Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Mia, kamu habis nangis ya?" Pertanyaan yang sejak tadi takut Mia dengar, akhirnya tercetus juga dari mulut Neneng. "Matamu bengkak ih!" Neneng menyipitkan mata, meneliti wajah Mia.
"Iya, Teh. Aku memang habis nangis. Kangen sama keluarga di kampung." Mia memilih berdusta, sebab jika ia mengatakan 'tidak', Neneng pasti tidak akan percaya. Wanita berusia tiga puluh tahun itu terlalu peka.
"Ohh... kirain kamu habis bertengkar dengan suamimu. Syukurlah kalau kamu nangis karena kangen sama keluarga." Neneng menghela napas lega.
Obrolan itu tak sempat berlanjut. Tiba-tiba suara dari pengeras suara terdengar menggema di seluruh ruangan produksi. "Perhatian kepada seluruh karyawan, harap segera bersiap di posisi masing-masing. Proses produksi akan segera dimulai."
Mia dan Neneng saling berpandangan sejenak. "Udah, yuk, Mi. Nanti keburu dimarahin Bu Ayu," ujar Neneng sambil bergegas menuju tempatnya.
Mia mengangguk. "Iya, Teh."
Keduanya pun segera duduk di kursi masing-masing. Mia menarik napas panjang sebelum merapikan posisi tubuhnya di depan mesin jahit. Suara mesin dari beberapa meja mulai terdengar bersahutan. Tak lama kemudian, seluruh ruangan kembali dipenuhi suara khas lantai produksi.
Mia menundukkan wajah, memusatkan perhatian pada kain yang mulai bergerak di bawah jarum mesin. Ia berusaha mengusir bayangan Edo dari kepalanya. Tentang pertengkaran mereka tadi pagi dan kata-kata Edo yang merobek hati. "Tidak. Aku tidak boleh memikirkannya sekarang. Aku harus fokus pada pekerjaanku." Ia kembali menginjak pedal mesin jahit. Jemarinya bergerak cekatan mengikuti alur jahitan, seolah-olah tidak ada apa pun yang sedang mengusik pikirannya.
Namun, sesekali pandangannya tetap kosong. Di dalam hati, Mia hanya bisa berdoa agar semua kecurigaannya tentang Edo tidak benar. Sebab jika benar, ia bahkan tidak tahu harus bagaimana menghadapi kenyataan itu.
_____
Edo duduk di depan mesin jahit, mengerjakan bagian demi bagian topi yang harus diselesaikannya. Suara mesin yang berdengung memenuhi ruangan produksi, bercampur dengan suara para pekerja lainnya. Namun, pikirannya tak sepenuhnya tertuju pada pekerjaan. Sesekali, bayangan kejadian semalam bersama Bela kembali melintas di kepalanya. Desahan dan gerakan gadis itu membuat pusakanya menegang.
Edo tersenyum tipis mengingat semua itu. "Ahh... Bela, kamu membuatku bersemangat terus," batinnya tak ada sedikit pun rasa bersalah terhadap Mia.
Kejadian semalam justru menjadi sesuatu yang ingin ia rasakan lagi. Ia sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan istrinya jika mengetahui apa yang telah dilakukannya.
Tangannya tetap bergerak mengikuti kain yang dijahit, tetapi pikirannya kembali melayang. "Andai saja tadi malam Bela tak mengajakku pulang, mungkin aku bisa menaungi tubuh montoknya sampai pagi." Ia mengembuskan napas berat. Nafsunya meningkat seketika.
"Do!" Suara seseorang dari samping membuat lamunannya terputus.
Edo menoleh. "Apa, Jang?"
"Lo ngelamun terus dari tadi. Jahitan lo sampai miring tuh," beritahu Jajang.
Edo spontan melihat hasil jahitannya. Benar saja, garis jahitan yang dibuatnya sedikit melenceng. "Ck!" Ia mendecakkan lidah. "Anjing!" umpatnya.
Jajang hanya menggeleng, lalu kembali mengerjakan tugasnya.
Sementara Edo membenarkan posisi kain di bawah jarum mesin. Namun, beberapa detik kemudian, senyum tipis kembali muncul di wajahnya. Pikirannya tetap saja kembali kepada Bela.
______
Bel tanda istirahat terdengar. Suara mesin-mesin yang sejak pagi memenuhi ruangan produksi perlahan berhenti. Para karyawan mulai beranjak dari tempat masing-masing.
Mia merapikan meja kerjanya, lalu memasukkan saputangan ke dalam tas kecil yang dibawanya.
"Mi, kamu bawa bekal atau tidak?" tanya Neneng.
Mia menggeleng. "Nggak, Teh. Tadi pagi buru-buru."
"Ya sudah, kita nyari makan di luar yuk. Kebetulan aku juga lagi pengen makan mie ayam."
Mia mengangguk. "Boleh. Ayo, Teh."
Keduanya kemudian keluar dari gerbang pabrik dan berjalan menuju deretan pedagang makanan yang memang ramai didatangi para pekerja saat jam istirahat.
Tak lama, mereka berhenti di depan gerobak mie ayam milik Pak Min. Beberapa karyawan dari pabrik sekitar sudah lebih dulu mengantre.
Mia dan Neneng ikut berdiri di barisan.
Baru beberapa menit menunggu, tiba-tiba terdengar suara memanggil dari belakang.
"Teh Mia!"
Mia menoleh. Senyumnya langsung mengembang ketika melihat seorang lelaki berdiri beberapa langkah di belakangnya. "Eh, A Iki." Mia menyapa ramah. "Suka jajan mie ayam di sini juga?"
Rifki tertawa kecil sambil mengangguk. "Iya, Teh. Mie ayam Pak Min enak soalnya."
Mia ikut mengangguk-angguk. "Memang enak."
Neneng yang sejak tadi memperhatikan Rifki tiba-tiba menyipitkan mata. "Eh, kamu teh Rifki yang kerja di pabrik sebelah, kan? Di Otomotif Wijaya?"
Rifki terlihat sedikit terkejut. "Iya, Teh. Kok tahu?"
Neneng langsung tertawa. "Ya tahu lah. Adikku kerja di sana. Namanya Ali. Bagian operator produksi."
"Oh, Ali?" Rifki mengangguk-angguk. "Iya, iya, aku kenal, Teh. Dia junior aku. Baru sekitar enam bulan, kan, kerja di OW?"
"Iya, betul."
Rifki tersenyum.
Neneng kemudian terkikik. "Dia juga sering cerita tentang kamu, tahu."
Rifki mengangkat alis. "Cerita apa?"
"Katanya dia punya Leader yang baik banget." Neneng sengaja berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada menggoda, "Ganteng lagi. Namanya A Rifki."
Wajah Rifki seketika berubah merona, sedikit salah tingkah. "Aduh, dia terlalu berlebihan, Teh."
"Eh, nggak berlebihan." Neneng tertawa. "Ali itu jujur. Kamu memang ganteng."
Rifki semakin tersipu. "Ah, Teteh bisa aja."
Mia yang berdiri di samping Neneng hanya menyimak percakapan mereka sambil sesekali tersenyum. Suasana yang semula biasa saja mendadak menjadi lebih cair.
Setelah pesanan mereka selesai dibuat, Rifki menunjuk beberapa bangku panjang yang tersedia di dekat warung. "Teh Mia, Teh Neneng, makan bareng aja, yuk."
Neneng langsung mengangguk. "Boleh."
Rifki kemudian berkata, "Sekalian aku traktir."
Mia spontan menggeleng. "Jangan, A Iki. Nggak usah. Aku bayar sendiri aja."
"Nggak apa-apa, Teh. Itung-itung perkenalan aja sama Teh Neneng."
"Aduh, makasih." Neneng tertawa sambil menyenggol lengan Mia. "Udah, Mi. Nggak usah malu-malu begitu. Sekali-sekali ditraktir."
Mia tersenyum kecil. "Ya sudah, kalau begitu terima kasih, A."
"Sama-sama, Teh."
Mereka bertiga kemudian membawa mangkuk mie ayam masing-masing menuju bangku yang sudah tersedia.
Neneng duduk di satu sisi, sementara Mia dan Rifki duduk bersebelahan di depannya.
Obrolan ringan kembali mengalir di antara mereka, ditemani aroma kuah mie ayam yang masih mengepul dan riuh para pekerja yang menikmati waktu istirahat.
Untuk sesaat, Mia bisa melupakan persoalan rumah tangganya. Ia bahkan sempat tertawa kecil ketika Neneng kembali menggoda Rifki soal pujian Ali.
Edo juga tengah menikmati waktu istirahatnya. Lelaki itu duduk di sebuah warung nasi yang tak jauh dari pabrik topi tempatnya bekerja. Di hadapannya sudah tersedia sepiring nasi dengan lauk yang banyak. Ada ayam goreng, ikan dan bakwan jagung. Di seberangnya, Ohang sedang menyuapkan nasi. Keduanya awalnya makan dalam diam. Namun, tiba-tiba Ohang mendesis pelan. "Sstt!"
Edo mengangkat wajah. "Apa?"
Ohang tidak langsung menjawab. Ia justru melirik ke arah pintu masuk warung nasi, lalu menunjuk menggunakan dagunya. "Tuh, lihat."
Edo mengikuti arah pandangan Ohang. Seorang wanita baru saja masuk ke dalam warung. Usianya mungkin jauh di atas mereka. Penampilannya cukup mengundang syahwat. Rapi, seksi dan terawat, tapi wajahnya biasa saja. Wanita itu kemudian memilih tempat duduk yang agak kosong di dekat sisi warung. "Kenapa sama wanita itu?" tanya Edo, masih mengunyah makanannya.
Ohang mendekatkan wajahnya sedikit, lalu berbisik. "Dia Salma."
Edo mengernyit. "Terus?"
"Janda kaya." Edo menghentikan gerakan sendoknya sejenak. Ohang melanjutkan dengan suara semakin pelan. "Dia yang punya konter HP di ujung jalan sana. Punya satu anak. Suaminya meninggal sekitar setahun yang lalu."
Edo kembali melirik ke arah wanita bernama Salma itu. "Terus hubungannya lo ngasih tahu ke gue apa, Hang?"
Ohang menyeringai. "Kita taruhan, yuk, Do."
Edo menoleh. "Taruhan?" Kunyahan Edo terhenti.
Ohang mengangguk. "Kalau lo bisa mendapatkan Salma dalam waktu dua minggu..." Ohang sengaja berhenti sebentar, lalu mengangkat satu alis. "Gue bakal ngasih lo duit satu juta. Tapi itu kalau lo berhasil. Kalau lo gagal, ya uangnya hangus," bisiknya.
Edo terdiam. Keningnya berkerut.
Ohang terkekeh melihat ekspresi temannya. "Lo sanggup, nggak?"
Edo tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap Salma dari sudut matanya. Wanita itu sedang memesan makanan kepada pemilik warung. "Satu juta," batinnya. "Lumayan juga tuh. Bisa buat modal pacaran sama Yayang Bela. Sekalian beli topi miring juga. Bonusnya... bisa nyobain si Janda kaya." Perlahan, sudut bibir Edo terangkat.
digsntung pula
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪