Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Suasana ruang kerja Husna di gedung jaringan distribusi bahan bangunan miliknya terasa begitu tenang dan berkelas. Ruangan yang didominasi dinding kaca tebal serta perabotan kayu bernuansa hangat itu mencerminkan dengan sempurna siapa pemiliknya: dingin, rapi, dan tak tergoyahkan.
Husna duduk di balik meja kerjanya yang luas, memeriksa laporan pengiriman barang mingguan. Ketukannya terhenti saat pintu ruang kerja ketukan dua kali, lalu terbuka. Dua remaja laki-laki berseragam SMA masuk Devan dan Deka.
Mata si kembar yang biasanya dipenuhi keceriaan khas anak muda, kali ini terlihat redup dan sarat akan emosi yang tertahan. Langkah kaki mereka mantap menuju meja kerja Husna.
"Bunda..." sapa Devan pelan seraya mendekat dan mencium tangan ibunya, disusul oleh Deka.
"Devan, Deka? Kok belum pulang ke rumah? Mau ketemu Bunda ada apa?" tanya Husna lembut, mengulas senyum teduh yang selalu menenangkan bagi kedua putranya.
Deka tidak langsung duduk. Ia menarik napas panjang, mengepalkan tangan di samping tubuhnya. "Bunda... kita tidak bisa diam lagi. Kemarin Deka tidak sengaja lihat dokumen yang Bunda bawa dari kantor notaris. Ayah... Ayah benar-benar mau poligami, Bun?"
Pertanyaan langsung itu berhembus di udara. Devan mengangguk tegas, menatap Husna dengan raut terluka.
Husna menyandarkan punggungnya pada kursi kerja berbalut kulit hitam. Wajahnya tidak menunjukkan riak terkejut. Ia mengisyaratkan kedua putranya untuk duduk di sofa ruang tamu yang empuk di tengah ruangan. Husna bangun dari mejanya, melangkah anggun, dan duduk berhadapan dengan si kembar.
"Kalian sudah tahu semuanya," ucap Husna tenang tanpa bermaksud menutupi. "Iya, Ayah kalian sudah mengajukan izin resmi untuk menikahi wanita itu. Dan Bunda sudah menandatangani surat perjanjiannya di depan notaris."
"Kenapa, Bun?!" potong Deka dengan nada suara yang meninggi, menahan gemuruh kekecewaan di dadanya. "Kenapa Bunda harus setuju? Kenapa Bunda membiarkan Ayah yang tidak tahu diri itu menginjak-injak harga diri Bunda?."
"Deka!" Devan memegang bahu kembarannya, mencoba menahan emosi saudaranya walau matanya sendiri berkaca-kaca. Devan berpaling menatap Husna. "Bunda... Devan dan Deka mohon. Gugat cerai Ayah sekarang juga. Kita tinggalkan Ayah. Kita bertiga bisa hidup bahagia tanpa Ayah!"
"Betul, Bun!" sahut Deka cepat, matanya memerah. "Kami tidak ikhlas dan tidak ridho Bunda disakiti seperti ini oleh pria yang lupa daratan! Ayah bisa sukses karena siapa? Karena Bunda yang membimbing Ayah dari nol! Sekarang setelah mapan, Ayah malah tega melakukan ini ke Bunda. Kami tidak butuh Ayah seperti itu!"
Permintaan cerai yang keluar dari mulut Devan dan Deka terdengar begitu polos namun sarat akan rasa cinta yang mendalam pada ibunya. Bagi kedua remaja itu, perceraian adalah jalan paling tegas untuk membalas rasa sakit hati atas pengkhianatan Ayah mereka.
Husna meraih jemari kedua anak kembar itu. Digenggamnya erat-erat dengan kehangatan seorang ibu. Senyum di bibir Husna tidak memudar, justru makin memancarkan aura ketangguhan seorang ratu bisnis yang sedang mengendalikan papan catur.
"Dengarkan Bunda baik-baik, Devan, Deka," panggil Husna dengan suara rendah namun sangat bertenaga. "Bunda memahami rasa marah dan kecewa kalian. Bunda bangga punya anak-anak yang luar biasa protektif seperti kalian berdua. Tapi percayalah... Bunda kalian ini bukan wanita lemah yang akan berlari dan menangis memohon belas kasihan."
Devan mengerutkan keningnya. "Tapi kalau Bunda tidak gugat cerai, bukannya Ayah makin berkuasa, Bun? Ayah dan wanita itu pasti merasa sudah menang."
Husna tertawa kecil sebuah tawa halus yang dipenuhi makna tersirat.
"Menang?" tanya Husna penuh penekanan. "Kalian pikir dengan menyetujui pernikahan itu, Bunda sedang kalah? Justru di sanalah jebakannya, Nak."
Husna memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke dalam iris mata kedua putranya secara bergantian.
"Kalau Bunda minta cerai sekarang saat emosi Ayah kalian sedang di puncak kasmaran, Ayah kalian akan dengan senang hati menyetujuinya," jelas Husna membongkar logikanya. "Ayah kalian akan merasa bebas, bisa membawa wanita itu menikmati sebagian kekayaan yang pernah dibendung bersama, dan membagi aset untuk anak-anak baru mereka kelak. Bunda tidak akan sebodoh itu memberikan karpet merah untuk wanita yang mau memetik hasil tanpa pernah menanam."
Husna jeda sejenak, membiarkan kalimatnya dicerna oleh Devan dan Deka yang kini mulai tertegun.
"Dalam surat perjanjian yang kemarin Bunda tanda tangani di notaris," lanjut Husna pelan, "100% gaji resmi, tunjangan, dan bonus Ayah kalian sebagai Manajer di kantornya wajib masuk utuh ke rekening Bunda. Seluruh rumah, tanah, dan deposito rintisan kita sudah balik nama atas nama Devan dan Deka. Wanita itu dan anak-anaknya tidak berhak menyentuh sepeser pun."
Mata Deka terbelalak. "Maksudnya... Ayah harus memberi nafkah cewek itu pakai uang apa, Bun?"
"Pakai uang dari hasil toko swalayan yang sedang Ayah kalian banggakan itu," jawab Husna dingin dengan senyum tipis. "Ayah kalian terbuai oleh kesombongannya sendiri. Dia pikir toko swalayan itu untung besar karena kehebatannya. Ayah kalian lupa... toko itu bisa untung karena seluruh pasokan barangnya Bunda beri potongan harga khusus dan tenor pembayaran lunak dari jaringan supplier milik Bunda."
Husna mengepalkan tangannya dengan sangat anggun.
"Saat ini, biarkan mereka bahagia. Biarkan pesta pernikahan itu digelar. Biarkan wanita itu merasa telah memenangkan Ayah kalian," kata Husna. "Bunda ingin Ayah dan wanita itu benar-benar terikat dulu dalam pernikahan sah. Begitu pesta usai dan wanita itu mulai menuntut hidup mewah dari hasil swalayan... Bunda akan menutup seluruh fasilitas potongan harga itu secara mendadak. Bunda akan ganti menjadi pembayaran tunai tanpa diskon."
Devan bernapas tercekat. Ia mulai bisa membaca peta permainan ibunya yang begitu cerdas dan terukur. "Jadi... swalayan itu akan langsung bangkrut, Bun?"
"Bukan hanya bangkrut," timpal Husna tajam. "Uang gaji Ayah kalian terkunci di rekening Bunda. Hasil swalayan minus dan hancur. Di titik itulah wanita itu akan sadar bahwa pria yang dinikahinya hanyalah seorang Manajer yang dompetnya dipegang penuh oleh istri pertamanya. Mereka akan saling makan oleh ego dan tuntutan finansial masing-masing."
Ruang kerja itu mendadak hening. Devan dan Deka menatap Bunda mereka dengan rasa takjub yang luar biasa. Ibu mereka tidak sekadar bertahan; ia sedang merancang kehancuran yang sempurna tanpa perlu kotor oleh makian atau amukan.
"Jadi," sahut Husna seraya mengusap lembut pipi kedua anak kembarnya.
"Kalian ikuti saja alurnya. Jangan buat drama, jangan menampakkan rasa benci yang mencolok di depan Ayah kalian. Tetaplah menjadi anak yang sopan dan beretika."
"Tapi Bun... bagaimana kami bisa bersikap sopan sama Ayah setelah semua ini?" tanya Deka masih ada rasa ganjal.
"Kalian tetap harus panggil dan hormati dia sebagai Ayah kalian secara lahiriah," tegas Husna bijaksana. "Bukan untuk membela kesalahannya, melainkan untuk menjaga kelas dan kualitas diri kalian sebagai laki-laki terdidik. Biarkan Ayah kalian merasa semuanya baik-baik saja... sampai waktunya Tuan Pemain itu menyadari bahwa dia sudah skakmat."
Devan menarik napas lega, rasa sesak di dadanya perlahan terangkat berganti keyakinan penuh. Ia menggenggam tangan Deka dan menatap Husna dengan rasa hormat yang tak terhingga.
"Kami paham sekarang, Bunda," ucap Devan mantap. "Kami akan ikuti semua petunjuk Bunda. Kami percaya penuh sama Bunda."
"Deka juga, Bun," tambah Deka dengan senyum yang akhirnya kembali terukir di wajahnya. "Kami akan pasang badan di belakang Bunda, dan tetap tenang mengikuti alurnya."
Husna tersenyum hangat, memeluk kedua putra kembarnya dengan penuh rasa kasih sayang. Perang dingin ini mungkin baru dimulai, namun dengan perlindungan hak anak-anaknya yang sudah terkunci rapat dan kesetiaan kedua putranya, Husna tahu pasti... takhta sang Ratu di keluarga ini tidak akan pernah tersentuh oleh siapa pun.
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒
udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
apa itu kehalangan?
anda resmi jd gembel dg semabako menggunung ,,
Berguna itu Salam buat makan kalian sehari2
bawa pulang ke paviliun trus sruh si Salma ,, masak🤭🤭🤭🤣🤣