Tak memiliki apa pun selain namanya, Kenzo bertahan hidup di dunia yang kejam. Bagi orang lain, mimpi adalah sesuatu yang bisa dikejar. Baginya, mimpi hanyalah kemewahan yang selalu direnggut oleh kenyataan.
Hingga suatu hari, sebuah antarmuka emas muncul di hadapannya.
Sistem Gacha.
Jaminan 100%.
Setiap putaran selalu menghadiahkan sesuatu yang nyata. Kemampuan, artefak, teknik, bahkan kekuatan yang sanggup mengubah takdir. Dengan sistem itu, Kenzo tak lagi sekadar bermimpi. Ia akan menapaki jalan menuju puncak dan menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Pukul delapan pagi. Kamar motel murah di pinggir distrik komersial itu berbau karbol menyengat. Kenzo mengunci pintunya rapat-rapat. Dua kali putaran kunci.
Ia duduk di tepi kasur yang keras. Uang sisa semalam dari dompet anak buah Bimo masih cukup untuk membayar sewa tempat ini. Ia butuh tempat aman.
Bayangan lima orang berseragam hitam di gang tadi masih terekam jelas di kepalanya. Mereka bisa memutar balik waktu. Hanya dengan sentuhan tangan.
Dunia ini ternyata dikendalikan oleh para monster.
Kekuatan fisik tingkat perak miliknya jelas tidak akan cukup. Jika ia berpapasan dengan mereka, ia hanya akan menjadi butiran debu yang mudah disapu.
Kenzo menarik napas dalam-dalam.
[DING!]
Layar emas System melayang di depannya. Waktu reset harian telah lewat, mengembalikan jatahnya seperti semula.
[Jatah Jaminan 100% Hari Ini: 3/3.]
Ia menatap layar itu dengan pandangan dingin. Matanya menyiratkan ambisi yang besar.
"Sistem," ucap Kenzo dengan suara rendah. "Berikan aku sesuatu yang berada di puncak rantai makanan. Sesuatu yang bisa membuat para monster itu bertekuk lutut."
Jempolnya bergerak cepat. Ia menekan tombol Gacha sambil mengaktifkan satu token jaminan.
[Menggunakan 1 Jaminan 100%. Sisa Hari Ini: 2/3.]
Antarmuka berwarna emas itu mulai berputar dengan liar. Putarannya sangat cepat.
Cahaya di layar perlahan memutih. Biasanya, putaran hanya akan berhenti pada warna tembaga atau perak. Namun, kali ini warna emas menyilaukan mulai memancar.
Tingkat emas memiliki peluang murni hanya 0,1 persen. Itu sudah sangat luar biasa.
Namun, kejutan tidak berhenti di sana. Cahaya emas itu tiba-tiba retak.
Dengungan bernada sangat rendah bergema di dalam kamar. Kamar kecil itu mendadak terasa hampa dan sangat dingin.
Cahaya emas pecah berkeping-keping. Warna ungu gelap kehitaman muncul, seolah melahap semua cahaya dari lampu kamar.
Peluang terkecil baru saja ditembus oleh kepastian mutlak.
[DING!]
[Gacha Selesai. Kualitas: Platinum.]
[Hadiah telah dipindahkan ke Penyimpanan Tak Terbatas.]
Kenzo menahan napas. Tangannya sedikit gemetar saat membuka menu penyimpanan. Di sana, sebuah ikon berbentuk pusaran hitam kecil menunggu.
Ia menekan pilihan untuk mengeluarkan hadiah itu.
Tidak ada cahaya yang memadat. Ruang kosong di tengah kamar tiba-tiba terbelah. Retakan hitam legam muncul seperti kaca yang pecah di udara.
Dari dalam celah hampa itu, sesosok makhluk melangkah keluar.
Kenzo langsung melompat mundur. Otot-otot tingkat peraknya langsung menegang. Tubuhnya bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Aura dari sosok itu terasa sangat mengerikan. Rasanya seperti berdiri di tepi jurang tak berdasar yang siap menelan jiwanya.
Namun, saat wujudnya terlihat utuh, Kenzo justru tertegun.
Dia mengira akan melihat naga besar, monster menyeramkan, atau iblis bertanduk. Ternyata, yang berdiri di depannya hanyalah seorang wanita muda berantakan.
Rambutnya hitam legam, menutupi sebagian wajahnya. Matanya berwarna ungu redup, sedalam ruang angkasa yang sunyi.
Wanita itu mengenakan jubah hitam longgar. Bagian ujung jubah itu tampak memudar menjadi kabut bayangan yang tipis.
Mereka berdua saling menatap dalam keheningan yang mencekam. Kenzo tidak berani bergerak sedikit pun. Naluri bertahannya memperingatkan bahwa wanita ini berada di tingkat kekuatan yang berbeda.
Tiba-tiba, wanita itu memiringkan kepalanya. Matanya yang gelap mendadak berbinar cerah.
"Kenzo!"
Suaranya tidak terdengar menyeramkan. Justru terdengar sangat riang, seperti suara anak kecil yang gembira.
Wus!
Gerakannya sangat cepat. Indra perak Kenzo bahkan tidak sempat menangkap perpindahannya. wanita itu sudah berada di depannya, memeluk pinggangnya dengan sangat erat.
"Kenzo... Kenzo... Azzy ikut," gumam wanita itu.
Ia menyandarkan kepalanya di dada Kenzo. Rambutnya yang berantakan digesek-gesekkan dengan manja, mirip sekali dengan anak anjing yang baru bertemu pemiliknya.
Kenzo membeku seketika. Tangannya terangkat canggung di udara.
"A-apa?" tanya Kenzo, bingung.
Layar sistem di depannya berkedip pelan, memunculkan sebaris informasi baru.
[Pelayan: Azzy (Sang Void Lord)]
[Status: Terikat Mutlak pada Pengguna.]
"Azzy?" panggil Kenzo dengan ragu.
Ia mencoba mendorong bahu wanita itu agar menjauh. Namun, telapak tangannya justru terasa menembus ruang kosong.
Tubuh Azzy seolah terbuat dari kehampaan, meski pelukannya pada pinggang Kenzo terasa sangat nyata dan hangat.
"Kenzo pergi, Azzy ikut," ulang Azzy lagi.
Ia mendongak, menatap Kenzo dengan mata ungu gelapnya yang polos. Ia tampak sangat menuntut perhatian dari majikan barunya.
Kenzo memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. Situasi ini benar-benar di luar dugaannya.
Sistem baru saja memberinya pelayan dengan tingkat kekuatan yang sanggup menghancurkan dunia. Namun, pelayan itu ternyata adalah entitas yang sangat manja.
'Kalau dia mengamuk, kota ini bisa hilang dalam sekejap,' pikir Kenzo cemas.
Ia harus berhati-hati dalam bersikap.
"Baiklah... lepaskan dulu pelukanmu, Azzy," kata Kenzo dengan nada suara yang sangat lembut.
Azzy merengut kecewa. Ia melepaskan pelukannya dengan enggan, lalu berdiri tegak di samping Kenzo.
Namun, jari-jarinya masih mencengkeram ujung jaket usang milik Kenzo. Ia seolah takut jika sedetik saja lengah, ia akan ditinggalkan.
Kenzo menarik napas lega. Ia melirik ke arah luar jendela kamar motel yang kusam.