Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENAPA BAPAK PEDULI
Pukul 08.35 pagi.
Alya baru saja meletakkan tas di kursinya ketika Maya datang membawa dua gelas kopi.
“Ini.”
Alya menerima salah satunya.
“Untuk aku?”
“Iya.”
“Terima kasih.”
Maya duduk di kursi sebelah.
“Kemarin jadi makan siang sama Pak Dimas?”
Alya menggeleng.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Tidak jadi.”
Maya menatapnya curiga.
“Kenapa?”
Alya mengangkat bahu.
“Tidak tahu.”
“Jangan bilang karena Pak Raka.”
Alya langsung menoleh.
“Kenapa jadi Pak Raka?”
“Karena kemarin aku lihat ekspresinya waktu kamu bilang mau makan sama Pak Dimas.”
Alya tertawa.
“Kamu terlalu banyak berimajinasi.”
“Serius.”
“Dia cuma bosku.”
Maya tersenyum.
“Justru itu.”
“Apa?”
“Kadang yang paling berbahaya adalah orang yang kita anggap cuma bos.”
Alya menggeleng.
“Sudahlah.”
Dia membuka laptop.
“Lagipula Pak Raka tidak mungkin tertarik sama aku.”
Maya mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Karena…”
Alya berpikir.
“Karena aku terlalu sering membantah dia.”
Maya tertawa.
“Justru mungkin itu yang dia suka.”
Alya hendak menjawab, tetapi suara pintu terbuka membuat mereka berhenti.
Raka keluar dari ruangannya.
Tatapannya langsung tertuju pada Alya.
“Kamu sudah datang.”
Alya mengangguk.
“Sudah, Pak.”
“Masuk.”
Maya langsung menahan senyum.
Alya berdiri.
“Baik.”
Saat melewati Maya, dia berbisik,
“Jangan senyum begitu.”
Maya menjawab pelan,
“Aku tidak bilang apa-apa.”
Alya masuk ke ruang Raka.
PAGI YANG BERBEDA
Raka berdiri di dekat meja.
“Duduk.”
Alya duduk.
Raka membuka kalender di laptopnya.
“Meeting pagi ini dibatalkan.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
“Meeting dengan Arunika juga dipindahkan ke besok.”
“Baik.”
“Dan makan siang saya kosong.”
Alya menatapnya.
“Kenapa?”
“Saya tidak ada agenda.”
“Baik.”
Raka diam.
Alya menunggu.
Beberapa detik kemudian dia bertanya,
“Masih ada?”
“Tidak.”
Alya berdiri.
Namun baru dua langkah, Raka berkata,
“Kamu mau makan siang di mana?”
Alya menoleh.
“Maaf?”
“Siang ini.”
“Kenapa?”
Raka terlihat sedikit tidak nyaman.
“Karena saya perlu tahu.”
Alya mengerutkan kening.
“Untuk apa?”
“Kalau ada sesuatu yang perlu dibicarakan.”
“Di kantor?”
“Bisa.”
Alya semakin bingung.
“Bapak mau mengajak saya makan?”
Raka terdiam.
Sepertinya pertanyaan itu tidak pernah dia perkirakan.
“Saya…”
Dia berhenti.
“Bukan begitu.”
Alya hampir tertawa.
“Baik.”
Raka menatapnya.
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Jangan tertawa.”
“Saya tidak tertawa.”
“Wajahmu tertawa.”
Alya akhirnya tidak bisa menahan senyum.
“Maaf, Pak.”
Raka menghela napas.
“Keluar.”
Alya berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, dia menoleh.
“Pak.”
“Apa?”
“Kalau memang mau makan siang bersama, tinggal bilang.”
Raka menatapnya.
Alya tersenyum.
“Saya tidak akan menolak.”
Kemudian dia keluar.
Raka berdiri diam.
Untuk beberapa detik.
Lalu mengusap wajahnya sendiri.
“Kenapa saya melakukan itu?”
PUKUL 10.00
Hari berjalan lebih tenang.
Alya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda.
Sesekali Raka keluar dari ruangannya untuk menanyakan sesuatu.
Sesekali mereka berdebat kecil.
“Pak, ini dokumen harus ditandatangani.”
“Nanti.”
“Deadline-nya siang.”
“Nanti.”
“Bapak bilang nanti terus.”
“Karena memang nanti.”
“Kalau nanti sudah lewat deadline?”
Raka menatapnya.
“Kalau begitu kamu ingatkan.”
Alya menghela napas.
“Makanya saya ingatkan sekarang.”
Raka hampir tersenyum.
“Baik.”
Dia menandatangani.
Alya mengambil dokumen.
“Terima kasih.”
“Hmm.”
Alya kembali ke mejanya.
Raka memandangnya dari balik pintu.
Hubungan mereka sebenarnya masih sama.
Mereka sering berdebat.
Alya masih suka mengomel.
Raka masih suka memberikan instruksi mendadak.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Mereka mulai nyaman.
Tidak ada lagi kecanggungan seperti hari pertama.
Alya sudah tahu kapan Raka sedang benar-benar marah dan kapan dia hanya berpura-pura kesal.
Raka juga mulai tahu bahwa kalau Alya berkata, “Baik, Pak,” dengan nada terlalu manis, biasanya itu berarti dia sedang kesal.
Dan entah bagaimana, Raka mulai menyukai semua kebiasaan kecil itu.
PUKUL 12.00
Alya melihat jam.
Sudah waktunya makan siang.
Dia membuka laptop.
Sebuah pesan masuk.
Dari Dimas.
Jadi makan siang?
Alya mengetik:
Sepertinya saya makan di kantor saja.
Dimas:
Kenapa?
Alya:
Ada pekerjaan.
Dimas:
Bukannya tadi Pak Raka bilang jadwalnya kosong?
Alya terdiam.
Dia tidak tahu Dimas tahu.
Kemudian pesan berikutnya muncul.
Kalau berubah pikiran, kabari saya.
Alya hanya membalas:
Baik.
Dia memasukkan ponsel ke laci.
Tidak lama kemudian, pintu ruang Raka terbuka.
“Alya.”
“Iya?”
“Makan siang.”
Alya berdiri.
“Sekarang?”
“Ya.”
“Di mana?”
“Di bawah.”
Alya mengerutkan kening.
“Bapak benar-benar mau makan bersama saya?”
Raka menatapnya.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Alya mengambil tas kecilnya.
Mereka berjalan menuju lift.
DI RESTORAN GEDUNG
Mereka duduk berhadapan.
Alya melihat menu.
“Bapak mau makan apa?”
“Terserah.”
“Jangan bilang terserah.”
“Kenapa?”
“Karena kalau saya pilih nanti Bapak bilang tidak suka.”
Raka mengangkat alis.
“Saya tidak begitu.”
Alya menatapnya.
“Bapak lupa kemarin?”
“Tidak.”
“Waktu saya pilih tempat makan, Bapak bilang terlalu ramai.”
“Itu memang terlalu ramai.”
“Ya, kan?”
Raka akhirnya tersenyum kecil.
Alya ikut tersenyum.
Pelayan datang.
Raka memesan makanan.
Alya memesan yang sama.
Raka melihat pesanannya.
“Kamu suka?”
“Lumayan.”
“Kenapa pesan yang sama?”
“Karena Bapak pilih.”
Raka terdiam.
Kalimat itu sebenarnya sederhana.
Namun entah kenapa terasa aneh.
Mereka menunggu makanan.
Untuk pertama kalinya, mereka tidak membicarakan pekerjaan.
Alya memulai.
“Pak.”
“Hm?”
“Bapak dari dulu memang seserius ini?”
“Seperti apa?”
“Tidak banyak bicara.”
Raka berpikir.
“Mungkin.”
“Tidak punya teman?”
“Ada.”
“Banyak?”
“Tidak.”
Alya tersenyum.
“Saya kira direktur seperti Bapak pasti punya banyak teman.”
“Kenapa?”
“Karena orang pasti ingin berteman dengan orang sukses.”
Raka menatapnya.
“Tidak semua orang mendekati kita karena ingin berteman.”
Alya terdiam.
Dia merasa ada sesuatu di balik kalimat itu.
“Bapak pernah dikecewakan?”
Raka tidak langsung menjawab.
“Pernah.”
“Teman?”
“Orang yang saya percaya.”
Alya mengangguk pelan.
“Makanya Bapak sulit percaya orang?”
Raka menatapnya.
“Mungkin.”
Alya tersenyum.
“Tidak semua orang akan mengecewakan Bapak.”
Raka melihatnya cukup lama.
“Kamu yakin?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena saya tidak punya alasan untuk mengecewakan Bapak.”
Raka tersenyum kecil.
“Belum.”
Alya mengerutkan kening.
“Belum?”
“Baru beberapa hari.”
Alya tertawa.
“Bapak ini.”
Makanan datang.
Mereka mulai makan.
Untuk beberapa menit suasananya nyaman.
Sampai seorang perempuan mendekati meja.
“Raka?”
Raka langsung berhenti makan.
Alya menoleh.
Perempuan itu cantik.
Rambut panjang.
Pakaian elegan.
Senyumnya sangat percaya diri.
Raka berdiri.
“Clara.”
Alya melihat mereka.
Perempuan itu tersenyum.
“Sudah lama.”
“Ya.”
“Aku tidak tahu kamu makan di sini.”
Raka mengangguk.
Kemudian memperkenalkan,
“Ini Alya. Executive Assistant saya.”
Clara melihat Alya.
Tatapannya berpindah dari Alya ke Raka.
“Oh.”
Dia tersenyum.
“Asisten baru?”
Alya mengangguk.
“Iya.”
Clara kembali melihat Raka.
“Kamu masih sama.”
Raka tidak menjawab.
“Masih sibuk.”
“Ya.”
Clara tersenyum.
“Semoga suatu hari kamu belajar menikmati hidup.”
Kemudian dia pergi.
Alya menatap punggungnya.
“Teman lama?”
Raka duduk kembali.
“Ya.”
“Dekat?”
Raka menatapnya.
“Tidak.”
Alya mengangguk.
“Oke.”
Raka memperhatikan ekspresinya.
“Kamu kenapa?”
“Tidak kenapa-kenapa.”
“Kamu berubah.”
“Tidak.”
“Kamu diam.”
“Saya sedang makan.”
Raka tahu itu bukan jawaban sebenarnya.
Namun dia tidak memaksa.
SESI SETELAH MAKAN SIANG
Mereka kembali ke kantor.
Alya langsung duduk.
Raka masuk ke ruangannya.
Namun sebelum pintu tertutup, dia berhenti.
“Alya.”
“Iya?”
“Clara hanya teman lama.”
Alya mengangkat wajah.
“Saya tidak bertanya.”
“Saya tahu.”
“Lalu kenapa Bapak menjelaskan?”
Raka terdiam.
Dia sendiri tidak tahu.
Alya tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa.”
Dia kembali bekerja.
Raka masuk ke ruangannya.
Namun kali ini dia merasa sedikit lega.
Padahal Alya memang tidak bertanya.
PUKUL 15.30
Alya sedang menyusun laporan ketika ponselnya berdering.
Dimas.
“Hallo, Pak?”
“Alya, besok jadi ikut meeting luar?”
Alya membuka jadwal.
“Besok?”
“Iya.”
“Sebentar.”
Dia memeriksa kalender.
Ada agenda bersama tim marketing.
“Sepertinya iya.”
“Kalau begitu kita berangkat bersama.”
“Baik.”
Alya menutup telepon.
Dia tidak sadar Raka berdiri di belakangnya.
“Dengan siapa?”
Alya terkejut.
“Pak?”
“Besok.”
“Dengan Pak Dimas.”
Raka mengangguk.
“Oh.”
Dia berbalik.
Namun Alya memanggil.
“Pak.”
Raka menoleh.
“Kenapa?”
“Bapak marah?”
“Tidak.”
“Kelihatannya begitu.”
“Saya tidak marah.”
“Terus?”
“Tidak ada.”
Alya menatapnya.
“Bapak aneh.”
Raka berjalan pergi.
Alya kembali bekerja.
Namun kali ini dia mulai berpikir.
Kenapa Raka selalu berubah ketika Dimas disebut?
PUKUL 17.45
Hari kerja hampir selesai.
Dimas kembali menghampiri Alya.
“Besok jangan lupa jam sembilan.”
“Siap.”
“Kalau ada perubahan, kabari saya.”
“Baik.”
Dimas pergi.
Raka melihat dari dalam ruangannya.
Dia tidak menyukai pemandangan itu.
Bukan karena Dimas melakukan sesuatu yang salah.
Bukan juga karena Alya melakukan sesuatu yang salah.
Tetapi karena…
dia mulai menyadari bahwa besok Alya akan menghabiskan sebagian besar waktunya bersama pria lain.
Dan perasaan itu membuatnya tidak nyaman.
Raka membuka email.
Mencoba bekerja.
Tidak bisa.
Dia berdiri.
Keluar.
“Alya.”
Alya menoleh.
“Iya?”
“Besok meeting dengan Dimas.”
“Ya?”
“Saya ikut.”
Alya terkejut.
“Bapak?”
“Ya.”
“Bukankah Bapak tidak ada di agenda?”
“Sekarang ada.”
Alya menatapnya lama.
“Bapak sengaja?”
“Tidak.”
“Bapak yakin?”
“Ya.”
Alya tersenyum kecil.
“Baiklah.”
Raka hendak pergi.
Alya berkata,
“Pak.”
“Hm?”
“Bapak cemburu?”
Raka langsung berhenti.
Wajahnya berubah.
“Tidak.”
Alya tertawa.
“Saya cuma bercanda.”
Raka menatapnya.
“Jangan bercanda seperti itu.”
“Kenapa?”
“Tidak pantas.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Raka pergi.
Namun setelah masuk ke ruangannya, dia berdiri lama di dekat pintu.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Cemburu?
Tidak.
Mustahil.
Dia hanya memastikan pekerjaan berjalan dengan baik.
Hanya itu.
Setidaknya itulah alasan yang dia berikan kepada dirinya sendiri.
MALAM
Alya sedang bersiap tidur ketika ponselnya berbunyi.
Pesan dari Raka.
Besok pakai pakaian formal.
Alya membalas:
Saya selalu formal, Pak.
Raka:
Lebih formal.
Alya:
Kenapa?
Lama tidak ada jawaban.
Kemudian:
Karena saya ikut.
Alya tersenyum.
Dia mengetik:
Bapak sebenarnya mau memastikan meeting atau mau memastikan saya pergi dengan Pak Dimas?
Pesan itu terkirim.
Alya langsung menyesal.
“Kenapa aku kirim?”
Tidak ada balasan.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Kemudian:
Tidur.
Alya tertawa.
Selamat malam, Pak.
Raka membalas:
Selamat malam.
Dia meletakkan ponsel.
Namun malam itu ada satu hal yang mulai mengganggu pikirannya.
Raka menyadari bahwa dia mulai peduli dengan siapa Alya pergi.
Sementara Alya mulai bertanya-tanya—
kenapa bosnya begitu peduli?
Dan keduanya belum siap menemukan jawabannya.
Karena semakin mereka menyangkal…
semakin jelas perasaan itu mulai tumbuh.