NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Omongan Orang

Sebelum pulang ke rumah Engkong, Cik Anna membawa Karina mencari hadiah.

"Orang tuaku tidak kekurangan apa pun," katanya. "Jadi jangan membeli yang paling mahal. Pilih yang menunjukkan kamu memperhatikan mereka."

Mereka berjalan di deretan toko barang antik dan desain premium. Josie menyusul setelah menyelesaikan pekerjaan rias di studio dekat sana. Begitu melihat Cik Anna, ia hampir salah memanggilnya kakak perempuan Nathan.

"Panggil aku Cik Anna," kata Anna. "Kamu teman Karina, berarti kamu juga boleh ikut memilih."

Untuk Engkong Willem, Karina menemukan tempat kuas dari kayu tua dengan ukiran awan. Penjual menjelaskan asal, kondisi, dan cara perawatannya. Karina meminta sertifikat barang serta kuitansi, lalu memilih kotak kain sederhana, bukan kemasan berlapis emas yang disarankan toko.

"Engkong suka kaligrafi," kata Cik Anna. "Pilihanmu tepat."

Mereka lalu berhenti di sebuah toko bunga. Karina tidak ingin hanya membeli buket jadi untuk Popo Meilin. Ia meminta diajari menyusun rangkaian berisi daun aspidistra, monstera kecil, anyelir merah muda, dan bunga putih yang tahan lama.

Florist menunjukkan cara memotong batang miring dan mengikat dasar rangkaian. Cik Anna mengoreksi keseimbangan warna dengan mata seorang desainer. Josie memotret prosesnya untuk catatan Metamorfosa.

"Konten tentang hadiah yang punya makna," kata Karina sambil menulis ide. "Bukan daftar barang mahal. Bisa dikaitkan dengan cara perempuan membangun hubungan lintas generasi."

"Tambah video singkat," usul Josie. "Orang suka melihat proses dari bahan biasa menjadi cantik."

Cik Anna memilih pita hijau tua. "Dan jangan membuat semua desain terlalu manis. Perempuan dewasa tidak selalu harus diberi warna merah muda."

Karina mencatatnya. Satu sore bersama Cik Anna memberinya lebih banyak ide visual daripada rapat sebulan di kantor lama.

Ponsel Josie terus bergetar. Akhirnya ia menarik Karina ke sudut toko.

"Ada sesuatu yang perlu kamu lihat," katanya.

Grup keluarga besar Wijaya sedang ramai. Seorang kerabat Bandung mengirim tangkapan layar foto Karina dan Nathan di depan rumah sakit. Wajah Karina tidak terlalu jelas, tetapi usia mereka tampak berbeda.

Pesan di bawahnya lebih tajam.

Janda baru cerai sudah nikah lagi dengan brondong.

Pasti mengejar harta keluarga laki-laki.

Tidak malu, beda sepuluh tahun.

Di media sosial lokal, akun gosip kecil juga mengambil potongan video keributan Mama Kusnadi. Mereka menyebut Karina perempuan yang meninggalkan suami demi mahasiswa kaya. Belum menjadi berita besar, tetapi komentar bertambah.

Karina membaca sampai telapak tangannya dingin.

"Jangan lanjut," kata Josie sambil mengambil ponsel.

"Mereka mengenal keluargaku."

"Mereka mengenal versi cerita yang memberi mereka hiburan."

Kata janda menempel seperti cap di dahi. Ketika Andri berselingkuh, orang bertanya apa yang kurang dari Karina. Ketika ia menikah lagi, orang bertanya harta apa yang diincarnya. Laki-laki dalam cerita selalu diberi keinginan; perempuan diberi kesalahan.

Cik Anna mendekat setelah melihat perubahan wajahnya. Ia membaca dua pesan, lalu mengembalikan ponsel.

"Aku bisa meminta pengacara mengirim peringatan," katanya.

"Kalau semua kerabat diberi surat, masalahnya makin besar."

"Benar. Tapi diam dan menerima juga berbeda. Pilih mana yang penting untuk dilawan."

Karina menatap rangkaian bunga yang belum selesai. Tiba-tiba hadiah itu tampak seperti ujian lain. Bagaimana jika Engkong dan Popo juga melihatnya sebagai janda yang datang membawa perut hamil untuk mengejar keluarga kaya?

Josie menelepon Nathan tanpa meminta izin. "Istrimu sedang membaca komentar bodoh. Lakukan sesuatu."

Nathan meminta panggilan video. Begitu wajahnya muncul, Karina berusaha tersenyum.

"Aku baik-baik saja."

"Kamu selalu berkata begitu saat tidak baik."

"Orang menganggap aku mengejar hartamu. Mereka bahkan belum tahu seberapa kaya keluargamu."

"Biarkan mereka bicara. Kamu istriku, titik."

"Mudah bagimu. Kamu disebut beruntung mendapatkan perempuan dewasa. Aku disebut janda tidak tahu malu."

Nathan diam sesaat. "Benar, itu tidak adil. Aku tidak akan menyuruhmu sekadar mengabaikan. Kirim semua akun yang menyebar fitnah ke pengacara. Kritik tidak perlu dibalas, kebohongan harus dicatat."

Ia lalu menatap Josie di layar. "Dan kalau Metamorfosa butuh artikel pertama, tulis tentang janda yang membangun hidup lagi. Jangan sembunyikan topiknya hanya supaya orang seperti mereka nyaman."

Josie mengangkat ibu jari. "Nah, untuk sekali ini aku setuju dengan suami bocahmu."

"Aku bukan bocah."

"Buktikan dengan lulus kuliah."

Karina akhirnya tertawa. Rasa sakitnya belum hilang, tetapi tidak lagi membuat punggungnya membungkuk.

Cik Anna menyerahkan gunting bunga. "Selesaikan rangkaianmu. Kalau Popo menyukainya, omongan satu kota tidak punya nilai. Kalau Popo tidak suka, dia akan mengajarimu sampai benar. Itu lebih berguna daripada komentar anonim."

Sambil Karina bekerja, Cik Anna bercerita bahwa dulu orang juga membicarakannya sebagai gadis sembilan belas tahun yang pulang membawa bayi tanpa suami di sampingnya. Ada undangan yang berhenti datang, ibu-ibu yang berbisik di acara keluarga, dan kenalan yang bertanya apakah Hartawan akan mengirimnya ke luar negeri lagi agar aib tidak terlihat.

"Aku sempat percaya mereka," katanya. "Aku mengira Nathan akan tumbuh sambil menanggung malu yang kubuat."

"Apa yang membuat Cik berubah?"

"Popo menyuruhku memilih. Menjadi hidup yang mereka gosipkan, atau membangun hidup yang membuat gosip itu tidak relevan." Cik Anna merapikan satu daun. "Aku belajar desain, mendirikan House of AN, dan membesarkan anakku. Orang-orang yang dulu paling keras sekarang berebut duduk di baris depan peragaan busanaku."

Josie bersiul pelan. "Itu cerita sampul yang sempurna."

"Belum. Metamorfosa harus punya pembaca sebelum mendapat cerita eksklusifku."

"Berarti Cik bersedia nanti?" tanya Karina.

"Aku sedang memberimu target bisnis."

Untuk pertama kali, Karina melihat gosip bukan hanya sebagai serangan, melainkan bukti bahwa banyak perempuan memerlukan bahasa untuk menolak cap yang ditempelkan orang lain. Metamorfosa dapat menjadi tempat itu, dimulai dari pengalaman yang paling dekat dengannya sendiri.

Karina menyelesaikan susunan dengan tangan lebih mantap. Ia menambahkan kartu bertuliskan doa kesehatan dan umur panjang, lalu memotret hasilnya untuk arsip ide.

Di buku kerja Metamorfosa, ia menulis judul calon artikel: Janda Bukan Perempuan yang Selesai.

Mereka kembali ke Sky Palace menjelang sore. Karina mengganti pakaian, membungkus hadiah Engkong, dan menaruh bunga dalam kotak pengaman. Nathan pulang dari kampus lebih awal untuk menjemput.

Ia memeriksa wajah Karina. "Masih memikirkan komentar itu?"

"Sedikit. Tapi mungkin mereka memberiku materi kampanye."

"Begitu lebih mirip istriku."

Nathan membantu memasang gelang di pergelangan tangannya. Sentuhannya singkat, tetapi tatapannya terlalu lama.

"Setelah kita bertemu Engkong," katanya, "ada sesuatu yang harus kujelaskan tentang diriku dan keluargaku."

Karina menatapnya melalui cermin. "Rahasia lagi?"

"Bukan rahasia kecil."

"Kenapa tidak sekarang?"

Nathan mengambil kotak hadiah. "Karena setelah mendengarnya, kamu mungkin ingin menilai ulang semua yang kamu kira sudah kamu ketahui tentangku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!