NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Teen
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).

Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).

Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.

Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.

Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis Batas Ego 01.

Matahari pukul tujuh pagi di SMA Bhineka Kota Cirebon selalu membawa jenis keriuhan yang sama, derap sepatu yang terburu-buru, gemerisik tas ransel, dan gema tawa di sepanjang lorong. Namun, tepat di depan mading utama koridor lantai satu, keriuhan itu mendadak surut, menyisakan keheningan tegang yang merayap di antara puluhan pasang mata murid yang melintas.

Di sana, dua kutub magnet yang tak pernah bisa disatukan sedang berhadapan.

Ulfa berdiri dengan punggung tegak lurus, memeluk papan jalan kayu berklip besi di depan dadanya seolah itu adalah perisai perang. Rambut hitam legamnya yang lurus ditata rapi dalam kuncir kuda tinggi, tanpa ada satu pun anak rambut yang berani keluar jalur—cerminan sempurna dari kepribadiannya yang kaku dan penuh kalkulasi.

Seragam putih abu-abunya licin tanpa cela. Sebagai Ketua OSIS, Ulfa adalah definisi berjalan dari buku tata tertib sekolah. Matanya yang tajam di balik bingkai kacamata tipisnya kini menatap lurus, mengunci satu objek di depannya dengan tatapan menghakimi.

Objek itu adalah Langit.

Kapten tim basket sekolah sekaligus manusia paling bebal yang pernah diizinkan bernapas di area institusi pendidikan ini.

Langit berdiri dengan satu bahu bersandar santai pada loker besi, membiarkan satu tangannya tenggelam di saku celana abu-abunya yang sengaja dipotong sedikit lebih ketat di bagian bawah. Seragam putihnya tidak dimasukkan, memperlihatkan kaus hitam di dalamnya. Alih-alih memakai dasi abu-abu resmi di kerah kemeja, dasi itu justru diikatkan di pergelangan tangan kirinya seperti sebuah aksesori rok. Rambut cokelat gelapnya yang agak bergelombang tampak berantakan acak-acakan—gaya khas bangun tidur yang sialnya selalu berhasil membuat siswi kelas sepuluh menahan napas saat dia lewat di lapangan.

Namun tidak bagi Ulfa, penampilan Langit pagi ini adalah sebuah penghinaan langsung terhadap otoritasnya.

"Kancingkan seragammu, Langit. Masukkan ke dalam celana, dan pakai dasimu di leher, bukan di tangan. Sekarang," suara Ulfa keluar dengan intonasi rendah, dingin, dan penuh penekanan. Setiap suku kata seperti ketukan palu hakim.

Langit tidak langsung bergerak. Dia justru menurunkan pandangannya yang semula menatap langit-langit koridor, beralih menatap Ulfa. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai tipis yang paling dibenci Ulfa di dunia ini. Seringai yang selalu mengatakan: 'Kamu tidak bisa menyentuhku.'

"Ini masih jam tujuh lewat lima, Fa. Bel masuk saja belum bunyi," sahut Langit santai. Suaranya serak khas remaja laki-laki, terdengar malas namun menantang. "Jangan terlalu tegang. Nanti kerutan di jidatmu bertambah."

"Aturan tidak mengenal jam masuk atau jam pulang selama kamu masih menginjakkan kaki di tanah sekolah ini," balas Ulfa tegas. Dia melangkah satu hitungan maju, mempersempit jarak di antara mereka. Bau parfum Langit—campuran keringat maskulin, aroma mint, dan sabun olahraga—langsung menyengat indra penciumannya.

Ulfa benci betapa familiar dia dengan aroma itu karena mereka terlalu sering bertengkar dalam jarak sedekat ini. "Kamu kapten basket. Kamu disorot satu sekolah. Mau jadi contoh apa kalau pemimpinnya berantakan seperti kriminal begini?"

Mendengar kata 'kriminal', seringai di wajah Langit lenyap. Sorot matanya yang semula jenaka mendadak menggelap, digantikan oleh kilatan benci yang nyata. Langit menegakkan tubuhnya, melepaskan sandaran pada loker.

Postur tubuhnya yang setinggi 183 sentimeter seketika membuat Ulfa yang hanya 162 sentimeter harus sedikit mendongak.

Intimidasi fisik itu nyata, namun Ulfa menolak untuk mundur satu senti pun.

"Kriminal?" Langit mendengus, tawa hambar keluar dari tenggorokannya. Dia menunduk, menatap langsung ke dalam manik mata Ulfa di balik lensa kacamatanya. "Hanya karena aku tidak memakai dasi bodoh ini di leher, kamu menyebutku kriminal? Jangan berlebihan, Ketua OSIS yang terhormat. Kamu itu penegak disiplin, bukan Tuhan yang bisa menghakimi moral orang dari sepotong kain."

"Ini bukan cuma soal sepotong kain, Langit! Ini soal kepatuhan! Soal bagaimana kamu selalu merasa punya pengecualian di sekolah ini cuma karena kamu menyumbang piala!" Suara Ulfa naik satu oktav, memecah kesunyian koridor. Dadanya kembang kempis menahan emosi yang membakar ulu hatinya. Rasa frustrasinya pada Langit sudah menumpuk selama dua tahun penuh, dan pagi ini, batas kesabarannya habis.

Beberapa murid yang tadinya berniat lewat sengaja memutar arah melalui koridor belakang. Atmosfer di sana terlalu pekat. Ketegangan di antara keduanya terasa seperti kabel listrik yang telanjang—satu sentuhan salah bisa memicu ledakan besar.

"Oh, jadi ini masalah piala?" Langit maju selangkah lagi, membuat ujung sepatu putih bersih Ulfa hampir bersentuhan dengan sepatu basket hitamnya yang tampak berdebu. Langit membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan Ulfa, menyisakan jarak barely semata kaki di antara hidung mereka.

Ulfa bisa melihat dengan jelas guratan emosi di rahang Langit yang mengeras.

"Dengar ya, Ulfa Apriyani," bisik Langit, namun setiap kata terasa seperti hantaman godam. "Sementara kamu sibuk duduk di ruangan ber-AC memikirkan poin pelanggaran dan merapikan kertas-kertas sialanmu itu, aku dan anak-anak basket berdarah-darah di lapangan sampai lutut kami memar demi nama Bhineka yang ada di dada seragammu ini. Jadi jangan pernah sebut aku gak punya rasa hormat sama sekolah ini."

Ulfa merasakan getaran aneh di dadanya. Bukan takut, melainkan rasa sesak karena dia tahu, dalam beberapa hal, Langit tidak sepenuhnya salah tentang kerja keras tim basket.

Namun, keangkuhan cowok itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa dia toleransi. Ego Langit terlalu besar, dan ego itu selalu menggilas aturan yang susah payah Ulfa tegakkan.

Ulfa mengepalkan tangannya di balik papan jalan. Buku-buku jarinya memutih. Dia menatap balik mata cokelat pekat Langit dengan seluruh kebencian yang dia miliki.

"Kerja keras tidak memberi kamu hak untuk menjadi istimewa di atas hukum sekolah, Langit. Di mata hukum, semua murid itu sama. Dan kalau kamu tidak bisa menghormati aturan paling dasar seperti seragam..." Ulfa menarik pulpen dari sakunya dengan gerakan cepat, lalu menuliskan beberapa baris kalimat di lembar pelanggaran dengan sentakan kasar. Dia menyobek kertas itu hingga menimbulkan suara 'brett' yang tajam.

Ulfa menyodorkan kertas merah itu tepat di depan dada Langit. "Skors tiga hari dari jam latihan sore. Mulai hari ini."

Mata Langit melebar. "Kamu gila? Minggu depan kita ada turnamen regional, Fa!"

"Maka pakai dasimu dengan benar minggu depan," jawab Ulfa, suaranya kembali dingin secara emosional, sebuah kontras yang mematikan setelah ledakan tadi. "Kertas ini akan langsung masuk ke meja Pak Bambang sebelum bel masuk berbunyi. Silakan protes ke ruang BK kalau kamu merasa punya argumen yang lebih logis daripada buku tata tertib."

Langit menatap kertas merah di tangan Ulfa, lalu beralih menatap wajah gadis itu. Di sana tidak ada keraguan.

Hanya ada ketegasan mutlak yang keras kepala. Selama beberapa detik, tidak ada suara di antara mereka selain deru napas yang memburu. Tensi benci di antara keduanya begitu tebal hingga jika seseorang menyalakan korek api, koridor itu mungkin akan meledak.

Langit merenggut kertas merah itu dari tangan Ulfa dengan kasar hingga kertasnya agak lecek. Dia tidak melipatnya, melainkan meremasnya dalam genggaman tangannya hingga membentuk bola kecil.

"Kamu benar-benar gak punya hati ya, Fa," ucap Langit lirih, namun nadanya dipenuhi rasa muak yang mendalam.

Dia tidak lagi membentak, dan justru nada rendah itulah yang membuat hati Ulfa sedikit mencelos. "Kamu cuma peduli sama angka, poin, dan kepuasan ego kamu sendiri sebagai penguasa sekolah. Kamu gak pernah tahu rasanya berjuang untuk sesuatu yang nyata."

Langit menegakkan tubuhnya, berbalik memunggungi Ulfa, dan berjalan pergi meninggalkan koridor dengan langkah lebar yang menghentak.

Bola kertas merah di tangannya dilemparkan dengan akurat ke dalam tempat sampah di ujung lorong tanpa menoleh lagi.

Ulfa tetap berdiri di tempatnya. Dia tidak bergerak selama hampir satu menit penuh.

Tangannya yang memegang papan jalan perlahan mulai gemetar, bukan karena takut, melainkan karena sisa adrenalin dan emosi yang menguras tenaganya.

Dia menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang mendadak terasa hampa dan sesak oleh aroma mint yang ditinggalkan Langit.

Dia memenangkan perdebatan itu secara aturan. Kertas pelanggaran sudah dikeluarkan.

Namun, saat melihat punggung lebar Langit menghilang di tikungan koridor, Ulfa tidak merasakan kemenangan sama sekali.

Yang ada hanya rasa panas yang membakar di dadanya, dan kesadaran bahwa perang di antara mereka baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.

......................

...****************...

Tbc,

1
falea sezi
banyak bacot ini tua bangka🤣 cucu lu selingkuh woy goblok
falea sezi
uda jatuh talak. lo. ini
Alex
mampossssss lu ngit
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳
Alex
sukurin maknya jadi cowok itu tegas bertanggung jawab jngn pling plan, gemes deh
Alex
jahat bgts langit Sam zahra itu, pngen geplak
Alex
ya Allah sesakit ini rasanya jahat bgts loe sebagai cowok, karma apa yg akan menantimu
Alex
udahlah Thor, biar ketahuan aja, biar Ulfa bahagia kasihan nyesek terus tiap hari🤭
Rofiwan: done kak😃
total 1 replies
Alex
syedih tapi sweet🥰
Alex
nah bgus tor biar pikirannnya terbuka lebar🤭
Alex
pengen geplak pala langit ,boleh thor
Rofiwan: silahkan, tuh orang emang plin plan hahaha
total 1 replies
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!