Edi Sudrajat takpercaya ketika, Erico Atmaja melamar putrinya menjadi istrinya
Syakila gadis 20 tahun yang memilih mengabdikan ilmunya di pesantren, dengan yakin menerima lamaran lelaki 31 tahun menjadi pendamping hidupnya.
Lelaki yang di kenal dingin dan kaku itu, ternyata begitu lemah lembut memperlakukan kila sebagai istrinya, tentu saja itu membawa kebahagiaan pada rumah tangga mereka.
Di depan Kila Rico adalah sosok lemah lembut penuh cinta, sifat itu berbanding terbalik saat dengan anak buahnya dia terkenal dingin dan tanpa ampun, tapi itu dulu..
Mengenal Kila membuat perubahan pada Rico,sedikit demi sedikit, isteri yang penuh kelembutan itu berhasil melunakkan kekerasan hatinya.
Konflik mulai datang, ketika orang di masa lalu Erico mulai muncul satu persatu, membongkar perbuatan sadisnya di masa lalu, hal itu memaksa Erico melakukan banyak pengorbanan, bahkan dia nyaris kehilangan orang yang begitu berharga di dalam hidupnya.
Hal itu malah merubah jalan hidupnya seratus delapan puluh derajat.
Silahkan menikmati kelanjutannya happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 6
Hari ini Rico dan Kila sudah pulang kerumah besar milik Rico, mama dan papa Kila ikut mengantar Kila pulang kerumah Rico.
Rumah Mewah Nan Megah ini sudah seperti istana Presiden di sana sini terlihat beberapa penjaga, bahkan pelayan di rumah ini hampir selusin.
Kila tak habis pikir berapa duit yang Rico keluarkan untuk membayar gaji mereka.
Mama terlihat takjub dengan kemewahan rumah ini, mama yang doyan barang mahal sudah barang tentu paham nilai barang barang di rumah ini.
Rico menjamu tamunya dimeja makan , setelah membawa pengantin wanitanya kekamar mereka di lantai tiga , mama kembali berdecak kagum dengan kamar Rico yang sangat mewah menurut Mama
Parapelayan menata hidangan di atas meja makan , yang mampu menampung dua puluh orang , begitu panjang
Kila kembali di buat heran , dia hanya sendiri di rumah ini kenapa meja makannya harus sepanjang ini.
"Mama kalau rindu dengan Kila, datanglah untuk berkunjung.." ujar Rico memecah keheningan.
"Iya , terimakasih nak Rico" ujar mama.
" kila juga akan sering berkunjung kerumah mama " ujar Rico lagi
Sementara Kila merasa kasihan dengan beberapa pelayan yang berdiri tak jauh dari meja makan , terlihat tidak manusiawi , memperlakukan mereka seperti itu , sampai disini Kila sedikit paham siapa suaminya , pantas saja mama sangat histeris dia menikahi Tuan Rico
Tiba tiba Kila menghela napas berat , tentu saja itu menarik perhatian semua orang, di suasana yang begitu hening, kini semua mata menatap kearahnya dengan pikiran masing masing.
Kila mengembangkan senyum semanis mungkin ,
agar mereka tak berpikir macam macam
"Ada sesuatu yang menggangu pikiran mu kila " tanya Rico
"Tdak ada, aku hanya sedikit lelah " jawab Kila berbongong.
"Setelah makan istirahatlah di kamar, atau kau bisa melakukan massage di ruang kusus perawatan, yang sudah aku siapkan untuk mu " ujar Rico, kali ini bukan Kila yang berbinar, tetapi mama, mama yang hobi perawatan tentu saja merasa takjub punya ruang perawatan sendiri
"Terimakasih nak rico, Kila pasti menyukainya" ujar mama berbunga, Rico menganguk santun.
*
Mama dan papa pamit pulang , berat rasanya meninggalkan putri semata wayang mereka dengan orang lain, walaupun itu suami putrinya
belum puas rasanya mereka merawat Kila , kini mereka harus melepasnya.
Kila benar benar melakukan perawatan , itu dia lakukan untuk mengulur waktu bertemu suaminya , dia masih begitu gugup bila hanya berdua bersama Rico.
Kila hampir tertidur mendapat pijitan yang membuat tubuhnya terasa bugar, ketika tiba tiba terdengar suara Rico menyapa pelayannya.
"Masih lama..." suara yang terdengar berbeda saat dia berbicara pada Kila.
"Hampir selesai tuan" jawab mereka hampir serempak.
"Baiklah " ujar Rico berlalu meninggalkan ruang perawatan.
Kila seketika sesak napas, jantungnya seperti berhenti memompa darahnya, Rico memang sudah hallal melihatnya seperti ini, tapi tetap saja Kila belum terbiasa.
"Sudah berapa lama kalian kerja dengan tuan Rico " tanya Kila ingin tahu.
"Kami bertiga baru sepuluh hari nyonya " ujar mereka.
"O
"Ooo" Rico benar benar menyiapkan tempat ini untuknya
"Sudah selesai nyonya.." ujar salah satu pelayan itu.
Kila beranjak bangkit memakai kembali pakaiannya , seorang pelayan datang menghampiri Kila
"Nyonya di tungu tuan di kamar utama " ujarnya sopan.
"Mari saya antar " imbuhnya lagi.
"Tidak usah, saya kesana sendiri saja" Kila tidak ingin menambah beban pekerjaan pelayan ini.
"Biar saya antar saja nyonya, saya takut tuan akan marah kepada saya" pelayan ini sedikit memaksa mengantarkan Kila.
"Baiklah kalau begitu , oh ya , kalau boleh tau nama mbak siapa ..." ujar Kila.
"Panggil saya Nana, nyonya " ujarnya sopan.
"Nana , sepertinya tidak sopan kalu hanya panggil nama, sepertinya Nana lebih tua dari aku" ujar Kila sambil berjalan menuju lift penghubung kamar utama.
"Tidak apa, sebab anda adalah nyonya di rumah ini " ujarnya lagi.
Kila menghentikan langkahnya menatap Nana yang tertunduk menatap lantai.
"Aku memang nyonya di rumah ini ,tapi tidak pantas bila memperlakukan pegawaiku dengan tidak sopan , paham mbak nana .." ujar Kila
Nana tidak menjawab dia membuka pintu lift lalu mempersilahkan Kila masuk , Kila merasa Rico begitu berlebihan menempatkan begitu banyak pelayan di rumah nya
Kila mengetuk pintu kamar yang tidak terkunci
"Masuklah kila " ujar Rico.
Kila pu masuk kedalam kamar, sementara Nana kembali kelantai satu.
"Bagaimana sudah enakan " ujar Rico menatap Kila.
"Sudah " ujar kila singkat
"Kemarilah.." Ujar Rico mekambaikan tangannya.
Perlahan Kila mendekat, tapi masih pada posisi berdiri.
"Duduklah " perintah Rico
"Kila ..."
"Iya.."
"Apa tuhan melarangmu, membuka penutup kepalamu di depan suamimu" tanya Rico.
"Tentu tidak suamiku " hawab kila
"Pakailah ini saat bersamaku, lain kali kau bisa memilihnya sendiri dilemari mu, hari ini pakailah yang ini , kau bisa melepasnya dan berganti dengan pakaian longgarmu saat keluar kamar ini " perintah Rico.
Kila mengangguk, lalu membawa baju ganti pemberian Rico keruang ganti , Kila menatap baju itu tak berkedip, haruskah dia memakai nya...
ini kewajiban mu kila , dosa besar bila kau menolak suamimu bisik hati Kila
baju itu sebenarnya tidaklah terlalu seksi , tapi bagi kila itu berbeda , gaun pendek sebatas lutut yang memperlihatkan keindahan betisnya , serta berlengan pendek.
Kila keluar kamar dengan tertunduk malu, mendekati suaminya dengan perlahan.
Rico menatap istrinya tak berkedip, Rico tak salah menebak, tubuh istrinya begitu molek.
tubuh langsing dengan leher jenjang nya, serta sepasang betis yang indah di tambah kulit putih mulus selembut salju.
"Mendekatlah..." perintah Rico setengah berbisik
nada suara yang sangat berbeda ketika dia bicara dengan para pelayannya.
Kila menghampiri suaminya lalu dudung di sampingnya.
"Kau memang wanita sempurna .." puji Rico
"Adakah lelaki yang melihat tubuhmu selain keluargamu kila.." tanya Rico
Kila menggeleng pelan , masih dengan tertunduk menatap lantai.
Perlahan tangan Rico membuka kuncir rambut Kila, seketika rambut hitam itu terurai indah.
"jangan ikat rambut mu ketika bersama ku " ujar Rico.
Kila hanya menganguk,wanita muda ini sungguh tak mampu bersuara.
Kini kedua tangan Rico menyentuh lembut pipi Kila ,dan kecupan hangat pun mendarat dipipi, yang sudah merona seperti kepiting rebus
Rico tersenyum simpul ,melihat rona merah di pipi Kila , dia melepaskan sentuhannya pada pipi Kila
"Bersantailah di sini temani aku bekerja, atau kau bisa sedikit membantu pekerjaan ku, kau bisa mengetik ..." ujar Rico mencairkan suasana yang sempat menegang, Kila kembali menganguk.
Rico pria dewasa tentu saja dia sangat paham memperlakukan wanita, walau Rico bukanlah pria yang hobi bermain wanita, tapi setidak nya dia pernah menjalin hubungan dengan beberapa wanita.
"Kila, bisa tolong aku, pindahkan berkas penting kedalam file ini " ujar Rico memberikan laptop pada Kila, lalu Rico memberi beberapa petunjuk pada Kila.
Kila mulai menjalan kan tugas dari suaminya, dia yang awalnya terlihat tegang, kini sudah terlihat santai, dia begitu asik dengan laptopnya sehingga tak menyadari sepasang mata sedang menatap nya tak berkedip, mengagumi ke cantikannya.
Rico kembali melanjutkan pekerjaannya sebelum gairah menguasainya, Rico tak berniat melakukannya secepat itu, setidaknya dia akan membuat Kila terbiasa dulu dengan sentuhanya.
Mungkin hal itu akan sedikit menyiksanya , sebab dia harus bersabar melawan gairahnya bagaimanapun Rico adalah pria normal , dekat dengan wanita yang sudah sah jadi miliknya pastilah akan menimbulkan percikan gairah.
Ponsel Rico berdering, Rico menerima pangilan telpon seraya menjauh dari Kila
Cukup lama Rico menelpon, sesekali terdengar suara kerasnya membentak orang di seberang telpon.
Tak berapa lama Rico kembali kesamping Kila
" Kila aku pergi dulu , kau bersantai lah disini , telponlah pelayan bila kau butuh sesuatu, itu hp kusus pelayan rumah, kau bisa memakainya bila butuh sesuatu" ujar Rico menunjuk ponsel hitam yang tergeletak di meja. Kila mengangguk, sebagai jawaban.
"Kemarilah " panggil Rico, jantung Kila kembali rusuh berdebar tak mengikuti aturan.
Kila mendekat , Rico menarik lembut tubuh Kila , menempel hangat di pelukannya ,seketika sentuhan hangat bibir Rico mendarat hangat di bibirnya, hanya sekilas perlahan Rico melepaskan pelukannya.
"Aku pergi .." ujarnya lembut.
"Iya " balas Kila nyaris tak terdengar.
Rico menghilang di balik pintu yang tertutup rapat
seketika Kila menghempaskan tubuhnya ke ranjang membenamkan wajahnya di balik bantal.
Sentuhan Rico yang hanya sekilas mampu meruntuhkan jantungnya hingga dia berhenti bernapas.
Kila menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, dia berusaha untuk tenang , dan kembali bekerja.
Akhirnya selesai juga , dia meletakkan laptop di atas meja , lalu berbaring di ranjang menatap langit langit kamarnya, terlalu banyak pikiran berkecamuk di benaknya, yang membuat matanya semakin berat, padahal sudah menjelang ashar, tapi mata itu terlanjur terpejam.
Rico pulang menjelang magrib, di dapatinya Kila tengah tertidur dengan lelapnya , gaun pendek yang takmampu menutupi tubuh moleknya mengundang hasrat Rico yang memandangnya.
Rico duduk disisi ranjang , menatap tubuh yang begitu menggoda hatinya, Rico berusaha mengabaikannya, tapi gerakan lembut tubuh Kila mengundang kembali hasratnya
perlahan Rico merebahkan tubuh nya tepat disamping Kila.
Tangannya membelai lembut pipi mulus itu,lalu mulai mendekatkan wajahnya dan mendaratkan ciuman lembut di bibir Kila , sentuhan Rico terasa mengganggu tidurnya , Kila menggeliat pelan
Membuat Rico melepas ciumannya, kini dia hanya menatap wajah Kila dalam, berusaha memendam hasrat yang sedang bergejolak.
Kila merasa pipinya hangat oleh hembusan napas seseorang, seketika Kila membuka matanya, dia hampir terlonjak kaget ,mendapati suaminya sedang memeluknya dengan mata terpejam.
Tapi Kila lebih kaget lagi saat dia melihat jam dinding , dia sudah melewat kan waktu asharnya
perlahan dia melepas diri dari pelukan suaminya , beranjak bangkit menuju kamar mandi untuk berwudhu , lalu menunaikan sholat
Kila melantunkan ayat suci alqur'an perlahan , tapi tetap terdengar jelas di telinga, termasuk milik Rico
Suara merdu kila sungguh membuat hati bergetar, Rico juga merasa begitu , ada rasa yang belum pernah dia rasakan menyusup ke relung hatinya hangat....
Selesai membaca alqu'an Kila membangunkan suaminya , Kila tidak tau kalau suaminya tidak benar benar tidur
"Ada apa Kila ..."
"Sudah waktunya makan malam mas..." ujar Kila
"Aku ganti baju dulu" imbuh nya.
Kila keluar dari kamar dengan pakaian longgarnya yang serba panjang
"Kila.." ujar Rico
"Iya mas.."
"Apa kau harus berpakaian begitu , aku merasa tidak nyaman melihatnya " ujar Rico terus terang.
Kila menatap suaminya, baru sehari dia tinggal bersama, suaminya sudah ingin merubahnya, ini tak boleh terjadi, Rico lah yang semestinya di rubah bukan dia.
"Aku tidak akan membuka hijab ku mas" ujar kila tegas.
"Kila, aku tidak menyuruhmu membukanya , tapi cobalah mengganti modelnya dengan yang lebih modern " ujar Rico.
"Baiklah mas , kalau itu maumu" ujar Kila mengalah selagi dia tidak menyuruhnya melepaskan Kila masih bisa menurutinya.
"Aku cuci muka dulu " ujar Rico seraya beringsut kekamar mandi.
Tak berapa lama Rico pun keluar darin kamar mandi , lalu bersama Kila menuju ke lantai satu
di dalam lift Rico menyentuh tangan Kila menggandengnya erat , jantung Kila kembali berdetak tak beraturan
Di meja makan sudah terhidang berbagai masakan siap untuk di santap , mereka duduk berhadapan di sudut meja , meja yang begitu besar dan panjang hanya di huni mereka berdua
sementara beberapa pelayan berdiri di belakang mereka , Kila seperti tak bisa menelan makanan nya dengan benar , mungkin bila tidak ada mereka yang berdiri menunggu nya nenyantap hidangan , Kila pasti berselera untuk makan dengan lahap
"Kenapa ..., hidangan ini tidak sesuai seleramu ..?" tanya Rico yang melihat Kila tidak bernafsu untuk makan.
"A..ku.." ujar Kila ragu.
"Apa , katakan lah" ujar Rico
"Bagaimana aku bisa makan , melihat mereka berdiri di sana " Ujar Kila pelan.
"Kau merasa terganggu dengan itu..!" tanya Rico
"Iya " sahut Kila, Rico menatap dingin kearah pelayannya
" Pergilah " ujar nya lagi lagi dengan nada suara yang berbeda ,suara yang begitu dingin.
Mereka pun beranjak pergi kebelakang meninggalkan nyonya Kila dan tuan Rico
"Makanlah .." ujar Rico seraya menatap Kila
Kila mengangguk dan mulai kembali menyantap hidangan di hadapannya.
Suasana terasa begitu hening , ruangan besar ini nenengelamkan mereka dengan pikiran masing masing ,pertemuan dua latar belakang pemikiran yang berbeda tentu saja akan membuat banyak perbedaan dan perubahan
happy reading💓
jangan lupa tingalin like dan vote nya ya sayang🥰
apa kurang gelap ya malam hari 🤣🤣🤣