NovelToon NovelToon
Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Akademi Sihir
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Benhard Ayub Simanjuntak

Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.

Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].

Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!

Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Bayi Archmage di Desa Sampah

_10 Tahun Setelah Runtuhnya Menara Hitam_

*Desa Oren - Kerajaan Perbatasan Barat*

Desa kecil. 200 kepala keluarga.

Mata pencaharian: bertani dan jadi umpan monster.

Di desa ini ada 1 aturan:

`'Yang lemah tidak punya hak hidup.'`

Dan di tengah desa, di gubuk paling reyot, seorang anak laki-laki berumur 10 tahun terbangun dengan teriakan.

"APIII!!!"

Namanya Kael.

Orang tua: Mati.

Sihir: Tidak ada.

Status: Sampah Desa.

*Pagi Hari Neraka*

"Kael! Bangun kau anak tidak berguna!"

Teriakan itu datang dari luar. Ibu tiri.

Kael membuka mata. Keringat dingin. Dadanya sesak.

Setiap malam sama. Dia mimpi terbakar. Mimpi ada menara hitam. Mimpi ada suara: "Anakku..."

Tapi pas bangun... dia cuma anak yang dipukulin.

Kael keluar dari gubuk. Baju tambal. Perut kosong 2 hari.

Di halaman, ada 5 anak lain. Anak kepala desa.

Pemimpinnya: Riko. Umur 12. Sudah bisa sihir api level 1.

"Woi sampah!" Riko melempar batu. "Hari ini upeti. Kasih kami makan siangmu."

Kael tidak punya makan siang.

"Kamu tuli?!" Riko menendang perut Kael.

Kael meringkuk. Dia tidak melawan. Dulu pernah melawan. Tulangnya patah 3.

"Tolong..." Bisik Kael.

"Tolong? Siapa yang mau nolong sampah?"

_DUAR_

Tepat saat tinju Riko mau menghantam wajah Kael...

Tanah di bawah kaki Riko meleleh.

*Kebakaran Pertama*

Semua orang terdiam.

Dari tubuh Kael keluar asap hitam. Tipis. Panas.

"Apa... apa itu?" Bisik salah satu anak.

Kael memegangi kepalanya. Sakit. Seperti ada sesuatu di dalam kepalanya mau keluar.

"BERHENTI..."

_WOOSH_

Ledakan api kecil. Radius 2 meter.

Riko terpental. Bajunya terbakar.

Orang dewasa langsung datang. Kepala desa, Tuan Borg.

"Dasar anak terkutuk!" Tuan Borg menampar Kael. "Kau hampir membunuh anakku!"

Kael jatuh. Bibirnya berdarah. Tapi matanya... matanya merah.

"Jangan... sentuh... aku..."

*Malam di Gubuk*

Kael dikurung. Tidak dikasih makan.

Dia duduk di pojok. Memegangi dadanya.

Di dadanya, ada bekas luka. Bentuknya seperti simbol. Sudah ada sejak dia bayi.

Tiba-tiba simbol itu panas.

[Notifikasi Sistem - ERROR]

[Archmage Terdeteksi]

[Status: Segel 99%]

[Ingatan: Terkunci]

[Peringatan: Jangan gunakan sihir sebelum level 10]

Kael kaget. "Apa... suara apa itu?"

Dia tidak tahu. Dia tidak pernah sekolah sihir. Karena "sampah tidak boleh sekolah".

Tiba-tiba atap gubuknya terbakar.

Dari luar terdengar teriakan: "GUBUKNYA KEBAKAR! ANAK ITU PENYIHIR IBLIS!"

Warga desa datang bawa obor dan tombak.

50 orang. Mengepung gubuk.

"KELUAR KAU MONSTER!" Teriak Tuan Borg.

Kael ketakutan. Dia mundur.

"Jangan... jangan dekati aku..."

Tapi mereka terus maju.

Sampai salah satu obor menyentuh Kael.

Rasa sakit. Amarah. Kenangan yang tidak dia mengerti.

_BOOOOOOM_

*1 Desa Terbakar*

Api hitam meledak dari tubuh Kael. Radius 100 meter.

Gubuk-gubuk langsung jadi abu.

Tombak-tombak meleleh.

Tuan Borg berteriak dan berguling di tanah.

Tapi anehnya... Kael tidak terbakar.

Api itu seperti melindunginya.

15 menit. Seluruh Desa Oren jadi lautan api.

Ketika api padam, hanya Kael yang berdiri di tengah.

Dan di langit... seekor burung api kecil menatapnya dari jauh. Lalu menghilang.

Kael pingsan.

*3 Hari Kemudian - Hutan Perbatasan*

Kael terbangun di bawah pohon.

Tubuhnya tidak luka. Bajunya utuh.

Tapi di kejauhan... Desa Oren sudah jadi padang abu.

"Apa... apa yang kulakukan..."

Dia lari. Menangis.

"Aku monster... aku monster..."

Dia lari 1 hari 1 malam. Sampai ke tepi sungai.

Di sana dia melihat bayangannya.

Anak laki-laki 10 tahun. Rambut hitam. Mata... mata merah.

Tiba-tiba air sungai bergejolak.

Dari dalam air muncul bayangan wanita. Transparan.

"Elara..." Kael tidak tahu kenapa dia menyebut nama itu.

Bayangan itu tersenyum. Menyentuh pipi Kael. Lalu menghilang.

Kael pingsan lagi.

*Pertemuan Takdir*

Ketika Kael bangun, ada 2 orang di depannya.

Wanita penyembuh dengan jubah biru. Dan goblin besar bertombak.

"Kau akhirnya bangun." Kata wanita itu. Suaranya lembut. "Namaku Luna. Ini Grom."

Kael mundur. "Jangan... jangan bunuh aku..."

Luna kaget. "Bunuh? Kenapa kami mau membunuhmu?"

"Karena... karena aku membakar desa..."

Grom mendengus. Dia mendekat. Mengendus Kael.

Tiba-tiba mata Grom melebar. "Bau... bau Tuan..."

Luna juga merasakan. Dia menatap simbol di dada Kael.

"Tidak mungkin..." Bisik Luna. Air matanya jatuh. "Kael?"

Kael menggeleng. "Aku bukan Kael. Aku... aku tidak ingat siapa-siapa."

Luna langsung memeluk Kael. Erat.

"Kau Kael. Kau hidup. Kau benar-benar hidup."

Kael bingung. "Lepas... siapa kau?"

Grom duduk di depan Kael. "Tuan... lupa kami?"

*Latihan di Hutan*

7 hari mereka tinggal di hutan.

Luna menjelaskan semuanya. Tentang Sang Tuan. Tentang pengorbanan. Tentang burung api.

Kael hanya diam. Dia tidak percaya.

"Sihir tidak muncul dari kosong." Kata Luna. "Coba rasakan."

Dia menuntun tangan Kael.

"Tarik napas. Bayangkan api di dalam dadamu."

Kael mencoba.

_FUSHH_

Sebuah bola api kecil muncul di telapak tangannya. Lalu padam.

Kael kaget. "Aku... aku bisa?"

"Ya." Luna tersenyum. "Karena kau Archmage."

[Notifikasi Sistem]

[Segel Terbuka: 5%]

[Level: 1 -> 3]

[Skill: Api Pemula Lv.1]

*Masalah Baru*

Hari ke 8.

3 penyihir berjubah hitam datang. Dada mereka ada lambang: Mata dengan 12 garis.

"Dewan 12 Penyihir." Bisik Luna. "Mereka mencarimu."

Pemimpinnya melangkah maju. "Anak itu. Serahkan. Dia bahaya kelas S."

Kael berdiri di depan Luna dan Grom. Insting.

"Aku tidak akan menyerahkan siapa-siapa."

Penyihir itu tertawa. "Anak level 3? Melawan kami?"

Pertarungan 10 detik.

Kael kalah. Dipukul sampai muntah darah.

Tepat saat pedang mau menebas leher Kael...

_RAAAR_

Dari langit turun burung api raksasa. Membakar 3 penyihir itu jadi abu.

Burung itu menatap Kael. Lalu menghilang.

Hening.

Luna memeluk Kael yang terluka. "Kau lihat? Dunia luar tidak aman untukmu."

Kael batuk darah. "Lalu... kita mau kemana?"

Grom mengangkat Kael ke bahunya. "Ke tempat aman. Ke Guild."

Luna mengangguk. "Kita harus melatihmu. Sebelum Dewan 12 menemukanmu lagi."

Kael menatap ke langit. Bulan malam ini normal. Tidak merah.

Tapi di dalam dadanya... api itu berdenyut lagi.

Perjalanan baru dimulai.

[Notifikasi Sistem]

[Quest Baru: Bertahan Hidup]

[Tujuan: Mencapai Guild Luminar]

[Musuh: Dewan 12 Penyihir]

[Catatan: Ingatan akan kembali saat dalam bahaya]

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!