Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Festival Berburu
Kereta kuda akhirnya melambat setelah melewati jalan yang semakin ramai. Dari balik jendela, Eve bisa melihat deretan tenda besar berdiri di area terbuka yang telah disiapkan khusus bagi para bangsawan. Lambang berbagai keluarga terpampang di tiang-tiang tinggi, sementara para pelayan sibuk membawa peralatan dan para prajurit berjaga di sepanjang jalur masuk.
Kereta berhenti.
Lucien turun lebih dahulu. Sepatu botnya menyentuh tanah sebelum pria tersebut berbalik dan menunggu beberapa saat. Vins segera datang dari sisi lain rombongan, membuka pintu kereta lalu mengulurkan tangannya kepada Eve.
"Pelan-pelan, Nona," ujar Vins sambil membantu Eve turun.
Eve menerima tangannya, tetapi baru beberapa langkah berjalan, suara Lucien terdengar dari depan.
"Vins."
"Ya, Yang Mulia?" Vins segera menoleh.
"Dia akan bersamaku sementara waktu. Kami akan menghadap Kaisar."
Vins langsung mengangguk. "Baik, Yang Mulia."
Eve yang mendengar perkataan tersebut segera mendekati Lucien. Jemari kecilnya mencari tangan pria tersebut, lalu menggenggamnya tanpa banyak berpikir.
Lucien menunduk sekilas. Namun dia juga tidak melepaskan tangan Eve. Mereka berjalan melewati jalur yang telah disediakan menuju tenda utama. Eve sempat menoleh ke belakang. Vins masih berdiri di tempat, lalu mengangkat tangan sedikit ketika mata mereka bertemu.
Eve membalas dengan lambaian kecil. Setelah beberapa langkah, perhatian Eve kembali tertuju ke depan. Tenda utama jauh lebih besar daripada tenda para bangsawan lain. Kain putih gading membentang tinggi dengan bordiran benang emas pada setiap sisi. Lambang Kekaisaran terpasang di bagian depan, dikelilingi ornamen emas yang membuat siapa pun bisa menebak siapa yang berada di dalam.
Tangannya sedikit mengencang menggenggam tangan Lucien. Dari ekspresi pria di sampingnya, Eve bisa melihat Lucien juga tidak terlalu bersemangat menghadapi pertemuan tersebut. Wajahnya tetap tenang, tetapi garis rahangnya mengeras sedikit.
'Kayaknya Lucien gak terlalu suka ketemu keluarga kerajaan.'
Namun mau tidak mau, mereka tetap harus masuk.
Begitu melewati tirai tenda, suasana langsung terasa berbeda. Beberapa bangsawan yang berada di dalam segera memberi ruang ketika Lucien berjalan menuju bagian tengah.
Kaisar duduk di kursi utama.
Seorang pria dengan rambut pirang keemasan yang tertata rapi, dengan sorot mata yang tajam. Jubah kekaisaran berwarna gelap dengan sulaman emas menutupi tubuhnya, sementara mahkota yang bertengger di kepalanya membuat posisi pria tersebut tidak mungkin disalahartikan.
Di sebelahnya duduk sang Ratu Rambut merah panjangnya jatuh melewati bahu, warna menyala yang membuat wajahnya semakin mudah menarik perhatian. Gaun yang dikenakannya berlapis kain mahal dengan detail emas di bagian dada dan lengan. Di tangannya terdapat sebuah kipas yang sejak tadi bergerak perlahan. Tidak jauh dari sisi Kaisar, seorang perempuan lain duduk dengan posisi lebih rendah, dia adalah selir kekaisaran, rambut cokelat mudanya tergerai lembut hingga punggung. Wajahnya tampak jauh lebih tenang dibandingkan Ratu dengan sorot mata biru yang sekilas terasa familiar bagi Eve.
Di dekat mereka terdapat dua anak laki-laki.
Yang satu tampak berusia sekitar sepuluh tahun. Rambut pirang keemasan miliknya mengingatkan Eve pada Kaisar, sementara matanya berwarna biru sama seperti milik sang Selir. Pakaian yang dikenakannya jauh lebih formal daripada anak seusianya.
Eve menatapnya sedikit lebih lama, dari posisi dia duduk yang tidak jauh dari kaisar, sudah pasti memiliki posisi yang tinggi, satu satunya yang bisa duduk di dekat kaisar selain ratu adalah para pangeran.
'Siapa dia?'
Seingatnya, karakter tersebut tidak pernah mendapatkan penjelasan khusus dalam cerita yang pernah dibacanya. Tidak ada deskripsi panjang mengenai seorang anak berusia sepuluh tahun dengan rambut pirang dan mata biru yang duduk di sisi keluarga Kekaisaran, dan seperti yang ia ketahui hanya satu pangeran di Elarion.
Eve mengalihkan pandangan kepada anak laki-laki yang satu lagi. Usia mereka tampak sama, rambutnya berwarna merah, sama seperti Ratu.
Eve mengenal wajah tersebut.
'Putra Mahkota.'
Nama dan sosoknya pernah muncul berkali-kali dalam cerita. Namun semakin Eve melihat anak laki-laki berusia sepuluh tahun di sebelahnya, semakin sulit mengabaikan perasaan aneh di kepalanya.
'Kalau bocah merah itu Putra Mahkota, terus anak sepuluh tahun tadi siapa?' Dia belum menemukan jawabannya.
"Yang Mulia Kaisar," suara Lucien memutus lamunannya.
Eve segera kembali menatap ke depan. Lucien menundukkan kepala dengan sikap hormat.
"Saya memberi salam kepada Yang Mulia."
Kaisar mengangkat pandangan kepadanya.
"Lucien Valois."
Suara pria tersebut terdengar berat. Tatapannya kemudian bergeser kepada anak kecil yang berdiri di sisi Lucien.
Pada saat seperti ini seharusnya Eve memberikan salam, tetapi Eve belum pernah sama sekali mempelajari etiket bangsawan. Pelajaran etiket bangsawan bersama Elyndor belum sampai ke bagian bagaumana cara menghadapi Kaisar. Bahkan membaca beberapa kata saja masih menjadi latihan Eve sehari-hari. Tidak ada sesi khusus yang mengajarinya harus melakukan apa ketika bertemu anggota keluarga Kekaisaran.
Namun Eve masih memiliki satu keuntungan.
Dia pernah membaca novel. Dan ada beberapa bagian ketika Seraphina, karakter utama cerita tersebut, mempelajari etiket bangsawan.
'Kalau gak salah... harus menunduk, jangan terlalu rendah, tangan di depan, terus jangan menatap mata terlalu lama.' Eve berusaha mengingat adegan tersebut.
Bukan pengetahuan yang sempurna, tetapi cukup untuk menyelamatkan dirinya dari berdiri seperti patung. Dia melepaskan tangan Lucien, lalu maju setengah langkah. Kedua tangannya dirapatkan di depan tubuh sebelum dia menundukkan kepala dengan gerakan hati-hati.
"Calam kepada Yang Mulia Kaisal," ucap Eve dengan suara kecil dan cadel.
Beberapa orang di sekitar mereka tampak memperhatikan.
'Semoga benar.' Eve menahan napas.
Ketika dia kembali mengangkat wajah, Kaisar justru tampak tertarik.
"Oh..." Kaisar bersandar sedikit pada kursinya. Senyum tipis muncul di wajahnya. "Rupanya Valois mengajarkan putrinya dengan baik."
Lucien melirik Eve sebentar, "Terima kasih atas pujian Yang Mulia," jawabnya sopan.
Eve hampir mengembuskan napas lega. Namun perhatian Ratu segera beralih kepadanya. Perempuan tersebut membuka kipas di depan mulutnya, lalu mengamati Eve dari kepala hingga kaki. Tatapannya berhenti cukup lama pada rambut putih Eve sebelum kembali ke wajah kecilnya.
"Siapa namamu?" tanya Ratu.
"Aveline Valois." Lucien menjawab lebih dahulu.
"Saya bertanya kepada putri Anda, Duke." Kipas Ratu berhenti bergerak, tatapannya beralih kepada Lucien. Nada suaranya masih terdengar lembut.
"Saya tidak bertanya kepada Anda."
Lucien terdiam.
Ratu memiringkan kepala sedikit, "Atau putri Anda tidak memiliki mulut untuk menjawab?"
'Waduh.' Eve merasakan tangan kecilnya menegang di sisi tubuh.
Dia bisa merasakan udara di sekitar Lucien berubah. Namun pria tersebut tidak mengatakan apa-apa. Eve menelan ludah. Kalau dia tetap diam, keadaan bisa semakin buruk. Lagi pula, dia sudah berhasil melakukan salam tadi.
Dia menarik napas kecil.
"Maafkan caya, Yang Mulia," ujar Eve sambil menundukkan kepala lagi. "Nama caya Apeline Valois." Perkataan sederhana tersebut membuat beberapa orang di sekitar mereka saling melirik.
Lucien sendiri hanya menggeser pandangan kepada Eve, dia tidak menyangka Eve akan menjawab dengan cara tersebut.
"Aneh sekali." Ratu mengangkat alis. Kemudian kipasnya kembali bergerak perlahan.
"Setahuku, keluarga Valois hanya memiliki dua putra." Tatapan merahnya kembali jatuh kepada Eve, Ratu tersenyum tipis.
"Namun sekarang ada seorang anak perempuan asing yang mengaku sebagai putri Valois?"
'Jadi gitu cara mainnya.' Mata Eve melebar.
Bukan sekadar mempertanyakan namanya. Ratu sengaja mengingatkan semua orang di tenda bahwa Eve bukan anak kandung Lucien. Seorang rakyat jelata yang tiba-tiba mendapatkan nama Valois dan berdiri di samping seorang Duke.
Bahkan kalimat tentang "mengaku sebagai putri" jelas bukan pertanyaan. Ratu sedang menguji reaksi Lucien. Dan kalau Eve sampai menunjukkan rasa malu atau takut, perempuan tersebut mungkin akan mendapatkan apa yang diinginkannya.
'Sok asik dih.' Eve menatap ujung sepatunya. Di dalam kepala, Eve sudah mulai menggerutu.
'Kalau mau nanya, ya nanya biasa aja. Kenapa harus berbelit-belit coba?' Namun wajahnya tetap polos, tubuh kecilnya berdiri tenang di sisi Lucien.
.