NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 #Pertemuan penuh luka

Langkah kaki Gibran Aditama terdengar tergesa-gesa menyusuri koridor bangsal kelas tiga. Bau obat-obatan yang menyengat dan hiruk-pikuk suara dari ruang perawatan bersama sama sekali tidak diindahkannya. Dengan kasar, dia menerobos masuk ke dalam sebuah ruangan besar yang hanya disekat oleh kelambu-kelambu kain tipis. Ruangan itu diisi oleh enam ranjang besi, namun beruntung, siang itu hanya ada Kaivan di sana. Tidak ada pasien lain yang mengganggu keheningan.

​Di atas ranjang yang tampak terlalu keras untuk ukuran anak-anak, Kaivandra terduduk. Tubuh kecilnya masih lemas akibat efek obat, namun sepasang mata coklat terangnya langsung mengenali sosok yang berdiri di tepi ranjang.

Gibran tidak disambut dengan senyuman, Kaivandra justru mundur ketakutan hingga punggung kecilnya menempel pada sandaran ranjang.

​"Om lagi?" celetuk Kai dengan suara serak menahan sakit. Wajah polosnya menyiratkan kecemasan yang mendalam. "Om ngapain ada di sini? Om mau bikin Mama sedih lagi, ya? Kai janji... Kai janji tidak akan lari-larian lagi di jalanan. Om jangan marahin Mama..."

​Dada Gibran serasa dihantam batu besar mendengar tuduhan polos dari darah dagingnya sendiri. Tanpa menjawab sepatah kata pun, dengan mata berkaca-kaca Gibran melangkah maju, hendak merengkuh dan memeluk tubuh kecil yang wajahnya sangat mirip dengannya itu.

​Namun, Kaivandra mendadak mengangkat dan mengarahkan tangan kecilnya ke depan.

​"Stop, Om! Om siapa?!" teriak Kai panik, lalu menoleh ke arah pintu. "Mama! Mama...!"

​Bening yang sejak tadi berdiri mematung di ambang pintu langsung melangkah mendekat. Tenggorokannya serasa tercekat. Menatap ketakutan di mata putranya dan penderitaan di wajah Gibran, dengan berat hati Bening akhirnya bersuara pelan.

​"Sayang... ini Papanya Kai," bisik Bening, suaranya bergetar.

​Mata bulat Kai membelalak. "Benarkah?"

​Bening menahan air mata yang mendesak keluar, lalu mengangguk perlahan seraya memaksakan sebuah senyuman hangat. "Iya, Nak... Ini Papa."

​"Tapi... kenapa waktu itu Mama menangis?" tanya Kai bingung.

​"Eh, itu... itu hanya salah paham, Sayang," potong Bening cepat, mengusap lembut kepala putranya. "Ayo, peluk Papa..."

​Kaivandra tidak langsung memeluk Gibran. Bocah kecil itu diam membisu, matanya menatap wajah Gibran dengan sangat saksama. Jari-jari mungilnya perlahan naik menunjuk wajahnya sendiri, lalu berganti menunjuk wajah Gibran.

​"Wajah kita mirip..." bisik Kai polos. "Warna mata Om cokelat... rambut Om juga sama kaya Kai..."

​Kai menelan ludah, menatap lurus ke dalam iris mata Gibran yang kini memerah basah. "Jadi... Om beneran Papa Kai?"

​Gibran mengangguk pelan, air matanya tak sanggup lagi ditahan dan menetes melewati pipinya. "Iya, Jagoan... Papa pulang."

​Perlahan, rasa ragu di hati Kai menguap. Bocah kecil itu merentangkan kedua tangan mungilnya lebar-lebar, lalu merengkuh dan memeluk erat leher Gibran, menyambut sosok ayah yang selama enam tahun ini hanya bisa ia impikan.

Bening meremas dadanya yang terasa ngilu. Bening tidak memiliki kekuatan lagi untuk mencegah apa yang sedang terjadi. Di dalam hati kecilnya, Bening tahu, Kaivandra memang sangat membutuhkan sosok seorang ayah. Pemandangan seorang Ayah dan Anak yang berpelukan hangat harusnya menjadi puncak kebahagiaan bagi seorang wanita, tetapi bagi Bening, ini adalah awal dari mimpi buruknya.

Kecemasan yang luar biasa merundung jiwanya. Statusnya sebagai ibu yang memiliki Kaivandra sepenuhnya kini terancam. Kebencian Gibran padanya akibat fitnah masa lalu pasti tidak akan membuat pria itu segan untuk memisahkannya dengan Kaivandra.

Namun, demi menjaga perasaan sang anak yang sedang sakit, baik Gibran maupun Bening seolah sepakat untuk berpura-pura baik-baik saja di depan Kai.

"Mama! Papa sudah pulang! Yey, Kai punya Papa!" seru Kai riang, Seraya mempererat pelukan di leher Gibran.

Gibran membalas pelukan itu, memejamkan mata merasakan kehangatan darah dagingnya sendiri.

"Papa... Mama selalu bilang kalau Papa sedang bekerja di tempat yang sangat jauh," ucap Kai di sela pelukannya, menatap Gibran dengan mata berbinar. "Kai senang sekali Papa sudah pulang."

Mendengar kalimat itu, Gibran sempat melirik tajam ke arah Bening yang berdiri di seberang ranjang. Di dalam benaknya yang dipenuhi prasangka buruk, Gibran mengira Bening akan menanamkan kebencian atau cerita buruk tentang sosok papanya kepada Kai. Namun ternyata, dugaan itu salah. Bening tetap menjaga nama baik sosok papa di mata anak mereka. Meski begitu, ingatan tentang pengkhianatan di kamar hotel tujuh tahun lalu kembali melintas, membuat Gibran dengan cepat mengeraskan hatinya. Egonya menolak untuk luluh pada Bening.

Gibran melepaskan pelukannya perlahan lalu menoleh ke arah asisten pribadinya yang berdiri siaga tidak jauh dari sana. "Toni. Urus perpindahan kamar putraku sekarang juga. Pindahkan ke kamar VVIP terbaik di rumah sakit ini."

"Baik, Pak," sahut Toni sigap, langsung berbalik untuk mengurus administrasi kelas atas.

.

.

Satu jam kemudian, Kaivan sudah dipindahkan ke kamar VVIP yang jauh lebih luas dan nyaman. Kasurnya empuk, ruangannya sejuk, dan terdapat fasilitas sofa mewah serta televisi besar.

Bening mendekati ranjang Kai, lalu berbisik lembut pada putranya. "Sayang, bilang apa sama Papa?"

"Terima kasih, Papa," ucap Kai patuh, tersenyum lebar hingga menampilkan deretan giginya yang rapi.

"Sama-sama, anak pintar," jawab Gibran, mengusap pipi Kai. "Nanti kalau Kaivandra sudah sembuh, kita pulang ke rumah Papa, ya? Papa akan siapkan kamar yang sangat besar dan penuh dengan mainan untuk Kaivandra."

"Wah! Kai mau mainan yang banyak seperti teman sekolah Kai! Dia dibelikan mainan pesawat yang bisa terbang tinggi sama papanya," sahut Kai antusias, membuat Gibran tersenyum bangga.

"Oh iya Papa... nama lengkap Papa siapa? Biar nanti kalau Kai masuk sekolah lagi, Kai bisa pamer sama teman-teman kalau Kai beneran punya Papa hebat!"

"Nama Papa... Gibran Aditama," jawab Gibran mantap.

Setelah menghabiskan waktu beberapa saat, Gibran bangkit berdiri. "Papa pulang dulu ya, sayang. Besok pagi-pagi sekali Papa akan kemari lagi membawa mainan pesawat yang sangat besar untukmu." Gibran membungkuk, memeluk dan mencium kening putranya dengan penuh kasih sayang sebelum melangkah pergi.

Bening memandang Kai dengan senyum tipis. "Mama antar Papa ke depan sebentar ya, Kai." Kaivan mengangguk pintar, membiarkan ibunya berjalan keluar mengikuti langkah sang ayah.

Namun, begitu pintu kamar VVIP itu tertutup rapat, atmosfer hangat di dalam ruangan tadi langsung lenyap tanpa bekas. Di koridor sepi yang sunyi, Gibran membalikkan tubuhnya dengan cepat, menatap Bening dengan tatapan sedingin es yang menusuk tulang.

"Jangan pernah berani berpikir untuk membawa kabur anakku lagi, Bening. Aku akan kembali besok pagi, dan jika aku tidak melihat Kai di ranjangnya, aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa melihat matahari lagi," ancam Gibran dengan suara rendah yang sarat akan dominasi.

Air mata Bening kembali menetes. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon dengan sangat. "Aku mohon, Mas... jangan ambil Kai dariku. Dialah hidupku. Kita bisa membagi waktu pertemuan dengannya secara adil, aku tidak akan melarangmu bertemu dengannya, tapi tolong jangan pisahkan kami..."

Gibran melepaskan tawa sinis yang pendek dan menyakitkan. "Keputusanku sudah mutlak, Bening. Jangankan memberi kehidupan yang layak, merawatnya saja kamu tidak becus sampai dia berakhir di rumah sakit. Kamu tidak punya fasilitas, tidak punya uang. Tempat Kai adalah bersamaku, di keluarga Aditama."

Tanpa mau mendengar penjelasan atau ratapan Bening lebih lanjut, Gibran berbalik dan melangkah pergi begitu saja bersama Toni. Bening hanya bisa bersandar di dinding koridor, menangis dalam diam dengan tubuh yang perlahan merosot ke lantai. Dia tahu, di atas kertas dan hukum, dia pasti akan kalah telak jika Gibran menuntut hak asuh penuh atas Kaivandra menggunakan kekayaannya.

...

Sore harinya, mobil Gibran memasuki gerbang pelataran kediaman besar Aditama yang megah bak istana. Dengan langkah mantap, Gibran melangkah masuk menuju ruang tengah, di mana sang ayah, Wira Aditama, sudah duduk di kursi kebesarannya sambil membaca koran bisnis, memasang wajah biasa seolah-olah dia belum mengetahui apa pun tentang pergerakan putranya hari ini.

"Papa," panggil Gibran, suaranya terdengar bergetar oleh kombinasi emosi yang masih meluap. "Aku... aku menemukan putraku."

Wira Aditama menurunkan korannya perlahan. Alisnya berkerut, memasang ekspresi terkejut yang dirancang dengan sangat sempurna demi menutupi kelicikannya. "Apa maksudmu, Gibran? Putra? Putra dari siapa?"

"Putra kandungku, Pa. Darah dagingku sendiri," ujar Gibran, duduk di hadapan ayahnya dengan tangan yang mengepal. "Ternyata... Bening sedang mengandung anaknya saat kita menceraikannya enam tahun lalu. Namanya Kaivan."

Mendengar nama Bening disebut, kilat kebencian yang terencana melintas di mata Wira. Pria tua itu bersiap memainkan perannya untuk memanaskan situasi, menyiramkan bensin ke dalam api kebencian Gibran agar putranya itu tidak akan pernah berbalik arah mencintai Bening kembali.

Wira menggebrak meja dengan raut wajah sangsi. "Gibran! Buka matamu! Apa kamu lupa wanita seperti apa Bening itu? Dia sudah mengkhianatimu dengan pria lain di kamar hotel! Lakukan tes DNA sekarang juga! Bening itu bukan wanita baik-baik, jangan-jangan... anak itu bahkan bukan darah dagingmu, melainkan anak haramnya dengan selingkuhannya dulu yang sengaja dia bebankan padamu!"

"Tidak, Pa! Kai sangat mirip denganku!" sanggah Gibran cepat, membela instingnya sendiri. "Wajahnya, bentuk rahangnya, bahkan sepasang mata coklat terangnya persis seperti milikku dan milik Papa. Dan yang paling menguatkan... Kai memiliki riwayat alergi udang tingkat parah yang sama persis denganku! Itu genetik keluarga kita, Pa!"

Wira terdiam sesaat, berpura-pura mencerna informasi itu dengan wajah yang mengeras dramatis. "Benarkah? Alergi yang sama?"

Wira condong ke depan, menatap Gibran dengan pandangan mata yang penuh dengan hasutan beracun. "Kalau begitu... jika dia memang benar-benar darah daging Aditama, ambil anak itu, Gibran! Jangan biarkan pewaris tunggal kekayaan kita hidup terlunta-lunta bersama wanita pengkhianat dan miskin seperti Bening!"

Wira mencengkeram bahu putranya, menyuntikkan racun manipulasi sedalam mungkin ke dalam pikiran Gibran. "Ingat satu hal, Gibran. Wanita itu sudah menghancurkan harga dirimu dan mengkhianati pernikahan kalian demi harta. Jangan biarkan dia memanfaatkanmu kembali atau memeras keluarga kita hanya karena ada anak di antara kalian! Ambil Kaivan, dan buang Bening jauh-jauh dari kehidupanmu untuk selamanya!"

Gibran terdiam, tatapannya menunduk menatap lantai dengan rahang yang mengeras rapat. Hasutan licik sang ayah perlahan-lahan mulai membakar sisa-sisa logika di kepalanya, memperkokoh dinding kebenciannya pada Bening, tanpa pernah dia tahu bahwa dalang dari seluruh kehancuran hidupnya justru sedang berdiri di depannya sambil tersenyum penuh kemenangan di dalam hati.

1
Akun Maisarah
jahat banget Wira nih.orang tua apa yg Setega itu.kasihan bening😪
Lisa
👍👍 bagus Gibran tangkap pria itu lalu urus papamu yg membayar pria itu..ntar lg kebenaran terungkap.
Lisa
Kalian harus rujuk kembali..
Lisa
Syukurlah Gibran segera menyuruh asistennya utk menyelidiki pria itu setlh semuanya terungkap mereka ber3 dpt bersatu lg..
Lisa
Gibran selidiki masa lalu itu kamu harus tegas terhadap ayahmu
Lisa
Ayo Gibran sadarlah bahwa Papamu itu yg menghasutmu
Lisa
Udh Gibran jgn keraskan hatimu..Bening msh mencintaimu & ga pernah selingkuh..
Lisa
Makanya kamu harus menyelidiki kasus itu Gibran..
Lisa
Makanya kamu harus bersikap tegas Gibran terhadap ayahmu..dia itu yg udh menyusun skenario jahat ttg Bening
Lisa
Makanya kamu harus tegas Gibran selidiki masalah 7 thn yg lalu itu..
Lisa
Kapan Gibran & Bening dapat rukun lagi ☺️
Lisa
Wira ini jahat banget moga aj kelakuannya diketahui oleh Gibran
Lisa
Sadarlah Gibran..anakmu aj sangat taat beribadah..kamu harus berubah dan mencontoh sikap anakmu.
Lisa
ya nih Gibran koq g sadar slm 6 thn di atur oleh ayahnya
Lisa
Ceritanya menarik 👍
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Sama² Kak Nova..aku suka ceritanya..
total 2 replies
Yani Tan
bagus...sangat bagus
partini
ck ck ck ternyata ortu lacknat
ga bakal ketauan ortu sendiri
partini
pak CEO bego masa iya di bantai terus sama lawan 🤦🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!