Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6. Jebakan Gaun Malam
Dominic mencengkeram kertas di tangannya hingga kusut. Matanya berkilat marah sekaligus waspada saat membaca deretan kata yang ditulis dengan cairan merah pekat yang sudah mengering.
*“Pakailah gaun ini ke makan malam keluarga, Clarissa. Atau helai kain ini akan menjadi kain kafanmu berikutnya. Danau kemarin hanyalah peringatan kecil.”*
"Tuan," suara Tulus memecah keheningan yang mencekam itu. "Kurir yang mengantarkannya langsung menghilang setelah menaruh kotak ini di pos penjagaan depan. Kamera pengawas di gerbang luar mendadak mati selama tiga menit tepat saat paket ini tiba."
Dominic melempar surat itu ke atas meja, lalu berbalik menatap Victoria dengan tatapan tajam.
"Jangan pakai gaun itu besok malam. Ini jelas ancaman terbuka. Seseorang ingin memprovokasimu agar melakukan kesalahan di depan Kakek dan seluruh keluarga besar."
Victoria tidak membalas ucapan Dominic dengan kepanikan.
Ia justru melangkah mendekati Tulus, lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil gaun berwarna merah darah tersebut dari kotak pembungkusnya. Dengan gestur yang sangat tenang, ia mengangkat gaun itu di depan tubuhnya, menatap potongannya yang anggun namun provokatif dari balik cermin besar.
"Gaun yang indah," ucap Victoria tenang, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin.
"Merah darah. Sangat cocok untuk pesta pembantaian."
"Clarissa! Apakah kau sudah gila?!" Dominic meninggikan suaranya, melangkah maju dan merebut gaun itu dari tangan Victoria.
"Seseorang baru saja mencoba meracunimu di rumah ini, dan sekarang mereka mengirimkan ancaman pembunuhan secara terang-terangan! Kau pikir makan malam besok hanya sekadar jamuan biasa? Paman dan bibiku akan menggunakan gaun ini untuk menuduhmu tidak menghormati masa berkabung perusahaan atas turunnya saham!"
Victoria berbalik perlahan, menatap Dominic dengan sepasang mata yang memancarkan wibawa sedingin es.
Aura Ratu Victoria seketika menekan ruangan tersebut, membuat Dominic tertegun sejenak.
"Tuan Pratama, haruskah aku mengajarimu cara menghadapi musuh?" bisik Victoria, suaranya rendah namun menghujam dalam.
"Saat musuhmu mengirimkan umpan, jangan pernah bersembunyi. Jika aku menolak memakai gaun ini, mereka akan tahu bahwa aku ketakutan. Sebaliknya, jika aku memakainya..." Victoria menjeda kalimatnya, mengambil kembali gaun merah itu dari tangan Dominic dengan keanggunan mutlak, "...aku yang akan memegang kendali atas permainan psikologis ini."
Victoria menoleh ke arah Tulus yang masih berdiri kaku. "Tulus, bawa gaun ini ke penjahit terbaik yang bisa kau temukan malam ini juga. Suruh mereka mengubah struktur belakangnya. Pasang jubah sutra hitam transparan untuk menutupi bagian yang terbuka, dan pastikan tidak ada racun kontak atau jarum tersembunyi di dalamnya."
Tulus melirik Dominic, meminta persetujuan. Setelah keheningan yang panjang, Dominic akhirnya mengembuskan napas berat dan mengangguk perlahan.
"Lakukan seperti yang dia katakan, Tulus. Dan pastikan pengamanan besok malam diperketat dua kali lipat," perintah Dominic.
"Baik, Tuan. Saya permisi," Tulus membungkuk hormat lalu segera membawa gaun dan surat ancaman tersebut keluar dari kamar.
Setelah pintu tertutup kembali, Dominic menatap Victoria dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau benar-benar berubah, Clarissa. Terkadang aku merasa sedang berhadapan dengan orang asing yang mengenakan kulit istriku."
Victoria berjalan mendekati tempat tidur, bersiap untuk beristirahat tanpa memedulikan tatapan menyelidik suaminya.
"Bukankah sudah kukatakan? Clarissa yang lama sudah mati di danau itu, Dominic. Yang ada di hadapanmu sekarang adalah wanita yang akan memastikan tidak ada satu pun parasit di klan Pratama yang bisa tidur nyenyak mulai malam ini."
Keesokan malamnya, restoran privat mewah di lantai teratas Hotel Pratama Regency telah dikosongkan untuk acara makan malam internal klan Pratama.
Meja makan panjang dari kayu ek berukir megah sudah dipenuhi oleh hidangan kelas atas, dikelilingi oleh para anggota keluarga besar yang berbusana formal dengan perhiasan berkilauan.
Di ujung meja, Silas Pratama duduk di kursi kebesarannya, menopang dagu di atas tongkat naganya dengan mata terpejam, seolah tidak memedulikan kasak-kusuk di sekitarnya.
"Kakek, ini sudah lewat lima belas menit dari jadwal, tapi Dominic dan Clarissa belum juga datang," celetuk seorang wanita paruh baya berpenampilan glamor dengan kalung berlian yang mencolok. Ia adalah Sarah Pratama, bibi Dominic yang terkenal paling vokal dan ambisius.
"Setelah membuat saham kita anjlok karena drama bunuh dirinya di danau, sekarang dia berani membuat kita semua menunggu? Benar-benar menantu tidak tahu diuntung."
"Betul, Kak Sarah," timpal paman Dominic yang duduk di sebelahnya, menyeringai licik.
"Kudengar Clarissa bahkan memecat kepala pelayan senior kemarin. Dia bertindak seolah-olah dia adalah penguasa mansion."
Silas tetap diam, tidak memberikan respons apa pun, membuat suasana di meja makan semakin tegang karena para kerabat mulai saling berbisik menyudutkan Clarissa.
Tepat pada saat itu, sepasang pintu ganda restoran terbuka lebar oleh dua pelayan berjas.
Seluruh pasang mata di ruangan itu seketika menoleh ke arah pintu masuk, dan seketika itu pula, suara bisik-bisik langsung lenyap secara drastis. Keheningan total menyelimuti aula makan.
Dominic melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang sangat pas di tubuh tegapnya, memancarkan aura dingin seperti biasa.
Namun, bukan Dominic yang membuat semua orang menahan napas, melainkan wanita yang berjalan anggun di sampingnya dengan lengan yang bertumpu ringan pada siku Dominic.
Victoria berjalan dengan punggung tegak, dagu terangkat tinggi, dan tatapan mata yang lurus menembus ruangan.
Ia mengenakan gaun malam berwarna merah darah yang diubah total secara struktural; bagian belakangnya ditutupi oleh jubah sutra hitam transparan yang menjuntai di lantai layaknya jubah kebesaran seorang ratu.
Riasan wajahnya tajam dengan lipstik merah menyala, memancarkan kecantikan yang mengintimidasi dan sangat berkuasa.
Sarah Pratama langsung berdiri dari kursinya, wajahnya memerah karena terkejut sekaligus marah.
"Clarissa! Berani sekali kau memakai gaun merah menyala seperti itu di saat perusahaan sedang berduka karena penurunan saham?! Kau sengaja ingin mempermalukan keluarga?!"
Victoria menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. Ia melepaskan lengannya dari Dominic, lalu menatap Sarah dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara.
"Mempermalukan keluarga, Bibi Sarah?" suara Victoria terdengar sangat jernih dan tenang, namun memiliki daya gema yang kuat.
"Bukankah yang mempermalukan keluarga adalah mereka yang sibuk berbisik di belakang seperti tikus, sementara perusahaan sedang butuh fokus penuh?"
"Kau—!" Sarah menunjuk Victoria dengan jari gemetar.
"Kakek, lihat dia! Dia sudah tidak memiliki sopan santun sama sekali!"
Victoria melangkah maju satu langkah dengan keanggunan yang membius ruangan.
"Daripada mempermasalahkan warna gaunku, Bibi... bagaimana jika kita mempermasalahkan aliran dana sebesar lima puluh miliar yang mengalir dari rekening Pratama Group ke perusahaan cangkang milik suamimu di Singapura minggu lalu?"
Mendengar kalimat itu, wajah Sarah dan suaminya seketika berubah pucat pasi bagai mayat. Seluruh anggota keluarga besar di meja makan terkesiap, menatap Sarah dengan pandangan syok. Kecerdasan finansial dan keberanian Clarissa yang baru ini langsung membungkam oposisi dalam satu kalimat telak.
Namun, sebelum riak keterkejutan itu mereda, sepasang pintu ganda restoran kembali terbuka.
Kali ini, sesosok wanita dengan gaun hitam polos dan wajah yang tampak sembap melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Matanya langsung tertuju pada Kakek Silas dan Dominic.
Kehadirannya yang tiba-tiba membuat seisi ruangan mengernyitkan dahi.
Helena telah datang, menerobos makan malam internal klan Pratama.
Dengan tubuh yang bergetar seolah menahan beban psikologis yang berat, Helena langsung berjalan menuju tengah ruangan, mengabaikan tatapan tajam para kerabat.
Ia tahu betul bahwa rencana meracuni Clarissa di mansion tadi malam telah gagal total dan terendus oleh Dominic. Namun, alih-alih bersembunyi, ia memilih menyerang balik dengan narasi baru.
"Kakek Silas... Dominic... maafkan aku karena lancang datang kemari," suara Helena bergetar penuh kepalsuan yang dikemas rapi dengan air mata.
Ia berlutut di dekat meja, menatap Dominic dengan tatapan memohon.
"Aku terpaksa kemari karena aku tahu namaku sedang difitnah keji atas kejadian di mansion semalam."
Dominic menyipitkan matanya, rahangnya mengeras. "Helena, apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku dijebak, Dominic!" ratap Helena, air matanya mulai luruh dengan dramatis.
"Kudengar ada pesan teks dari nomor rahasiaku yang menyuruh pelayan meracuni Clarissa. Tapi bersumpah demi Tuhan, ponsel yang berisi nomor rahasia itu telah hilang dicuri dua hari yang lalu, tepat setelah insiden di danau! Seseorang sengaja mengambil ponselku dan menggunakan nomor itu untuk membunuh Clarissa, agar aku yang disalahkan dan disingkirkan dari sisi keluarga Pratama!"
Mendengar pengakuan Helena, suasana di meja makan mendadak berubah riuh dengan bisikan baru.
Beberapa kerabat yang berpihak pada Helena mulai berspekulasi, sementara Dominic terdiam dengan tatapan yang dipenuhi keraguan yang mendalam.
Kebohongan Helena dirancang dengan sangat rapi, memanfaatkan statusnya sebagai teman masa kecil Dominic untuk memancing simpati.
Di tengah drama air mata itu, Victoria hanya berdiri diam. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, memperhatikan akting Helena dengan senyuman tipis yang teramat dingin di bibirnya. Bagi seorang mantan ratu, taktik melempar batu lalu menyembunyikan tangan dengan alasan 'ponsel hilang' adalah trik yang sangat klise.
Victoria melangkah maju, mendekati Helena yang masih menangis di lantai. Langkah kakinya yang berbalut gaun merah darah terdengar begitu anggun namun mematikan di lantai marmer. Ia menunduk, menatap Helena langsung pada manik matanya dengan keunggulan intelektual yang mutlak.
"Ponselmu hilang tepat setelah kau mendorongku ke danau, Helena?" tanya Victoria, suaranya terdengar begitu tenang namun penuh dengan nada intimidasi yang tajam.
"Sungguh sebuah kebetulan yang sangat luar biasa rapi."
Helena mendongak, menatap Clarissa dengan kilatan kebencian yang disembunyikan di balik air mata.
"Itu kebenaran, Clarissa! Kau tidak bisa menuduhku tanpa bukti fisik yang sah! Aku adalah korban konspirasi di sini!"
Victoria terkekeh rendah, sebuah tawa merdu yang memotong drama Helena seketika. Ia kemudian berbalik menghadap Kakek Silas dan Dominic, lalu mengangkat tangan kanannya yang memegang sebuah benda kecil berbentuk persegi hitam yang berkilau di bawah lampu kristal.
"Jika ponselmu benar-benar hilang karena dicuri orang lain dua hari yang lalu, Helena..." Victoria menjeda kalimatnya, menatap Helena dengan senyuman kemenangan yang mematikan,
"...lalu mengapa sinyal GPS dari ponsel 'hilang' milikmu itu baru saja aktif lima menit yang lalu, dan posisinya berada tepat di posisi mu saat ini?"
Wajah Helena seketika membeku, memucat pasi bagai kehilangan seluruh darah di tubuhnya.
sangat menarik sekali