknya.
"Tentang Bos, Si Alex tidak mungkin macam macam pada Alika." bujuk Raka sudah bisa melihat ada kemarahan tergambar jelas di raut wajah Bos nya.
"Ada apa?" David ikut heran, di tambah lagi melihat Ansell yang berjalan dengan cepat masuk ke dalam.
"Entahlah, semoga semuanya baik-baik saja," sahut Raka, mereka pun sama-sama berjalan cepat mengikuti Ansell masuk ke dalam.
Di sisi lain ruangan Alex.
Alex ikut duduk di samping Alika, memberikan kotak kecil itu di telapak tangan gadis yang sedari tadi tersenyum manis pada nya.
"Jangan pernah menghilangkan nya!" seru Alex sambil menyandarkan kepalanya di sofa, membiarkan Alika membuka sendiri hadiahnya.
"Apa ini?"
"Setelah kau membuka nya kau akan tau isinya." jawab datar Alex, membuat
Alika tersenyum kecil, tangan nya perlahan membuka kotak kecil itu, sampai perlahan terlihat sebuah cincin perak dengan satu permata di atasnya.
"Ini untuk ku?" Alika tertegun, begitu terkejut melihat hadiah yang di berikan kekasihnya.
"Bukan, untuk Ansell," ketus Alex, begitulah dia, selalu kaku dan tidak bisa mengutarakan perasaannya dengan kata kata.
Alika tersenyum lebar, badan nya dengan reflek memeluk Alex yang duduk di sampingnya.
"Terima kasih, Aku tidak akan pernah menghilangkannya, aku mencintaimu," ucap nya begitu antusias, tidak sadar kalau setengah badan nya sudah menempel sempurna di atas badan Alex yang tengah bersandar di sofa.
"Lika, apa kau sadar apa yang kau lakukan? Aku lelaki normal, apa kau akan terus seperti ini," lirih Alex, tingkah Alika yang tiba-tiba memeluknya rupanya berhasil memancing hasrat nya.
"Maaf, aku terlalu senang," Alika kini tersadar, tersenyum malu sambil perlahan menegakkan badannya. Namun sial, pergerakannya terhenti saat tangan Alex dengan cepat memeluk nya.
"Bolehkah aku lebih serakah dan ingin seutuhnya memiliki mu," Alex menatap dalam Alika, menggerakkan tangan satunya menyibakkan rambut Alika yang menghalangi wajah cantik nya.
"Lex," Alika merona malu, makin gugup, apalagi dengan jarak yang begitu dekat membuat nya bisa merasakan setiap hembusan nafas Alex yang terus membelai wajahnya.
"Maaf, kau boleh menghindar jika tidak menyukainya," lirih Alex, tersenyum penuh damba saat jemari tangannya menyentuh lembut bibir Alika.
Alika tidak bisa berkata kata, badannya rasanya membeku, setiap sentuhan Alex memberikan sensasi aneh serasa terhipnotis hingga ia tak ingin menghindar dari posisi sekarang. Seolah memberi jawaban kalau dia tidak keberatan dengan apa yang akan di lakukan kekasihnya.
Alex tersenyum kecil, perlahan mengangkat kepalanya memberikan kecupan singkat di bibir Alika.
"Kecil-kecil sudah berani memancing hasrat lelaki ya, dasar gadis nakal," gemas Alex sambil mengacak-acak rambut Alika.
"Alex," Alika teriak kesal, perlahan memukul dada bidang Alex, karena laki-laki itu berhasil mengerjai nya.
"Menyebalkan," ketusnya nya lagi sambil merapikan rambutnya.
"Kenapa? Apa kau berharap lebih," goda Alex dengan tersenyum jahil.
"Ti-tidak," Alika terbata bata, karena memang sempat terlintas pikiran liar di kepalanya.
"Cepat lah tumbuh besar, aku akan melakukan lebih dari ini jika kau sudah menjadi istri ku," tegas Alex, kini dia menahan keras hasratnya. Rasa kasih sayang nya begitu besar pada wanita yang kini bersandar di pelukannya, sampai Ia tidak mampu melakukan sesuatu di batas kewajaran nya.
"Apa kau akan menunggu ku?" Alika kembali meyakinkan perkataan Alex, dia sendiri rasanya tidak percaya kalau lelaki di depannya itu benar benar ingin menjalani hubungan serius dengan nya.
"Aku tidak akan menunggu mu, tapi Aku akan mengikat mu agar hatimu tidak pergi ke mana-mana, jadi jangan pernah menghilangkan cincin itu, itu sebagai tanda kalau gadis cantik ini adalah milik ku." tutur Alex, lagi-lagi dia berhasil meluluhkan hati Alika.
"Baiklah, aku akan terus memakainya," antusias Alika dengan tersenyum lebar.
"Terima kasih," Alex pun kembali merangkul Alika, dan menyandarkan Alika di pelukannya.
Di waktu yang sama, Ansell dengan cepat membuka pintu ruangan Alex hingga menimbulkan suara benturan pintu yang begitu keras. Matanya langsung melebar sempurna, kesal dan geram melihat pemandangan di depannya.
Alika dan Alex pun sama-sama terkejut, bahkan Alex lebih terkejut dan refleks melepaskan Alika dari pelukannya.
"Kak Ansell..."
Alika langsung duduk tegak menjaga jarak dari badan Alex dengan kepala di tekuk, takut dan malu apalagi melihat ekspresi Kakaknya yang penuh dengan amarah.
Ansell berjalan dengan cepat mendekati mereka, langsung menarik tangan Alika agar menjauh dari badan Alex.
Bugh!! Tanpa aba-aba, dengan cepat Ansell mendaratkan pukulan di wajah tampan laki-laki itu. Kesal dan marah, rupanya Alex telah mengkhianati kepercayaan nya.
"Kak Ansell, apa yang Kakak lakukan," Alika tersentak, terkejut melihat tingkah Kakaknya. Dia sadar telah membuat kesalahan, namun dia tidak pernah membayangkan kalau Kakaknya akan semarah itu sampai memukul temannya sendiri.
"Dasar lelaki kurang ajar, apa yang kau lakukan pada Alika hah?" Ansell rasanya di kuasai oleh amarah, sampai tidak menghiraukan perkataan Alika, dan kembali mendaratkan pukulan pada wajah Alex. Sampai lelaki itu kini tersungkur jatuh ke lantai.
"Kak Ansell hentikan! Ini semua tidak seperti yang Kak Ansell lihat ," Alika memohon, rasanya tidak tega melihat Alex yang sudah tersungkur lemah. Dia menarik tangan Ansell yang akan kembali memukul kekasihnya.
"Kau pikir aku bodoh, aku melihat semuanya," bentak Ansell sambil menepis tangan Alika, dan langsung berbungkuk mencekam kerah baju Alex dan berakhir menyeretnya untuk berdiri.
"Gue ngizinin loe berpacaran dengan Alika agar loe menjaga nya, bukan untuk menodai nya brengsek," kecam Ansell dengan mata melotot memarahi Alex.
Lagi-lagi sudah mengepalkan tangan untuk kembali memukulnya.
"Sell, berhenti Sell, kau melukainya."
Merasa tidak kuasa melihat keadaan Alex yang hanya pasrah menerima pukulan Ansell, David dengan cepat memisahkan mereka.
"Biarkan Si Alex menjelaskan semuanya Sell," sambung nya lagi, sambil memundurkan badan Ansell dan meredakan emosi nya.
"Santri Bro, tarik nafas dulu," Raka kini menghampiri Alex, mengelus punggung laki-laki itu agar tidak terpancing dengan kemarahan Ansell yang berkali kali telah memukul nya.
"Jangan pernah berharap bisa menumui Alika lagi, camkan itu," ancam Ansell, menatap Alex dengan penuh kebencian dan bergegas menarik Alika untuk pergi dari sana.
"Aku bisa jalan sendiri Kak, lepaskan! sakit," rengek Alika, namun tidak di hiraukan oleh Kakak nya.
Alex awalnya hanya bisa diam, dia sadar telah melakukan kesalahan, namun tidak untuk sekarang, dia tidak bisa diam melihat kekasihnya kesakitan karena kesalahannya. Dan dia pun tidak mau kalau sampai Ansell benar benar membatasi hubungan nya dengan Alika.
"Sell, kau menyakiti nya, apa kau tidak bisa lebih lembut pada adik mu hah,"
Teriaknya, menatap Ansell dengan penuh kemarahan.
"Aku Kakaknya, dan aku punya batasan sendiri untuk mendidiknya." Kecam Ansell, dia kembali menarik Alika untuk bergegas pergi dari sana.
Flashback off.
.
.
.
.
.
nungguin lho bolak balik cek blm up jg
apalagi dengan tokoh zahra...
🙏🙏