NovelToon NovelToon
Mr.Possessive

Mr.Possessive

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Biqy fitri S

Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari yang cerah

Hari ini bukan hari yang biasa untuk Levin. Wajahnya berseri, senyumnya tak pernah lepas. Bayangan adegan semalam—ciuman pertamanya bersama Jingga—masih terus berputar di kepalanya, membuatnya sesekali cekikikan sendiri tanpa sadar.

“Selamat pagi, Ayah, Bunda!” sapa Levin riang gembira saat turun ke ruang makan.

“Pagi juga, Sayang. Aduh, happy banget ya kamu. Semangat sekali hari ini,” sahut Bunda Wina sambil tersenyum heran.

“Tuh, benar kata Ibu. Tumben pagi-pagi udah cerah sekali wajahmu,” Ayah Thama ikut menimpali, menatap putranya penuh rasa penasaran.

Levin hanya terkekeh, lalu dengan gaya meyakinkan berkata, “Semangat dong! Kita harus selalu memancarkan hal positif.”

Namun senyum itu jelas berbeda—karena pikirannya masih penuh dengan Jingga.

Wina hanya menggelengkan kepala. “Anak ini… ada-ada saja. Tapi ya sudahlah, yang penting kamu bahagia.”

Baru saja mereka menikmati sarapan, ponsel Levin berdering. Notifikasi pesan masuk dari Jingga.

Jingga:

Pagi juga, Vin. Hari ini aku sibuk banget, ada beberapa meeting yang tertunda.

Levin buru-buru membalas dengan senyum lebar di wajahnya.

Levin:

Jangan terlalu capek, ya. Jangan telat makan juga. Tetep kabarin aku

Tak butuh lama, balasan masuk.

Jingga:

Iya, kamu juga ya. Jangan lupa makan, jangan ditunda. Semangat, calon suamiku

Levin terdiam sejenak. Jantungnya berdegup cepat membaca kata itu—calon suamiku.

Senyumnya makin melebar, hampir tidak bisa disembunyikan lagi.

“Wah, apa-apaan itu senyum-senyum sendiri?” tanya Wina curiga sambil melirik suaminya.

Thama ikut tertawa. “Sudah jelas, Win. Anakmu lagi dimabuk cinta.”

Levin hanya nyengir, tak peduli. Jari-jarinya cepat membalas pesan.

Levin:

Iyaa, siap calon istriku

Jawaban itu membuat senyumnya semakin mengembang. Wina dan Thama saling pandang, lalu menggeleng sambil tersenyum. Bagi mereka, pemandangan ini sungguh baru—Levin yang biasanya dingin dan penuh kesibukan, kini terlihat seperti remaja yang baru jatuh cinta.

Usai sarapan, Levin bergegas pergi ke kantor. Di halaman rumah, Roy sudah menunggunya dengan mobil siap berangkat. Begitu membuka pintu, Levin menyapa dengan ceria.

“Hai, Roy! Selamat pagi!”

Roy menoleh, sedikit terkejut. Senyum Levin terlalu lebar untuk ukuran seorang bos yang biasanya dingin dan serius. Bahkan sepanjang jalan keluar rumah, Levin masih sempat menyapa para pegawai yang berpapasan.

Roy sempat menatapnya lewat kaca spion, lalu berkata dengan nada datar namun jelas terdengar heran.

“Ada apa dengan Tuan Levin hari ini? Berbeda sekali. Tuan benar-benar memperlihatkan kebahagiaan Anda.”

Levin terkekeh kecil, tidak berusaha menyangkal.

Roy menambahkan, kali ini dengan nada yang agak lebih lembut,

“Tapi syukurlah… akhirnya Tuan Levin menemukan cintanya.”

Seketika senyum Levin makin lebar. Ia menatap keluar jendela mobil, seolah dunia terlihat lebih indah dari biasanya.

---

Di tempat lain, Arin duduk di sofa dengan wajah cemas, jari-jarinya sibuk mengetik dan menghapus berkali-kali di layar ponselnya.

“Aduh… kalau aku chat duluan, keliatan banget nggak, ya? Jangan sampai dia pikir aku terlalu agresif…” gumamnya sendiri sambil menggigit bibir.

Setelah beberapa menit berdebat dengan hatinya sendiri, akhirnya dia menekan tombol send.

> Arin: Selamat pagi, Roy. Semangat kerjanya

Begitu terkirim, Arin langsung menutup wajah dengan bantal.

“Ya ampun! Kok pakai emot sih! Garing banget nggak, ya?!”

Ponselnya bergetar. Arin buru-buru melirik.

> Roy: Pagi juga. Kamu juga semangat.

Arin meloncat kecil.

“Aaaa! Dia bales!!”

Tangannya gemetar saat mengetik balasan berikutnya.

> Arin: Iya, terima kasih. Hmm… apa malam ini kamu nggak sibuk?

Tak lama kemudian, jawaban Roy muncul.

> Roy: Memangnya ada apa?

Arin menggigit bibir, wajahnya merah padam. Dengan penuh keberanian, dia mengetik lagi:

> Arin: Nggak apa-apa. Tadinya aku mau ngajak kamu nonton film di bioskop.

Beberapa detik terasa seperti satu jam penuh penantian. Sampai akhirnya balasan itu muncul:

> Roy: Boleh. Nanti aku jemput jam 7 malam.

Arin menjerit kecil sambil berguling di sofa, wajahnya sumringah.

“Iyaaaa! Akhirnyaaa!!”

Lalu dengan senyum bodoh yang tak bisa hilang dari wajahnya, dia membalas cepat:

> Arin: Iya, siap!

Di tempat berbeda, Roy hanya menatap layar dengan ekspresi kalemnya. Namun bibirnya melengkung tipis, senyum samar yang jarang muncul.

---

Setelah rapat panjang yang menguras energi, Jingga akhirnya bisa bersantai. Tangannya refleks meraih ponsel, dan ia terbelalak melihat deretan panggilan tak terjawab dari Levin, juga beberapa pesan singkat yang isinya nyaris sama:

> “Kamu di mana?”

“Aku kangen.”

“Selesai meeting belum?”

Dengan cepat Jingga menekan tombol panggil.

“Halo, kenapa? Ada apa?” tanyanya, setengah khawatir.

Suara Levin terdengar langsung, tanpa jeda.

“Kamu udah selesai kah? Aku kangen banget sama kamu. Kamu di mana? Aku… nunggu kamu di ruang kerja kamu.”

Jingga terlonjak di kursinya. “Apa?! Kamu ada di kantor aku?” nada suaranya campur aduk antara kaget dan tak percaya.

“Iya. Sayang aku menunggumu di kantormu.”

Levin menjawab santai, seolah hal itu lumrah.

Jingga menghela napas, lalu tersenyum kecil.

“Baiklah, aku ke sana sekarang.”

Begitu sampai di depan ruangannya, Laras sekretaris pribadinya—langsung menyambut dengan raut penuh arti.

“Maaf, Bu… Tuan Levin sudah ada di dalam sejak tadi siang, menunggu Ibu.”

Jingga sempat menepuk dahinya pelan sambil terkekeh kecil.

“Oh iya? Oke, Laras. Terima kasih.”

Dengan langkah setengah tergesa, ia mendorong pintu ruangannya. Dan benar saja, di sana Levin duduk santai di sofa, terlihat seperti pemilik ruangan itu sendiri, Levin yang sudah menunggunya dengan senyum paling manis.

“Levin… kamu ngapain sih tiba-tiba ada di sini?” tanyanya sambil menaruh tas di meja.

Levin langsung menghampiri, meraih tangannya.

“Aku kangen… terlalu kangen malah.” Suaranya dibuat lembut, manja sekali.

Jingga terdiam sebentar, lalu tersenyum tipis.

“Sampai rela duduk di ruanganku berjam-jam? Kamu ini bener-bener…”

“Bener-bener jatuh cinta sama kamu,”

potong Levin cepat, menatapnya lekat-lekat.

“Dan aku nggak peduli orang mau bilang apa. Selama bisa dekat sama kamu, aku bahagia.”

Senyum Jingga mengembang, wajahnya memerah.

“Kamu selalu tahu caranya bikin aku nggak bisa marah, ya.”

Levin memiringkan kepala, pura-pura polos.

“Emang kamu mau marah sama tunanganmu sendiri?”

“Enggak sih…” jawab Jingga akhirnya, lalu menggenggam balik tangan Levin dengan lembut.

“Aku juga kangen kamu, Vin. Jadi makasih udah datang.”

Mata Levin berbinar bahagia, ia seperti anak kecil yang baru saja diberi hadiah.

“Beneran? Kamu kangen aku juga?”

Jingga tertawa pelan.

“Iya, aku kangen. Cuma aku lebih pintar menyembunyikannya, beda sama kamu yang langsung heboh satu kantor.”

Levin mendesah dramatis.

" nggak apa-apa, yang penting aku bisa lihat kamu sekarang.”

Jingga tersenyum manis, lalu meraih pipi Levin dengan satu tangan, mengusapnya lembut.

“Kamu ini ya… manja banget. Tapi aku suka. Jangan berubah, ya.”

Levin membeku sejenak, lalu tersenyum lebar, hatinya jelas berbunga-bunga.

“Kalau kamu udah ngomong gitu, aku malah mau tambah manja lagi tiap hari.”

Jingga hanya menggeleng, tertawa kecil, tapi jelas dalam hatinya ia pun luluh.

Tak lama merekapun memutuskan untuk pulang. Sepanjang perjalanan, tangan Levin tak pernah lepas dari genggaman Jingga, seolah takut kehilangan.

Begitu sampai di depan rumah Jingga, ia menoleh dengan senyum yang tak pernah pudar.

“Terima kasih ya… kamu sudah rela menungguku, bahkan belum sempat istirahat.”

Levin menggeleng pelan, suaranya lembut. “Sama-sama, sayang. Kamu istirahatlah… pasti capek banget hari ini.”

Saat Jingga hendak turun, Levin tiba-tiba menyodorkan bibirnya, mengisyaratkan sesuatu dengan manja.

Jingga hanya bisa tertawa kecil, lalu mencondongkan tubuh dan mengecup bibirnya singkat.

Namun Levin langsung membuka mata dengan ekspresi tak puas. “Lagi…”

Jingga tersenyum geli, lalu mengecupnya sekali lagi.

“Lagi…” Levin masih memelas, seperti anak kecil tak pernah kenyang permen.

Jingga akhirnya memukul ringan dada Levin, pura-pura kesal.

“Abisnya kamu bikin candu, Ji…” gumam Levin setengah manja, lalu tanpa menunggu, ia menarik Jingga dan menciumnya sekali lagi, lebih dalam dari sebelumnya.

Jingga terkejut, tapi akhirnya membalas. Senyum mereka menyatu di antara ciuman yang hangat itu.

Saat berpisah, Jingga menggeleng-geleng dengan pipi memerah.

“Dasar, Vin… kalau begini, kamu nggak akan bisa lepas dariku.”

Levin terkekeh, matanya berbinar. “Memang itu yang aku mau.”

1
csgym
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!