Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hinaan Untuk Sang Istri
Keesokan harinya, saat Malik dan pengacaranya mendatangi rumah orang tua Anjani dengan sombong, mereka tidak menemukan Anjani yang menangis atau memohon. Mereka justru menemukan Anjani yang sedang duduk dengan tenang, didampingi oleh dua orang pengacara berjas rapi yang mengenakan pin bertuliskan Jones Group.
Malik mengerem langkahnya, wajahnya yang tadi angkuh mendadak pucat saat melihat sosok Anjani yang tampak jauh lebih berwibawa.
"Apa-apaan ini, Anjani?" tanya Malik dengan suara bergetar. "Siapa orang-orang ini?"
Anjani berdiri, tatapannya dingin dan tajam, menatap mantan suaminya dengan rasa jijik yang kini sudah tidak ia sembunyikan lagi. "Ini adalah awal dari akhir bagi kalian, Malik. Selamat datang di babak baru kehidupan kita."
Malik menoleh ke pengacaranya, namun pengacaranya hanya menunduk, tidak berani menatap mata para perwakilan Jones Group yang berdiri di belakang Anjani. Persaingan yang ia anggap remeh kini berubah menjadi ancaman nyata yang siap menelan harta dan martabatnya.
Di kejauhan, sebuah mobil sedan mewah hitam terparkir, dengan Oliver Jones yang sedang duduk di dalamnya, mengamati drama tersebut melalui kaca jendela dengan senyum tipis di wajahnya. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, Anjani Direja tidak lagi bermain sebagai korban, melainkan sebagai penentu arah takdirnya sendiri.
Anjani tahu, di balik bantuan Oliver, ia harus tetap waspada. Namun, untuk saat ini, ia sudah cukup puas melihat kepanikan di wajah Malik Wiratama. Ini adalah pembalasan yang manis, dan ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan berhenti sampai semua penghinaan yang diberikan Bu Anne dan kekejian Malik dibayar dengan tuntas.
****
Suasana di ruang tamu rumah orang tua Anjani yang sempit berubah menjadi arena pertarungan yang menyesakkan. Malik Wiratama berdiri di tengah ruangan, matanya membelalak tak percaya melihat dua pria berjas mahal yang berdiri di samping Anjani. Ia menatap Anjani dari ujung kaki ke ujung kepala, mencari sisa-sisa gadis penurut yang dulu selalu ia remehkan, namun yang ia temukan kini adalah seorang wanita dengan tatapan yang jauh lebih dingin dan tajam daripada pisau dapur mana pun.
"Anjani! Apa-apaan sandiwara ini?" Malik akhirnya memecah keheningan dengan suara yang meninggi, penuh amarah yang tersumbat. "Kau pikir dengan menyewa pengacara bayaran kau bisa menakutiku? Kau ini cuma istri yang sudah kubuang! Jangan berlagak seperti orang kaya di depan rumah gubuk orang tuamu ini! Sangat menjijikkan melihatmu berpura-pura punya kelas!"
Bu Anne, yang berdiri di belakang Malik, tertawa sinis sampai tubuhnya berguncang. Ia menyapu pandangan ke arah perabot rumah tangga yang sederhana itu dengan tatapan jijik yang luar biasa. "Lihat, Malik! Dia pikir dengan membawa dua orang asing ini dia sudah menjadi nyonya besar? Sadarlah, Anjani! Kau ini hanyalah sampah yang kami pungut dari pinggir jalan. Sekarang setelah kami buang, kau kembali lagi ke tempat sampah yang semestinya!"
Bu Anne melangkah maju, jarinya yang berhiaskan berlian menunjuk tepat ke dahi Anjani. "Kau pikir kau bisa mengancam kami? Kami keluarga konglomerat, sedangkan kau? Kau hanya menantu tidak berguna yang bahkan tidak bisa memberi cucu! Jangan berharap satu rupiah pun akan jatuh ke tanganmu setelah surat cerai itu ditandatangani!"
Anjani tetap berdiri tegak. Ia tidak berkedip, tidak pula membalas dengan teriakan. Ia justru tersenyum tipis—sebuah senyum yang membuat Malik merasa tidak nyaman. Di luar, di dalam mobil yang terparkir, Oliver Jones mengawasi semuanya melalui kamera tersembunyi yang terhubung ke ponselnya. Ia memberikan instruksi singkat kepada pengacaranya agar tetap diam, membiarkan keluarga Wiratama menunjukkan kesombongan mereka yang pada akhirnya akan menjadi bumerang.
****
Tiba-tiba, sebuah mobil sport merah berhenti di depan rumah. Dara Mitha Dahayu turun dengan langkah gemulai. Ia mengenakan gaun sutra yang sangat kontras dengan lingkungan kumuh kampung tersebut. Dara berjalan masuk tanpa diundang, seolah rumah itu adalah tempat hiburan baginya.
"Ya ampun, ada keributan apa ini?" suara Dara terdengar manja namun penuh racun. Ia langsung merangkul lengan Malik dengan sangat erat di depan mata Anjani. Dara menatap Anjani dengan tatapan penuh kemenangan, matanya menyiratkan kepuasan yang luar biasa melihat rivalnya berada dalam kondisi terpuruk.
"Sayang," Dara membelai lengan Malik dengan sengaja, memamerkan kemesraan yang vulgar di depan Anjani. "Jangan buang-buang waktumu dengan dia. Dia cuma cemburu karena dia tahu dia tidak akan pernah bisa menggantikan posisiku. Lihatlah, dia bahkan harus menyewa orang untuk berpura-pura menjadi pengacaranya hanya supaya dia merasa sedikit lebih berharga."
Dara berjalan mendekat ke arah Anjani, lalu berbisik tepat di samping telinganya. "Anjani, sweetie, akui saja. Malik tidak pernah mencintaimu. Dia merasa tertahan bersamamu selama lima tahun. Sekarang, biarkan dia hidup bahagia bersamaku. Tidakkah kau merasa kasihan pada dirimu sendiri? Berusaha menahan pria yang bahkan tidak pernah melirikmu sebagai wanita?"
Anjani merasakan puncak kemarahannya, namun ia menarik napas dalam-dalam. Ia teringat pesan Oliver: Jangan menangis. Balaslah dengan sukses yang lebih besar.
****
Anjani menatap Dara, lalu beralih ke Malik dan Bu Anne. Ia tertawa kecil, sebuah tawa yang membuat Dara mengernyitkan dahi.
"Kalian merasa menang?" Anjani mulai bicara, suaranya tenang namun bergema di ruangan sempit itu. "Malik, kau bangga dengan apa yang kau punya? Bu Anne, kau bangga dengan reputasi keluarga Wiratama? Dara, kau bangga bisa merebut suami orang?"
Anjani melangkah mendekati Malik hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter. "Kalian semua tidak sadar bahwa apa yang kalian sebut 'harta' dan 'kejayaan' itu sedang berada di ujung kehancuran. Malik, kau pikir perusahaanmu aman? Kau pikir transaksi ilegal yang kau lakukan untuk mendanai gaya hidup Dara dan keinginan ibumu itu tidak terlacak? Aku menyimpan semuanya. Bukan hanya catatan, tapi bukti fisik dan digital yang akan memastikan kalian tidak hanya jatuh miskin, tapi juga membusuk di balik jeruji besi."
****
Malik terdiam, wajahnya yang tadi merah karena amarah kini perlahan memucat. "Kau... kau cuma menggertak!"
"Coba saja," sahut salah satu pengacara Jones Group dengan suara datar namun mengintimidasi. "Gugatan balik untuk audit forensik menyeluruh atas seluruh aset Wiratama sudah kami daftarkan ke pengadilan pagi ini. Jika Anda menolak bekerja sama, kami akan melibatkan kepolisian untuk menyita semua aset perusahaan sebagai jaminan atas tuduhan penggelapan uang dan penyuapan."
Bu Anne terlonjak kaget. "Apa? Penggelapan? Fitnah! Kalian pasti memalsukan bukti!"
"Bukti tidak bisa berbohong, Bu Anne," Anjani menatap mertuanya dengan tatapan penuh belas kasihan. "Dunia memang kejam, tapi hukum—jika ada pihak yang cukup kuat untuk menegakkannya—bisa menjadi sangat adil. Dan saat ini, pihak yang membantu saya jauh lebih kuat daripada koneksi yang kau miliki."
Dara, yang tadi sangat berani memamerkan kemesraannya, kini mulai melepaskan rangkulannya dari lengan Malik. Ia menatap Malik dengan tatapan curiga. "Malik? Apa maksudnya penggelapan? Apa perusahaanmu dalam masalah?"