Pantas saja dia tak diharapkan dan dibenci oleh keluarganya. Ternyata dia adalah anak yang lahir dari rahim orang ketiga.
Mutiara Anjani, Seorang gadis yang selalu terlihat kuat dihadapan orang lain. Tiada yang tahu bahwa gadis itu menyimpan rasa sakitnya seorang diri. Semua tertutup oleh sikapnya yang ceria dan terkadang angkuh itu.
Semua orang yang pernah dekat dengannya menjauh perlahan karena hadirnya orang baru termasuk sahabatnya sendiri. Dia menjadi sendiri, Hingga seorang pria hadir menjadi pendukungnya serta satu-satunya pria yang berjanji akan selalu menjaganya sampai nanti.
••••••
"Aku selalu merasa sendiri, Aku ingin melupakan segalanya dan tidak ingin mengingat rasa sakit ini lagi.." Mutiara Anjani.
"Tapi perlu diketahui, Bahwa akulah yang akan menjagamu sampai nanti.." Muhammad Al Ghazi Maulana...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam
Hari kembali berganti lagi. Setelah dirawat dirumah sakit, Lalu berdiam diri dirumah selama sekitar dua minggu. Dan pada hari ini Mutiara siap untuk berangkat ke kampus.
Ujian skripsinya sudah dimulai sejak kemarin-kemarin. Mungkin saja Mutiara ketinggalan dari para teman-temannya yang lain.
Tapi tidak apa-apa, Dosen pembimbingnya adalah Miss Anna. Dosen sekaligus dokter yang selalu bisa mengobati rasa cemas dan takutnya. Terlebih, Mutiara adalah anak yang sangat cerdas. Untuk ujian semacam ini bagi Mutiara sangatlah mudah sekali.
Sekitar dua minggu lebih Mutiara tidak masuk kampus. Usai terjadinya penculikan serta dirinya yang hampir saja dilecehkan oleh sekelompok pria. Semua itu karena Mutiara masih dihantui oleh rasa takut yang mendalam.
Meski awal-awal Mutiara merasa trauma dan takut setiap waktu. Namun adanya Miss Anna dapat membantu mental gadis itu agar segera pulih. Wanita itu selalu menghubungi Mutiara lewat panggilan telepon tanpa harus datang secara bertatap muka.
Mutiara tidak ingin ada orang yang tahu tentang masalah ini. Dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan orang-orang apalagi dihadapan orang yang menginginkan kehancuran dirinya.
Untung ada Ghazi yang selalu menjaganya dan selalu ada disampingnya setelah semua apa yang telah terjadi. Ghazi tak pernah membiarkan Mutiara terluka sedikit pun.
Kali ini Ghazi akan benar-benar menjaga Mutiara dengan baik. Bahkan ketika gadis itu masuk kedalam kampus pun Ghazi akan tetap menemani Mutiara.
Kejadian kemarin dijadikan sebuah pelajaran bagi Ghazi sendiri. Bahwa musuh yang sebenarnya bukan orang terlihat membenci kita melainkan adalah orang yang pernah dekat dengan kita.
"Selama pagi Papa.." Sapa Mutiara pagi ini pada Papanya. Perlu didengar, Ucapan selamat tadi hanya untuk Papanya saja. Bukan untuk yang lainnya.
Jika biasanya Mutiara mengucapkan selamat pagi untuk semua yang berada diruang makan tersebut, Tapi tidak untuk kali ini.
Dan mulai hari ini serta seterusnya. Mutiara hanya akan mengucapkan selamat untuk Papanya seorang.
"Selamat pagi, Sayang..."
Galih tersenyum, Pria yang semula telah duduk itu kembali berdiri menyambut sang putri yang hampir sebulan tidak ikut makan bersama.
"Silahkan duduk, Tuan putri Papa.." Ucap Galih begitu manis seraya menarik kursi untuk Mutiara agar gadis itu duduki.
Tak hanya itu saja, Galih juga melayani Mutiara dengan baik. Pria paruh baya itu harus memastikan putrinya bahagia selalu.
"Papa kira kamu gak mau sarapan bareng?" Mutiara tersenyum..
"Mulai sekarang. Kalau Papa ada dirumah, Aku mau sarapan bareng disini. Tapi kalau Papa lagi kerja, Aku makan sendiri aja dikamar.." Ucapnya dengan nada Manja. Galih tersenyum senang, Sebelah tangan pria itu terangkat mengusap lembut kepala Mutiara.
Akhirnya setelah hampir satu bulan Mutiara banyak murung. Hari ini, Dipagi yang cerah ini Galih bisa kembali melihat senyum ceria putrinya.
Memang selama tiga minggu terakhir, Mutiara tidak pernah keluar kamar sama sekali. Gadis itu lebih betah didalam kamarnya. Terkadang Mutiara juga meminta Ghazi untuk menemaninya didalam kamar. Hanya sebentar saja tidak lama karena takut ada fitnah yang berkeliaran.
"Ya, Sudah kalau kamu mau makan minta sama Bibi, Aja ya? Dan janji, Selama Papa kerja kamu harus selalu baik-baik saja.."
"Okey Papa..." Mutiara mengangkat ibu jarinya. Galih tertawa, Akhirnya putrinya bisa kembali seperti semula. Namun masih ada yang kurang dari gadis itu. Mutiara lebih banyak diam sekarang.
Tak jauh dari sana, Diandra dan Atta saling melirik satu sama lain. Hubungan sepasang ayan dan Putrinya itu terlihat sangat harmonis sekali.
Dapat Diandra lihat dengan jelas, Bahwa Galih begitu sayang terhadap Mutiara. Dan yang paling membuatnya sesak ialah, Bersama dengan Mutiara, Suaminya itu bisa tertawa lepas.
Sangat jauh berbeda apabila sedang berdua dengannya. Jangankan untuk tertawa lepas seperti itu, Tersenyum tipis setipis tisu saja tidak pernah.
Raut wajah Galih selalu terlihat datar dan dingin sekali. Pria itu seperti punya dua kepribadian ganda.
Praaannkk!
Diandra membanting sendok beserta garpunya diatas piring dengan gerakan kasar. Dadanya terasa sesak melihat kedekatan sepasang Ayah dan anak tersebut.
"Mama, Udah kenyang..." Ucap Diandra, Wanita itu segera bangkit lalu pergi.
Atta yang melihat itu jelas ikut emosi. Pria itu ikut bangkit, Mungkin sedang menyusul Mamanya.
"Aku juga sudah kenyang.." Kata Atta. Kini hanya tinggal Galih dan Mutiara saja yang berada disana.
Melihat Mama dan Kakaknya pergi, Mutiara sudah tak peduli lagi. Galih melirik putrinya itu, Sikap Mutiara sangat jauh dari yang sebelumnya.
Tapi bagi Galih semua ini lebih baik. Daripada Mutiara harus selalu menjaga perasaan Diandra sementara Diandra tidak pernah menjaga perasaan putrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kehadiran Mutiara dikampus menjadi bahan pembicaraan setelah hampir satu bulan lamanya gadis itu tidak masuk.
Mutiara juga hilang kabar begitu saja. Usai kejadian Mutiara yang melabrak Hazel beberapa waktu yang lalu, Gadis itu langsung tidak kelihatan batang hidungnya.
Namun ada keanehan dalam diri Mutiara kali ini. Gadis itu lebih banyak diam dan tidak seperti biasanya. Mutiara seolah menganggap semua orang yang ada disana patung yang tidak berguna. Tidak penting untuk dilihat dan tidak penting untuk didengar..
"Mas Ghazi..."
"Iya, Dek.. Kenapa?
"Bisa beliin aku minum gak? Aku haus.." Pintanya pada pria itu. Ghazi mengangguk, Apapun yang gadisnya ini inginkan akan Ghazi turuti.
Sesuai dengan janjinya, Ghazi akan menjaga Mutiara kemanapun gadis itu pergi. Bahkan ketika Mutiara tengah mengerjakan tugas skripsinya diperpustakaan pun Ghazi ikut menemani.
"Ya, Udah.. Kamu tunggu disini dulu. Mas pergi buat beli.."
"Iya.." Ghazi pun pergi. Sementara Mutiara, Ia kembali fokus pada laptopnya. Mengerjakan tugas wajib ini memang susah. Akan tetapi bagi Mutiara mengerjakan ujian skripsi tersebut semacam menulis cerita dalam novel.
Bedanya, Skripsi adalah karya ilmiah non-fiksi yang berdasarkan data dan metode, Sedangkan novel adalah karya fiksi yang bersumber dari imajinasi.
Didalam perpustakaan itu, Tidak hanya ada Mutiara saja yang sibuk dengan tugas skripsinya. Kendra, Fathan, Dan Hazel juga berada disana.
Tatapan Kendra tak lepas dari Mutiara yang banyak perubahan termasuk diamnya gadis itu. Sejak tadi, Mutiara tidak ingin bicara dengan siapapun kecuali Ghazi.
Disebelahnya, Hazel mengepalkan kedua tangannya. Gadis itu terasa kesal melihat tatapan Kendra pada Mutiara.
"Hazel..." Gadis itu menoleh pada beberapa teman kelasnya.
"Iya..
"Aku perhatikan, Sekarang kamu gak pernah update bab baru lagi, Ya.. Padahal banyak yang nungguin loh?
"Iya, Penasaran aja sama kisah Mawar itu..
"Bener, Masa cuma mentok di bab delapan puluh doang. Hazel gak asyik ah.." Hazel tersenyum sedikit paksa.
"E... Itu, Aku gak bisa update bab barunya dulu.. Soalnya..
"Kalian tahu sendiri kan, Kalau Hazel itu lagi sibuk dengan tugas skripsinya. Jadi wajar kalau bab baru novelnya tidak di update.." Seperti biasa Kendra selalu membela. Hazel hanya tersenyum saja, Padahal sebenarnya gadis itu tidak update bukan karena sibuk dengan tugas. Melainkan tidak bisa melanjutkan karena memang bukan bakatnya.
"Iya, Benar kata Kendra. Aku masih sibuk.. Nanti kalau udah gak sibuk aku pasti update kok...
"Beneran ya, Hazel.. Kita tunggu loh?
"Duh, Ini gimana ya.. Kalau aku gak update bab baru. Lama-lama mereka bisa curiga sama aku..
Tak jauh dari sana, Mutiara mendengar semuanya. Gadis itu tersenyum tipis, Memangnya apa yang bisa dibanggakan dari barang hasil mencuri milik orang lain.
•
•
•
TBC
trauma boleh ,,
tp km msh ttap bisa kn melihat mana yg bnr2 tulus ,,
mana yg gx ,,
semangat mutiara ,,
sebelum pergi ,,
kasih pelajaran dlu ma org2 yg jahatin km