Malam di Hutan Hitam tidak pernah ramah, tetapi bagi Dante, kegelapan malam ini adalah panggung pembantaian. Bau mesiu yang menyengat bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang menetes dari luka-lukanya. Dante, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dipuja sekaligus ditakuti sebagai bos mafia paling kejam di wilayah utara, kini terdesak. Senjata otomatisnya telah habis meriamnya, tersisa hanya satu pisau komando yang terselip di pinggangnya.
Suara langkah kaki yang berat dan makian dalam bahasa asing mendekat dari segala penjuru. Kelompok rivalnya, klan Arcanum, telah merencanakan penyergapan ini dengan sangat rapi. Puluhan tentara bayaran bergerak mengepungnya, menyisir semak-semak tebal dengan senter berdaya tinggi. Cahaya putih memotong kegelapan, mendekati titik semak tempat Dante bersembunyi.
"Dante! Keluar kau, Anjing! Tidak ada tempat bersembunyi lagi di hutan ini!" teriak suara serak yang sangat dikenalnya—Marco, mantan tangan kanannya yang berkhianat.
Dante menga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetangga Baru Di Ujung Jalan
Bulan demi bulan berlalu dengan tenang. Kompleks perumahan elit bernuansa hijau di kawasan elit kota menjadi saksi bagaimana Dante dan Aura menikmati kehidupan normal yang selama ini terasa mustahil bagi mereka.
Di perumahan besar itu, tak ada yang tahu siapa Dante sebenarnya. Tetangga di sekitar mereka hanya mengenali Dante sebagai seorang pengusaha sukses di bidang investasi dan bursa saham yang penyayang, sementara Aura dikenal sebagai istri yang anggun, ramah, dan penuh kehangatan.
Setiap sore, suasana di kediaman mereka selalu dipenuhi kedamaian. Tidak ada lagi percikan api pertempuran, suara sirine darurat, atau bau darah yang menyengat. Halaman belakang yang luas kini dihiasi taman bunga yang dirawat sendiri oleh Aura.
Dante kerap melupakan sejenak urusan klan maupun pergerakan bursa saham hanya untuk duduk di teras, menyesap kopi hitamnya sambil memperhatikan Aura yang tertawa gembira saat menyiram tanaman. Bagi Dante, tawa riang istrinya adalah pencapaian terbesar dalam hidupnya—sebuah kemenangan sejati yang jauh lebih berharga daripada kekuasaan atau tumpukan kekayaan.
"Dante, lihat! Bunga mawar yang kita tanam bulan lalu akhirnya mekar sempurna," panggil Aura dengan binar mata berbinar bahagia, memamerkan kelopak bunga merah segar di tangannya.
Dante bangkit dari duduknya, berjalan mendekat dengan langkah santai. Pria yang dulu begitu ditakuti di dunia bawah itu kini tersenyum lembut. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Aura dari belakang, mendaratkan ciuman hangat di pelipis sang istri.
"Sama indahnya dengan orang yang merawatnya," bisik Dante lembut, membuat rona merah alami terpancar di kedua pipi Aura.
Aura bersandar nyaman di dada tegap Dante, menikmati hembusan angin sore yang sejuk. Bayang-bayang masa lalu yang kelam tentang pembantaian keluarganya, rasa takut di tengah hutan belantara, serta teror dari Marco dan anak buahnya kini telah sepenuhnya menguap dari pikirannya. Rasa sakit itu telah digantikan oleh rasa aman yang kokoh di dalam dekapan sang suami.
"Terima kasih untuk kehidupan normal ini, Dante," ucap Aura tulus, menggenggam jemari Dante yang melingkar di perutnya.
"Ini baru permulaan, Aura," balas Dante penuh kepastian. "Selama aku ada, kehidupan yang tenang dan bahagia ini akan selalu menjadi milikmu."
Di dalam rumah megah di kompleks perumahan yang aman itu, Dante dan Aura benar-benar larut dalam kebahagiaan mereka. Tanpa gangguan, tanpa ancaman musuh, dan tanpa bayangan Marco, mereka melangkah mantap menjalani hari-hari yang indah sebagai sepasang suami istri yang saling mencintai.
Sore itu berjalan seperti biasa. Langit kemerahan membiaskan cahaya hangat di sepanjang jalan kompleks perumahan elit tersebut. Aura sedang berdiri di halaman depan, menyiram deretan tanaman hias di dekat pagar, sementara Dante baru saja melangkah keluar dari teras membawa dua cangkir teh hangat.
Suara derum mesin halus berkelas tinggi memecah keheningan sore. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap dengan kaca gelap melintas perlahan di jalanan depan rumah mereka.
Mobil itu tidak melaju kencang, melainkan merayap pelan seolah sang pengemudi sedang menikmati suasana kompleks. Kendaraan tersebut kemudian berbelok mulus dan berhenti tepat di pekarangan rumah megah yang terletak tepat di sebelah kediaman Dante dan Aura—rumah satu unit yang memang sudah kosong dan terpajang papan "Terjual" sejak dua minggu lalu.
Pintu pengemudi terbuka. Seorang sopir bersetelan rapi keluar dan membukakan pintu penumpang belakang.
Dari dalam mobil, melangkah keluar seorang wanita berpenampilan sangat anggun dan elegan. Ia mengenakan gaun terusan berwarna krem netral dengan kacamata hitam berbingkai emas yang menutupi sebagian wajahnya. Rambutnya disanggul rapi, memancarkan aura seorang wanita berkelas dari kalangan atas.
Wanita itu adalah Helena.
Helena tidak terburu-buru. Dengan tenang dan sangat cermat, ia berdiri di samping mobilnya, menyapu pandangan ke sekeliling halaman rumah barunya sebelum matanya sengaja bergulir perlahan ke arah pekarangan sebelah.
Di sana, ia melihat Aura yang memegang selang air, dan Dante yang berdiri kokoh di sampingnya.
Dari balik kaca mata hitamnya, tatapan Helena mengunci pada sosok Aura. Senyum tipis yang amat samar dan dingin terukir di sudut bibirnya—sebuah senyuman penuh perhitungan dari seorang predator yang berhasil memotong jarak hingga berada tepat di samping mangsanya.
Aura yang merasakan ada tetangga baru yang pindah, menghentikan aktivitasnya. Dengan keramahan alaminya, Aura melemparkan senyum hangat dari balik pagar rendah dan mengangguk pelan memberi sapaan tetangga.
Helena membalas anggukan tersebut dengan sangat sopan dan elegan, mengulas senyum manis buatan yang tampak begitu tulus dari luar.
"Siapa dia, Dante?" tanya Aura pelan saat Dante merapat di sampingnya, meletakkan salah satu cangkir teh ke tangan Aura. "Sepertinya dia pemilik baru rumah sebelah."
Dante menatap wanita di pekarangan sebelah itu dengan sorot mata yang tajam. Instingnya sebagai seorang pimpinan mafia dan pialang saham yang selalu waspada sedikit berdesir, merasakan ada sesuatu yang terlalu rapi dari kehadiran tetangga barunya. Namun, di permukaan, wanita itu tampak seperti wanita kaya biasa yang membeli properti di kompleks elit.
"Sepertinya begitu," jawab Dante datar, namun matanya tak lepas mengawasi pergerakan wanita tersebut. "Seseorang yang membeli unit dengan pembayaran tunai minggu lalu."
Helena melangkah masuk ke dalam rumah barunya diiringi oleh sopirnya yang membawa koper-koper mahal. Pintu rumah sebelah tertutup rapat.
Satu dinding tembok kini menjadi satu-satunya pemisah antara kebahagiaan Dante dan Aura dengan musuh paling berbahaya yang pernah mereka hadapi—musuh yang kini tidak lagi menyerang dari jauh, melainkan tinggal tepat di samping mereka.