NovelToon NovelToon
999 ISYARAT CINTA

999 ISYARAT CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:561
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CALON KAKAK IPAR

Boril, Deden, Cenang, dan Dola segera berkumpul di tengah ruangan galeri lukisan. Mereka duduk berkeliling sambil bersila, kemudian mengeluarkan sekumpulan uang dari berbagai pecahan yang telah mereka kumpulkan dari usaha mereka sepanjang hari.

Dola, yang merupakan bendahara perkumpulan mereka, segera menghitung uang tersebut.

Setelah selesai, Dola menyerahkan uang itu kepada Jessica yang sedang berada di belakang, berbincang dengan Oreo.

“Totalnya Rp1.800.000.”

Mendengar seruan Dola, Luna sampai membelalakkan matanya. Ia kemudian menoleh ke arah Bandung.

“Bandung, itu uang apa yang mereka kumpulkan?”

Bandung memanggil Dola.

“Dola, coba lo jelasin kepada Ibu Guru itu uang kalian dapat dari mana.”

Dengan gaya yang kocak, Dola pun mulai menjelaskan pendapatan yang mereka hasilkan.

“Baik, Kakak Ipar.”

Boril mengumpulkan botol-botol kosong, gelas-gelas Aqua, dan beberapa sampah plastik lainnya. Kemudian, semua itu dijual ke lapak bank sampah yang ada di ujung kompleks kampung mereka.

Deden membantu petugas penjaga pintu perlintasan palang kereta api dan mendapatkan upah dari para pengguna jasa penyeberangan.

Cenang membantu menyewakan getek atau rakit buatan untuk para penyeberang bantaran kali yang hendak melintas, memotong jalan, atau menyeberang ke kampung sebelah.

“Dan gue, Dola. Gue menjaga lapak jualannya Oreo, yaitu jualan mainan dan grosir kebutuhan perabot rumah tangga di Asemka, di bawah jalan layang dekat Pasar Pagi Stasiun Kota.”

Dola kemudian mengangkat tangannya seperti seorang pembawa acara yang baru saja menyelesaikan laporan.

“Demikianlah laporan Dola pada hari ini. Sekian, terima kasih kepada calon kakak ipar.”

Luna justru merasa malu dan canggung melihat gaya serta cara Dola menyampaikan laporan tersebut.

“Eh, maaf, Dola. Bukan maksudnya gue pengen tahu terlalu banyak. Gue cuma salut lihat kalian berempat bisa ngumpulin duit segitu banyak dalam satu hari.”

Boril langsung menghampiri mereka.

“Eh, Kakak Ipar. Hari ini tuh lagi sepi. Belum lagi tadi pagi kita sempat bantu warga buat membersihkan bantaran kali. Jadi kita cuma bekerja setengah hari.”

Deden pun menambahkan,

“Biasanya kalau kita mulai dari sejak matahari terbit, pendapatan kita bisa lebih dari itu.”

“Oh, ya? Ternyata pendapatan kalian lebih besar daripada gaji gue sehari, ya.”

Bandung menepuk pundak Luna.

“Bukan nominalnya yang penting, Bu Guru. Tapi cara mereka mendapatkannya dan semangat mereka. Itu yang menurut gue paling penting.”

“Maksud lo gimana sih, Bandung? Kayaknya keren banget.”

Cenang pun ikut bersuara.

“Sebelum ada Abang Bandung, kita ini cuma sampah masyarakat! Mabok, malak, bahkan penghasilan utama kita cuma dari judol. Tapi setelah ada Abang Bandung, sekarang kita lebih diterima oleh warga di sini. Bahkan Pak Lurah pun sering minta bantuan kita untuk kerja bakti, tapi tetap diberi upah.”

“Wah, keren sekali ternyata konsep lo, Bandung.”

“Bukan keren, tapi itu memang mereka yang punya semangat.”

Boril kemudian segera berbisik-bisik.

“Tapi Kak Jessica-lah yang mengelola semua keuangan tersebut. Dan gue juga kadang nggak berani nanya dipakai buat apa.”

Luna tidak berkomentar. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Beberapa saat kemudian, sebuah mobil sport mewah berwarna kuning berhenti di depan pintu galeri lukisan.

Seorang wanita berpenampilan modis turun dengan gaya yang menawan.

Rombongan anak-anak jalanan itu pun berdiri mematung melihat wanita muda tersebut masuk. Di lengan kanannya tergantung sebuah tas kecil bermerek.

Mereka segera membukakan pintu dan menyapa wanita tersebut.

“Selamat malam, Kak Rosa.”

“Hai. Apa kabar kalian?”

Wanita tersebut kemudian langsung berjalan menuju Bandung dan duduk di sebelahnya.

“Lo udah makan belum, Bandung? Pasti lo belum mandi lagi, ya? Hah, gue pusing lihat lo. Kayaknya paling anti sama air!”

Bandung hanya menggaruk-garuk kepalanya.

“Gue belum bayar air, makanya airnya mati.”

“Kenapa nggak telepon gue biar gue bayarin?”

“Nggak usah. Gue bisa tayamum, kok.”

“Dasar lo. Udah tua juga masih kayak bocah. Lagian jorok. Pelihara, kalau mau pelihara mah tuyul, lo cepet kaya.”

Bandung kembali tersenyum dan menggaruk-garuk kepalanya.

“Siapa bilang piara tuyul cepat kaya? Tuh tuyul-tuyul gue cuma bikin masalah. Terus adanya?”

Rombongan anak jalanan itu pun ikut menggaruk-garuk kepala.

Salah seorang di antara mereka, Boril, berkata,

“Aduh, Bang. Kita sekian lama jadi tuyul, baru kali ini mendapat pujian dari pimpinan tuyul.”

Mereka pun tertawa.

Setelah itu, Cenang tiba-tiba membuka suara.

“Oh, matang! Gue lupa belum bayar bakso. Gue pamit dulu.”

Cenang pun meninggalkan mereka dengan terburu-buru, disusul oleh Dola, Boril, dan Deden.

“Oh, kita juga, Bang. Saya belum bayar tukang odong-odong.”

“Saya juga belum bayar beras. Saya mau temenin mereka, Bang.”

Rombongan anak jalanan itu pun segera meninggalkan galeri lukisan dengan wajah ceria.

Luna tersenyum melihat tingkah mereka.

Namun, senyumnya tiba-tiba terhenti oleh pertanyaan Rosa.

“Wanita ini siapa, Bandung? Kok nggak ikut sama rombongan Boril dan orang-orangnya?”

“Oh, gue guru Oreo. Gue ke sini—”

Belum sempat Luna menyelesaikan kalimatnya, Bandung segera memotong.

“Ngapain lo, Nenek Sihir? Ribut amat. Ini salah gue. Gue yang nggak merhatiin Oreo, jadi gue kena teguran dari sekolahan. Iya kan, Bu Guru?”

“Kenapa lagi sih Oreo? Anak itu kerjanya bikin masalah mulu. Lagian lo juga udah gue bilangin, buruan nikah, buruan nikah. Malah ngurusin Jessica terus. Coba lihat sekarang, gimana masa depan anak lo tuh, si Oreo.”

“Iya, udah, udah. Nggak usah ribut. Malu di depan seorang guru.”

“Terus lo mau tunggu sampai kapan lo mau nikah kalau kayak gini terus?”

“Kan udah gue bilang, kalau jodoh itu sudah ada yang atur.”

“Kalau emang jodoh udah ada yang atur, kenapa sampai sekarang lo masih jomblo?”

“Kalau sampai sekarang gue masih jomblo, itu artinya gue susah diatur.”

“Bandung... gue lagi serius!”

Luna memalingkan wajahnya, mencoba menahan tawa karena jawaban Bandung yang menurutnya nyeleneh.

“Ya udah, ini gue bawain makanan lo. Buruan makan. Gue mau pulang dulu, masih ada kerjaan.”

Rosa kemudian menoleh kepada Luna.

“Oh iya, Bu Guru. Maaf ya, gue nggak bisa nemenin lama-lama. Soal Oreo, omelin aja nih bokapnya yang nggak bener ngerawat anak.”

Luna tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Iya, Kak Rosa.”

Rosa membuka pintu dan melangkah keluar.

Bersamaan dengan itu, seorang laki-laki paruh baya masuk sambil menenteng kotak makanan.

“Halo, bre... Ini gue bawain martabak telur spesial.”

Pria itu menoleh ke arah Luna.

Tawanya pun langsung pecah.

“Hahaha... ternyata ada calon kakak ipar lagi.”

Ia kemudian mengangkat bungkusan makanan tersebut.

“Kakak ipar, ini gue bawain martabak telur buat kalian berdua sebagai teman ngobrol.”

Bandung berbicara kepada pria tersebut dengan nada datar.

“Gimana urusan lo? Udah kelar?”

“Udah. Nih, gue balikin kunci mobil lo. Makasih banyak, ya, bre.”

“Makanya lo jangan suka mainin perasaan perempuan. Akhirnya kena hukuman sendiri, kan, lo.”

“Iye, iye. Gue tahu. Sorry ya, gue nggak bisa lama-lama. Majikan nungguin di rumah.”

Laki-laki itu meletakkan bungkusan martabak dan kunci mobil di sebelah Luna, kemudian melambaikan tangan.

“Kakak ipar, hati-hati. Jangan lama-lama di dekat Bandung. Nanti diterkam sama dua macaN betina itu.”

Pria itu menguncupkan bibirnya ke arah Jessica yang sedang duduk bersama Oreo di dalam.

Setelah itu, dia menutup pintu dan meninggalkan mereka.

“Terima kasih, ya, bre.”

Luna melirik ke arah bungkusan martabak.

Namun, matanya kemudian tertuju pada gantungan remote yang terdapat pada kunci mobil tersebut.

Lah, itu kan kunci Ferrari? Gila... ini kan mobil miliaran. Kok bisa sih dipinjemin ke teman, cuma dibayar pakai martabak lagi?

Luna mulai semakin penasaran.

Siapa sebenarnya pria ini? Tingkahnya misterius banget.

Bandung berdiri dan menatap lukisan-lukisannya yang terpajang di dinding.

Luna pun bangkit dan menghampirinya.

Tak terasa, jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.

Saat itu, tiba-tiba ponsel Luna berdering.

Luna menatap layar ponselnya.

Pada layar tersebut tertulis satu nama kontak:

My Husband.

Luna pun terdiam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!