Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng di Bawah Cahaya Bulan
Kota Tengah Provinsi Abbu tidak pernah benar-benar tidur. Bahkan di tengah malam, gemerlap lentera kertas berwarna-warni memantul di genangan air jalanan, menciptakan ilusi dunia yang lebih cerah daripada kenyataannya. Di sinilah para pedagang tinta berkumpul, di sinilah rumor beredar lebih cepat daripada wabah, dan di sinilah harapan-harapan palsu dijual dengan harga mahal.
Ren Zexian berdiri di tepi kerumunan, menarik tudung jubahnya lebih rendah. Ia merasa seperti noda hitam di atas kanvas yang terlalu ramai. Di sekelilingnya, ratusan pemuda dan gadis dari berbagai penjuru provinsi berdesakan menuju Plaza Audisi, sebuah lapangan luas yang dikelilingi oleh paviliun-paviliun sementara milik Klan Kaligrafi Naga.
Udara berbau campuran keringat, parfum murahan, dan aroma tajam Ink Qi yang dilepaskan oleh para peserta yang sedang melakukan pemanasan. Suara dentuman energi dan teriakan semangat bergema di udara, menciptakan simfoni kekacauan yang membuat kepala Ren pening.
"Tenang," bisik Ren pada dirinya sendiri. Ia meraba saku dalamnya, memastikan gulungan anatomi dari Master Wei masih ada. Ia juga membawa kuas patahnya, yang kini telah ia bungkus dengan kain biasa agar tidak menarik perhatian.
Audisi Klan Naga bukan sekadar tes kekuatan. Itu adalah pameran keangkuhan. Mereka mencari "bakat murni"—mereka yang lahir dengan meridian lebar dan kemampuan menyerap Qi dengan cepat. Bagi Ren, yang meridiannya terbalik dan bocor, ini adalah misi bunuh diri. Tapi ia tidak punya pilihan. Informasi tentang The Fade dan obat untuk Lin hanya bisa ditemukan di inti kekuasaan Klan tersebut.
"Langkah pertama," gumam Ren, mengingat kata-kata Wei, "adalah menjadi tak terlihat di tengah keramaian."
Ia menyusup ke dalam barisan pendaftar. Di depannya, seorang pria bertubuh besar sedang memamerkan kekuatannya kepada kerumunan. Ia menulis karakter "Batu" di udara dengan jari telunjuknya, lalu meninju pilar kayu dekorasi hingga hancur berkeping-keping. Kerumunan bersorak kagum.
Ren menggeleng pelan. Kekuatan kasar tanpa presisi, pikirnya. Seperti palu godam di atas kaca.
Saat giliran Ren tiba, ia dihadapkan pada meja pendaftaran yang dijaga oleh dua petugas berseragam merah emas. Petugas itu, seorang wanita muda dengan wajah dingin dan mata yang menilai setiap orang seperti barang dagangan, menatap Ren dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Nama?" tanyanya singkat, kuas bulu angsa melayang di atas buku catatan besar.
"Ren Zexian," jawab Ren, suaranya rendah.
"Asal?"
"Lembah Abbu. Sektor Pemulungan."
Wanita itu mengangkat alisnya, ekspresi jijik sekilas melintas di wajahnya sebelum kembali datar. "Pemulung? Kau tahu aturan audisi? Hanya mereka dengan setidaknya Ranah Goresan (Stroke Bone) yang diperbolehkan masuk. Bagaimana kau bisa membuktikan levelmu?"
Ren tidak menjawab. Ia tahu tes standar akan mengungkap keanehan meridiannya. Jika ia mencoba mengalirkan Qi secara normal, alat ukur akan menunjukkan kesalahan atau kebocoran, dan ia akan langsung diusir. Ia harus trik.
"Aku tidak perlu membuktikan levelku dengan alat ukur kalian," kata Ren tenang. "Aku akan membuktikannya di arena."
Petugas wanita itu tertawa pendek, suara yang tajam dan merendahkan. "Berani sekali. Banyak yang bicara besar, tapi pecah seperti kaca saat menghadapi Tekanan Aura Elders. Baiklah, Ren dari Lembah Abbu. Masuk ke Arena Uji Coba Nomor 4. Jangan menangis jika tulangmu patah."
Ren mengangguk sopan, lalu berjalan menuju gerbang arena. Di dalam, suasana berbeda. Lebih sepi, lebih mencekam. Arena berbentuk lingkaran dengan lantai batu granit hitam yang mengilap. Di tribun atas, duduk tiga sosok berjubah emas—para Elder Klan Naga yang bertindak sebagai juri. Tatapan mereka berat, seperti beban gunung yang menekan dada.
Di tengah arena, sudah menunggu lawan ujiannya. Seorang pria muda dengan rambut diikat tinggi, mengenakan jubah sutra biru muda yang bersih dan mahal. Wajahnya tampan, namun matanya menyiratkan kebosanan dan arogansi tingkat tinggi. Ini adalah tipe peserta yang lahir dengan sendok emas di mulutnya, yang belum pernah merasakan lapar atau dingin.
Namanya, menurut papan nama di samping arena, adalah Li Jian. Putra kedua dari salah satu cabang keluarga Li.
"Jadi, inilah sampah dari lembah?" Li Jian tersenyum sinis, memainkan kipas lipat di tangannya. "Aku berharap setidaknya kau bisa bertahan selama sepuluh detik. Aku bosan mengalahkan boneka tanah liat."
Ren tidak terpancing. Ia memasuki arena, kakinya menginjak lantai granit. Mata Void-nya aktif seketika. Ia melihat Li Jian bukan sebagai manusia, tapi sebagai kumpulan garis energi. Dan ia melihat sesuatu yang menarik.
Aliran Qi Li Jian sangat kuat, memang. Tapi ada ketidakefisienan. Setiap kali ia bergerak, ada pemborosan energi sebesar 15% karena postur kakinya yang terlalu santai. Ia mengandalkan bakat alamiah, bukan disiplin.
"Mulai!" teriak wasit dari sisi arena.
Li Jian tidak menunggu. Ia mengayunkan kipasnya, dan angin tajam berbentuk pisau melesat ke arah Ren. Serangan cepat, akurat, dan penuh dengan tekanan Qi tingkat menengah.
Ren tidak menghindar ke samping. Ia melangkah maju, tepat ke jalur serangan. Dengan kuas patahnya yang masih terbungkus kain, ia melakukan gerakan memutar kecil di pergelangan tangan.
Blok.
Angin pisau itu terhenti mendadak, seolah-olah menabrak dinding tak kasat mata di depan dada Ren. Kain pembungkus kuas itu robek sedikit, tapi Ren tetap berdiri tegak.
Li Jian terbelalak. "Apa? Kau memblokir Wind Blade-ku dengan... tongkat kayu?"
"Bukan tongkat," kata Ren dingin. "Fokus."
Li Jian mengerutkan kening, rasa malunya tersentuh. Ia melipat kipasnya dan menyerang dengan kecepatan ganda. Kali ini, ia menggunakan teknik "Serangan Naga Kecil", tinjunya dibalut aura biru yang berputar-putar seperti pusaran air.
Ren mengamati putaran aura itu. Ada pola. Putaran searah jarum jam, dengan titik pusat di kepalan tangan kanan Li Jian. Jika ia menyerang titik pusat itu saat aura sedang dalam transisi...
Ren menunggu. Saat tinju Li Jian hampir menyentuh wajahnya, Ren menunduk sedikit, lalu menusukkan gagang kuasnya tepat ke pusat kepulan aura biru itu.
Desis.
Aura biru itu buyar. Energi Li Jian terpental balik ke tubuhnya sendiri, membuatnya terhuyung mundur, napasnya tersengal. Darah mengalir dari sudut bibir Li Jian.
Keheningan menyelimuti arena. Para penonton di luar terdiam. Para Elder di tribun atas saling berpandangan, minat mereka mulai tersulut.
Li Jian menghapus darah dari bibirnya, matanya kini dipenuhi kemarahan murni. "Kau... kau berani menghina aku?!"
Ia melepaskan semua penahanannya. Aura Qi-nya meledak keluar, menciptakan angin kencang di dalam arena. Ia menyiapkan teknik tingkat tinggi, "Cakar Naga Emas". Tangan kanannya berubah bentuk, kuku-kukunya memanjang dan bersinar emas, siap mencabik-cabik Ren menjadi serpihan.
Ren merasakan tekanan itu. Ini jauh lebih kuat dari sebelumnya. Jika ia terkena serangan itu, tulangnya akan hancur. Ia tidak bisa memblokirnya lagi. Ia harus menghilangkannya.
Tapi menggunakan teknik "Hapus" di depan umum terlalu berisiko. Jika para Elder menyadari ia menggunakan seni terlarang, ia akan dibunuh di tempat.
Ia butuh cara lain. Cara yang terlihat seperti keberuntungan atau kecerdikan, bukan sihir hitam.
Ren mengamati lantai granit di bawah kaki Li Jian. Ada retakan halus di sana, sisa dari pertarungan sebelumnya. Retakan itu kecil, tapi struktural.
Saat Li Jian menerjang, Ren tidak menyerang Li Jian. Ia menyerang lantai.
Dengan ujung kuasnya, Ren mengetuk keras ke titik retakan itu, sambil mengalirkan sedikit Qi getar ke dalamnya.
Krek!
Retakan itu melebar seketika. Kaki kanan Li Jian, yang sedang menumpu berat badan untuk serangan final, terperosok ke dalam celah lantai yang tiba-tiba longgar. Keseimbangannya hancur. Serangan "Cakar Naga Emas" itu meleset, menghantam udara kosong di sebelah kepala Ren.
Li Jian jatuh tersungkur, wajahnya menghantam lantai granit dengan bunyi nyaring.
Arena hening total. Kemudian, sorak-sorai pecah dari kerumunan luar. Bukan karena kekaguman pada kekuatan Ren, tapi karena kejatuhan memalukan sang jenius kaya raya.
Ren berdiri di atas Li Jian yang mengerang kesakitan, kuasnya masih terangkat. Ia tidak menghabisinya. Ia hanya menatap para Elder di tribun atas.
Salah satu Elder, seorang pria tua dengan jenggot putih panjang, berdiri perlahan. Matanya tajam, menelusuri tubuh Ren.
"Menarik," suara Elder itu bergema, diperkuat oleh Qi sehingga terdengar jelas di seluruh arena. "Kau tidak mengalahkan dia dengan kekuatan. Kau mengalahkan dia dengan lingkungan. Dengan observasi."
Elder itu turun dari tribun, mendarat ringan di depan Ren. "Siapa namamu, anak muda?"
"Ren Zexian, Tuan Elder," jawab Ren, menundukkan kepala sebagai tanda hormat, meski matanya tetap waspada.
"Teknikmu aneh. Tidak ada aliran Qi yang jelas. Tapi hasilmu efektif," kata Elder itu, matanya menyipit. "Kami Klan Naga menghargai efisiensi. Tapi kami juga menghargai loyalitas dan kemurnian darah. Dari mana kau belajar trik licik seperti itu?"
"Dari bertahan hidup, Tuan," jawab Ren jujur. "Di Lembah Abbu, jika kau tidak cerdik, kau mati. Aku tidak punya kemewahan untuk belajar teknik indah. Aku hanya belajar cara tidak mati."
Elder itu terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Jawaban yang jujur. Dan menyedihkan. Baiklah, Ren Zexian. Kau lolos audisi awal. Tapi ingat, ini baru permulaan. Di dalam Klan, kelemahanmu akan dicari. Dan jika kau terbukti menggunakan seni terlarang..."
Elder itu tidak menyelesaikan kalimatnya. Ancaman itu menggantung di udara, lebih berat daripada batu granit.
"...kau akan dihapus."
Ren menelan ludah, tapi wajahnya tetap datar. "Saya mengerti, Tuan."
Elder itu berbalik, memberi isyarat pada petugas untuk membawa Li Jian yang masih mengerang keluar arena. "Masuk ke barisan penerima. Kau akan ditempatkan di Asrama Rendah. Jangan harap perlakuan khusus."
Ren mengangguk, lalu berjalan keluar dari arena. Kakinya gemetar hebat sekarang, adrenalin surut meninggalkan kelelahan yang mendalam. Tapi ia berhasil. Ia masuk.
Saat ia melewati gerbang keluar, ia merasakan tatapan seseorang dari kerumunan. Ia menoleh sekilas. Di antara ratusan wajah, ada sepasang mata yang familiar. Mata yang hampa, tapi penuh dengan peringatan.
Master Wei berdiri di sudut gelap, menyamar sebagai pengemis tua. Ia mengangguk hampir tak terlihat, lalu menghilang ke dalam bayangan gang sempit.
Ren menghela napas lega. Langkah pertama telah diambil. Ia sekarang berada di dalam perut naga. Sekarang, tugasnya adalah menemukan jantungnya, dan menghancurkannya dari dalam.
Ia memegang kuas patahnya erat-erat. Perang tinta baru saja memasuki babak baru. Dan kali ini, taruhannya bukan hanya nyawanya, tapi masa depan adiknya dan kebenaran dunia yang retak ini.