NovelToon NovelToon
Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulu-Halus

Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.

Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.

Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.

Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 — Sinyal Sejelek Ini Mau Main Apa? ( Bab bonus )

Malam semakin larut di gurun Darsen.

Setelah meninggalkan bangunan tua yang tadi dijadikannya tempat beristirahat, Adrian terus berjalan menyusuri kawasan permukiman terbengkalai tersebut.

Ponsel masih berada di bawah lengannya.

Tujuannya sederhana.

Mencari tempat dengan sinyal yang cukup kuat untuk bermain dengan tenang.

Dia sudah mencoba berdiri di dekat jendela.

Tidak berhasil.

Naik ke atas puing.

Sinyal hilang.

Berdiri di atas sebuah drum minyak.

Satu garis.

Bahkan sempat berjalan ke atap bangunan yang hampir roboh.

Hasilnya tetap sama.

Adrian menatap layar ponselnya dengan wajah semakin muram.

“Satu garis lagi.”

Dia mengangkat ponselnya lebih tinggi.

“Naik sedikit.”

Tidak ada perubahan.

Dia memutar tubuh ke kiri.

Tidak ada.

Ke kanan.

Tetap satu garis.

Adrian menghela napas panjang.

“Kalau jaringan terus begini, uang sebanyak apa pun tidak akan membuat saya bahagia.”

Dia menurunkan ponselnya.

Kemudian pandangannya tertuju pada sesuatu di tengah kota tua itu.

Sebuah menara air.

Bangunan tersebut menjulang jauh lebih tinggi daripada rumah-rumah di sekitarnya.

Rangka besinya sudah dipenuhi karat, tetapi struktur utamanya masih terlihat cukup kokoh.

Adrian menyipitkan mata.

“Hmm.”

Dia mengangkat ponsel lagi.

Kemudian melihat menara itu.

Kemudian melihat ponselnya.

Ekspresinya perlahan berubah.

“Tempat tinggi.”

Dia mengangguk.

“Biasanya sinyal lebih bagus.”

Logika Adrian memang sederhana.

Kalau sinyal tidak mau datang kepadanya, berarti dia yang harus mendatangi sinyal.

Dia langsung berjalan menuju menara air tersebut.

“Kalau sampai di atas masih satu garis...”

Adrian mengencangkan pegangan pada Ponsel nya.

“Berarti operatornya memang keterlaluan.”

Adrian tidak tahu bahwa sejak beberapa menit lalu, dirinya sudah bukan satu-satunya orang yang bergerak di kawasan kota tua itu.

Di balik bukit pasir yang berjarak beberapa ratus meter dari permukiman terbengkalai, lima sosok berdiri dalam kegelapan.

Mereka hampir menyatu dengan lingkungan.

Pakaian tempur berwarna gelap menutupi tubuh mereka.

Perlengkapan komunikasi terpasang di telinga.

Kacamata penglihatan malam membuat dunia di hadapan mereka berubah menjadi bidang dengan nuansa hijau.

Tidak ada suara percakapan yang tidak perlu.

Tidak ada gerakan berlebihan.

Kelima orang itu adalah Pembunuh profesional yang biasa menerima pekerjaan dari jaringan bawah tanah.

Pemimpin mereka dikenal dengan julukan Night Scorpion.

Pria itu mengangkat satu tangan.

Dua jarinya bergerak.

Kemudian menunjuk ke arah kota tua.

Empat anggota lainnya langsung memahami perintah tersebut.

Salah satu bergerak menuju sisi kiri.

Dua orang menyebar ke kanan.

Yang terakhir membawa senapan runduk dan memilih jalur menuju bangunan paling tinggi.

Night Scorpion menatap layar kecil di pergelangan tangannya.

Sebuah foto terpampang di sana.

Target mereka.

Adrian.

Di bawah foto tersebut terdapat nilai hadiah yang membuat siapa pun sulit menolak.

500.000 dolar.

Bagi kelompok Pembunuh seperti mereka, ini bukan sekadar tugas.

Ini kesempatan mendapatkan uang dalam jumlah besar dengan risiko yang menurut perhitungan mereka masih bisa dikendalikan.

Night Scorpion menekan tombol komunikasi.

“Target berada di kawasan kota tua.”

Suaranya rendah.

“Formasi sesuai rencana.”

Seorang anggota menjawab singkat.

“Diterima.”

“Jangan terburu-buru.”

Night Scorpion kembali melihat peta.

“Target tidak tahu kita ada di sini.”

Dia tersenyum tipis.

“Lima menit.”

“Setelah itu, semuanya selesai.”

Mereka kemudian berpencar.

Satu orang merayap menuju sisi bangunan.

Dua lainnya bergerak melalui gang sempit.

Sementara penembak runduk memilih posisi tertinggi.

Mereka tidak tahu satu hal.

Target yang mereka buru sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih sederhana daripada hidup atau mati.

Koneksi internet.

Di tempat lain, sebuah kendaraan khusus berhenti di balik gugusan bukit pasir.

Dari luar, bentuknya menyerupai kendaraan survei gurun biasa.

Namun bagian dalamnya berbeda jauh.

Layar komunikasi memenuhi hampir seluruh dinding.

Peralatan pemantauan satelit bekerja tanpa henti.

Sienna berdiri di depan salah satu monitor.

Sejak meninggalkan lokasi ledakan, dia belum benar-benar mendapatkan waktu untuk beristirahat.

Bukan karena dirinya tidak ingin pulang.

Melainkan karena satu pertanyaan terus mengganggu pikirannya.

Ke mana Adrian pergi?

Sinyal satelit sebelumnya sempat terputus akibat gangguan atmosfer dan badai pasir.

Selama beberapa jam, posisi Adrian sama sekali tidak dapat dilacak.

Sienna menggigit bibir.

“Cepatlah...”

Seorang teknisi tiba-tiba berseru.

“Bu!”

Sienna langsung menoleh.

“Ada apa?”

“Jaringan pemantauan sudah kembali!”

Jarinya bergerak cepat di atas panel.

Beberapa detik kemudian, sebuah titik muncul di layar.

“Target ditemukan.”

Sienna langsung mendekat.

“Di mana?”

“Kawasan kota tua yang sudah ditinggalkan.”

Sienna mengembuskan napas lega.

“Berapa jaraknya dari sini?”

“Sekitar seratus kilometer.”

Sienna mengangguk.

Setidaknya Adrian masih hidup.

Namun rasa lega itu hanya bertahan beberapa detik.

Teknisi tersebut tiba-tiba mengernyit.

“Tunggu.”

“Ada apa lagi?”

“Bu, ada beberapa pergerakan lain.”

Sienna langsung menatap layar.

Beberapa titik kecil muncul di sekitar posisi Adrian.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

Kelima titik itu bergerak dengan pola yang sangat teratur.

Sienna langsung memahami situasinya.

“Bukan penduduk lokal.”

Teknisi menggeleng.

“Benar.”

Dia memperbesar tampilan.

“Peralatan mereka juga bukan perlengkapan biasa.”

Wajah Sienna berubah.

“Pembunuh ?”

“Sepertinya.”

Sienna langsung meraih alat komunikasi.

“Adrian!”

Dia mencoba membuka saluran komunikasi.

“Adrian, dengar saya!”

Tidak ada jawaban.

“Adrian, kalau kau menerima—”

Suara yang muncul hanya gangguan.

Krrrzzzt...

Sienna mengepalkan tangan.

“Jangan sekarang...”

Dia mencoba sekali lagi.

“Target sedang didekati kelompok bersenjata. Kemungkinan Pembunuh profesional. Segera tinggalkan posisi!”

Krrrzzzt...

Tetap tidak ada jawaban.

Sienna menatap layar dengan wajah tegang.

“Dia tidak mungkin tahu.”

Teknisi mengangguk.

“Kelompok itu bergerak sangat hati-hati.”

Sienna langsung memberi perintah.

“Pantau mereka.”

“Dan kalau memungkinkan, kirim peringatan melalui semua saluran yang masih tersedia.”

“Siap.”

Sementara itu, orang yang menjadi pusat perhatian mereka sama sekali tidak menyadari bahwa lima orang sedang mengepungnya.

Adrian sudah tiba di bawah menara air.

Dia mendongak.

Tangga besi menempel pada sisi struktur tersebut.

Karat memenuhi hampir seluruh permukaan.

Adrian menyentuh salah satu pijakan.

Masih kuat.

“Bagus.”

Dia menyelipkan Ponsel lebih erat di bawah lengannya.

Kemudian mulai memanjat.

Tangannya bergerak cepat.

Kakinya berpindah dari satu pijakan ke pijakan berikutnya.

Tidak sampai satu menit kemudian, dia sudah mencapai bagian atas.

Platform di sana cukup luas.

Beberapa lembar logam tua berserakan.

Ada juga potongan kabel dan barang-barang yang entah sudah berapa tahun ditinggalkan.

Adrian meletakkan Ponseldi lantai.

Kemudian menyalakannya.

Dia menunggu.

Satu detik.

Dua detik.

Indikator jaringan muncul.

Satu garis.

Adrian terdiam.

“...”

Dia mengangkat komputer.

Mencari posisi yang tepat.

Satu langkah ke kiri.

Dua langkah ke kanan.

Kemudian—

Dua garis.

Mata Adrian langsung berbinar.

“Ada!”

Dia hampir tertawa.

“Dua garis!”

Adrian buru-buru duduk.

“Stabil.”

Dia menggerakkan layar sedikit.

Tetap dua garis.

Tidak turun.

Tidak berkedip.

“Bagus.”

Wajahnya kembali cerah.

“Sekarang baru bisa kerja.”

Dia hendak membuka permainan.

Namun baru satu langkah dia bergerak menuju sisi platform yang lebih datar—

Kakinya tiba-tiba menginjak sesuatu.

Empuk.

Tetapi di bawahnya terasa ada benda keras.

Adrian berhenti.

Dia menunduk.

Di bawah sandal jepit birunya ternyata ada seseorang.

Seorang pria mengenakan pakaian kamuflase yang hampir menyatu dengan lantai menara.

Wajahnya tertutup cat.

Di samping tubuhnya terdapat senapan runduk yang belum sempat dirakit sempurna.

Pria itu sendiri membeku.

Bahkan dia tidak percaya apa yang baru saja terjadi.

Selama bertahun-tahun menjadi penembak runduk, dia pernah bersembunyi di gurun, hutan, pegunungan, dan reruntuhan kota.

Namun baru kali ini dirinya ditemukan karena seseorang secara tidak sengaja menginjak kepalanya.

Adrian masih belum memahami situasinya.

Dia hanya melihat layar komputer.

Dua garis tadi...

Sekarang berubah menjadi satu.

Ekspresi bahagia Adrian langsung menghilang.

Dia menatap ke bawah.

Kemudian menatap layar.

Satu garis.

Dia menggeser kakinya sedikit.

Sinyal kembali dua garis.

Adrian membeku.

Dia menggeser kaki ke posisi semula.

Satu garis.

Dia memandang pria di bawahnya.

Kemudian memandang layar lagi.

“Oh.”

Akhirnya dia mengerti.

“Kamu yang menghalangi sinyal?”

Pria tersebut menatap Adrian melalui alat penglihatan malam.

Otaknya seperti mengalami gangguan.

Apa?

Sinyal?

Dia sedang menyamar di sini untuk membunuh target.

Dan orang ini justru memarahinya karena mengganggu jaringan internet?

Penembak itu perlahan menggerakkan tangannya menuju pisau tempur yang terselip di pinggang.

Adrian memperhatikan gerakannya.

“Jangan.”

Suaranya terdengar datar.

“Saya cuma mau main sebentar.”

Penembak itu tidak peduli.

Begitu tangannya menggenggam gagang pisau, tubuhnya langsung bergerak.

Pisau melesat menuju kaki Adrian.

Namun sebelum ujung pisau mendekat—

Tubuh Adrian bergerak lebih dahulu.

Tidak ada gerakan panik.

Tidak ada waktu untuk berpikir.

Kakinya berputar.

Tumitnya menghantam lengan lawan dari samping.

KRAK!

Suara tulang terdengar jelas.

Pisau terlepas.

Pria itu bahkan belum sempat berteriak ketika Adrian melanjutkan gerakannya.

Satu dorongan.

Tubuh penembak tersebut terlempar beberapa meter.

BRAK!

Punggungnya menghantam pagar besi.

Pagar itu melengkung.

Tubuhnya kemudian jatuh terkulai.

Semuanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

Adrian berdiri diam.

Dia menatap pria yang sudah tidak bergerak itu.

Kemudian melihat kakinya.

Kemudian melihat komputer.

Sinyalnya kembali dua garis.

Adrian mengangguk puas.

“Begini dong.”

Dia menggeser tubuh pria itu sedikit menjauh dari komputer.

Dua garis tetap bertahan.

“Masalah selesai.”

Dia kembali duduk.

Namun sebelum membuka permainan, Adrian melihat sebuah benda hitam kecil di samping penembak yang tumbang.

Sebuah perangkat elektronik.

Adrian mengambilnya.

Layarnya masih menyala.

“Tablet?”

Dia membolak-balik benda tersebut.

“Kelihatannya mahal.”

Rasa penasaran seorang pekerja yang melihat barang berpotensi dijual kembali langsung muncul.

Adrian menekan layarnya.

Sebuah halaman berisi daftar kontrak terbuka.

Dia awalnya tidak terlalu peduli.

Sampai matanya menangkap sebuah foto.

Foto dirinya.

Adrian berkedip.

Dia memperbesar layar.

“Lho?”

Di bawah fotonya terdapat keterangan:

Target: Adrian

Status: Aktif

Tingkat ancaman: Tinggi

Hadiah: 500.000 dolar

Adrian diam.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Dia menghitung angka tersebut dengan jarinya.

“Lima ratus ribu...”

Dia menatap pria yang tergeletak di lantai.

Kemudian kembali menatap tablet.

Ekspresinya berubah menjadi sangat serius.

“Jadi orang ini datang untuk mendapatkan uang karena menangkap saya?”

Dia menggaruk kepala.

“Kalau begitu...”

Adrian melihat dirinya sendiri.

“Kalau saya menangkap diri saya sendiri, hadiahnya masuk ke siapa?”

Dia berpikir cukup lama.

“Tidak masuk akal.”

Namun kemudian matanya berbinar.

“Kalau saya pura-pura menyerahkan diri?”

Dia mulai mencari menu pada perangkat tersebut.

“Mungkin ada bagian pengajuan klaim.”

Jarinyanya menggeser layar.

“Pusat bantuan...”

Geser lagi.

“Hubungi pengelola...”

Adrian semakin bersemangat.

“Kalau bisa langsung ditransfer, saya tidak perlu kerja lagi hari ini.”

Dia bahkan lupa bahwa seseorang baru saja mencoba menusuknya.

Saat sedang serius mencari cara untuk mendapatkan uang dari hadiah atas dirinya sendiri—

sebuah jendela komunikasi tiba-tiba muncul.

Adrian berhenti.

Pesan baru masuk.

[Night Scorpion]: Eagle Eye, laporkan situasi.

Beberapa detik kemudian:

[Night Serpent]: Pemimpin, Eagle Eye tidak menjawab. Sinyal biologisnya melemah drastis.

Adrian membaca pesan itu.

Dia melihat pria yang tergeletak di dekat kakinya.

“Oh.”

“Namanya Eagle Eye?”

Adrian mengangguk sendiri.

“Nama yang bagus.”

Pesan berikutnya muncul.

[Night Scorpion]: Target pasti sudah menyadarinya. Batalkan penyamaran. Semua unit bergerak ke menara air.

Adrian mendongak.

Dia melihat ke arah bawah.

Jauh di antara bangunan-bangunan tua, beberapa bayangan mulai bergerak.

Satu dari kiri.

Dua dari kanan.

Dua lainnya mengambil jalur berbeda.

Adrian memperhatikan mereka beberapa detik.

Kemudian menatap Ponsel nya.

Dua garis sinyal.

Dia tersenyum.

“Wah.”

“Teman-temannya datang.”

Namun bukannya takut, Adrian justru tampak sedikit kesal.

Dia baru saja menemukan posisi dengan koneksi terbaik malam ini.

Dan sekarang orang-orang itu datang untuk mengganggunya lagi.

Adrian mengusap wajah.

“Kenapa hari ini banyak sekali yang tidak bisa membiarkan orang bekerja dengan tenang?”

Di dalam kendaraan komando, Sienna melihat kelima titik bergerak semakin cepat.

“Gawat.”

Teknisi memperbesar gambar.

“Kelompok itu sudah menyadari posisi target.”

Sienna langsung meraih mikrofon.

“Adrian!”

Gangguan masih memenuhi saluran.

Krrrzzzt...

“Adrian, kalau kau mendengar saya, segera turun dari menara!”

Tidak ada jawaban.

Sienna mengepalkan tangan.

“Dia tidak menerima peringatan.”

Teknisi melihat layar.

“Kelompok bersenjata sudah mendekati menara.”

Sienna menatap monitor.

Wajahnya menunjukkan kecemasan.

Dia tahu siapa yang sedang mereka hadapi.

Lima Pembunuh profesional.

Mereka datang dengan perlengkapan lengkap.

Mereka memiliki posisi.

Mereka memiliki informasi tentang target.

Dan mereka mengira Adrian tidak menyadari keberadaan mereka.

Masalahnya...

Sienna sudah mengenal Adrian cukup lama untuk mengetahui bahwa logika orang normal mungkin tidak berlaku kepadanya.

Namun dia tetap tidak bisa tenang.

“Semoga dia turun.”

Di atas menara air, Adrian menutup tablet tersebut.

Dia memasukkannya ke dalam tas kecil.

Kemudian berdiri.

Matanya mengarah ke tangga besi.

Dari bawah terdengar suara langkah.

Tidak satu orang.

Lebih dari satu.

Adrian menghela napas.

Dia kemudian melihat Ponsel .

Dua garis.

“Setidaknya jangan rusak internet saya.”

Adrian berjalan ke tepi platform.

Di bawah sana, sebuah bayangan baru saja muncul dari balik bangunan.

Kemudian bayangan kedua.

Yang ketiga.

Adrian mengamati mereka tanpa ekspresi.

Satu orang mengangkat senjata.

Adrian justru duduk kembali.

Dia membuka komputer.

“Kalau mau bertarung, tunggu sebentar.”

Dia mengklik permainan.

“Pertandingan belum mulai.”

Sebuah suara tembakan tiba-tiba terdengar dari kejauhan.

DOR!

Peluru menghantam pagar besi beberapa sentimeter dari kepala Adrian.

Adrian berhenti menggerakkan tetikus.

Dia menatap lubang kecil di pagar.

Kemudian menatap layar komputer.

Wajahnya perlahan menjadi gelap.

“...Oke.”

Dia menutup komputer.

“Sekarang Aku marah.”

Di bawah menara, lima Pembunuh profesional mulai bergerak naik.

Mereka masih mengira diri mereka sebagai Pembunuh .

Mereka belum menyadari bahwa sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota tua itu, merekalah yang sebenarnya telah masuk ke wilayah berburu milik Adrian.

...----------...

Bab Bonus — Bab Terpanjang

Bab kali ini merupakan bab bonus dengan jumlah kata terpanjang sejauh ini. Cerita akan dibuat lebih panjang, lebih detail, dan memberikan ruang lebih luas untuk perkembangan karakter, konflik, serta kejadian yang berlangsung.

Selamat membaca dan menikmati bab bonus ini sampai selesai!

1
Aisyah Suyuti
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!