NovelToon NovelToon
Penguasa Danau Keabadian

Penguasa Danau Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.

Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.

Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.

Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!

Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.

Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 — Pembalasan Sang Pemburu

​“Wang Dahu! Akhirnya kau muncul juga!”

​Zhou Tianhe tertawa terbahak-bahak lepas. Wajahnya yang arogan dipenuhi rasa puas ketika mendapati pemuda yang selama ini dicarinya justru berdiri dengan tenang hanya beberapa langkah di hadapannya.

​“Kau tahu sudah berapa lama aku memburumu? Sejak insiden memalukan di kedai itu, aku bersumpah akan membuatmu menyesal seumur hidup!”

​Wang Dahu menatapnya datar, seolah ia sedang melihat seekor badut jalanan. “Jadi, kedatanganmu kemari hanya untuk mengomel?”

​Wajah Zhou Tianhe seketika menggelap pekat. “Jangan berpura-pura tenang, sialan! Kau mempermalukanku di depan banyak orang. Hari ini aku akan mematahkan kakimu dan membuatmu berlutut memohon ampun!”

​Ia lantas melirik tajam ke arah tiga pengikut di belakangnya. “Kepung dia! Jangan biarkan tikus ini kabur!”

​“Baik, Tuan Muda!”

​Para pengikut itu langsung bergerak cepat, menyebar dan membentuk lingkaran ketat yang mengurung pergerakan Dahu. Salah seorang di antaranya bahkan mencabut pedang dari sarungnya.

​Melihat respons arogan itu, Wang Dahu hanya menghela napas malas. “Begitu banyak orang dikerahkan hanya untuk menghadapi satu orang. Kalian benar-benar tidak punya nyali bertarung secara jantan, ya?”

​“Banyak omong!” bentak Zhou Tianhe melambaikan tangan. “Habisi dia!”

​Namun sebelum lingkaran kepungan itu sempat menutup rapat, Wang Dahu justru melesat mendahului mereka!

​Bugh!

​Satu hantaman tinju telak mendarat di dada peserta terdekat hingga tubuh pria itu terpental ke belakang. Dahu langsung berputar lincah, menghindari sabetan pedang dari samping, lalu menyapu bersih kaki lawannya.

​Dalam sekejap mata, dua pengikut Zhou Tianhe jatuh berantakan ke tanah.

​“APA?!”

​Zhou Tianhe dan sisa pengikutnya terperanjat kaget. Mereka sama sekali tidak menduga Dahu akan langsung menerobos kepungan tanpa ragu.

​“Jangan biarkan dia bergerak bebas! Serang bersama-sama!” teriak Zhou Tianhe kalap.

​Sisa pengikutnya serentak menerjang dari berbagai arah.

​Namun, pergerakan Wang Dahu kini jauh lebih tenang dan efisien ketimbang saat menghadapi monster di hutan. Berkat tempaan bertarung melawan monster beast tingkat tinggi, refleks tubuhnya telah terbiasa membaca celah dan momentum.

​Ia melangkah tipis menghindari tinju, lalu memanfaatkan tenaga dorong lawan untuk menjatuhkan mereka.

​Saat seseorang mengayunkan pedang, Dahu merunduk dan menghantam ulu hatinya. Saat yang lain menyerang dari belakang, ia berputar dan menyenggol lutut lawannya hingga ambruk.

​Gerakannya bersih, tanpa sisa tenaga yang terbuang.

​“Bagus!” puji si iblis di dalam batinnya. “Kau bahkan tidak membuang banyak cadangan Qi untuk membasmi sampah-sampah ini.”

​Dahu tidak membalas. Ia terus mendesak maju. Seorang pengikut yang mencoba menghadangnya dari depan dicengkeram pergelangan tangannya, lalu ditarik hingga menabrak dua rekannya sendiri.

​Bruk! Ketiganya saling tumpuk tak berdaya.

​“Kalian benar-benar kelompok tidak berguna!” maki Zhou Tianhe geram.

​Melihat anak buahnya takluk dengan mudah, Zhou Tianhe maju sendiri. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaga Qi ke kedua telapak tangannya, lalu menerjang bagaikan kesurupan.

​“MATI KAU, WANG DAHU!”

​Pukulan bertubi-tubi dilancarkan membabi buta. Namun Dahu hanya melangkah santai ke kiri dan ke kanan, membuat setiap hantaman maut itu hanya memukul angin kosong.

​Wajah Zhou Tianhe kian memerah padam karena frustrasi. “Berhenti menghindar dan lawan aku secara jantan!”

​Dahu memandangnya sekilas. “Bukankah sejak tadi kau memang sedang menyerangku?”

​Pancingan itu membuat emosi Zhou Tianhe meledak total. Ia melepaskan seluruh pertahanannya, mencurahkan tenaga Qi dalam kapasitas maksimal untuk melancarkan serangan pemungkas.

​Dahu mengamati setiap detail gerakan lawan: Langkah kanannya terlalu lebar, bahu kirinya selalu bergerak sebelum memukul, dan napasnya mulai tersengal.

​Pola itu sudah terbaca habis.

​Begitu hantaman berikutnya meluncur, Dahu tidak lagi mundur. Ia merangsek masuk ke dalam jarak pukul, membiarkan tinju itu lewat tipis di samping telinganya, lalu—

​BAM!

​Telapak tangan Dahu yang dilapisi Qi menghantam telak dada Zhou Tianhe.

​Uhuk! Zhou terhuyung mundur. Sebelum ia sempat memulihkan keseimbangan, Dahu menyapu kakinya hingga tubuh pemuda bangsawan itu terbanting keras ke tanah.

​“Mustahil...!” geram Zhou Tianhe, memaksakan diri bangkit dengan mata merah menyala.

​Namun Dahu bergerak lebih cepat. Sebuah hantaman tinju telak kembali mendarat di rahangnya.

​Bugh!

​Zhou Tianhe terpental dan berguling beberapa kali di atas tanah berdebu.

​Tak jauh dari lokasi pertarungan, beberapa peserta lain yang sebelumnya sempat dirampas tokennya oleh kelompok Zhou Tianhe tampak menyaksikan pemandangan itu dengan mulut ternganga.

​Tubuh mereka masih dipenuhi luka lebam akibat kekejaman kelompok Zhou. Mereka tadinya hanya berniat mencari tempat sembunyi, namun justru mendapati kelompok Zhou sedang dilibas habis-habisan.

​“Pemuda itu... bukankah dia Wang Dahu?”

“Dia melumpuhkan seluruh kelompok Zhou Tianhe sendirian?!”

“Bukankah saat ujian awal kultivasinya cuma tingkat pertama...?”

​Mereka dilanda kebingungan dan kekaguman luar biasa.

​Sementara itu, Zhou Tianhe berjuang merangkak bangun. Harga dirinya hancur berkeping-keping. “WANG DAHU...!”

​Ia mengumpulkan sisa-sisa terakhir tenaga Qi-nya. Auranya bergolak tak stabil. “Terima serangan terakhirku ini!”

​Zhou Tianhe menerjang dengan sisa kekuatannya.

​Namun Dahu menyambutnya dengan ketenangan mutlak. Ia bergeser selangkah kecil ke samping saat serangan itu tiba, lalu melayangkan hantaman siku ke rusuk lawan.

​DUG!

​Udara di paru-paru Zhou Tianhe seolah terhempas habis. Sebelum tubuhnya ambruk, Dahu mencengkeram kerahnya dan melayangkan beberapa pukulan disiplin ke arah wajah dan tubuhnya.

​Bugh! Bugh! Bugh!

​Zhou Tianhe akhirnya terkulai lemas tak berdaya. Kesadarannya memudar, hingga ia jatuh pingsan seketika di atas tanah.

​Dahu mengibaskan debu di tangannya, lalu menatap tiga pengikut Zhou yang masih tergeletak ketakutan di tanah.

​Para pengikut itu langsung menundukkan kepala dalam-dalam, takut bernapas terlalu keras.

​“Tenang saja. Aku tidak berniat membunuh kalian,” ucap Dahu datar.

​Ia lantas melangkah mendekati tubuh tak berdaya Zhou Tianhe, merogoh kantong penyimpanan milik pemuda sombong itu. Di dalamnya, ia menemukan tumpukan token ujian yang jumlahnya jauh melampaui batas kewajaran—jelas hasil merampas dari peserta lain.

​Dahu mengeluarkan seluruh token tersebut.

​Ia kemudian berjalan menghampiri para peserta yang tadi dirugikan, lalu membagikan kembali token-token yang sempat dirampas.

​Seorang pemuda dengan lengan terluka menerima tokennya dengan tangan bergetar tak percaya. “K-kenapa kau mengembalikan ini kepada kami?”

​“Karena itu memang hak kalian,” jawab Dahu ringan.

​“Tapi... kau bisa saja mengambilnya untuk melipatgandakan skormu sendiri.”

​Dahu tersenyum tipis. “Aku tidak kekurangan token.”

​Peserta-peserta itu saling berpandangan, menyadari betapa besar integritas pemuda di hadapan mereka. Rasa hormat yang tulus kini terpancar dari tatapan mereka.

​Sementara itu, sisa pengikut Zhou Tianhe menatap Dahu dengan ngeri. Salah seorang memberanikan diri bertanya, “Apakah... apakah kau akan menghukum kami juga?”

​Dahu melirik mereka sekilas. “Kalian memang mengikuti perintahnya, tapi aku tidak melihat tangan kalian berlumuran darah perampasan. Anggap saja ini peringatan keras.”

​Ia berhenti sejenak, menatap mereka tajam. “Jika kalian masih ingin meniti jalan kultivasi, belajarlah menggunakan kekuatan untuk menegakkan prinsip, bukan malah menjadi budak orang lain.”

​Para pengikut itu menunduk malu. “Kami... mengerti.”

​TINNGGG! TINGGG! TINGGG!

​Suara lonceng perunggu raksasa mendadak berdentang nyaring membelah keheningan seluruh kawasan Lembah Ujian.

​Disusul oleh suara pengeras suara formasi yang menggema di langit:

​“Waktu ujian tiga hari resmi berakhir! Seluruh peserta yang masih berada di dalam lembah diwajibkan segera keluar menuju pelataran titik kumpul!”

​Para peserta serentak bergerak meninggalkan area hutan.

​Dahu mendongak menatap langit sore yang mulai kemerahan. “Sudah selesai rupanya.”

​Ia menyimpan rapi token miliknya, lalu berbalik melangkah keluar lembah. Beberapa peserta yang sempat ia tolong tampak berjalan mengikuti di belakangnya sebagai bentuk perlindungan tak langsung, meninggalkan Zhou Tianhe dan anak buahnya yang masih tergeletak pingsan di atas rumput.

​Di ruang batinnya, si iblis tertawa kecil. “Kerja bagus, Dahu. Kau melibas berandalan itu, mengembalikan hak orang lain, dan membiarkan pesakitan itu membusuk di tanah.”

​Dahu mengangkat bahu acuh tak acuh. “Aku hanya membersihkan jalanan dari sampah.”

​“Tapi ingat, setelah ini namamu pasti akan jadi bahan pembicaraan hangat di kalangan petinggi sekte.”

​Dahu tidak menjawab. Ia hanya terus melangkah mantap menuju gerbang keluar.

​Tanpa ia sadari, aksi heroik dan dominasinya di dalam lembah telah terpantau jelas melalui cermin proyeksi spiritual oleh para tetua di atas bukit. Dan salah seorang tetua agung kini menatap sosok Wang Dahu dengan sorot mata penuh ketertarikan yang mendalam.

1
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjuttt
Muhamad U Fadillah Udwm: jangan sampe tengah jalan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!