Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.
Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.
"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."
Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?
Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Celah Kecil di Dinding Es
Suasana aula pelatihan perlahan memanas seiring berjalannya waktu. Materi manajemen konflik dan komunikasi tim disampaikan dengan cepat, diselingi diskusi kelompok yang riuh. Di sudut paling belakang, aku berusaha tetap menjadi pengamat yang pasif, mencatat hal-hal penting di buku catatan tanpa perlu banyak bersuara.
Namun, keberadaan Kareen di sebelahku membuat rencanaku tak sepenuhnya berjalan mulus.
"Menurutmu, pendekatan mana yang lebih efektif untuk mengatasi pekerja senior yang resisten dengan aturan baru?" bisik Kareen di sela-sela paparan pemateri.
Aku tidak langsung menjawab. Mataku tetap tertuju pada slide presentasi di depan. "Ketegasan SOP. Kalau aturan berlaku sama untuk semua orang, tidak ada alasan untuk menawar."
Kareen manggut-manggut, lalu mencoret-coret kertasnya. "Teorinya begitu. Tapi di lapangan, pendekatan manusiawinya sering kali lebih memegang peranan. Kalau cuma pakai ketegasan, orang bakal patuh karena takut, bukan karena paham."
Aku mengerutkan kening tipis. "Yang penting target tercapai dan operasional tidak terganggu."
Kareen menoleh, menatapku dengan binar mata yang memancarkan rasa ingin tahu. "Kamu tipe penyelia yang sangat disiplin ya, Reno? Atau cuma tidak suka buang-buang waktu untuk obrolan di luar pekerjaan?"
Pertanyaan itu meluncur santai, tanpa nada menghakimi, tapi sanggup membuat tanganku yang memegang pulpen terhenti sejenak. Aku memilih tidak menjawab dan kembali berpura-pura fokus pada materi. Kareen hanya terkekeh pelan—sebuah tawa kecil yang tidak terdengar mengganggu.
Saat jam istirahat makan siang tiba, aula mendadak kosong saat para peserta berbondong-bondong menuju area prasmanan. Aku sengaja menunggu ruangan agak lengang sebelum berdiri. Rencanaku sederhana: mengambil jatah makan siang, lalu mencarinya di area taman luar yang sepi.
"Reno, mau makan bareng di kantin?" tawa renyah Kareen kembali menyapa saat ia merapikan barang-barangnya.
"Aku mau makan di luar," jawabku datar.
"Ikut, dong. Di dalam bising banget, lagipula udara Ciumbuleuit sayang kalau dilewatkan cuma di dalam ruangan," balasnya santai tanpa menunggu persetujuanku.
Kami akhirnya duduk di salah satu bangku kayu di bawah pohon pinus yang rindang. Angin dingin Bandung berembus pelan, membawa aroma tanah basah. Aku menikmati makanan dalam diam, sementara Kareen sibuk menceritakan perjalanannya dari tim HR hingga diangkat menjadi penyelia SDM di cabang Bandung.
"Di SDM, kita harus berhadapan dengan kepala banyak orang setiap hari," cerita Kareen sambil mengaduk es tehnya. "Awalnya capek, tapi lama-lama aku sadar kalau setiap orang punya 'alasan' di balik sikap keras mereka."
Ia tiba-tiba menghentikan kalimatnya dan menatapku lurus.
"Termasuk kamu," tambahnya pelan.
"Maksudmu?" tanyaku dingin.
"Kamu punya tembok yang tinggi banget, Reno. Cara kamu bicara, cara kamu menatap orang lain... seperti ada garis batas tebal yang sengaja kamu buat supaya tidak ada yang bisa mendekat," ujar Kareen jujur. Tidak ada pancingan atau intonasi meremehkan dalam suaranya, hanya sebuah pengamatan murni.
Dadaku sedikit berdesir. Rasa tidak nyaman merayapi hatiku—rasa terancam yang biasa muncul tiap kali ada orang yang berusaha membaca jalan pikiranku.
"Aku cuma fokus pada pekerjaanku," kataku singkat, menutup pembicaraan.
Kareen tersenyum tipis, lalu mengangguk paham. "Mungkin. Tapi ingat, Reno, berdiri di balik tembok terlalu lama itu bikin dingin."
Kalimat itu menggantung di udara, mengusik kedamaian yang berusaha ku jaga sepanjang hari. Saat jam ponselku bergetar menandakan pesan masuk dari Rian—memberitahu bahwa ia sudah sampai di rumah dengan selamat—aku menarik napas panjang. Di tengah kota asing ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang berhasil melihat celah di balik tembok pelindungku.