Menjadi korban keegoisan orang tuanya pasca perceraian, membuat Auri lebih memilih mantan ART nya untuk menjadi walinya.
Perjalanan hidup Auri sejak masih kanak-kanak memang tak mudah. Bahkan kehidupan cintanya pun seolah tak berpihak padanya.
Namun sosok pemuda yang tak pernah ia sangka, hadir dalam hidupnya. Dan perlahan mengubah alur hidup Auri.
Ikuti perjalanan hidup Auri yukkk
Welcome di tulisan receh Mak Othor. Semoga Mak Othor bisa konsisten menulis lagi yakk...
Yang kemarin terpaksa hiatus.
terimakasih semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Pelan-pelan Bah, sakit ini....", protes Auri saat Abahnya mengurut pergelangan kakinya.
"Ini Abah udah pelan neng. Cuma Abah harap kamu teh kudu lebih hati-hati lagi. Masih untung cuma terkilir, kalo sampai luka terus kenapa-kenapa gimana? Tapi nauzubillahi min dzalik sih Neng!"
"Neng mah udah ati-ati bah, supir mobilnya aja yang reseh!"
Auri terlihat memanyunkan bibirnya. Umi membawa pisang goreng dari dapur lalu bergabung dengan anak juga suaminya.
"Masa ya Mi, Bah! Dengan entengnya dia bilang kalo orang kampung kaya Neng ini cuma modus biar bisa mintain duit ke dia. Emangnya cuma orang kota doang yang bisa punya duit?"
Abah dan umi terkekeh pelan.
"Gayanya sengak banget lagi. Belum beres ngomong, neng tampar aja tuh pipinya yang mulus kaya bokong bayi."
"Astaghfirullah neng...." kedua orang tua itu hanya menggeleng pelan. Auri bukan gadis lemah nan kalem. Tapi dia juga gadis yang lembut...
Entah lah dia masuk kategori apa. Mungkin mengikuti mood dan situasi aja tuh perannya heheh...
"Main tampar sembarangan aja kamu neng, untung dia ngga bales", kata Abah mencomot pisang goreng dengan garpu. Belum sempat cuci tangan pasca mengurut kaki Auri, tapi sudah tidak tahan dengan pisang goreng buatan umi.
"Ayolah Abah...Abah ngga lupa kan kalo Neng pemegang sabuk hitam? Neng muridnya Abah!"
Umi Salamah terkekeh kecil. Bapak dan anak memang sering sekali berdebat kecil seperti itu.
❤️❤️❤️
"Yakin bisa tidur di sini?" tanya Candra pada Rino. Ia masih was-was dengan kawanan tikus di gudang tadi pagi.
"Pintunya tertutup rapat, kipas angin juga berfungsi dengan baik, tempat tidur udah nyaman. Apa lagi?" tanya Rino.
Candra melirik sadis pada asistennya itu.
"Asisten ga pengertian! Lo lupa sama makhluk-makhluk kecil menjijikan tadi pagi?", tanya Candra.
Dengan polosnya Rino menggeleng.
"Ishhh....bayangin No, bayangin! Gue lagi mimpi indah tiba-tiba aja mereka bergerombol menghampiri gue terus...ihhh...."
Candra bergidik ngeri membayangkan itu semua.
"Ckkkk...ayolah bos! Cuma tikus! "
"Cuma Lo bilang????"
"Bos, di mana-mana ya apalagi di novel-novel online kebanyakan CEO macam bos ini merangkap jadi mafia berdarah dingin. Tapi CEO yang satu ini ...???", Rino tak melanjutkan ucapannya.
"Apa Lo? Mau bilang gue anak mami? Ya emang gue anak mami! Sorry ya...gue anak baik-baik!"
Candra melenggang duduk di ranjangnya. Ia menatap ke sekeliling kamar. Memindai setiap sudut, takut ada celah bagi tikus untuk masuk ke kamarnya itu.
"Please bos, serius dikit. Kaya waktu di kantor tadi. Tapi....ngga jadi deh, di kantor tadi terlalu kejam mulutnya."
Candra menatap tajam asistennya itu.
"Mulut Lo emang kagak bisa di rem ya No!"
"Sebagai asisten saya cuma mengingatkan pak bos muda. Sebagai pengusaha, ada saatnya bersikap tegas tapi ada juga saatnya melihat sisi manusiawi."
"Maksud Lo apa ngomong gitu? Soal apaan sih? Gue marahin para pekerja tadi?"
Rino menggeleng lalu menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Soal sekolah SLB yang ada di depan calon gerbang perumahan. Mungkin ada baiknya pintu gerbang itu di geser, jangan terlalu berhadapan. Pasti jam-jam tertentu bakalan macet. Apalagi jam anak-anak pulang sekolah."
"Sini Lo!" Candra memanggil Rino agar mendekat. Mau tak mau Rino pun mendekati bos muda sekaligus sahabatnya itu.
"Arsitek yang menangani pembangunan proyek ini pasti udah memperhitungkan semuanya No. Lo pikir, semuanya bisa di ubah gitu aja ? Iya?"
Rino menghela nafas panjang.
"Mereka pasti udah mikirin efeknya gimana. Soal kemacetan jam pulang sekolah, tinggal kasih orang aja buat jadi 'pak Ogah' di sana. Ngga usah di bikin ribet! Udah sana balik ke kamar Lo!"
Rino mendengus kecil.
Mungkin benar, seharusnya arsitek dan pekerja lapangan berkoordinasi lebih dulu. Tidak tiba-tiba menyampaikan masalah pada Candra sebelum pada penanggung jawab.
"Jangan lupa tutup pintunya!", pinta Candra setengah teriak.
"Iya bos bawel!" sahut Rino sambil menutup pintu kamar itu dari luar.
Setelah pintu tertutup sempurna, mata Candra masih memindai kamar itu.
"Duh, banyak nyamuk lagi! Sialan!" Candra mendengus kesal.
Saat mengusap pipinya, ia jadi teringat dengan sosok gadis yang tadi menamparnya.
Candra memejamkan matanya dengan gigi bergemeletuk.
"Sialan tuh cewek main tampar sembarangan! Liat aja kalo ketemu, bakal gue bales! Eh...tapi...masa iya gue bales nampar juga? No! Ngga gentle gue kalo balas pake tamparan juga! Gue harus cari cara dari sekarang biar kalo ketemu lagi gue udah punya inspirasi!"
Tapi nyatanya, ia malah teringat dengan wajah cantik dan ayu gadis itu. Cantik tanpa polesan!
"Dia kerja apa ya? Kayaknya pake seragam dinas?" monolog Candra.
"Ahhhh! Ngapain gue mikirin tuh cewek kampung! Ngga penting banget!" ujarnya sambil mengusap-usap pipinya yang tadi bekas di tampar.
❤️❤️❤️❤️
"Tuan Estu!"
Estu yang baru memakai jas nya menoleh singkat pada sekretarisnya.
"Apa jadwal saya hari ini selain meeting dengan divisi keuangan?" tanya Estu.
"Ada peninjauan ke lapangan tuan. Anda akan bertemu dengan tuan Mahesa dan membahas tentang Mega proyek Peru Xxx di kabupaten Xxx. Saya sudah menyiapkan beberapa perlengkapan pribadi anda jika sewaktu-waktu anda harus berusaha di sana."
Estu mengangguk pelan.
"Ya sudah! Kamu bilang sama supir, suruh cek mobil sebelum makan siang."
"Baik tuan!"
Estu pun menuju ke ruang meeting dengan langkah tegapnya tersebut. Sebagian wanita yang bekerja di kantor itu berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatian Estu.
Sayang, Estu terlalu sulit untuk di taklukkan. Hanya beberapa perempuan pilihan yang bisa jatuh di atas ranjang Estu. Itu pun orang luar, bukan karyawannya.
Dan setelah ONS, semua selesai!
"Din, bos kita ini normal ngga sih? Duda udah lama banget, ganteng, kaya, body aduhai...tapi...."
"Sssttt...diem! Tembok sekarang banyak telinganya. Jangan sampai besok pagi ada amplop SP di meja kita, paham?" tanya sekretaris Estu.
Temannya itu hanya mengangguk cepat. Bagaimana nasibnya kalau sampai mendapatkan teguran dari bos padahal bukan perkara pekerjaan! Pasti malu!
❤️❤️❤️❤️❤️
"Sibuk banget kayaknya sih nih jalan, tumben!" monolog Auri saat berada di lampu merah.
Ada beberapa pengendara motor seperti dirinya yang menunggu lampu hijau segera menyala.
Namun tiba-tiba saja di belakang mereka terlihat dum truk bermuatan penuh berbaris. Auri melihat itu dari spionnya.
Tak lama kemudian, lampu hijau pun menyala. Suara motor dan mobil bersahutan seolah ingin lekas pergi dari perempatan jalan itu.
Auri meminggirkan kendaraannya agar dum truk itu mendahuluinya. Tapi ternyata mobil berkapasitas besar itu tak hanya dua atau tiga tapi banyakkk.
Dan akhirnya Auri tahu kemana tujuan dum truk itu. Dia agak kesulitan memasukkan kendaraan roda duanya karena sejak tadi ada dum truk yang antri masuk ke sebrang sekolah SLB di mana Auri mengajar.
"Masyaallah...gimana ceritanya ini kalo macet begini??"
Auri menoleh ke belakang, banyak muridnya yang di antar oleh keluarganya menunggu truk-truk itu tak menghalangi pintu masuk mereka.
Auri hanya khawatir dengan anak-anak didiknya. Mereka spesial, tidak semua anak bisa mengerti kondisi ini.
Tapi Auri yang terganggu harus mengadu pada siapa????
❤️❤️❤️❤️
Segini dulu yaksss makasih...🙏🏻