NovelToon NovelToon
Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Status: tamat
Genre:Ketos / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.

Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.

Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.

Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasutri Romantis Dirumah 18.

Bel pulang sekolah baru saja berdentang, tetapi atmosfer di koridor kelas sembilan A terasa mencekam bagi Monisha.

Sepanjang hari, ia berusaha keras menghindari Rendy, murid baru pindahan dari luar negeri yang juga merupakan teman masa kecilnya.

Rendy bukan sekadar teman biasa, dia adalah orang yang sangat peka dan tahu hampir seluruh gerak-gerik Mona sejak kecil.

Mona buru-buru memasukkan buku pelajaran ke dalam tas. Jantungnya berdegup kencang. Ia harus segera sampai ke parkiran minimarket, tempat di mana Affan sudah menunggu.

"Mona, mau balik bareng saya, gak? Rumah saya masih yang dulu, sejalan sama arah rumah kamu." Sebuah suara berat menginterupsi gerakan Mona.

Rendy sudah berdiri di depan mejanya, menyampirkan tas ransel di satu bahu. Matanya yang tajam terus menatap Mona penuh selidik.

"Gausah! makasih.. Saya ada urusan kelompok," Bohong Mona setengah ketus. Ia memeluk tasnya erat, seolah benda itu bisa melindunginya dari tatapan Rendy.

Rendy menyipitkan mata. Ia maju satu langkah, mengikis jarak. "Kelompok apa? Saya udah nanya ke anak-anak kelas, hari ini enggak ada tugas kelompok, apa kamu mau pulang bareng Affan?."

Darah Mona langsung membeku. Ia refleks menggelengkan kepala pertanda kesal. "Ini bukan urusanmu!"

Mona menerobos samping tubuh Rendy dan berjalan setengah berlari keluar kelas.

Namun, Rendy tidak menyerah. Naluri teman masa kecilnya mengatakan ada sesuatu yang besar yang disembunyikan gadis itu. Rendy berjalan beberapa meter di belakang Mona, menjaga jarak, mengawasinya seperti elang yang mengintai mangsa.

Ia memperhatikan bagaimana Mona tidak berjalan menuju gerbang depan tempat angkutan umum biasa lewat, melainkan berbelok ke arah menuju ke minimarket yang agak jauh dari sekolahan.

Mona menoleh ke belakang, hampir menjerit saat melihat Rendy masih membuntutinya dengan ekspresi ngeri penuh menyelidik.

Rasa panik mulai menguasai Mona. Di ujung jalanan ramai itu, sebuah motor besar yang di kendarai Affan sudah tiba karena tak sabaran menunggu Mona di minimarket. "Kamu lama"

"Maaf sayang, habis dikejar ODGJ"

Tepat saat Mona selesai berbicara. dari arah gerbang sekolah, Rendy memanggilnya dengan suara lebih keras. "Mona! Jangan mau dibonceng Affan, nanti kamu ketularan penyakit rabies! Tolong tepati janji lama kamu woooy! putusin cowok itu!."

"Dasar gila! Cogil impoten!" Kesal Mona pada Rendy. Ia langsung menaiki sepeda motor Affan, meminta suaminya cepat tancap gas sebelum Rendy akan mengejar lewat sepeda motor nya.

Affan tidak melihat ke arah Mona. Dengan santai, matanya yang tajam langsung mengunci pandangan pada Rendy di balik sepion yang sedang berdiri tidak jauh dari gerbang sekolah sambil teriak-teriak gak jelas. "Bener kamu ga bohong, kamu habis di kejer ODGJ"

"Masalahnya, kita boncengan di depan Rendy terang-terangan, ini gak apa-apa?"

"Dia sudah mengira kita pacaran, jadi untuk sementara masih aman" Jawab Affan. Lalu menaikkan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi yang membuat Mona reflek mengungkung perut nya erat-erat.

**

Pukul delapan malam.

"Jangan dilihatin terus, sayang. Nanti makin suka loh," gumam Mona tanpa menoleh. Tangannya lincah memotong daun bawang di atas talenan kayu

Affan, yang sejak tadi duduk menopang dagu di bar dapur, hanya terkekeh pelan.

Melihat Mona bergerak lincah di dapur adalah pemandangan favorit barunya sejak mereka terpaksa tinggal di bawah atap yang sama.

Pernikahan dini. Sebuah kata yang awalnya terdengar seperti vonis akhir dunia bagi dua remaja berusia tujuh belas tahun ini. Dijodohkan karena wasiat kakek mereka, awalnya Mona dan Affan sepakat untuk bersikap asing di sekolah dan dingin di rumah.

Namun, cinta tumbuh terlalu lancang di antara dinding-dinding rumah minimalis mereka.

Rasa canggung berubah menjadi rindu, dan keterpaksaan kini menjelma menjadi rasa saling memiliki yang begitu dalam sampa saat ini.

"Saya nggak lihatin masakan kamu, sayang," sahut Affan dengan suara beratnya, khas cowok kelelahan sepulang sekolah. "Saya lihatin bidadari pakai celemek scooby doo."

Pipi Mona seketika merona merah. Ia mendengus, mencoba menyembunyikan senyumnya. "Gombal ih. Sana mandi dulu. Bau matahari tahu."

"Nggak mau. Mau nungguin sup ayamnya matang," tolak Affan keras kepala. Ia menghirup udara dalam-dalam. "Baunya enak banget. Kamu jadi pintar masak karena beneran belajar sendiri dari YouTube ya?"

Mona mengangguk bangga sambil memasukkan potongan wortel dan kentang ke dalam panci yang airnya sudah mendidih. "Iya dong. Mandiri. Dulu waktu awal kita pindah, saya bahkan masak mie belum matang untuk orang tua dan berakhir senjata makan tuan. Karena itu, saya berpikir dan pengen kasih yang terbaik buat kamu, saya tontonin semua video tutorial memasak tiap malam akhir-akhir ini."

Mendengar itu, hati Affan praktis menghangat. Ia berdiri dari kursinya, melangkah mendekati Mona yang sedang sibuk mengaduk sup.

Tanpa permisi, Affan melingkarkan kedua lengannya di pinggang ramping Mona dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu gadis itu.

"Affan, lepasin... nanti supnya tumpah," protes Mona lemah, walau jantungnya sudah berdegup kencang berirama tidak beraturan. Ia selalu kalah jika Affan sudah bersikap manja seperti ini.

"Bentar aja. Kangen," bisik Affan tepat di telinga Mona, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Makasih ya, udah mau belajar masak buat saya. Padahal kamu bisa aja minta kita beli makanan di luar tiap hari."

Mona menghentikan adukannya. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah Affan yang berada sangat dekat. Mata mereka bertemu, menyalurkan rasa cinta yang begitu besar, yang tak lagi bisa mereka sangkal.

"Saya pengen jadi istri yang berguna buat kamu, Fan. Walaupun kita masih sekolah, saya mau rumah ini beneran berasa kayak rumah yang hangat buat kita berdua," ucap Mona tulus.

Affan tersenyum menyipit, lalu mengecup kilat pipi Mona. "Kamu selalu berhasil, Mon. Masakan kamu itu hal terbaik kedua setelah kamu sendiri yang ada di hidup saya."

"Gombal AJA TEROS!" Mona mencubit lengan Affan dengan pelan, membuat cowok itu tertawa dan akhirnya melepaskan pelukan nya.

"Garamnya udah pas belum?" tanya Affan.

Mona mengambil sedikit kuah sup dengan sendok sayur, meniupnya perlahan agar tidak terlalu panas, lalu menyodorkannya ke depan mulut Affan.

"Coba rasain."

Affan mencicipinya. Matanya langsung berbinar. Rasa gurih yang pas dari kaldu ayam asli, berpadu dengan aroma bawang putih goreng yang harum, dan sedikit sengatan lada yang menghangatkan tenggorokan. Sungguh, masakan Mona kali ini tidak gagal menyaingi makanan restoran bintang lima.

"Enak banget, Mon! Sumpah, ini pas banget," puji Affan jujur. "Selama ini kamu beneran punya bakat terpendam ya?!"

"Syukurlah kalau kamu suka. Ya udah, sekarang buruan mandi. Saya mau tata meja makan dulu," perintah Mona sambil berkacak pinggang, meniru gaya ibu-ibu rumah tangga, yang justru terlihat sangat menggemaskan di mata Affan dengan seragam SMA-nya yang masih melekat.

"Siap, Nyonya muda Affan!" Affan memberi hormat dengan jenaka sebelum berlari kecil menuju kamar mandi, meninggalkan Mona yang tersenyum lebar menatap punggung suaminya.

Di dapur kecil itu, di sela-sela aroma sup yang mengepul wangi, Mona tahu bahwa keputusan untuk membuka hati pada pernikahan ini adalah hal terbaik yang pernah ia lakukan. Mereka mungkin masih remaja, memakai seragam putih abu-abu di siang hari, namun di tempat ini, mereka adalah dua jiwa yang saling mencintai dan belajar mendewasakan diri bersama.

**

Ting!

Ada pesan dari mama Mona, mata Mona tiba-tiba membelalak saat melihat isi pesan dari mama.

Dirumah, ada Rendy teman kecil kamu datang bersama papanya untuk minjam uang, dia terus nanyain foto pernikahan kamu yang mama pajang di ruang tamu.

......................

...****************...

To be continue,

1
Shabrina Darsih
keahuan juga sm sahabat mona
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan
Shabrina Darsih
mona. mennding jujir aja sm sahabat nya andini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!