NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:165.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berbaring di atas kuburan : 32

“Jawab, Mbah!” tuntut wanita duduk di atas tanah berbatu kecil campur pasir. Perasaan Hamima berkecamuk, pikiran kacau. Dia mengkhawatirkan nasib Guntur dan Pujiara.

Kedua buah hati Hamima, tidak ada satupun yang terdengar suaranya. Entah sedang apa mereka di dalam sana. Baik-baik saja, atau sudah terjadi sesuatu.

Balita yang dipanggil Ayu, berlari menembus pohon Kamboja, kakinya tidak menjejak tanah.

Sebelum menabrak dinding kayu dapur simbah, ia memalingkan wajah, menatap sinis dengan sepasang mata kehilangan warna hitamnya.

“Ara, Pujiara!” belum juga mendengar jawaban mbah Nar, Hamima diserang rasa panik lebih besar lagi. Ia merangkak, hanya mampu bergerak sedikit. Badannya kembali lemas.

“Tenangkan dirimu kalau mau mendengar kisah silam!” mbah Nar mengusap noda darah di pipi menggunakan ujung kuntum bunga Kemuning.

Keanehan pun terjadi, bunga itu bersinar dan menyerap noda, membuat warna putihnya menjadi merah.

Hamima yang hanyalah wanita biasa, tentu ketakutan, ia nyaris sesak napas.

Simbah duduk di bangku kayu berhadapan dengan Mima yang masih berlutut di tanah.

Wanita anggun tetap di tempatnya, duduk bersandar pada pohon Kamboja.

“Rosna!” panggil mbah Nar.

Krieeettt ....

Huegg!

Perut Hamima bergejolak, bau amis kental menusuk hidung. 'Berasal dari mana bau menyengat ini?'

Tetangga yang dikenal ramah, penuh perhatian, kini terlihat berbeda. Kedua tangan Rosna mencengkram pinggiran wadah bulat terbuat dari batang kayu dibentuk mangkuk cekung.

“Rosna, anak-anakku baik-baik saja, kan? Guntur, Ara, gak kenapa-kenapa, kan?” Mima mengesot, berusaha meraih kaki wanita jauh berbeda auranya dari keseharian. Namun lagi-lagi hanya berhasil bergerak sedikit.

Sorot mata Rosna berkilat, senyum miringnya menakuti, dan dia berjalan melewati Hamima.

Tanpa melirik siapapun, enggan menjawab pertanyaan seorang ibu yang mencemaskan buah hatinya. Rosna terus maju, lalu berbelok ke sebuah makam paling pinggir.

Mangkuk dimiringkan, air yang tumpah dari wadah, disiram ke pinggiran gundukan tanah — Rosna berkeliling sampai bertemu tempat awal dia berdiri tadi.

Aroma beberapa jenis bunga bercampur dengan bau amis, menguar, menyatu dengan udara. Hamima kembali diserang rasa mual.

“Berbaringlah di atas kuburan itu!” kalimat mbah Nar bukan permintaan, namun titah mutlak.

Mima menggeleng keras, menolak langsung. “Nggak mau! Lepaskan kami, Mbah!”

Hamima meronta-ronta, padahal tidak ada yang menahan tubuhnya, tetapi dia merasa sesuatu tak kasat mata membelit bak rantai kuat.

“Penolakan barusan bisa membahayakan nyawa salah satu anakmu yang terancam mati!” ujar simbah, nada suaranya menggeram.

“Jangan celakai anak-anakku, Mbah! Mereka gak tau apa-apa!” jeritan Hamima hanya terdengar berupa bisikan, tidak sepadan dengan urat-urat leher menyembul saat dia berteriak.

“Terlambat Hamima! Beberapa kali Pujiara nyaris tewas, mirisnya kamu tidak tahu kejadiannya,” Rosna yang menjawab, tanpa menatap Mima.

Antara percaya dan sukar menerima, tetapi disaat kalut, dia masih bisa berpikir, mengingat kejanggalan demi keanehan yang menimpa putrinya.

“Pakaian kotor putrimu, luka gores pada telapak tangan, perut memar — itu ulah Ayu, putriku. Dia mengajak Pujiara menceburkan diri ke dalam sumur,” wanita berwajah pucat pun berbicara mengungkapkan fakta.

“Kenapa harus putriku? Dia masih bayi, gak tahu apa-apa?!” Mima tidak terima.

“Karena hari kelahirannya sama dengan hari kematian kami!” wanita yang tadi berbicara lemah lembut, kini memandang tajam.

“Kalau memang mau menyelamatkan nyawa putrimu. Jalan satu-satunya harus membebaskan sosok yang menghuni loteng hunianmu, Hamima!” mbah Nar berkata tegas.

“Sosok? Maksudnya orang atau apa?” sahutnya tersendat-sendat.

Rosna kehilangan rasa sabar, dia melangkah cepat, menarik kedua tangan Mima, menyeret badannya.

“Lepaskan, Rosna! Lepas!” pemberontakannya sama sekali tidak berarti.

Dalam keadaan panik badannya jadi lemas. Hamima diseret sampai berbaring di atas gundukan tanah berpatok batu nisan bertuliskan nama ‘Arwan Dana’.

Tubuh Hamima tak ada bergerak, hanya kedua bola mata yang bisa berkedip dan suara seperti desau angin.

Kedua tangannya terkulai di sisi badan, diatas batu kecil diambil dari dasar sungai.

“Tolong jangan lakukan ini! Aku mau hidup. Kasihanilah anak-anakku yang masih kecil, butuh ibunya!” air matanya mengalir dari sudut mata.

Dia tidak berdaya, bergerak pun susah. Badannya diikat kencang oleh sesuatu tak tampak.

Mbah Nar berdiri di belakang kepala wanita yang berbaring terlentang, mulutnya bergerak membaca mantra tidak dipahami oleh Hamima.

Rosna memandang lekat sang tetangga, ekspresi sukar ditebak. Dalam genggaman jari tangan kanan, terselip sebuah belati tembaga — ujungnya ternoda warna merah darah.

Sepasang manik Hamima perlahan sayu, dia tidak kuasa menahan kantuk yang datang menyerang.

Lambat laun tubuh kaku lemas, kelopak mata terpejam, dan semua kenangan masa kini terlupakan, pikirannya kosong.

Alam bawah sadarnya dibawah kendali mbah Nar, sukmanya menjelajahi masa silam, ke peristiwa sembilan tahun lalu.

.

.

Flashback.

Bagaikan sedang bermimpi, Hamima terlempar di tempat yang sama, tetapi waktu berbeda dan suasana jauh lebih sunyi.

Tidak ada rumah, hanya barisan kandang sapi, kambing, berjejer di bawah bukit yang dimasa depan berganti fungsi menjadi rumah tinggal Rosna dan tetangga lainnya.

Sore hari ini cuaca sedang mendung, awan hitam menggantung di langit, siap menumpahkan tetesan air ke bumi. Angin berhembus kencang menabrak ranting pohon, menjatuhkan dedaunan kering.

Hunian di atas bukit berdiri kokoh, warna catnya hijau mudah dengan kombinasi warna kayu.

Di teras, seorang wanita memakai dress vintage longgar, bagian lengan mengembang. Dia berdiri seraya mengelus perutnya yang terlihat sedikit membuncit.

“Mbak Arum, gak baik berdiri diluar disaat cuaca sepertinya mau badai,” gadis remaja memiliki kemiripan dengan wanita yang dipanggil Arum, keluar dari dalam rumah sambil menggendong balita berambut hitam lebat.

“Mbak nunggu mas mu pulang, Desita ....”

.

.

Bersambung.

1
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bagus Hamima jngn mau di mesrai sama Galih 😏😏
Nindiana Anasya
galih ngk Sadar. istri cantik butuh modal lelaki haus pujian. y iya lah Shintya cntik dia anak semata wayang dan di butuhi orang tuanya. hamimah juga anak semata wayang tp rela ninggalin kekuasaan bapaknya demi hidup dengan mu. kau aja yg ngk bersyukur punya istri setia kayak hamimah klau aku dah aku tendang kau ke laut
neni nuraeni
bersambung,,,, lnjut kak😁😁
Nining Nurjanah
ga sabar nunggu Galih di buang ke tempat sampah
sryharty
semoga misi bibi berhasil ga ada yg mergokin mereka ber 2
sryharty
dasar velakor sombong
sryharty
belum nanti kalo Mima udah jadi janda,,bakalan kinclong glowing sebadan2,
dan si Sintia bakalan bulukan
AFPA
matamu lagi buta ya gilingan...🤣
Eli Rahma
emang lo ngasih duit buat perawatan..buat makan sehari² aja ndadak minta sama lo..itupun di jatah..cuihhh dasar suami pelit bin medit bin kucritt
Shee_👚
duh gak sabar mima tau semua kebusukan galih, biar mima juga bisa balas dendam sama galih😤
Eli Rahma
gk sabar menunggu balas dendamnya para arwah terkurung ke sarkam,geneng dan antek²nya
Shee_👚
kemajuan desa apa kemajuan burung ipritnya keluar masuk lubang gundik🤣
Shee_👚
tenang desita, mereka sudah bebas dan sebentar lagi dendam kalian terbalaskan😤
Eli Rahma
alhamdulillah mima ada yg lindungin
ismi
lanjut kak cublik,,gimna ya reaksinya mima setelah tau fiduakan oleh galih
Shee_👚
betul ungkap semua, biar si galih di tumbalin sekalian😂
Eli Rahma
berarti mima punya darah manis tulang wangi nih..incaran para makhluk astral
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Orang haus pujian, validasi sungguh memalukan.
segala tindakan tak memperdulikan kaidah dan norma yang ada di masyarakat di taati.
Ingat pujian itu hanya sementara, nanti ada saatnya kalian jatuh.
Dan kau galih ,seenak jidatmu mebandingkan perempuan yang sdh melahirkan dengan yang baru melahirkan.
kau yang merusak body hamima ,kau pula yang tak terima jika bentuknya sdh berubah.
Anda Waras Galih??
Shee_👚
pelekor ya begitu seneng ngambil hak milik orang lain, emang bener buah jatoh sepohon-pohonnya sama kaya bapaknya mengambil hak orang lain😏
Shee_👚
dasar laki berengsek, kalau udah gak suka yang balikin sama orang tuanya. ini malah kawin lagi😤
pengin aku bejek² aja mukanya galih, apa ku tumbalin aja ya si galih🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!