NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:941
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Menurut Padamu

Setelah malam di meja kerja, Reynard mengubah cara mendekat.

Ia tidak lagi sengaja berdiri terlalu dekat. Tidak melempar pertanyaan tentang siapa yang disukai Keira. Tidak menahan tatapan sampai perempuan itu kehilangan kata-kata.

Ia hanya menjadi sangat patuh.

"Mau sarapan apa?" tanyanya pada Senin pagi.

"Nasi uduk."

"Oke."

Selasa, Keira mengeluh bahan referensinya berantakan. Malam itu Reynard mengirim folder dengan nama file, tahun, dan topik yang sudah dirapikan. Rabu, Keira berkata ingin sup ayam seperti buatan Mama. Kamis sore, aroma sup memenuhi unit 8B.

Tidak ada permintaan balasan. Tidak ada rayuan.

Pada Jumat, Keira akhirnya kehilangan kesabaran.

"Kenapa sih akhir-akhir ini kamu nurut banget? Biasanya kan rese."

Reynard yang sedang memotong wortel berhenti. "Cici nggak suka?"

"Bukan begitu. Aneh saja."

"Kalau nurut bisa bikin Cici nggak menjauh lagi, aku nurut saja."

Pisau kembali bergerak. Seolah kalimat itu tidak baru saja membelah pertahanan Keira lebih rapi daripada wortel di talenan.

"Aku nggak menjauh," bantahnya lemah.

"Iya."

"Jawabanmu jelas nggak percaya."

"Cici bilang aku harus nurut."

Keira mengambil sepotong wortel dan melemparkannya. Reynard menangkap dengan mulut, lalu tersenyum untuk pertama kalinya hari itu.

***

Kepatuhan itu menyusup ke semua bagian hidup Keira. Reynard mengantar sampai gerbang kampus, tetapi tidak memaksa menunggu. Ia mengingatkan makan, tetapi tidak bertanya bersama siapa. Ketika Jonathan mengirim pesan, Reynard tidak lagi memasang wajah masam.

Keira justru mulai sengaja menyebut nama Jonathan untuk mencari reaksi.

"Besok kelompokku belajar bareng Jonathan."

"Oke. Pulangnya kabari."

"Mungkin makan malam juga."

"Aku simpan lauk di kulkas."

"Kamu nggak mau tanya siapa saja yang datang?"

Reynard menatapnya. "Cici mau aku tanya?"

Keira langsung berpaling. "Nggak."

Senyum tipis Reynard mengatakan ia memahami permainan kecil itu. Namun ia tetap tidak mengejar.

Kesabaran tersebut jauh lebih sulit dilawan daripada kecemburuan.

Suatu sore Keira sengaja pulang membawa dua tiket film diskon. Ia meletakkan tiket di meja tanpa penjelasan.

"Untuk siapa?" tanya Reynard.

"Aku dan siapa pun yang sedang senggang."

"Aku senggang."

"Tapi kamu nggak diajak."

Reynard mengangguk patuh dan kembali mengetik. Lima menit berlalu. Keira yang tidak tahan akhirnya mendorong satu tiket ke arahnya.

"Kenapa nggak minta?"

"Cici bilang nggak diajak."

"Kamu biasanya memaksa."

"Katanya aku harus bikin Cici nyaman."

Keira menutup laptop Reynard. "Besok jam tujuh. Jangan telat."

Senyum cowok itu muncul perlahan, terang dan sangat muda. "Siap."

Keesokan malam, mereka menonton film komedi. Reynard tidak mencoba menggenggam tangan meski jari mereka beberapa kali bertemu di kotak popcorn. Keira justru terus menyadari ruang kosong di antara telapak mereka. Pada adegan terakhir, ia sengaja membiarkan tangannya tetap di sana. Reynard masih tidak mengambil kesempatan.

Di luar bioskop, Keira bertanya, "Kamu benar-benar akan menurut semua yang kubilang?"

"Kalau itu bikin Cici nggak lari."

"Kalau aku bilang jangan terlalu menurut?"

Reynard tertawa. "Itu perintah yang membingungkan."

Keira ikut tertawa, tetapi jawabannya tertinggal sampai malam hujan beberapa hari kemudian.

***

Suatu malam hujan turun deras ketika Keira harus menyelesaikan rapat program penerjemahan. Kendaraan daring berkali-kali membatalkan pesanan karena jalan tergenang. Ia baru tiba di Meranti Park hampir pukul sebelas.

Di bawah kanopi lobi, Reynard berdiri membawa payung besar.

Kaosnya basah pada satu bahu. Rambut bagian depan menempel di dahi. Ia pasti sudah menunggu cukup lama.

"Kamu ngapain di sini?"

"Nunggu Cici."

"Aku bilang jangan tunggu."

"Aku nurut yang lain. Yang ini nggak bisa."

Petugas keamanan yang berdiri dekat meja ikut menyela. "Mas Reynard sudah turun sejak satu jam lalu, Mbak. Tiap kendaraan berhenti, dia keluar lihat nomor pelat."

"Katanya nggak lama," Keira menatap tajam.

Reynard memalingkan wajah. "Hujannya bikin waktu terasa cepat."

Tante Ida yang sedang menunggu paket di lobi menggeleng sambil tersenyum. "Kalau ada orang mau menunggu sejam di tengah hujan, jangan dimarahi terus. Kasih minum hangat."

"Tante jangan ikut-ikutan," kata Keira, tetapi tangannya sudah menerima payung dan menarik Reynard lebih dekat ke bawah kanopi.

Tante Ida mengangkat kedua tangan. "Tante cuma saksi. Kali ini saksi hal baik."

Keira menahan senyum. Omongan tetangga yang dulu terasa seperti ancaman kini berubah menjadi pengakuan bahwa perhatian Reynard dapat dilihat siapa pun, bukan sesuatu yang hanya ia bayangkan.

Reynard membuka payung dan berjalan menjemput dari tepi jalan. Air memercik dari ban kendaraan. Ia menempatkan tubuh di sisi luar, melindungi Keira dari cipratan, lalu mengambil tas laptop.

"Sudah makan?"

"Belum."

"Aku hangatkan sup."

Mereka berjalan menuju lobi. Payung lebih banyak menutupi Keira sehingga sisi tubuh Reynard basah sampai lengan.

"Payungnya ke tengah," kata Keira.

"Nanti tas Cici kena air."

"Laptopnya sudah kamu peluk. Yang basah sekarang kamu."

Keira menarik gagang payung. Tangan mereka bertumpuk. Reynard tidak melepaskan, dan kali ini Keira juga tidak.

Di dalam lift, ia melihat tetesan air jatuh dari ujung rambut Reynard.

"Sudah berapa lama menunggu?"

"Nggak lama."

"Bohong. Bahumu dingin."

Keira menyentuh kain basah itu. Reynard membeku. Sentuhan tersebut seharusnya hanya pemeriksaan, tetapi telapak Keira tertahan pada bahunya. Sindrom haus kulit mereda oleh panas tubuh di bawah kain dingin.

Pintu lift terbuka. Keira menarik tangan lebih dulu, tetapi tidak lagi pura-pura tak terjadi apa-apa.

"Mandi air hangat. Aku yang panaskan sup."

"Cici bisa masak?"

"Cuma memanaskan. Jangan menghina."

Reynard tertawa dan masuk ke 8A untuk berganti. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan rambut kering. Keira sudah menyiapkan dua mangkuk sup.

"Kenapa dua?" tanyanya.

"Aku juga belum makan."

Mereka duduk berhadapan. Hujan memukul jendela, uap sup naik di antara wajah mereka.

Keira memandangi cowok yang menunggu tanpa diminta, belajar memasak semua yang ia suka, dan mundur setiap kali ia ketakutan. Selama ini ia menyebut semua itu kebetulan, kewajiban titipan, atau sifat adik yang manja.

Tidak ada satu pun alasan itu yang masih terasa cukup.

"Rey."

"Hmm?"

"Kalau kamu terus begini, aku jadi nggak tahu harus bagaimana."

Reynard meletakkan sendok. "Menurut Cici, aku harus bagaimana?"

Pertanyaan itu tidak menuntut pengakuan. Ia menyerahkan seluruh arah kepada Keira.

Keira menatap tangan yang tadi memegang payung bersamanya. Pertahanan yang dibangun dari angka tiga tahun dan nama Vanessa masih ada, tetapi retaknya sudah terlalu lebar.

"Tetap di sini," katanya pelan.

Mata Reynard berubah lembut.

"Aku memang nggak ke mana-mana."

Untuk malam itu, jawaban tersebut cukup. Namun saat Keira menunduk pada sup yang mulai dingin, ia tahu satu hal dengan pasti.

Ia tidak lagi sedang berusaha menjauh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!