NovelToon NovelToon
My Sweety Sugar Mommy

My Sweety Sugar Mommy

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Romantis
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepercayaan Besar

Suasana ruang rapat utama Studio Design milik mas Danang mendadak hening ketika Mas Danang meletakkan sebuah bundel berkas tebal di tengah meja kaca. Di sampul depan berkas tersebut, tertulis nama proyek bernilai fantastis: Villa Amarta Sleman.

"Proyek ini adalah hunian peristirahatan seluas seribu meter persegi dengan konsep resor modern," ujar Mas Danang seraya mengedarkan pandangan ke seluruh stafnya. "Dan mulai hari ini, saya menunjuk Arvino sebagai lead architect sekaligus pengawas utama pengerjaannya."

Beberapa staf senior sempat tertegun sejenak. Namun, tak ada lagi nada keberatan. Tiga tahun dedikasi penuh dan penguasaan teknis Vino telah membungkam semua keraguan. Mas Bayu memimpin tepuk tangan riuh yang disusul oleh rekan-rekan studio lainnya.

"Terima kasih atas kepercayaannya, Mas Danang. Saya tidak akan mengecewakan tim," sahut Vino tenang dengan anggukan penuh hormat.

Dua hari kemudian, rapat perdana bersama pemilik proyek digelar di ruang privat sebuah restoran di daerah Candi Sambisari. Pak Surya, seorang pengusaha properti senior yang terkenal kritis dan kaku, duduk menyilangkan kaki seraya mengamati lembaran sketsa buatan Vino.

"Mas Arvino," panggil Pak Surya dengan suara berat yang menuntut. "Usia Anda masih sangat muda untuk memegang proyek besar seperti ini. Apa yang membuat Anda begitu yakin konsep atap melayang dan bukaan kaca besar ini aman dari cuaca ekstrem Kaliurang?"

Vino tersenyum tipis, membuka laptopnya dan mengarahkan simulasi pemodelan tiga dimensi ke hadapan Pak Surya.

"Pertanyaan yang sangat tepat, Pak Surya," jawab Vino dengan nada tenang dan lugas. "Area Sleman bagian atas memang memiliki curah hujan tinggi dan beban angin yang cukup besar. Oleh karena itu, untuk struktur atap melayang ini, saya tidak menggunakan konstruksi kayu konvensional atau baja ringan biasa, melainkan memakai rangka baja I-Beam yang diangker langsung ke kolom utama beton bertulang mutu K-350."

Pak Surya mencondongkan tubuhnya, menyipitkan mata melihat detail simulasi tersebut. "Bagaimana dengan sirkulasi udara dan potensi kebocoran pada bukaan kaca sebesar ini?"

"Kami mengadopsi sistem cross-ventilation dengan sudut teritisan selebar satu koma dua meter, Pak," pangkas Vino lancar, memamerkan penguasaan metodenya. "Teritisan ini berfungsi ganda: menahan tampias air hujan deras saat angin kencang, sekaligus membiaskan sinar matahari langsung agar suhu di dalam ruangan tetap sejuk tanpa bergantung penuh pada pendingin udara. Selain itu, seluruh sambungan kaca dan kusen aluminium akan dilapisi sealant silikon berbahan dasar poliuretan yang tahan terhadap perubahan suhu ekstrem."

Pak Surya terdiam sejenak. Ia menatap detail perhitungan skala dan sketsa analisis pencahayaan buatan Vino dengan cermat, lalu perlahan mengulas senyum lebar.

"Luar biasa," puji Pak Surya seraya mengangguk-angguk puas. "Penjelasan Anda sangat matematis dan masuk akal, Mas. Jujur, awalnya saya ragu karena melihat usia Anda. Tapi cara berpikir dan solusi teknis yang Anda tawarkan jauh lebih matang dibanding beberapa arsitek senior yang pernah berdiskusi dengan saya. Saya setuju, konsep ini kita eksekusi."

"Terima kasih banyak, Pak Surya. Kami akan pastikan pengerjaan di lapangan berjalan presisi sesuai gambar kerja," balas Vino mantap seraya berjabat tangan erat dengan klien utamanya tersebut.

Malam harinya di studio, usai penandatanganan berkas kerja sama resmi, Mas Danang memanggil Vino ke ruang kerjanya. Mas Danang menyerahkan sebuah cek pembayaran termin pertama atas nama komisi hak cipta perancangan.

"Ini bagianmu, Vin. Sesuai kesepakatan bagi hasil proyek utama," kata Mas Danang.

Vino menerima lembaran cek tersebut, lalu tertegun menatap angka yang tertera di sana. "Mas Danang... ini jumlahnya sangat besar. Apa tidak berlebihan?"

Mas Danang terkekeh seraya menyalakan rokoknya. "Kamu yang memenangkan hati Pak Surya siang tadi, Vin. Kamu yang menjawab semua keraguannya dengan kecerdasanmu sendiri. Angka itu adalah harga yang pantas untuk kerja keras dan keahlianmu selama tiga tahun ini."

"Uang ini... sudah lebih dari cukup untuk modal awal yang saya rencanakan, Mas," bisik Vino dengan mata berbinar penuh keyakinan.

"Aku tahu," sahut Mas Danang lembut, menatap murid kesayangannya itu. "Tabunganmu dari bonus-bonus sebelumnya ditambah cek ini sudah cukup buat kamu sewa ruko dan beli peralatan studio sendiri. Jadi, kapan kamu mau mulai melangkah mandiri?"

Vino menyandarkan punggungnya, menatap ke luar jendela lantai dua studio yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota Yogyakarta.

"Setelah proyek Pak Surya ini selesai sepenuhnya dan serah terima kunci, Mas," jawab Vino tegas. "Saya mau menyelesaikan tugas saya di sini sampai tuntas dan sempurna. Setelah itu, saya siap berdiri di atas kaki saya sendiri."

Mas Danang menepuk bahu Vino dengan bangga. "Pilihan yang sangat bijak. Selesaikan proyek ini dengan gemilang, dan persiapkan nama studiomu."

Vino mengangguk mantap. Malam itu, di bawah langit Jogja yang tenang, Arvino menyadari bahwa masa depan yang dulu terasa jauh dan buram kini telah berada tepat di dalam genggaman tangannya.

1
mawarsendu
bagus
Alnilam Mintaka: terimakasih kak
total 1 replies
mawarsendu
semangat ya kak

btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍
the virtuso
saling support yah thor jangan lupa🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!