NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 — JEMPUT

BAB 15 — JEMPUT

Gilang datang ke kantor tanpa mobil.

Aku melihatnya turun dari ojek daring melalui jendela ruang rapat. Ia mengenakan kemeja abu-abu biasa, celana hitam, dan sepatu yang selalu dipakainya saat mengemudi. Tidak ada jas, alat komunikasi di telinga, atau kendaraan gelap yang biasanya membuat orang mengira aku sedang dijemput pejabat.

Di tangan kirinya ada tas kerja kecil.

Damar sudah duduk di sampingku. Di atas meja terdapat buku abu-abu yang terbuka pada halaman Gilang Adiputra.

JEMPUT.

Ketika pintu ruang rapat dibuka, Gilang berhenti di ambang.

“Boleh masuk, Bu?”

Aku hampir menjawab bahwa ia tidak perlu bertanya. Lalu teringat berapa banyak orang dalam hidupku yang masuk karena menganggap kedekatan sebagai izin permanen.

“Masuk.”

Ia duduk setelah aku menunjuk kursi. Tas kecil diletakkan di lantai, di antara kedua kakinya. Punggungnya tetap tegak seperti sedang menunggu pemeriksaan keamanan.

Damar menyalakan alat perekam setelah Gilang membaca dan menandatangani persetujuan.

“Aku ingin mulai dari aplikasi,” kataku. “Sebelum kemarin, seberapa banyak kamu mengetahui lokasiku?”

Gilang menurunkan pandangan ke halaman buku.

“Melalui ponsel, kendaraan, dan kartu akses kantor. Sistem gedung mengirim pemberitahuan jika Ibu masuk setelah jam kerja atau tidak keluar sampai batas tertentu.”

“Siapa yang menerima?”

“Saya, pusat keamanan Pak Rendra, dan dulu satu akun yayasan. Akun itu dicabut setahun lalu, tetapi saya tidak tahu apakah mereka membuat jalur lain.”

Damar mencatat sesuatu.

“Apa dasar persetujuannya?”

“Perjanjian keamanan kantor.”

Aku mengingat kontrak panjang ketika Ruang Tengah pindah ke gedung ini. Tara mengurus sebagian besar pemasangan. Rendra menawarkan vendor yang katanya lebih murah karena masih berada dalam jaringan perusahaan.

“Apakah kontraknya menyebut lokasiku dikirim kepada suamiku?”

“Tidak dengan kata seperti itu.”

“Tentu saja.”

Gilang menerima sindiranku tanpa menunduk lebih jauh.

“Aplikasi ponselnya awalnya hanya fitur darurat,” kata Gilang. “Kemudian Pak Rendra meminta lokasi tetap aktif saat Ibu bepergian sendiri, memakai kendaraan umum, atau tidak menjawab lebih dari dua jam.”

“Aku tidak pernah menyetujuinya.”

“Tidak pernah kepada saya.”

Jawaban itu membuat ruangan terasa lebih kecil.

Selama ini aku membayangkan pelacakan sebagai satu titik di peta. Gilang baru saja menunjukkan bahwa sistemnya lebih luas: ponsel, kendaraan, pintu kantor, kamera gedung, dan orang-orang yang dapat diminta mencari ketika salah satu jalur terputus.

Bahkan mematikan perangkat tidak pernah benar-benar berarti aku hilang dari pandangan mereka.

Aku membuka daftar perjalanan lama di laptop. Ada begitu banyak hari yang kuanggap milikku: rapat di luar kota, kunjungan mendadak kepada klien, makan siang sendirian ketika ingin berpikir, perjalanan singkat ke toko buku tanpa memberi tahu siapa pun.

“Kalau aku naik taksi atau berjalan kaki, kalian tetap tahu?”

“Sering kali. Kalau ponsel mati, kartu akses, kamera gedung, dan catatan kendaraan masih dapat menunjukkan arah. Bila Pak Rendra meminta, tim mencari.”

Aku memalingkan wajah ke jendela. Di bawah sana, orang-orang berjalan di trotoar dengan ponsel di tangan, masuk ke kendaraan, menyeberang, lalu hilang dari pandangan.

Pemandangan biasa.

Kemewahan yang selama ini kupikir juga kumiliki.

“Seberapa sering?”

“Tahun pertama hanya ketika ada ancaman atau Ibu tidak dapat dihubungi. Dua tahun terakhir, hampir setiap perubahan jadwal yang tidak diberitahukan kepada Pak Rendra.”

Damar menyela, suaranya tetap datar.

“Apakah Pak Gilang pernah menolak permintaan yang tidak berkaitan dengan keselamatan?”

“Pernah. Saat Bu Nadira makan malam dengan teman pria dari kampus, Pak Rendra meminta foto meja dan waktu kepulangan.”

Aku langsung tahu makan malam yang dimaksud.

Banyu.

Tiga tahun lalu, ia kembali dari penugasan luar daerah dan menghubungiku setelah lama tidak bertemu. Kami makan di restoran dekat kantor. Rendra tidak melarang. Ia hanya menelepon pukul sembilan, mengatakan kebetulan sedang lewat, lalu menawarkan menjemput.

Aku pulang bersamanya karena saat itu terasa lebih mudah.

“Kamu mengambil foto itu?”

“Tidak. Saya mengatakan kamera restoran tidak dapat diakses, padahal saya tidak mencoba.”

Sejak Gilang masuk, baru kali itu jawabannya mengandung sesuatu yang menyerupai perlawanan.

“Lalu kamu tetap bekerja karena merasa berutang kepada Ibu?”

Ia memandang tas di lantai.

“Ibu Laksmi membantu biaya operasi anak saya. Melalui perusahaan keamanan, kode JEMPUT berarti saya datang bila Ibu dalam bahaya atau meminta bantuan—bukan mengikuti setiap hari.”

“Apakah kode JEMPUT pernah benar-benar dipakai seperti maksud Ibu?” tanyaku.

“Pernah. Saat kuliah, ada lelaki yang mengikuti Ibu dari halte selama tiga malam. Saya menjemput, mencatat nomor motornya, lalu memastikan dia tidak datang lagi.”

Aku mengingat sebuah sedan tua yang mendadak muncul setiap malam selama satu pekan. Ibu berkata kampus sedang menyediakan kendaraan tambahan. Aku tidak pernah bertanya mengapa pengemudinya selalu Gilang.

“Waktu itu kamu hanya melaporkan bahwa aku sudah sampai rumah. Jadi kamu tahu bedanya perlindungan dan pengawasan.”

Gilang menunduk.

“Iya. Saya tidak punya alasan untuk mengaku tidak mengerti ketika tugasnya berubah.”

“Setelah Ibu meninggal?”

“Pak Rendra mengambil alih. Tugasnya berubah sedikit demi sedikit.”

Aku hampir tertawa karena kalimat itu terdengar terlalu familier. Semua pelanggaran dalam hidupku seperti dimulai dari sesuatu yang kecil, masuk akal, lalu dibiarkan menjadi kebiasaan.

“Sedikit demi sedikit seperti apa?”

“Pertama, saya diminta memastikan rute aman. Lalu melaporkan perubahan tujuan. Setelah menikah, memeriksa siapa yang menemui Ibu. Belakangan, pusat sistem bekerja otomatis. Saya tidak perlu mengikuti langsung untuk tahu.”

“Kamu pernah memakai informasi itu untuk mengubah keputusanku?”

Gilang terdiam, lalu mengiyakan.

“Kalau Pak Rendra menganggap lokasi terlalu berbahaya, saya membuat alasan kendaraan bermasalah, jalan ditutup, atau jadwal penjemputan berubah.”

Aku mengingat begitu banyak gangguan kecil. Ban yang katanya bocor sebelum aku pergi ke kawasan industri. Jalan yang disebut banjir padahal cuaca cerah. Sopir pengganti yang terlambat sampai kesempatan bertemu seseorang lewat.

“Berapa kali? Perkirakan.”

“Lebih dari dua puluh.”

Angka itu jatuh lebih berat daripada suara pengakuannya.

Dua puluh gangguan kecil mungkin tidak terasa seperti penjara kalau dipisahkan satu-satu. Tapi ketika semuanya dikumpulkan, aku bisa melihat siapa yang selama ini memegang tanganku dari belakang setiap kali aku mencoba berjalan ke arah lain.

Aku menutup daftar perjalanan.

“Kenapa kamu datang hari ini? Perintah Rendra, atau Tara?”

“Bukan Tara.”

Gilang membuka tas dan mengeluarkan dua ponsel, alat pelacak, kartu akses kendaraan, serta buku catatan hitam.

“Pusat keamanan memerintahkan seluruh akses diserahkan kepada Ibu atau pengacara Ibu. Instruksi awalnya dari Pak Rendra.”

Perhatianku jatuh pada benda-benda itu.

Rendra yang memulai proses penyerahan ini. Bedanya, kali ini ia tidak mengirimkannya langsung kepadaku atau memakai pengembalian akses sebagai alasan meminta bertemu.

“Apakah semua salinan ada di sini?” tanya Damar.

“Yang saya pegang. Akses server ada pada tim keamanan dan Bu Elsa sudah membekukan datanya.”

Damar memeriksa nomor perangkat.

Aku membuka buku catatan Gilang. Isinya tanggal, lokasi, alasan perubahan rute, dan beberapa tanda yang tidak kupahami. Sebagian halaman memakai tulisan tangan. Sebagian ditempeli cetakan kecil dari sistem.

Pada satu tanggal tiga tahun lalu, ada catatan yang dilingkari dua kali.

KENDARAAN ABU-ABU — IKUTI, JANGAN INTERVENSI.

Aku mengenali tanggalnya. Hari ketika aku menerima amplop berisi foto kecelakaan Ayah dan berencana pergi ke Yogyakarta.

“Ini apa?”

Gilang melihat halaman itu. Wajahnya yang sejak tadi tenang berubah tipis.

“Kendaraan yang mengikuti Ibu dari kantor lama.”

“Orang yang fotonya ditunjukkan Rendra kepada Tara?”

“Mungkin. Saya tidak tahu foto mana yang beliau tunjukkan.”

“Kamu melihat mobil itu dan meminta izin menghentikannya?”

Gilang bergeser, lalu melirik Damar seolah memastikan rekaman tetap menyala.

“Iya. Saya meminta memotong kendaraan itu di lampu berikutnya, tetapi Pak Rendra melarang. Saya tidak diberi nama orang di dalamnya.”

Tenggorokanku mengering.

“Apa perintahnya?”

Gilang menatapku. Kali ini, suaranya terdengar seperti orang yang ingin meminta maaf tetapi tahu permintaan itu tidak akan cukup.

“Pak Rendra menyuruh saya membiarkan mobil itu terus mengikuti Ibu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!