Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: KEBETULAN KEDUA
Tiga hari berselang, Bang Tua kembali melewati gang yang sama, kali ini untuk mengambil hasil jilid disertasinya yang tertinggal di fotokopian karena kemarin dia terburu buru pulang sebelum sempat mengambil semuanya, sesuatu yang cukup jarang terjadi mengingat betapa dia biasanya selalu memastikan semua urusannya selesai sebelum beranjak dari suatu tempat. Suasana gang terasa berbeda dari biasanya, lebih sepi, dan ada semacam ketegangan samar yang bisa dia rasakan begitu masuk, seperti aroma cerita besar yang baru saja terjadi dan masih menggantung di udara, bahkan penjual pulsa yang biasanya sibuk dengan ponselnya sendiri pun terlihat ikut mengobrol dengan tetangga sebelah.
Di depan warung nasi Bu Inem, dia melihat pemilik warung itu sedang mengobrol heboh dengan beberapa tetangga, tukang jahit di sebelahnya dan penjual pulsa yang biasanya pendiam, sambil sesekali menunjuk nunjuk ke arah gang sebelah dengan mata berbinar penuh antusias, gaya bercerita yang biasa muncul kalau ada kejadian besar yang layak dijadikan bahan obrolan berhari hari, jenis cerita yang akan diulang ulang setiap ada pembeli baru yang belum mendengarnya. Rasa penasarannya, yang selalu dia sembunyikan rapat rapat, membuatnya berjalan sedikit lebih pelan supaya bisa mendengar percakapan itu tanpa terlihat terlalu ingin tahu, pura pura sibuk merapikan map di tangannya, bahkan sempat berhenti sejenak seolah sedang mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Untung ada preman dari daerah sana," kata Bu Inem sambil bergidik, suaranya masih terdengar sedikit gemetar mengingat kejadian yang baru saja dia dengar, tangannya tidak berhenti mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih, seolah butuh sesuatu untuk dilakukan sambil bercerita, "kalau nggak, duh, ngeri kali kejadiannya. Dua orang yang biasa mintain uang keamanan itu, malah salah pilih target. Mereka nekat mintain juga ke warung yang ternyata punya orang yang lebih 'berkuasa' di daerah situ. Katanya sih babak belur digebukin, terus dilaporin juga ke polisi. Sekarang udah nggak berani nongol lagi di sini, kabarnya malah pindah kota katanya, saking takutnya, ada yang bilang sampai kabur ke luar Medan segala."
Salah satu tetangga menimpali sambil tertawa kecil, tangannya bertepuk sekali penuh kepuasan, "Kualat kali itu, kebiasaan meres orang kecil. Giliran ketemu yang lebih galak, baru kapok. Untung juga nggak sampai kena kita kita di sini, coba kalau kena warung kita, bisa bisa kita juga ikut rugi."
Bang Tua berhenti sejenak, alisnya terangkat sedikit, langkahnya yang tadi pelan kini benar benar berhenti total, tangannya yang tadi berpura pura sibuk di dalam tas kini diam tak bergerak. Ada rasa aneh yang menjalar di dadanya, sesuatu yang sulit dia jelaskan, seperti ada dua kepingan puzzle yang tiba tiba terasa cocok meski dia sendiri tidak yakin gambar apa yang sedang terbentuk dari kepingan kepingan itu. Ucapan yang dulu dia gumamkan pelan, "cepat atau lambat pasti ketemu yang lebih galak", tiba tiba muncul lagi di kepalanya, seolah dua kejadian itu, yang di SPBU dan yang sekarang ini, punya benang merah yang tidak masuk akal untuk dihubung hubungkan, tapi juga sulit untuk benar benar diabaikan begitu saja, seperti dua titik data yang terlalu konsisten untuk disebut acak.
"Ah, kebetulan aja kali," gumamnya dalam hati, mencoba menepis pikiran anehnya sendiri sambil melanjutkan langkahnya menuju fotokopian, meski langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. "Kayak yang di SPBU kemarin. Dunia emang kadang adil sendiri, biar dibilang kebetulan pun. Namanya juga hidup, banyak kejadian yang mirip mirip aja, nggak usah dipikirin macam macam."
Tapi entah kenapa, kali ini rasa penasarannya tidak semudah biasanya untuk dipadamkan. Sepanjang jalan pulang, melewati toko toko kecil yang mulai menyalakan lampu karena senja sudah mulai turun, pikirannya terus terngiang ngiang pada dua kejadian yang terasa terlalu mirip untuk sekadar disebut kebetulan biasa. Dia bahkan sempat berhenti di tengah jalan, di dekat tiang listrik yang catnya sudah pudar, memikirkan ulang urutan kejadian, mencoba menyusun kronologinya seperti kebiasaannya menyusun data penelitian, tanggal, waktu, jenis kejadian, hasil akhirnya, sebelum akhirnya menggelengkan kepala sendiri, merasa geli dengan pikirannya sendiri yang menurutnya sudah terlalu jauh berandai andai.
"Nggak mungkinlah. Aku ini dosen matematika, bukan dukun," pikirnya sambil terkekeh pelan pada dirinya sendiri, mencoba melucu untuk menenangkan pikirannya yang mulai terasa aneh, meski senyum itu tidak sepenuhnya berhasil menghapus rasa ganjil yang masih mengendap di dadanya, seperti kerikil kecil yang tersangkut di sepatu, tidak terlalu mengganggu, tapi tetap terasa setiap kali melangkah.
Tapi jauh di lubuk hatinya, ada bagian kecil dari dirinya yang mulai bertanya tanya, dan pertanyaan itu, sekali muncul, tidak akan mudah dia abaikan begitu saja, seperti benih kecil yang sudah tertanam dan hanya menunggu waktu untuk tumbuh lebih besar lagi, menunggu kejadian berikutnya untuk membuktikan apakah dugaannya benar atau hanya sekadar kebetulan yang kebetulan berturut turut.
Malam itu dia sempat singgah sebentar di kedai mi ayam langganannya, memesan seporsi untuk makan malam sambil duduk sendirian di meja pojok, tempat biasa dia pilih kalau sedang ingin menyendiri tanpa harus benar benar terlihat sedang menyendiri. Sambil menunggu pesanannya, dia mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya, bukan buku catatan kuliah, tapi buku kosong yang biasa dia bawa untuk mencoret coret ide penelitian kalau tiba tiba muncul di kepalanya. Tanpa benar benar berpikir panjang, tangannya mulai menuliskan dua baris singkat, tanggal kejadian di SPBU dan tanggal kejadian preman tadi, lalu di sampingnya dia tuliskan kata "kebetulan?" dengan tanda tanya besar, sebelum akhirnya merasa konyol sendiri dan menutup buku itu cepat cepat begitu pesanannya datang, seolah takut ada yang melihat apa yang baru saja dia tuliskan.
Sepanjang makan malam itu, pikirannya masih terus melayang, sesekali dia mendapati dirinya berhenti mengunyah, menatap kosong ke arah meja, sampai suara pelayan yang menanyakan apakah dia ingin tambah kerupuk membuyarkan lamunannya. Dia tersenyum kikuk, menggeleng pelan, lalu melanjutkan makannya dengan lebih cepat, seolah ingin segera menyelesaikan urusan itu dan pulang untuk beristirahat, meski dia tahu betul pikirannya tidak akan semudah itu tenang begitu kepalanya menyentuh bantal nanti.
Sesampainya di kos, dia duduk sebentar di teras kecil di depan kamarnya, tempat biasa dia habiskan waktu sebelum benar benar masuk dan menutup pintu untuk malam itu. Beberapa penghuni kos lain lalu lalang, ada yang baru pulang kerja, ada yang baru berangkat untuk shift malam, saling menyapa singkat seperti biasa tanpa ada yang tahu apa yang sedang berkecamuk di kepala Bang Tua malam itu. Dia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi catatan, lalu mengetik beberapa kata singkat, sekadar mengingatkan dirinya sendiri soal dua kejadian yang sudah terjadi, sesuatu yang biasa dia lakukan kalau ada ide penelitian yang tiba tiba muncul di kepalanya, meski kali ini bukan soal penelitian sama sekali.
Dia menatap layar ponselnya lama, membaca ulang catatan singkat yang baru saja dia buat, sebelum akhirnya menghela napas dan memasukkan ponselnya kembali ke saku, memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya malam itu. Toh, satu kejadian lagi yang serupa belum tentu akan terjadi lagi, pikirnya mencoba menenangkan diri, meski jauh di dalam hatinya dia sendiri tidak sepenuhnya yakin dengan pikirannya itu.