Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.
Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.
Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.
Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.
Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.
Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.
📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama
Map merah itu jatuh tepat di depan sepatunya, dan Gwen sudah tahu harinya akan panjang sebelum jarum jam menunjukkan pukul sembilan.
Dia berjongkok, memungutnya dari lantai marmer lobi Kane Group yang mengilap seperti cermin, lalu berdiri lagi dengan gerakan yang sudah dia latih sejak semalam di depan cermin kamar—punggung tegak, dagu sedikit terangkat, ekspresi yang tidak terlalu ramah tapi juga tidak terlalu kaku. Kompeten, begitu dia menyebutnya dalam kepala. Bukan galak, bukan juga terlalu berusaha disukai. Kompeten.
"Waduh, sori—" Seorang pria muda berkemeja biru ikut jongkok membantu, wajahnya panik seperti baru menumpahkan kopi ke laptop presdir. "Itu bahan rapat jam sembilan. Mati aku kalau halamannya ilang."
"Lengkap kok." Gwen menyerahkan map itu kembali sambil menghitung cepat sudut-sudutnya yang sedikit terlipat. "Cuma penyok dikit di ujung. Ganjel pakai buku tebel juga rapi lagi, atau kalau sempet print ulang aja."
Pria itu menatapnya seolah Gwen baru saja menyelamatkan hidupnya. "Baru ya? Kayaknya belum pernah liat."
"Hari pertama."
"Divisi mana?"
"Operasional. Manajer baru."
Ekspresi pria itu berubah sedikit—bukan curiga, tapi semacam kalkulasi cepat yang Gwen sudah biasa lihat sejak dia mulai naik jenjang karier. Manajer baru, seumuran segini, di divisi operasional Kane Group. Ada yang langsung menghormati. Ada yang menunggu untuk menilai. Gwen tidak peduli dua-duanya. Dia sudah lama berhenti berharap orang percaya padanya di menit pertama; yang dia butuhkan cuma waktu untuk membuktikan lewat kerja, bukan lewat kesan.
Dia melirik jam tangannya. Delapan lewat lima puluh dua menit. Delapan menit sebelum briefing pertamanya sebagai manajer operasional, dan dia belum sempat menemukan mejanya sendiri.
---
Lantai operasional Kane Group ada di lantai dua puluh tiga, delapan tingkat di bawah lantai eksekutif yang staf lain sebut "The Summit" dengan nada setengah bercanda setengah takut. Gwen belum pernah ke lantai itu, dan berdasarkan cerita-cerita yang sudah dia dengar sejak proses interview, dia tidak berencana untuk sering ke sana juga. Katanya CEO-nya jarang turun ke bawah kecuali ada masalah besar, dan orang-orang di divisi operasional lebih suka begitu.
Mejanya ada di sudut, menghadap jendela yang memperlihatkan setengah kota Jakarta yang masih diselimuti kabut pagi. Dia baru sempat meletakkan tasnya ketika seseorang mengetuk sekat kubikelnya.
"Gwen Aditya, ya?" Wanita berkacamata dengan lanyard HR menyodorkan tangan. "Wulan, dari HR. Maaf mendadak banget—ada perubahan jadwal. Briefing tim operasional dimajuin, langsung sama Pak Kane. Jam sembilan, di ruang rapat lantai lima belas."
Gwen mengedipkan mata sekali. "Emangnya biasa CEO turun langsung buat briefing manajer baru?"
"Enggak, biasanya." Wulan tersenyum tipis, seperti menyimpan sesuatu yang dia sendiri tidak sepenuhnya mengerti. "Tapi ini karena ada proyek gede yang baru masuk minggu ini. Kayaknya beliau mau kenalan langsung sama tim yang bakal pegang."
Delapan menit sisa waktu tiba-tiba terasa lebih pendek dari yang seharusnya.
---
Ruang rapat lantai lima belas didesain seperti akuarium kaca raksasa—transparan dari semua sisi, membuat siapa pun yang duduk di dalamnya terasa diamati oleh seluruh lantai yang lewat. Gwen duduk di kursi paling ujung meja panjang, di antara enam anggota tim operasional lain yang sudah lebih dulu bekerja di Kane Group, sementara pintu kaca di ujung ruangan belum terbuka.
Dia mengeluarkan laptop, membuka file presentasi yang sudah dia siapkan semalam untuk perkenalan singkat—bukan karena diminta, tapi karena dia tidak suka masuk ruangan tanpa sesuatu yang konkret untuk ditunjukkan. Angka. Data. Rencana kerja tiga bulan pertama. Kalau ada yang meragukan kompetensinya, biar jawabannya ada di layar, bukan di mulutnya.
Pintu kaca terbuka pukul sembilan tepat.
Tidak ada suara berisik, tidak ada entrance berlebihan—hanya seorang pria menyusul masuk dengan langkah yang tidak terburu-buru, mengenakan setelan navy gelap yang jatuh terlalu rapi untuk terlihat kasual, membawa satu map tipis dan segelas kopi hitam yang dia letakkan tanpa suara di ujung meja. Seluruh ruangan berubah tekanan udaranya dalam dua detik.
Gwen tidak berdiri seperti yang lain, karena dia sedang menyimpan file terakhirnya. Dia baru mendongak ketika pria itu sudah duduk, dan yang pertama kali dia perhatikan bukan wajahnya, melainkan cara dia meletakkan map itu—presisi, sudutnya sejajar dengan tepi meja, seolah dia tidak tahan melihat sesuatu yang tidak rapi.
"Pagi." Suaranya rendah, tanpa basa-basi berlebihan. "Madoc Kane. Katanya ada wajah baru di tim operasional."
Enam kepala lain mengangguk sopan. Gwen mengangguk juga, satu kali, singkat.
"Gwen Aditya," katanya. "Manajer operasional. Hari pertama."
Sesuatu di mata pria itu bergerak—hampir tidak kentara, seperti orang yang baru menemukan detail yang tidak dia duga di antara data yang sudah dia baca sebelumnya. Dia menatap Gwen sedikit lebih lama dari yang seharusnya wajar untuk sekadar perkenalan, lalu membuka mapnya.
"Kalau gitu," katanya, "langsung aja kita masuk yang berat-berat dulu."
---
Rapat berjalan empat puluh menit lebih lama dari jadwal, dan sepanjang itu Gwen menyadari satu pola aneh: Madoc Kane, yang katanya jarang bicara lebih dari yang perlu di rapat internal, terus melempar pertanyaan teknis paling sulit langsung padanya. Bukan pertanyaan menjebak—pertanyaan yang genuinely butuh analisis cepat, angka yang harus dihitung di kepala, keputusan yang harus diambil di tempat.
Dia menjawab semuanya tanpa gemetar, bahkan ketika harus mengoreksi satu asumsi yang salah dalam proyeksi biaya yang sudah disiapkan tim sebelumnya.
"Ini belum masuk penyesuaian inflasi kuartal ini," katanya, menunjuk grafik di layar. "Kalau dipakai sekarang, proyeksinya bisa meleset tujuh persenan di akhir tahun."
Ruangan hening sesaat. Seseorang di sebelah kirinya menahan napas, seolah menunggu reaksi tersinggung dari orang yang baru saja dikoreksi angkanya di depan seluruh tim—dan orang itu kebetulan CEO perusahaan.
Madoc menatap grafik itu lama, lalu mengangguk pelan.
"Betul." Singkat. "Perbaiki sebelum dikirim ke board."
Itu saja. Tidak ada nada tersinggung, tidak ada usaha menutupi kesalahan. Gwen merasakan sesuatu yang jarang dia rasakan di hari pertama kerja di tempat baru—lega, bukan karena dipuji, tapi karena baru saja tahu dia bekerja dengan orang yang lebih menghargai kebenaran daripada egonya sendiri.
Dia tidak melihat, karena sedang menutup laptopnya, bahwa Madoc masih menatapnya dua detik lebih lama setelah rapat resmi ditutup.
---
Di sudut ruangan, berdiri agak menjauh dari meja rapat, seorang pria berkemeja rapi dengan tablet di tangan mengamati semuanya sejak awal—dan dia satu-satunya orang di ruangan itu yang tahu persis apa yang barusan terjadi.
Elias sudah bekerja untuk Madoc Kane cukup lama untuk hafal setiap pola perilaku bosnya sampai ke detail terkecil: cara dia mengetuk meja kalau bosan, cara dia motong pembicaraan kalau gak tertarik, cara dia natap layar tanpa benar-benar baca isinya kalau pikirannya lagi ke mana-mana.
Dan dia baru saja melihat sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Madoc Kane baru saja duduk diam selama empat puluh menit, mendengarkan penuh, bertanya lebih banyak dari biasanya, dan tidak sekali pun memeriksa jam tangannya sendiri—kebiasaan yang biasanya muncul di rapat mana pun setelah menit kelima belas.
Elias melirik ke arah wanita berkacamata baca yang sedang mengemasi laptopnya di ujung meja, lalu kembali ke bosnya yang masih berdiri di tempat, menatap map di tangannya tanpa benar-benar melihat isinya.
Dia menghela napas pelan, menyimpan catatan mental yang baru saja dia buat.
Ini bakal jadi masalah.