Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.
Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.
Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.
Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?
Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.
Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kau... masih hidup?”
Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Masuk ke Dimensi Lain
Dito menatapnya tenang, tapi ada ketegasan yang tidak bisa disepelekan. “Ikut saya sebentar. Kita bicara.”
Arka ragu. “Saya menunggu seseorang—”
“Saya tahu,” potong Dito. “Justru karena itu kita perlu bicara. Sekarang.”
Nada suaranya tidak memberi ruang untuk menolak. Arka akhirnya mengangguk dan mengikuti Dito ke sisi gedung yang lebih sepi, jauh dari telinga karyawan yang lalu-lalang. Mereka berdiri di bawah pohon, berjarak cukup jauh dari pintu masuk. Dito yang pertama berbicara, suaranya rendah dan singkat.
Tidak ada yang mendengar isi percakapan itu dengan jelas. Hanya terlihat Arka yang awalnya berdiri tegak, perlahan ekspresinya berubah. Dari keras kepala… menjadi kaku… lalu akhirnya menunduk. Beberapa kali Arka mencoba membalas, tapi Dito hanya menggeleng pelan dan menambahkan beberapa kalimat lagi. Setiap kata yang keluar seolah menekan sesuatu di diri Arka. Tidak sampai lima menit.
Arka menghela napas panjang, mengusap wajahnya, lalu mengangguk pelan. Ia tidak lagi bersikeras. Dito menepuk bahu Arka sekali, singkat, lalu berbalik kembali ke arah lobi.
Arka berdiri diam beberapa saat. Ia menatap pintu gedung sejenak, seolah masih ingin menunggu. Tapi akhirnya ia hanya mengangguk pada dirinya sendiri, memasukkan tangan ke saku, dan berjalan pergi tanpa menengok lagi.
Mira yang sejak tadi mengawasi dari jauh langsung mendekati Dito saat pria itu kembali.
“Pak Dito… apa yang Bapak katakan padanya?”
Dito hanya menjawab singkat, “Yang perlu dikatakan.”
Dia lalu menatap Alena yang masih berdiri di balik pilar, wajahnya campuran lega dan penasaran. “Sudah aman. Pulanglah. Jangan sendirian.”
Alena mengangguk pelan. “Terima kasih, Pak Dito…”
Dito tidak menjawab lebih banyak. Ia hanya mengangguk, lalu kembali masuk ke dalam gedung dengan langkah tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Sementara itu, di kejauhan, Arka masih berjalan menjauh. Wajahnya kompleks—kecewa, marah, tapi juga ada sesuatu yang membuatnya tidak berani kembali. Apa pun yang dikatakan Dito… ternyata cukup untuk membuatnya menyerah.
Alena memegang tasnya lebih erat, di dalamnya artefak cincin permata kusam terasa semakin berat. Satu masalah selesai. Tapi jalan menuju Raka… masih menunggunya.
Alena sampai di rumah Raka dengan langkah terburu-buru. Dia tidak membuang waktu. Langsung menuju kamar lalu membuka lemari dan mulai mengumpulkan apa saja yang mungkin dibutuhkan... obat-obatan dari kotak P3K, perban, kain bersih, air minum, bahkan sedikit makanan ringan yang tahan lama. Semuanya dimasukkan ke dalam tas kecil. Tangannya bergerak cepat, napasnya pendek karena ketegangan.
Setelah semua siap, Alena mengambil kotak beludru yang sejak tadi dia jaga. Dia duduk di tepi tempat tidur, membuka tutupnya pelan. Di dalam, artefak itu tergeletak diam—sebuah cincin permata kusam dengan kilau yang samar. Cahayanya redup, seolah menunggu disentuh. Alena menatapnya lama. Jantungnya berdetak kencang. “Raka… tunggu aku,” bisiknya.
Tanpa ragu lagi, dia mengambil cincin itu dan langsung memakainya di jari manis tangan kanannya. Detik itu juga, dunia seolah terbalik. Angin kencang berputar di dalam kamar. Cahaya kemerahan menyembur dari cincin, menelan tubuh Alena dalam pusaran singkat. Penglihatannya gelap sejenak, telinga berdenging, lalu… Semua berhenti.
Alena terhuyung, lututnya hampir menyentuh lantai. Udara di sekelilingnya terasa berbeda—lebih dingin, lebih berat, beraroma dupa dan logam kuno. Dia mengangkat wajahnya. Ruangan itu luas, sangat kuno namun mewah. Dindingnya terbuat dari batu kehitaman yang dihiasi ukiran bulan dan bintang dengan lapisan emas yang sudah pudar.
Tirai beludru gelap menggantung di jendela tinggi. Lampu kristal di langit-langit memancarkan cahaya redup keemasan. Di sudut ruangan, pedang dan zirah tersusun rapi seolah menunggu tuannya. Dan di tengah ruangan… Sebuah tempat tidur besar berkanopi gelap. Raka terbaring di sana.
Tubuhnya tertutup seprai tipis hingga dada. Luka-luka di lengan dan bahunya terlihat jelas, sebagian sudah dibalut kain putih yang berlumuran darah kering. Wajahnya pucat, bibirnya kering, napasnya pendek dan berat. Rambut hitamnya berantakan di atas bantal. Alena membeku di tempat. Air matanya langsung jatuh tanpa bisa ditahan. “Raka…” suaranya pecah.
Dia segera berlari mendekat, tas jatuh di lantai. Tangannya gemetar saat menyentuh pipi Raka yang dingin. “Aku di sini… aku akhirnya sampai…”
Raka tidak menjawab. Matanya tetap terpejam, tubuhnya lemah tak berdaya. Di jari manis Alena, cincin permata kusam itu masih terpasang, kini berdenyut pelan seolah mengenali tempat asalnya. Alena memegang tangan Raka erat-erat. “Bertahanlah,” bisiknya pelan, air mata menetes di punggung tangan pria itu. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
Di luar ruangan, kabut abadi terus bergolak. Suara langkah prajurit dan dentuman jauh masih terdengar samar. Tapi untuk saat ini, di dalam kamar kuno yang mewah itu, Alena hanya fokus pada satu hal, menyelamatkan Raka.
Alena menarik napas dalam, memaksa dirinya tenang. Tangannya masih gemetar, tapi dia tidak boleh panik sekarang. Dia membuka tas yang sempat jatuh, mengeluarkan botol antiseptik, kapas, perban bersih, dan salep obat. Dengan hati-hati, dia duduk di tepi tempat tidur, mendekat ke tubuh Raka yang terbaring lemah. “Maafkan aku…” bisiknya pelan, seolah Raka bisa mendengar. “Ini mungkin akan sakit.”
Perlahan Alena membuka kain balutan lama di lengan kiri Raka. Luka goresan panjang itu terlihat lebih parah dari yang dia kira—merah, sedikit membengkak, dan masih mengeluarkan darah kering di sekitarnya. Ada beberapa luka tusukan dangkal di bahu dan dada atas juga.
Alena menelan ludah. Dia menuangkan antiseptik ke kapas, lalu dengan gerakan sangat lembut mulai membersihkan luka satu per satu. Raka mengerang pelan dalam ketidaksadarannya. Alisnya berkerut, napasnya memberat sejenak.
“Ssh… sabar,” gumam Alena, suaranya bergetar. “Aku di sini.”
Air matanya kembali menetes, tapi dia mengusapnya cepat dengan punggung tangan agar tidak menghalangi pandangan. Dia terus bekerja. Membersihkan, mengoleskan salep, lalu membalut ulang dengan perban bersih semampu yang dia bisa. Gerakannya telaten, hati-hati, seolah takut menyakiti lebih parah.
Saat tiba di luka di dada atas Raka, Alena terpaksa membuka sedikit kemeja koyak yang masih melekat di tubuh pria itu. Kulit Raka terasa panas tidak wajar di bawah jarinya—tanda infeksi atau kelelahan ekstrem.
Alena menggigit bibir, menahan isak. “Kau bertarung sendirian… demi apa, Raka? Demi istana ini? Demi aku?”
Tidak ada jawaban. Setelah semua luka yang terlihat selesai dibalut, Alena mengambil kain basah dan mengusap pelan keringat di dahi serta leher Raka. Dia merapikan rambut hitam yang berantakan, jari-jarinya bergerak lembut.
Lalu dia hanya duduk di sana, memegang tangan Raka yang dingin. “Aku sudah mencoba segalanya untuk sampai ke sini,” bisiknya, suara parau. “Kalungmu menolakku. Cermin tidak menjawab. Tapi aku tidak menyerah. Karena firasatku bilang… kau membutuhkan aku.”
Dia mengecup punggung tangan Raka pelan, air mata basah di sana. “Jadi sekarang… kau juga jangan menyerah. Bangunlah. Aku menunggumu.”
Di luar jendela tinggi, kabut abadi bergolak lebih gelap. Suara dentuman samar masih terdengar, seolah perang di luar belum benar-benar usai. Tapi di dalam kamar itu, Alena tetap di sisi Raka. Dia tidak pergi atau tidur. Hanya terus menggenggam tangan pria itu, sesekali memeriksa napasnya, memastikan dia masih bertahan. Namun tiba-tiba terdengar langkah kaki yang mulai mendekat.