Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11.Mantan devan
Begitu memasuki butik desainer ternama, Cesa langsung beraksi layaknya orang kesurupan harta. Ia tidak melihat label harga sama sekali. Matanya menyapu rak-rak pajangan kaca dengan binar kepuasan
.
"Mbak, saya mau yang ini, yang warna hitam itu, yang merah di pojok sana, sama yang edisi terbatas yang baru rilis kemarin di Paris ya. Semua bungkus!" perintah Cesa kepada pelayan butik dengan santai, menunjuk tas-tas yang harga satu buahnya setara dengan harga satu buah motor matic baru.
Pelayan butik itu matanya langsung berbinar mendengar pesanan Cesa. "Baik, Nyonya. Ada lagi yang ingin ditambahkan?"
"Oh iya, dompetnya juga sekalian yang sewarna ya. Biar kalau gue buang duit, wadahnya tetep kelihatan estetik," tambah Cesa.
Devan yang berdiri di dekat kasir hanya bisa mengelus dadanya yang terasa sesak. Ia melihat pelayan itu mulai menghitung total belanjaan Cesa di mesin kasir.
Angka-angka digital di layar mesin kasir terus bertambah hingga mencapai ratusan juta rupiah.
"Totalnya jadi tiga ratus lima puluh juta rupiah, Tuan, Nyonya. Pembayarannya melalu apa?" tanya kasir itu dengan senyum paling ramah sejagat raya.
Cesa menoleh ke arah Devan, menepuk bahu cowok itu dengan kasar. "Ayo, Suami Kampret. Waktunya gesek Black Card lo yang legendaris itu. Jangan bikin malu nama besar keluarga Alister di depan mbak-mbak kasir dong," bisik Cesa dengan nada penuh tekanan yang manis tapi mematikan.
Devan menatap Cesa dengan pandangan ingin meremas wajah istrinya itu. Dengan gerakan lambat yang penuh penderitaan, Devan kembali mengeluarkan dompet kulitnya,
menarik sebuah kartu kredit berwarna hitam mengkilap, lalu melemparkannya ke atas meja kasir dengan pasrah.
BIIIP. Transaksi berhasil dalam sekejap.
"Terima kasih banyak, Tuan Muda Devan," ujar kasir itu membungkuk hormat.
"Sama-sama. Tolong doakan saya cepat kaya lagi ya, Mbak," sahut Devan sarkas, membuat kasir itu kebingungan.
Cesa membawa tiga kantong belanjaan besar itu dan langsung menyerahkannya ke tangan Devan. "Nih, pegang lagi. Tugas supir kan merangkap jadi pembawa barang belanjaan nyonya besar."
"Cesa, lo bener-bener keterlaluan ya! Tangan gue bukan gantungan baju!" protes Devan, namun ia tetap terpaksa menerima kantong-kantong itu karena Cesa sudah bersiap menyentuh layar ponselnya untuk menelpon papanya lagi.
"Jangan banyak protes, Devan.Kita belum ke toko sepatu, toko perhiasan, sama toko baju tidur sutra yang harganya selangit. Perjalanan kita masih panjang, suamiku sayang!" Cesa mengedipkan matanya genit, lalu melangkah pergi menuju eskalator dengan tawa kemenangan yang menggema.
Devan hanya bisa menghela napas panjang, menatap tumpukan kantong belanjaan di tangannya dengan pasrah yang teramat sangat. "Selia... awas lo ya kalau ketemu. Gara-gara lo kabur, hidup gue jatuh ke tangan monster barbar ini!" umpat Devan dalam hati, terpaksa melangkah lebar mengikuti langkah angkuh istrinya yang siap menguras habis hartanya hari ini.
Setelah menguras habis isi kartu kredit Devan di tiga butik pakaian berbeda hingga membuat lengan Devan penuh dengan belasan kantong belanjaan besar, Cesa akhirnya memutuskan untuk singgah ke sebuah butik perhiasan berlian ternama di lantai dua mall tersebut. Cesa berjalan masuk dengan angkuh, matanya langsung tertuju pada deretan kalung berlian yang berkilau di bawah lampu sorot toko.
Devan berdiri di belakang Cesa, menyandarkan tubuhnya yang lelah pada salah satu pilar toko sambil meletakkan semua kantong belanjaan di lantai matras toko yang bersih. Ia terus memperhatikan jam tangannya, berharap siksaan belanja ini segera berakhir.
Saat Cesa sedang sibuk meminta pelayan toko mengeluarkan sebuah gelang berlian berbentuk ular yang unik, pintu masuk butik berdenting halus. Aroma parfum mawar yang sangat menyengat dan manis tiba-tiba memenuhi ruangan, membuat Devan refleks menoleh karena mengenali wewangian tersebut.
Seorang gadis dengan rambut panjang yang dicat pirang ombre, mengenakan gaun ketat berwarna merah menyala dan kacamata hitam berbingkai emas, melangkah masuk ke dalam butik dengan gaya yang tak kalah angkuh dari Cesa. Begitu pandangan gadis itu menangkap sosok Devan yang sedang bersandar di pilar, matanya langsung melebar sempurna. Ia melepas kacamata hitamnya dengan begitu dramatis.
"Devan?! Oh my God, Devan! Ini beneran kamu?!" seru gadis itu dengan suara melengking yang sengaja dibuat semanja mungkin.
Devan membeku di tempat. Wajah tengilnya langsung berubah menjadi ekspresi risi dan tidak nyaman yang sangat kentara. Gadis itu adalah Samantha, mantan pacar Devan sekitar delapan bulan yang lalu. Hubungan mereka sebenarnya hanya bertahan selama satu bulan penuh, dan itu pun terjadi karena Devan kalah taruhan balapan dengan teman-temannya sehingga terpaksa menembak Samantha. Namun, bagi Samantha yang sangat terobsesi dengan ketampanan dan kekayaan Devan, hubungan satu bulan itu adalah kisah cinta sejati yang belum selesai. Samantha masih sangat mencintai Devan—atau lebih tepatnya, mencintai status sosial Devan yang begitu sultan.
Samantha langsung berlari kecil menghampiri Devan, mencoba menggelayutkan tangannya di lengan kekar Devan tanpa memedulikan situasi sekitar.
"Devan, aku kangen banget sama kamu! Kamu ke mana aja sih selama ini? Nomor aku kok diblokir? Kamu jahat banget deh!" rengek Samantha sambil mengerucutkan bibirnya, badannya sengaja ditempel-tempelkan ke arah Devan.
Devan langsung menarik tangannya dengan kasar, melangkah mundur satu langkah untuk menciptakan jarak. Wajahnya menunjukkan rasa jijik yang luar biasa.
"Heh, Samantha! Lepas gak?! Jangan pegang-pegang gue, risi tahu gak!" ketus Devan dengan nada ketus.
"Ih, Devan kok ketus banget sih sama aku? Kita kan pernah bahagia bareng selama sebulan penuh. Aku tahu kamu sebenarnya masih sayang sama aku, kan? Kamu cuma gengsi aja karena masalah taruhan itu," ucap Samantha pede tingkat dewa, kembali mencoba mendekati Devan.
Cesa yang sejak tadi berada di dekat etalase kaca tentu saja mendengar seluruh percakapan dramatis itu. Ia membalikkan badannya secara perlahan, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap Samantha dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai yang sangat dingin namun penuh selidik.
"Ehem," Cesa berdehem cukup keras, memotong aksi Samantha yang sedang berusaha menyentuh dada Devan.
Samantha tersentak, baru menyadari keberadaan Cesa di sana. Ia menatap Cesa dengan pandangan meremehkan. "Kamu siapa ya? Supir barunya Devan atau pelayan yang bawain barang belanjaan dia? Minggir deh, jangan ganggu urusan aku sama pacar aku," usir Samantha dengan nada ketir yang angkuh.
Mendengar kata 'pacar', Cesa langsung meledak dalam tawa kecil yang terdengar sangat merendahkan. Ia melangkah mendekati Samantha dengan sepatu hak tingginya, membuat suaranya menggema di dalam butik perhiasan yang sunyi itu.
"Pacar? Sorry ya, Mbak yang bajunya belum kelar di jahit. Mata lo ditaruh di mana ya? Gak lihat berita atau sengaja amnesia?" Cesa melepas kacamata hitamnya, menatap lurus ke dalam mata Samantha dengan tatapan menantang. "Gue bukan pelayan, dan jelas bukan supir. Kenalin, gue Alice Sabrina Catrine Alister. Istri sah dari cowok tengil yang lagi lo gelayutin ini," ucap Cesa dengan penekanan kuat pada kata 'istri sah'.
Samantha tampak terkejut sesaat, namun sedetik kemudian ia meredam keterkejutannya dan memasang wajah sinis. Ia tertawa renyah yang terdengar dipaksakan. "Oh... jadi kamu cewek pengganti itu? Cewek yang terpaksa nikah karena kakaknya kabur? Kasihan banget ya, cuma jadi ban serep! Devan itu nikah sama kamu karena terpaksa, tahu gak! Dia gak cinta sama kamu. Cintanya Devan itu cuma buat aku!" seru Samantha dengan penuh percaya diri, volume suaranya mulai meninggi hingga memicu perhatian beberapa pelayan toko dan satpam di depan pintu.
Cesa sama sekali tidak terpancing emosi. Ia justru tersenyum lebar, senyuman licik yang biasa ia gunakan sebelum menjatuhkan mental lawannya.
"Ban serep? Wah, istilah lo bagus juga ya. Tapi seenggaknya, ban serep kayak gue ini sekarang punya akses penuh ke Black Card-nya Devan buat beli berlian di toko ini," Cesa menunjuk tumpukan kantong belanjaan mewah di dekat Devan. "Sedangkan lo? Mantan pacar hasil taruhan satu bulan yang kualitasnya kayak barang diskonan akhir tahun, masih berani teriak-teriak nuntut cinta di depan umum? Gak malu sama bedak lo yang udah mulai retak itu?" sindir Cesa tajam, menatap tepat ke arah riasan wajah Samantha yang begitu tebal.
"Berani ya lo ngatain gue?!" wajah Samantha memerah padam karena menahan malu dan amarah yang meledak. Ia menoleh ke arah Devan, mencari pembelaan. "Devan! Kamu lihat kan cewek barbar ini ngomong apa sama aku?! Usir dia, Devan! Bilang sama dia kalau kamu cuma cinta sama aku!"
Devan yang sejak tadi merasa risi dan ingin segera pergi dari tempat itu, mendengus kasar. Ia menatap Samantha dengan pandangan dingin tanpa simpati sedikit pun. "Samantha, denger ya. Lo jangan halu deh. Hubungan kita itu udah selesai delapan bulan lalu, dan dari awal emang cuma taruhan. Gue gak pernah punya perasaan apa-apa sama lo. Dan satu lagi..." Devan melirik Cesa sesaat sebelum kembali menatap Samantha, "...dia emang barbar dan menyebalkan, tapi dia tetep istri sah gue sekarang. Jadi mending lo pergi dari sini sebelum gue panggil satpam buat seret lo keluar karena mengganggu kenyamanan istri saha gue pas belanja," ucap Devan dengan nada tegas yang sangat menusuk hati Samantha.
Cesa yang mendengar pembelaan tak terduga dari Devan langsung menaikkan sebelah alisnya, merasa sedikit terkejut namun langsung memanfaatkan momen itu untuk memberikan serangan pamungkas pada Samantha.
"Dengar kan, Mbak Mantan? Suami sultan gue udah bersabda. Jadi, silakan angkat kaki dari butik ini dengan sisa-sisa harga diri lo yang tinggal seujung kuku itu. Dadah... jangan lupa beli kaca yang gede ya di rumah buat ngaca!" seru Cesa sambil melambaikan tangannya dengan gerakan manja yang sangat memanaskan suasana.
Samantha menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai matras toko dengan air mata yang mulai mengenang karena malu yang teramat sangat. "Kalian berdua bener-bener jahat! Awas ya, aku gak akan tinggal diam!" teriak Samantha histeris sebelum berbalik badan dan berlari keluar dari butik perhiasan dengan menutupi wajahnya yang memerah padam karena malu menjadi tontonan orang-orang di mall.
Setelah Samantha benar-benar hilang dari pandangan, suasana di dalam butik kembali tenang. Cesa menoleh ke arah Devan dengan senyum jailnya yang khas. Ia mendekati Devan dan menepuk-nepuk dada cowok itu pelan.
"Wah... keren juga lo tadi, Tumben otak lo lagi bener, bisa belain istri sah di depan mantan halu," ledek Cesa dengan kekehan kecil.
Devan langsung menepis tangan Cesa dari dadanya dengan wajah yang kembali ditekuk ketus. "Gue belain lo bukan karena sayang ya, jangan kegeeran lo! Gue cuma gak mau nama baik keluarga gue rusak gara-gara ada perempuan halu yang teriak-teriak di mall mewah kayak gini. Bikin malu aja!" ketus Devan, wajahnya memerah tipis entah karena sisa emosi atau hal lain.
"Halah, bilang aja lo terpesona sama aksi pertahanan rumah tangga gue yang sangat elegan dan berwibawa tadi," sahut Cesa pede, kembali berjalan menuju etalase perhiasan dengan santai. "Mbak pelayan! Karena suasana hati saya lagi bagus banget setelah ngusir hama, tolong bungkus kalung berlian yang paling mahal di sebelah sana ya! Suami saya yang ganteng dan kaya raya ini yang bakal bayar pakai Black Card-nya sekarang juga!" seru Cesa lantang tanpa beban.
Devan hanya bisa memejamkan matanya pasrah, meraba dompetnya dengan hati yang menangis darah melihat tingkah barbar istrinya yang tiada henti menguras hartanya hari ini.