Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.
"Belum," jawab Sarah tenang.
Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.
"Lalu... apa kamu punya pacar?"
"Tidak," jawab Sarah lagi.
Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.
"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."
****
Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
“Kamu mau jemput sekarang, Sar?” Tini menyamakan langkahnya dengan Sarah. Keduanya berjalan beriringan saat keluar dari ruang guru.
“Iya lah, Tin. Kalau nggak aku jemput sekarang, besok aku mau pergi ke sekolah naik apa,” jawab Sarah yang tampak terburu-buru.
“Naik angkutan umum aja, kan bisa,” celetuk Tini.
“Tin… kalau aku berangkat di jam biasa aku berangkat, yang ada aku pasti terlambat,” jawab Sarah yang secara tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Tini melipat bibirnya. “Memang pasti terlambat kalau kamu bangunnya jam segitu. Anak gadis itu bangunnya subuh, masak lalu bersihin rumah. Bukan tidur siap subuh.”
Sarah mendelik lalu melanjutkan langkahnya. “Omonganmu, Tin. Dulu sebelum nikah juga kamu seperti ini,” balas Sarah. “Udah aku buru-buru, kalau kelamaan nanti lauk yang ada di warung Bu Imin habis, aku nggak kebagian.”
“Nah ini, masakpun malas,” ejek Tini lagi.
“Udah ya ceramahnya. Besok lanjutin lagi.” Sarah berlari mengejar angkutan umum yang berhenti tepat di depan sekolahnya, meninggalkan Tini yang masih berdiri di tempatnya.
“Dasar anak perawan,” gumamnya.
Kembali ke Sarah yang sudah berada dalam angkutan umum yang sudah penuh dengan penumpangnya. Rata-rata mereka adalah murid-murid sekolah Sarah yang memilih naik angkutan umum untuk pulang ke rumah mereka.
Jika guru matematika biasanya dikenal sebagai guru ‘killer’, namun berbeda dengan Sarah. Selain dikenal guru muda yang cantik, ia juga dikenal sebagai guru yang supel, ramah, dan sering bercanda dengan murid-muridnya. Bahkan tahun lalu dirinya mendapatkan predikat sebagai guru terfavorit di sekolah SMP Karya Bakti itu.
“Ingat, langsung pulang ke rumah. Jangan mampir ke warnet dulu!” tegur Sarah pada murid-muridnya.
“Tenang, Bu. Nggak bakalan ke warnet kitanya. Uang jajan kita udah habis,” jawab salah satu murid laki-laki.
“Nggak ke warnet, tapi ke rental PS,” delik Sarah.
“Yaah… ketahuan…” jawab mereka kompak.
Sarah menghela napas melihat kelakuan mereka.
“Boleh, tapi jangan lama-lama. Jangan sampai sore. Besok masih sekolah,” pesan Sarah lagi.
“Siap, Bu Sarah,” jawab mereka kompak.
Sarah tertawa melihat tingkah laku mereka. Ia tidak akan terlalu mengekang anak muridnya. Mereka butuh namanya refreshing setelah belajar sejak pagi hingga siang. Namun mereka harus tetap tahu batasannya.
“Kiri, Bang,” teriak Sarah saat angkutan umumnya melewati kantor polisi besar yang dimaksud oleh petugas tadi pagi.
Sarah yang duduk tepat di belakang sang sopir, langsung memberikan uangnya dari belakang.
“Ngapain ke kantor polisi, Bu” tanya salah satu murid laki-laki.
“Ada urusan sebentar,” jawab Sarah sekenanya. Tidak mungkin dirinya jujur jika mau mengambil motor yang kena razia. Bisa malu dia, pikirnya.
“Mau ketemu pacarnya ya, Bu Sarah,” celetuk murid yang lain yang langsung membuat seisi mobil berteriak histeris dan menggoda Sarah.
“Nggak ada yang pacaran. Ibu punya urusan disini,” jawabnya. “Udah kalian langsung pulang.” Sarah segera turun dari angkutan lalu berjalan masuk ke dalam area kantor polisi itu.
Ini adalah pertama kalinya Sarah menginjakkan kakinya di kantor polisi, membuatnya bingung harus kemana dan menemui siapa. Polisi yang mendatanya tadi tidak mengatakan dengan jelas dia harus ke bagian apa.
“Ini harus kemana,” gumamnya.
Tidak mau bingung terlalu lama, Sarah akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada seorang polisi yang kira-kira berumur tiga puluhan.
“Maaf, Pak numpang tanya. Kalau mau ambil motor yang kena razia dimana ya?”
“Oh, ke belakang, Mbak. Belok kiri ini, lalu terus ke belakang. Nanti di belakang itu ruangannya. Masuk aja ke dalam,” jawab polisi itu.
Pandangan Sarah mengikuti arah yang dimaksud oleh polisi itu. Setelah merasa yakin, wanita itu mengucapkan terima kasih dan bergegas melangkah menuju arah yang dimaksud.
Semakin dirinya masuk ke dalam, Sarah melihat banyak sekali motor-motor yang terparkir disana. Sepertinya motor-motor ini adalah barang sitaan dari razia balap liar, terlihat dari bentuk motor yang sudah full modifikasi maupun tinggal tulang tanpa bodi.
Dari sekian banyak motor itu, Sarah melihat motor matic merah kesayangannya yang beruntung terparkir rapi di bawah pohon yang rindang, hingga terlindungi dari teriknya matahari siang itu.
“Wih… baik ni polisinya yang markirin,” gumam Sarah sambil tersenyum.
Sarah kembali melanjutkan langkahnya ke dalam sebuah ruangan yang dimaksud oleh polisi tadi. Namun baru saja kakinya menapaki teras gedung, Sarah dikagetkan dengan sosok pria yang baru saja keluar dari dalam ruangan itu.
“Udah datang?” tanyanya dengan suara yang lembut.
“Bisa nggak sih nggak usah bikin kaget orang,” ucap Sarah dengan nada ketus. Ia bahkan menghela napas kasar.
Pria itu tertawa sambil menggeleng pelan.
“Nggak berubah dari dulu kalau ngomong sama aku pasti jutek. Terus hela napas berat. Macam punya banyak utang aja,” kelakarnya.
“Udah, nggak usah banyak cerita. Gimana caranya aku mau ambil motor?” tanya Sarah masih dengan nada ketusnya.
Pria tinggi itu menyodorkan tangannya ke depan Sarah, membuat wanita itu mengernyit dalam.
“Mau minta apa? Minta uang? Memangnya, dasar polisi nggak jujur,” ucap Sarah yang langsung mengambil dompetnya dari dalam tas.
“Siapa yang mau minta uang. Aku minta STNK nya, biar aku yang ambil ke dalam,” jawab Ardhana dengan sabar setelah dituduh sebagai polisi tidak amanah oleh wanita di depannya ini.
“Untuk apa? Nggak usah, biar aku aja yang urus sendiri. Tunjukin aja yang mana ruangannya,” tolak Sarah cepat.
“Nggak punya SIM, kan? Mana diizinkan untuk mengambil motornya. Yang ambil harus menunjukkan STNK dan SIM,” jelas Ardhana.
“Kenapa nggak bilang daritadi sih. Aku kan bisa ajak teman,” protes Sarah yang kesal karena merasa kedatangannya akan sia-sia.
“Kirain udah dikasih tahu sama polisi sebelumnya,” jawab Ardhana ringan dan tidak mau disalahkan.
Sarah menggeleng cepat, "Nggak ada."
Ardhana masih tersenyum dengan hangat. “Makanya, sini biar aku yang ambil motornya, Kak.”
...****************...
Lho lho... kok manggilnya 'Kak'? Nggak ayang mbeb manggilnya 😆😆
Jangan lupa tekan likenya dan kirim komentar kamu, ya 🥰🥰
Panas....cemburu melanda😂
kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor