NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Xi Nda

Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.

Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.

Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.

Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.

Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Matahari sudah condong ke barat ketika Yu Tian menemukan sebuah gua di balik tebing yang tertutup sulur dan lumut. Mulutnya sempit, hanya cukup dilewati satu orang yang menunduk, dan di dalamnya udara dingin berbau tanah basah dan kotoran kelelawar. Ia menuruni lorong pendek itu dengan satu tangan bertumpu pada dinding, lalu duduk bersandar di sudut paling dalam, napasnya masih terputus-putus. Dantiannya terasa kosong dan seluruh meridiannya berdenyut panas sampai ke ujung jari.

'Bodoh.' Ia menatap telapak tangan kanannya yang gemetar. 'Tebasan itu seharusnya dilepaskan dari ranah Penguasa Langit, bukan dari Istana Roh yang baru tiga hari kuinjak. Aku tahu batasnya, dan aku tetap memaksa.'

Ia menghembuskan napas panjang melalui hidung dan tidak membantah dirinya sendiri. Sombong, ya. Tapi kesombongan yang tidak bisa mengakui kebodohannya sendiri hanya akan membunuhnya cepat.

Ia keluar sebentar untuk mengumpulkan batu-batu pipih dan menyusunnya di mulut gua dalam pola yang sudah ia hafal di luar kepala, lalu menutupnya dengan sulur-sulur. Formasi pengaburan itu kasar, tetapi cukup untuk menyamarkan Qi dan bau selama orang tidak mencari terlalu dekat. Ia kembali ke dalam, menurunkan kantong-kantong penyimpanan dari pinggang, dan menumpahkan isinya ke lantai gua: inti monster dari hasil buruan di pegunungan, botol-botol pil dari gudang Xuan Ming, batu roh dari kantong ketiga tetua.

'Aku akan menghabiskan semuanya. Tidak ada gunanya menyimpan apa yang tidak sempat kupakai kalau aku mati.'

Ia mulai berkultivasi dengan lingkaran inti di sekeliling tubuhnya. Satu per satu inti retak, pil ditelan, batu roh digenggam sampai menjadi abu. Qi mengalir deras ke dantiannya, melewati dinding demi dinding, dan ia mengatur napas dengan hitungan yang sudah ia perbaiki sendiri sejak hari-hari di asrama. Siang menjadi malam, malam menjadi siang. Ia kehilangan hitungan hari setelah lima kali bulan menyala dan padam di celah sulur di mulut gua, dan rambutnya tumbuh sampai menyentuh bahu.

Pada suatu malam yang sunyi, ruang di bawah pusarnya bergetar. Qi yang selama berbulan-bulan memadat dan berputar mulai menggumpal menjadi sebuah bola kecil yang berpendar keemasan, makin padat, makin berat, dan berputar dengan dengung yang hanya terdengar di dalam tulang.

Yu Tian mengertakkan gigi, keringat mengalir deras di wajahnya, dan satu per satu dinding yang tersisa pecah sampai bola itu berhenti membesar dan mengunci diri di pusat dantiannya. Ia membuka mata dan menghembuskan napas, dan debu di sekeliling lingkaran pil yang sudah kosong beterbangan ke dinding gua.

Inti Emas tingkat sembilan. Ia berdiri perlahan, meregangkan punggungnya sampai tulang-tulangnya berbunyi, dan mengepalkan tangan. Udara di antara jarinya berdesing rendah, dan seluruh tubuhnya terasa lebih ringan dan lebih tajam daripada beberapa bulan lalu.

'Kemampuanku naik pesat. Tinggal satu langkah lagi menuju ambang berikutnya.' Ia memejamkan mata dan meraba dinding yang menunggu di depannya, dan keningnya berkerut. Dinding itu tidak lagi tipis. Ia tebal, licin, dan tidak menyisakan satu pun celah. 'Tapi terobosan setelah ini akan jauh lebih sulit. Sumber daya tidak lagi cukup. Yang kubutuhkan adalah pemahaman.'

Ia merobohkan formasi kasar di mulut gua dengan satu tendangan ringan, lalu melangkah keluar ke cahaya pagi yang menyilaukan. Burung-burung berhamburan dari pepohonan, dan udara yang bersih dan lembap membuat dadanya mengembang. Sebuah sungai kecil mengalir tidak jauh dari sana, dan ia berlutut di tepinya, mencelupkan kedua tangan ke dalam air dingin, lalu membasuh wajahnya berulang kali.

Pantulannya menunjukkan wajah yang lebih tirus dan lebih tajam, dengan rambut hitam yang menggantung di bahu dan syal putih yang sudah lusuh di lehernya.

Semak di seberang sungai bergemeresik. Seekor babi hutan sebesar anak sapi keluar dengan taring melengkung dan bulu hitam yang tegak, mendengus keras ketika mencium bau manusia.

Yu Tian menegakkan badan perlahan dan menarik pedang putih dari sabuknya. Satu sudut bibirnya terangkat. "Saatnya mencoba teknik yang baru terbuka di Inti Emas."

Ia menarik napas, dan energi spiritual dari sekeliling tubuhnya berbondong masuk ke dalam bilah dari tanah, dari sungai, dari batang pohon, dari udara yang bergetar. Babi hutan itu menerjang dengan raungan.

Yu Tian melangkah ke samping dan menebas dalam satu gerakan pendek. Tidak ada percikan, tidak ada kilatan, hanya hawa panas yang menyapu dari ujung pedang, dan babi hutan itu mengeluarkan jeritan melengking sebelum bulunya menyala.

Api oranye merambat di sepanjang punggungnya, kulitnya mendesis dan meletup, dan bau daging terbakar menyebar ke seluruh tepi sungai. Hewan itu berguling dua kali di tanah, lalu diam.

"Teknik Pembakaran Spiritual." Yu Tian menurunkan pedangnya dan mengamati bangkai yang berasap itu. "Ambil energi spiritual di sekitar, lepaskan secepat mungkin, dan energi itu memanas sampai membakar apa pun yang dilewatinya. Dulu kuciptakan karena ingin membunuh dan memasak sekaligus."

Ia berjongkok dan memotong sepotong paha dengan pedangnya, mengangkatnya ke mulut, dan menggigitnya. Dagingnya empuk dan berminyak, tetapi hambar. Ia mengunyah sambil berpikir, lalu menelan dan mengerutkan hidung.

"Kurang garam." Ia tetap menghabiskan potongan itu sampai bersih. Berbulan-bulan ia hanya hidup dari Qi, dan perutnya menjerit minta diisi.

Ia membelah dada babi hutan itu dan mengambil intinya, lalu meninggalkan bangkainya untuk burung dan serangga. Ia kembali ke gua, memungut semua barangnya, dan mengikat kedua pedang di punggung dan pinggang.

Di tepi sungai, ia berdiri menatap tiga arah yang terbuka di hadapannya pegunungan utara, hutan timur, dan jalan setapak yang menurun ke selatan. 'Ke mana? Aku sudah lama bersembunyi. Dunia di luar sana sudah lama berjalan tanpaku.'

Ia memutuskan dengan cepat. Ibu kota. Kota terbesar yang bisa dicapai dalam beberapa hari terbang, tempat kabar bertemu kabar, dan tempat pasar, perpustakaan, serta orang-orang yang tahu lebih banyak daripada yang mereka katakan.

'Melihat-lihat. Siapa tahu ada yang menarik.' Ia melompat ke atas bilah pedang, dan pedang itu menderu naik ke atas pepohonan, lalu melesat ke arah barat daya di bawah langit pagi yang terang.

1
🌸athy🌸
semangat nulisnya author....
🌸athy🌸
Gaya bahasanya ringan tapi sangat mengalir. Sekali buka halaman pertama, langsung susah buat berhenti baca sampai tamat
🌸athy🌸
Ketegangannya dibangun dengan sangat konsisten. Bikin penasaran di setiap akhir bab dan sukses bikin begadang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!