NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.

Namun, satu hal tak pernah berubah.

Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.

Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.

Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Penggelapan Dana

Sementara itu, di ruang rapat eksekutif lantai tertinggi KIM Holdings, pintu tertutup rapat. Tirai otomatis menurunkan cahaya dari luar, menyisakan lampu putih dingin yang menggantung tepat di atas meja panjang. Tidak ada suara selain dengung pendingin ruangan dan detak halus jam digital di dinding.

Junho berdiri di sisi jendela, membelakangi ruangan.

Di layar besar, satu berkas terpampang jelas:

PROYEK REDEVELOPMENT CHEONGDAM-DONG — AUDIT INTERNAL (CONFIDENTIAL)

Angka-angka berwarna merah mencuat di antara deretan laporan, seperti luka terbuka yang tidak mungkin lagi disembunyikan.

“Selisih dana sebesar dua puluh tujuh miliar won. Dialihkan melalui tiga perusahaan cangkang. Semua jejak mengarah pada satu nama,” ucap kepala audit dengan suara tertahan.

Nama itu muncul di layar.

Junho tidak bergerak.

Pria itu adalah direktur pengembangan senior—seseorang yang telah bekerja sejak masa ayahnya masih memimpin perusahaan. Loyal selama bertahun-tahun. Seseorang yang bahkan pernah Junho anggap sebagai bagian dari keluarga besar perusahaan.

“Sejak kapan?” tanya Junho akhirnya.

Nada suaranya rendah. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dikhianati oleh orang yang selama ini ia percayai.

“Dua tahun terakhir. Awalnya dimulai dari jumlah kecil, lalu meningkat secara bertahap. Kami menduga beliau memanfaatkan kepercayaan penuh yang diberikan oleh manajemen pusat,” jawab sang auditor.

Junho memejamkan mata sejenak.

Bukan karena terkejut mendengar angkanya.

Melainkan karena menyadari satu hal yang jarang ia akui: ia lengah.

Ia terlalu percaya pada sejarah. Pada loyalitas yang dibangun selama bertahun-tahun. Pada orang-orang yang tumbuh bersama perusahaan. Dan, mungkin yang paling berbahaya, pada bayangan ayahnya yang masih melekat kuat dalam struktur KIM Holdings.

“Kenapa tidak terdeteksi lebih awal?” tanyanya lagi.

Ia masih berdiri di posisi yang sama. Punggungnya tegak, kedua tangannya berada di sisi tubuh, tetapi suasana di ruangan itu perlahan berubah.

Seorang eksekutif di ujung meja menelan ludah sebelum menjawab.

“Karena semua persetujuan terakhir... ada di meja beliau. Dan karena Sajangnim memberikan otorisasi penuh,” jawabnya pelan.

Ada jeda sebelum kalimat terakhir itu keluar.

Ia jelas ragu untuk mengatakannya. Bukan karena tidak mengetahui jawabannya, melainkan karena khawatir kenyataan tersebut terdengar seperti tuduhan kepada atasannya sendiri.

Hening.

Tidak seorang pun berani menambahkan kata-kata hingga akhirnya, Junho berbalik. Tatapannya menyapu satu per satu wajah di ruangan itu.

Tidak ada emosi berlebihan.

Tidak ada suara yang meninggi.

Namun tekanan yang muncul seketika terasa nyata—seperti suhu ruangan yang tiba-tiba turun beberapa derajat.

Junho berjalan perlahan menuju meja rapat. Ia berhenti di hadapan layar besar, menatap nama yang terpampang di sana selama beberapa detik.

Orang yang selama ini ia percaya.

Orang yang mengetahui seluk-beluk perusahaan bahkan sebelum Junho mengambil alih.

Dan kini, nama itu berdiri di antara puluhan angka merah yang menunjukkan pengkhianatan.

“Jadi,” ucap Junho akhirnya, suaranya tetap rendah, tetapi kali ini terdengar lebih dingin. “Selama dua tahun, saya membiarkan seseorang yang saya percaya menguras perusahaan ini... dan tidak seorang pun merasa perlu memberi tahu saya.”

Tidak ada yang menjawab, hingga kemudian Junho mengangkat pandangan.

“Baik.”

Satu kata.

Pendek.

Namun, cukup untuk membuat seluruh ruangan kembali menegang.

“Kesalahan ini bukan hanya miliknya. Ini kegagalan sistem... dan sayangnya, sistem itu milik saya. Berarti, kegagalan ini juga menjadi kegagalan saya,” ucapnya.

Tidak ada yang berani menyangkal, menyahut, apalagi sekadar mengiyakan ucapan Junho. Semua orang tahu, kalimat itu bukan sesuatu yang membutuhkan persetujuan. Itu adalah pengakuan sekaligus tanggung jawab yang diambil langsung oleh orang yang berada di puncak perusahaan.

Hingga akhirnya, Junho kembali berucap dengan tenang.

“Siapkan laporan hukum lengkap. Bekukan seluruh aset yang terhubung. Hentikan sementara proyek Cheongdam. Satu lagi, pastikan tidak ada satu pun media yang mencium masalah ini sebelum kita bergerak.”

“Baik, Sajangnim,” sahut semua orang serempak.

Junho melangkah kembali ke kursinya, lalu duduk perlahan. Jemarinya bertaut di atas meja, punggungnya tetap tegak—seorang CEO yang kembali memegang kendali, meskipun amarah yang tertahan di dalam dirinya belum benar-benar reda.

“Dan satu hal lagi,” katanya.

Semua mata kembali terangkat kepadanya.

“Mulai hari ini, tidak ada lagi kepercayaan tanpa verifikasi. Siapa pun. Termasuk orang yang merasa paling lama berdiri di sini. Saya tidak ingin kecerobohan seperti ini terulang kembali oleh siapa pun.”

Kalimat itu jatuh pelan.

Namun, maknanya menghantam keras.

Tidak ada pengecualian.

Tidak untuk orang baru. Tidak untuk orang lama. Bahkan tidak untuk mereka yang telah bertahun-tahun membangun nama bersama perusahaan.

“Baiklah... Untuk sekarang, cukup sampai di sini. Kita tangani dengan cepat,” ucap Junho.

Semua orang mengangguk.

Perlahan, satu per satu eksekutif meninggalkan ruangan. Pintu tertutup setelah orang terakhir keluar, menyisakan Junho seorang diri di dalam ruang rapat besar itu.

Layar dimatikan.

Tirai tetap tertutup.

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Junho bersandar pada kursinya, lalu mengembuskan napas panjang. Bukan uang yang membuat dadanya sesak.

Melainkan kenyataan bahwa dirinya—yang selama ini terbiasa mengukur segala sesuatu dengan presisi—masih bisa terjebak oleh satu hal paling berbahaya dalam bisnis: kepercayaan yang tidak dijaga.

Tatapannya jatuh pada meja kosong di hadapannya. Untuk beberapa saat, pikirannya kembali pada nama yang baru saja muncul di layar.

Seseorang yang pernah ia percaya.

Seseorang yang telah berada di perusahaan jauh sebelum dirinya memegang kendali.

Dan justru karena itulah, pengkhianatan tersebut terasa lebih berat. Bayangan ayahnya melintas sebentar—cara lama memimpin, lingkaran orang-orang setia yang nyaris tidak tersentuh audit, serta kepercayaan yang diberikan berdasarkan sejarah, bukan verifikasi.

Junho mengusap wajahnya perlahan, kemudian kembali menatap tirai yang tertutup.

“Dunia sudah berubah, dan aku seharusnya lebih tegas sejak awal.”

Untuk pertama kalinya sejak laporan itu diletakkan di hadapannya, Junho membiarkan dirinya mengakui satu hal yang tidak pernah mudah ia terima:

Menjadi pemimpin bukan hanya tentang mengetahui kapan harus percaya. Terkadang, seorang pemimpin juga harus tahu kapan kepercayaan harus diperiksa kembali.

Junho meraih ponselnya. Layar langsung menyala, menampilkan lock screen yang memperlihatkan dirinya, Nala, dan Jun-seok ketika mereka berlibur tahun lalu.

Pandangannya terpaku pada foto itu selama beberapa detik. Senyum Nala dalam foto tersebut terasa begitu kontras dengan suasana hatinya saat ini. Ada keinginan untuk menghubunginya, sekadar mendengar suaranya atau mungkin hanya memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.

Jempolnya sempat bergerak menuju nama Nala.

Namun, ia mengurungkan niatnya.

Tidak sekarang.

Ada kemarahan yang harus ia selesaikan sendiri. Ada pula keputusan yang tidak boleh dibagikan kepada siapa pun, bahkan kepada orang yang paling ia percaya.

Junho mematikan layar ponselnya, lalu berdiri. Ia meluruskan jasnya, merapikan manset kemejanya, dan mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi netral.

Junho melangkah keluar dari ruang rapat, membawa satu pelajaran pahit yang datang terlambat, tetapi tidak boleh terulang kembali.

Namun, ada satu hal lain yang telah ia siapkan sejak rapat tadi.

Beberapa saat sebelum rapat berakhir, Junho sempat meminta Hana memanggil Direktur Kang Mi-hwan ke ruang kerjanya.

Sejak tadi ia telah menahan emosinya. Ia menahannya selama rapat berlangsung. Menahannya ketika mendengar angka dua puluh tujuh miliar won. Menahannya ketika melihat nama orang yang selama bertahun-tahun ia percaya terpampang di layar.

Namun, kini tidak ada lagi alasan untuk menahannya.

Bukan untuk pengkhianatan.

Junho membenci pengkhianatan.

Baginya, kepercayaan bukan sesuatu yang diberikan untuk kemudian dipermainkan. Sekali seseorang dengan sengaja mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan kepadanya, hampir tidak ada ruang untuk kembali. Dan Junho tidak pernah mudah memaafkan orang yang berani menghancurkan kepercayaannya. Begitu tiba di ruang kerja pribadi CEO KIM Holdings, pintu langsung tertutup rapat di belakangnya.

Sore itu, ruangan tersebut terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.

Tidak ada meja rapat panjang.

Tidak ada layar presentasi.

Hanya satu meja kerja besar, rak buku kayu gelap yang memenuhi sebagian dinding, serta jendela tinggi yang menghadap langsung ke lanskap Gangnam. Cahaya sore menembus celah tirai, membentuk garis keemasan tipis di lantai.

Junho berdiri membelakangi pintu ketika suara ketukan terdengar.

Tok. Tok.

“Masuk.”

Pintu terbuka.

Seorang pria melangkah masuk—Direktur Kang Mi-hwan.

Rambutnya mulai memutih di beberapa bagian, tetapi penampilannya masih terjaga rapi. Jas yang dikenakannya tersusun sempurna, dan langkahnya masih membawa keyakinan seseorang yang merasa posisinya aman.

Hampir tiga dekade ia bekerja di perusahaan ini.

Hampir tiga dekade sejak ayah Junho masih duduk di kursi yang sama.

Pria itu berhenti beberapa langkah dari meja kerja.

“Sajangnim memanggil saya?” tanyanya sopan.

Junho tidak langsung menoleh, beberapa detik berlalu. Kemudian, suaranya terdengar rendah.

“Duduk.”

Direktur Kang menurut tanpa banyak bertanya.

Untuk pertama kalinya sore itu, ia mungkin belum menyadari bahwa kursi yang baru saja didudukinya bukan lagi tempat seorang bawahan menerima arahan dari atasannya. Melainkan tempat seseorang akan diminta mempertanggungjawabkan kepercayaan yang telah ia khianati.

Pria itu meletakkan map tipis di pangkuannya—kebiasaan lama. Sikap seseorang yang datang bukan sebagai terdakwa, melainkan sebagai rekan lama yang merasa masih memiliki tempat di perusahaan ini.

Junho berbalik perlahan.

Tatapannya tetap tenang, meskipun jauh di dalam dirinya, amarah telah mendidih hingga nyaris meledak. Ia menatap wajah tua di hadapannya—wajah yang dahulu selalu ia pandang dengan rasa hormat.

Kini, rasa itu tidak tersisa.

“Kau sudah membaca laporan audit internal?” tanya Junho.

Pertanyaan itu membuat Direktur Kang tersenyum kecil.

“Saya baru menerima ringkasannya. Ada kesalahan administratif kecil, tetapi tim saya—”

“Dua puluh tujuh miliar won.”

Junho memotongnya tanpa ragu.

Senyum di wajah Direktur Kang seketika membeku.

“Dialihkan secara sistematis. Selama dua tahun. Melalui tiga perusahaan cangkang.” Junho berhenti sejenak, tatapannya semakin tajam. “Dan nama pemilik saham mayoritasnya adalah... istrimu.”

Hening jatuh begitu saja.

Detik demi detik berlalu tanpa satu pun dari mereka berbicara.

Direktur Kang menelan ludah. Jemarinya yang sejak tadi bertumpu di atas map mulai mencengkeram ujungnya. Namun, ia masih berusaha mempertahankan nada bicaranya.

“Sajangnim, itu tidak sesederhana—”

“Tidak.” Junho kembali menyela, kali ini suaranya justru terdengar lebih rendah. “Justru sangat sederhana.”

Ia melangkah mendekat tidak tergesa-gesa, tetapi setiap langkahnya terasa berat. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal longgar di sisi tubuh, berusaha menahan emosi yang sejak tadi ia pendam.

“Kau mencuri dari perusahaan yang membesarkanmu.” Junho berhenti beberapa langkah di hadapan pria itu. “Dari proyek yang membawa nama keluarga Kim.”

Tatapannya tidak bergeser sedikit pun.

“Dan dari kepercayaan yang diwariskan ayahku kepadamu.”

Direktur Kang bangkit setengah berdiri, seolah ingin memberikan penjelasan sebelum keadaan menjadi semakin buruk.

“Saya tidak berniat—”

“Duduk.”

Satu kata.

Tidak keras.

Namun, nada Junho kali ini tidak menyisakan ruang untuk dibantah. Direktur Kang membeku sesaat, lalu tanpa sadar kembali duduk.

Junho menatapnya beberapa detik sebelum melanjutkan.

“Yang membuatku kecewa bukan jumlahnya. Bukan pula caramu menyembunyikannya.” Ia berhenti tepat di depan meja, menatap pria yang pernah ia anggap sebagai salah satu bagian dari fondasi perusahaan itu. “Yang membuatku kecewa adalah fakta bahwa kau melakukannya sambil terus menyebut dirimu sebagai orang lama.”

Nada suaranya tetap terkendali, tetapi setiap katanya semakin tajam.

“Seolah-olah masa lalu memberimu kekebalan.” Junho sedikit mencondongkan tubuhnya. “Kau pikir apa? Karena kau sudah berada di perusahaan ini selama puluhan tahun, kau bisa seenaknya mengambil apa yang bukan milikmu?”

Direktur Kang menghela napas panjang bahunya merosot sedikit.

Untuk pertama kalinya, keyakinan yang sejak tadi terpancar dari wajahnya perlahan runtuh. Map di pangkuannya tidak lagi tampak seperti pelindung, melainkan benda yang tidak mampu menyelamatkannya dari kenyataan di hadapan mata.

Junho tetap berdiri di sana.

Dingin.

Tegak.

Dan jauh lebih kecewa daripada marah.

“Saya sudah memberikan hidup saya untuk perusahaan ini. Saya pikir... saya pantas mendapatkan lebih,” ucapnya, berusaha terdengar tenang.

Junho menatapnya lama.

“Tidak ada seorang pun di sini yang berhak mengambil apa pun di luar yang menjadi bagiannya,” katanya pelan. “Termasuk aku.”

Ia berbalik, mengambil sebuah map hitam dari atas meja, lalu meletakkannya di hadapan Kang.

“Pengunduran diri efektif hari ini. Seluruh aset terkait akan dibekukan. Proses hukum tetap berjalan. Aku tidak akan menutupinya.”

Junho berusaha keras mempertahankan kendali atas dirinya. Sejak tadi ia menahan amarah mati-matian, memilih berbicara dengan kepala dingin daripada membiarkan emosinya mengambil alih.

Namun, melihat pria di hadapannya masih berusaha membenarkan tindakannya tanpa sedikit pun menunjukkan penyesalan membuat kesabarannya semakin menipis.

Direktur Kang menatap map itu. Kilau keyakinan di matanya kini perlahan menghilang.

“Sajangnim... Ayah Anda—”

“Jangan bawa nama ayahku ke dalam ini.” Junho menoleh cepat.

Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, ketenangan dalam suaranya benar-benar runtuh.

“Ayahku membangun perusahaan ini dengan kepercayaan. Tugasku adalah memastikan kepercayaan itu tidak berubah menjadi alasan bagi pembusukan.” Tatapan Junho mengeras. “Orang sepertimu tidak pantas lagi berada dalam dunia bisnis. Di mana pun kau menjejakkan kaki, yang tertinggal hanya kebusukan.”

Hening kembali merebut ruangan. Tidak ada lagi suara pendingin ruangan yang terasa samar. Tidak ada pula suara kota dari balik jendela yang mampu memecah ketegangan di antara mereka.

Direktur Kang berdiri perlahan untuk pertama kalinya, ia menunduk. Bukan sebagai bawahan melainkan sebagai seseorang yang akhirnya menyadari bahwa semua yang selama ini ia bangun telah runtuh dalam hitungan menit.

“Saya minta maaf,” ucapnya lirih.

Junho tidak menjawab. Ia hanya berdiri tegak dengan kedua tangan di dalam saku jasnya, memandang keluar jendela. Lanskap Gangnam terbentang luas di hadapannya, tetapi tatapannya seolah tidak benar-benar melihat apa pun.

Beberapa detik kemudian, Junho berkata tanpa menoleh.

“Satu hal terakhir.” Direktur Kang mengangkat wajahnya. “Keluar dari gedung ini dengan kepala tegak.”

Junho berhenti sejenak.

“Itu satu-satunya penghormatan terakhir yang masih bisa kuberikan.”

Direktur Kang terdiam karena ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuatnya tidak mampu membalas. Setelah beberapa saat, ia hanya mengangguk pelan. Tangannya meraih map hitam tersebut kemudian ia berbalik dan melangkah menuju pintu.

Pintu terbuka, lalu tertutup kembali dengan suara pelan.

Junho tetap berdiri di tempatnya tatapannya masih mengarah ke luar jendela, sementara bayangan pria yang baru saja meninggalkan ruangan itu perlahan menghilang dari pikirannya. Namun, rasa kecewa itu masih tertinggal bukan karena seorang direktur telah jatuh.

Melainkan karena seseorang yang pernah ia panggil orang lama ternyata menjadi salah satu alasan mengapa ia harus belajar untuk tidak mempercayai siapa pun hanya berdasarkan lamanya mereka berdiri di sisinya.

Pintu tertutup, dan Junho tetap berdiri beberapa saat. Di luar sana, Seoul tetap berdiri megah—beton, kaca, dan cahaya. Dunia tidak runtuh hanya karena satu pengkhianatan. Namun sesuatu di dalam dirinya mengeras sedikit lagi.

Dia meraih ponsel, melihat jam yang menunjukan pukul setengah enam sore, ada satu pesan balasan dari Nala tapi Junho tak langsung melihat nya.

Hari ini masih belum selesai masih ada rapat. Masih ada keputusan. Masih ada rumah yang menunggu. Dan di antara semua itu, Junho tahu satu hal dengan pasti: menjadi pemimpin berarti siap kehilangan orang-orang lama—demi menjaga masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!