NovelToon NovelToon
Aversion To You

Aversion To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Dark Romance / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.

Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.

Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

011

Keheningan di antara mereka sempat membeku selama beberapa detik yang menyiksa. Aurora masih berdiri mematung dengan telapak tangan yang mengambang di udara, menatap Braxley dengan raut bingung sekaligus terluka atas pertanyaan yang hampir saja meluncur dari bibir pria itu.

Namun, Braxley bukanlah pria mentah yang membiarkan emosi gilanya menghancurkan momen yang baru saja membaik.

Sebagai seorang Desmon, tingkat pengendalian dirinya—kesabarannya yang luar biasa tajam—bekerja secepat kilat.

Hanya dalam satu helaan napas panjang, Braxley menelan bulat-bulat seluruh racun cemburu dan kecurigaan liar yang tadi membakar otaknya. Ia mengubur rapat-rapat kejijikan absurd itu di dalam tanah terdalam di jiwanya.

Pria itu memejamkan mata sejenak. Ketika manik mata elangnya kembali terbuka, kilatan merah penuh kekacauan itu telah menghilang sepenuhnya, berganti menjadi binar hangat dan tatapan protektif yang begitu tebal.

Braxley melangkah maju, memangkas jarak yang sempat ia ciptakan. Tanpa ragu, ia meraih jemari Aurora yang mengambang, membelai punggung tangannya yang lembut dengan ibu jarinya, lalu mengecupnya singkat.

"Abaikan pertanyaanku tadi, Sayang," bisik Braxley, suara perkasanya kembali tenang dan mantap, menutupi sisa mual yang sebenarnya masih bergetar tipis di dasar perutnya. "Aku hanya terlalu kelelahan akibat pukulan Daddy. Kepala dan perutku mendadak berputar karena syok."

Aurora menatap Braxley menelisik, mencoba mencari kebohongan di mata pria itu. Namun, Braxley memasang topeng ketenangan sempurna—sebuah bukti betapa tidak terbatasnya tingkat kesabaran dan daya tahannya jika itu menyangkut kenyamanan Aurora.

"Kau yakin?" tanya Aurora, nada suaranya perlahan melunak meski ketegangan belum sepenuhnya menguap dari bahunya. "Kau benar-benar membuatku takut, Axley. Aku pikir kau terkena infeksi serius."

"Aku tidak apa-apa. Obat paling ampuh untukku sudah berdiri tepat di depanku," sahut Braxley santai. Ia menyunggingkan senyum tipis di bibirnya yang masih memerah, secara lihai mengalihkan seluruh atmosfer berat yang sempat menggantung di antara mereka.

Pria itu kemudian merangkul bahu Aurora dengan begitu alami, membimbing wanita itu berjalan kembali mendekati boks bayi transparan di dekat ranjang utama.

Di dalam boks berbantal kain sutra putih itu, Draco tampak mulai terbangun.

Bayi mungil berusia belum genap dua bulan itu tidak lagi menangis atau merintih. Panas tubuhnya yang semalam memuncak kini sudah sepenuhnya reda berkat penanganan tim medis terbaik kepercayaan dinasti Desmon.

Kaki dan tangan mungil Draco menendang-nendang udara dengan lincah.

Jemari kakinya melengkung gemas, sementara kedua tangannya mengepal kecil di depan dada. Meski pandangan matanya belum sepenuhnya fokus—ciri khas bayi berusia di bawah dua bulan yang pandangannya masih kabur dan hanya bisa merekam siluet bayangan—matanya yang bulat besar memandang ke arah dua sosok dewasa yang membungkuk di atas boksnya.

"Lihat itu..." bisik Aurora, matanya seketika berbinar terang. Seluruh ketegangan dari konflik masa lalu dan ancaman Jonathan Carser menguap begitu saja saat ia melihat pergerakan lincah putra kecilnya. "Dia sudah tidak panas lagi, Axley. Lihat bagaimana kaki kecilnya menendang-nendang."

Braxley ikut membungkukkan tubuhnya yang tegap. Pandangan mata sang taipan yang biasanya sanggup membuat para pebisnis kelas atas berlutut gemetar kini berubah menjadi begitu lembut, dipenuhi rasa kagum dan kehangatan yang tak terukur. Ia mengulurkan jari telunjuknya yang tegap ke dalam boks.

Secara refleks, jemari kecil Draco yang menggerayangi udara menyentuh jari telunjuk Braxley, lalu menggenggamnya erat-erat dengan kekuatan bayi yang menggemaskan.

Deg.

Senyuman mengembang sempurna di wajah tegap Braxley. Sebuah tawa renyah, tulus, dan teramat membahagiakan lolos dari tenggorokan pria itu. "Dia menggenggam jariku, Aurora... Lihat, kebiasaan menendangnya ini sangat mirip denganku saat aku berlatih kickboxing."

Aurora tertawa kecil, suara tawa yang begitu dirindukan Braxley selama ini. "Dia baru lima minggu, Axley. Mana ada bayi lima minggu yang tahu kickboxing? Kau ini ada-ada saja."

"Kenapa tidak bisa?" Braxley menaikkan sebelah alisnya, berpaling menatap Aurora yang berdiri amat dekat di sampingnya. "Dia anakku. Darah Desmon mengalir murni di tubuhnya. Jangankan menendang lincah seperti ini, kelak dia pasti akan mewarisi kepintaran dan ketampananku."

"Ketampananmu?" Aurora mendelik gemas, menepuk pelan bahu tegap Braxley. "Percaya diri sekali kau. Dia mirip denganku! Mata dan bentuk bibirnya jelas-jelas meniru aku ibunya."

Braxley berpaling sepenuhnya menatap Aurora.

Sorot matanya yang semula fokus pada Draco kini terkunci penuh pada wajah cantik wanita di depannya. Cahaya lampu ruangan yang temaram memantul indah di manik mata Aurora, menciptakan pemandangan yang membuat dada Braxley bergemuruh oleh rasa bucin yang tiada tara.

"Hm, kau benar," bisik Braxley dengan nada merayu yang mulai keluar. "Bentuk bibirnya memang persis seperti milikmu. Tapi ketahuilah, Sayang... bentuk bibir indah itu tidak akan bertahan lama jika hanya mewarisi genmu. Dia butuh bimbingan dariku untuk tahu betapa bergunanya bentuk bibir seperti itu."

Aurora mengerutkan dahinya bingung. "Bimbingan apa maksudmu?"

Braxley memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa inci. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman menggoda yang tengil, matanya berkilat penuh niat jahat yang menggemaskan.

"Bimbingan untuk memanjakan ibunya, tentu saja," bisik Braxley santai, menaik-turunkan alisnya dengan gerakan menggoda. "Atau... bimbingan tentang bagaimana cara membuat adik untuknya dalam waktu dekat? Bagaimana menurutmu, Mommy? Bukankah Draco terlihat kesepian hanya menendang udara sendirian di boks itu?"

Bugh!

Sebuah pukulan ringan namun telak mendarat di dada bidang Braxley. Aurora membelalakkan matanya, wajahnya seketika memerah padam sampai ke ujung telinga akibat ucapan mesum pria di hadapannya itu.

"Axley! Bicara apa kau ini?!" seru Aurora setengah berbisik, takut suaranya mengagetkan Draco. "Anakmu baru saja sembuh dari demam tinggi! Kau ini benar-benar tidak punya rasa bersalah sama sekali ya?!"

Braxley justru tertawa lepas. Suara tawanya yang berat bergema halus di ruangan VIP itu. Ia sama sekali tidak meringis mendapat pukulan dari Aurora; sebaliknya, ia menikmati setiap reaksi gundah dan menggemaskan dari wanita yang sangat dicintainya itu.

Dengan gerakan cepat dan protektif, tangan Braxley melingkar di pinggang Aurora, menarik tubuh wanita itu mendekat hingga menempel pada dada bidangnya.

"Aduh, sakit sekali, Mommy," goda Braxley pura-pura meringis, menempelkan dagunya di atas bahu Aurora sembari menghirup aroma harum tubuh wanita itu yang sangat memabukkan. "Pukulanmu ini jauh lebih mematikan daripada tinju Dad tadi."

"Lepas, Axley... Nanti dilihat dokter atau perawat yang masuk," gumam Aurora, berusaha mendorong dada Braxley, meski dorongannya sama sekali tidak bertenaga.

Kehangatan tubuh Braxley dan dekapannya yang begitu protektif membuat Aurora merasa aman setelah bulan-bulan penuh ketakutan yang dilaluinya.

"Biarkan saja mereka lihat," sahut Braxley tak peduli. Ia mengecup pelan leher jenjang Aurora, membuat wanita itu merinding halus. "Seluruh dunia juga harus tahu kalau kau ini milikku. Hanya milik Braxley Valerio-Desmon."

"Kau ini benar-benar gila, tahu tidak?" bisik Aurora, melirik ke arah Draco yang masih sibuk menggerakkan tangan dan kakinya di dalam boks, seolah mengamati dua orang tuanya yang sedang bertengkar manja.

"Aku memang gila, Aurora. Dan kegilaan ini hanya berlaku untukmu," balas Braxley jujur. Kesabaran dan cintanya yang luar biasa besar telah membuktikan bahwa sejauh apa pun Aurora berusaha lari, dan sebanyak apa pun rintangan yang menghalangi, pria itu akan selalu menemukan jalan untuk memeluknya kembali.

Braxley melonggarkan dekapannya sedikit, lalu membimbing tangan Aurora untuk digenggam bersama di atas telapak tangan kecil Draco.

Ketiganya kini terhubung dalam satu ikatan utuh—sebuah keluarga kecil yang akhirnya menemukan kembali poros kebahagiaannya di tengah badai yang melanda.

"Lihat dia, Aurora," bisik Braxley lembut di telinga Aurora, menatap Draco yang kini menguap kecil karena mulai mengantuk. "Mulai hari ini, tidak akan ada lagi ketakutan. Aku akan memastikan tidak ada seorang pun yang berani mengusikmu dan putra kita lagi. Kau cukup tersenyum dan berada di sampingku."

Aurora menatap genggaman tangan mereka yang menyatu di atas boks bayi. Kehangatan jemari Braxley, dekapan tegapnya, serta kehadiran sang buah hati yang kini aman di dalam perlindungan dinasti Desmon perlahan mengikis habis sisa-sisa trauma dan rasa mindernya.

Aurora menyandarkan kepalanya di dada bidang Braxley, membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa aman yang sudah begitu lama hilang.

"Terima kasih, Axley..." bisik Aurora tulus dari dasar hatinya.

Braxley tersenyum manis, mengecup puncak kepala Aurora dengan kehangatan dan rasa cinta murni yang tiada batas. Di dalam ruangan itu, di bawah naungan kasih sayang dan perlindungan mutlak seorang pria Desmon, masa depan baru yang dipenuhi kebahagiaan akhirnya resmi dimulai.

1
Astrid Kucrit
lyn,cuma kamu yang draco inginkan
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak🙏🏻
total 1 replies
Siti Kamisah Hasnul
Linzy ternyata anak Jonathan...wahhhhh...kacau ini
Rosdianah 🌷: jangan kacau dulu kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
gak nyangka udah di tahap baca ceritanya anaknya AJ brarti si braxley ini cucunya vexana sama landon 🤣
Rosdianah 🌷: hehe iya kak, kembarannya Braxton disebelah kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
jonathan harus di kasih pelajaran tambahan nih 🤣🤣🤣tuh orang gak ada takut nya
😔
Rosdianah 🌷: Wajib digoyeng 🤣🤭
total 1 replies
Ainun Mahya
nggk up nih kak?
Rosdianah 🌷: huhu besok author Double Up 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
vote meluncur🤭🤭
Rosdianah 🌷: uhuy ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
widieww....braxley tipe2 blackflag banget gak sih🤔🤣😂
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
selamat thor udah meluncur karya baru lagi🥳🥳🥳
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳
Rosdianah 🌷: Huhu🫶 Ma'aciww kak, Dan ma'aciww juga asas setiap Jejak Nya selama ini. semoga cerita nya. happy reading 🥰
total 1 replies
Hennyy exo
wow karya mu emang bagus thor
Rosdianah 🌷: ma'aciw kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!