NovelToon NovelToon
Gadis Culun Milik Tuan Marco

Gadis Culun Milik Tuan Marco

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!

JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤

"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"

"MarcoI—itu apa?"

"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."

"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"

"Ssstttt, Cobalah... "

"Ini sakit!"

"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"

"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"

Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.

Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

"Rhea sial! Dia benar-benar mengejarku! Ini benar-benar di luar dugaan."

Apa yang dikatakan Martin benar, masalalu Marco kembali datang dan meminta maaf padanya. Berharap Marco berbaik hati lalu menerima wanita itu lagi.

"Aku tahu, kau sekarang menjadi orang kaya Marco! Aku tahu semuanya tentangmu. Kau menjadi adik seorang wanita cantik, Mauren Odessa Collins. Dan aku juga tahu, kau diam-diam menjadi dosen di Fakultas Ilmu Sains. Aku tahu semuanya tentangmu."

Itu yang dikatakan Rhea. Wanita itu benar-benar sudah tidak waras. Bagaimana bisa dia mencari tahu dengan cepat, selama dua tahun dia berselingkuh dengan seseorang yang ia kenal dan bahkan lebih terkejutnya itu dengan kakak kandung laki-laki sahabatnya sendiri si Noah.

"Gila!" grutunya

Marco mematikan data berharap agar Rhea tidak menghubunginya lagi. Kepala pria itu berdenyut.

Sial!

Memang, Marco tidak memberitahu soal dirinya menjadi dosen pada Mauren. Karena ia berniat memberitahu sang kakak nanti saja.

Brengsek! Wanita hina!. Marco yang berada di balkon kamarnya menggertakkan gigi, pria itu tidak sadar dibalik jendela sebelah kamarnya, Liora sedang memperhatikan sang paman.

Gadis itu memperhatikan bagaimana terlihat jelas wajah Marco yang begitu sangat kesal.

"Apa dia sedang marah. hmmm biarlah." gumamnya nyaris tak terdengar.

Kini Liora merasakan lengket di tubuhnya, gadis itu hendak mandi, ia melepas kacamatanya dan segera memakai jubah handuk lalu kekamar mandi.

Dari kamar mandi yang tidak kedap suara itu, terdengar suara nyanyian Liora yang memenuhi ruangan.

Marco yang awalnya masih sibuk dengan pikirannya tentang Rhea langsung mengerutkan kening.

"Astaga," gumamnya.

Suara itu bukanlah sesuatu yang bisa disebut merdu. Bahkan terdengar seperti seseorang yang bernyanyi hanya untuk mengganggu orang lain. Dan anehnya, Marco yakin Liora sepertinya sengaja melakukan itu.

Pria itu berjalan mendekati pintu pembatas kamar mereka. Ia mengetuk beberapa kali.

"Liora." panggilnya.

Tidak ada jawaban. Marco menarik napas panjang, mencoba bersabar.

"Liora, kecilkan suaramu."

Gadis itu tetap tidak mendengar. Ia masih bernyanyi dengan penuh percaya diri di balik pintu kamar mandi. Wajah Marco semakin kesal.

"Menyebalkan! "

Akhirnya ia membuka pintu pembatas yang memang tidak terkunci. Ia hanya berniat menegur keponakan angkatnya itu.

Tapi langkahnya terhenti. Pandangan Marco membeku ketika melihat bayangan siluet indah dan samar di balik kaca buram kamar mandi.

Jantungnya berdebar bukan karena marah lagi, melainkan karena terkejut melihat betapa cerobohnya Liora meninggalkan dunia luarnya dan tidak menyadari siapa pun ada di dekatnya.

Marco langsung memalingkan wajahnya.

"Liora!"

Suara tegasnya membuat nyanyian gadis itu berhenti seketika. Beberapa detik kemudian terdengar suara panik dari dalam.

"Paman Marco?"

"Tunggu, apa kau bermimpi memanggilku dengan sebutan Paman?"

"Berapa kali aku harus mengetuk pintu?" bentaknya.

Hening. Liora yang baru sadar langsung merasa malu.

"Aku tidak mendengarnya."

"Tentu saja tidak. Kau bernyanyi seperti sedang konser di tengah malam. Itu sangat berisik."

Meski nada Marco tetap dingin, Liora bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dari suaranya.

Gadis itu tersenyum kecil. "Paman Kau bisa marah."

Marco menghela napas panjang. "Kau benar-benar suka mencari masalah denganku."

Di luar jendela, lampu kota berkilauan. Kanal-kanal yang tenang memantulkan cahaya malam, berbanding terbalik dengan dua orang yang selalu saja bertengkar di dalam mansion mewah itu.

Karena ada satu orang yang entah bagaimana selalu berhasil membuat hidupnya lebih berisik dari biasanya. Liora.

Marco menutup pintu pembatas kamar Liora dengan pelan setelah memastikan gadis itu sudah berhenti bernyanyi.

Pria itu berjalan kembali ke kamarnya dengan wajah masih terlihat kesal. Namun anehnya, kekesalan itu tidak sepenuhnya karena suara nyanyian Liora.

Lebih karena ia baru menyadari sesuatu. Gadis itu benar-benar berbeda dari yang ia kira sebelumnya. Dulu ia selalu mengejeknya tanpa ampun. Tapi kini ia tahu sisi lain dari dalam diri Liora. Liora tidak takut padanya.

Tidak peduli seberapa dingin tatapannya, seberapa tajam ucapannya, gadis itu tetap saja ia membuat kesal.

"Berisik sekali," gumam Marco sambil mengusap pelipisnya.

Tapi sudut bibirnya hampir saja terangkat. Hampir. Marco segera menghapus ekspresi itu.

"Kenapa aku jadi memikirkan gadis itu?"

Ia menggelengkan kepala lalu masuk ke kamarnya.

***

Sementara itu, di kamar sebelah, Liora baru saja selesai melakukan ritual mandinya. Rambut panjangnya masih sedikit basah, dan ia mengenakan jubah handuk sambil duduk di depan cermin. Gadis itu menatap bayangannya sendiri dengan senyum kecil.

"Itu tadi sangat lucu." Liora menutup mulutnya menahan tawa. "Marco bisa marah."

Ia masih tidak percaya. Pria yang selama ini selalu mengganggunya. Pria yang selalu memanggilnya dengan sebutan menyebalkan seperti gadis kutu buku, gadis culun, atau gadis bermata empat.

Marco. Pria yang selalu terlihat percaya diri. Pria yang selalu punya jawaban untuk segala hal. Ternyata bisa kehilangan kesabarannya juga.

"Ternyata paman bukan manusia sempurna."

Liora tertawa kecil. Namun setelah beberapa detik, senyumnya berubah lembut.

Entah kenapa, melihat sisi lain Marco membuatnya merasa sedikit penasaran.

Selama ini semua orang melihat Marco sebagai pria ramah, suka narsis dan tersenyum pada semua wanita.

Tapi malam ini, Liora melihat sesuatu yang berbeda. Ada seseorang yang bisa membuat pria itu marah. Seseorang dari masa lalunya.

"Rhea?"

Liora mengulang nama wanita yang tadi tanpa sengaja ia dengar dari balik jendela. Wajahnya sedikit berubah. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia merasa tidak suka melihat Marco terlihat begitu terganggu.

Sementara di kamar sebelah, Marco berdiri di depan jendela. Pikirannya kembali pada percakapan dengan Rhea. Wanita itu datang kembali setelah dua tahun. Meminta maaf. Meminta kesempatan kedua. Seolah semua luka yang pernah ia berikan bisa hilang hanya dengan kata maaf.

"Terlambat."

Ia bukan lagi Marco yang sama. Dua tahun cukup lama untuk mengubah seseorang. Tiba-tiba suara ketukan terdengar dari pintunya.

Tok. Tok.

Marco mengernyit. "Liora?"

Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan wajah gadis itu yang sudah memakai pakaian tidur.

"Paman, aku mengira kau sudah tidur. "

"Hmmm," Marco menatapnya datar. "Apa lagi?"

Liora mengerucutkan bibir. "Tidak boleh bicara dengan paman?"

"Tidak biasanya kau mengatakan ingin berbicara kepadaku."

Liora tersenyum. "Aku hanya ingin memastikan."

"Memastikan apa?"

Gadis itu memiringkan kepala. "Paman benar-benar marah tadi."

Marco diam. Kemudian menghela napas. "Kau datang hanya untuk mengatakan itu saja?"

"Iya."

Liora tersenyum puas. "Itu pertama kalinya aku melihat paman seperti itu."

Marco menatapnya. "Kau senang melihatku kesal?"

"Sedikit."

Jawaban jujur itu membuat Marco terdiam. "Hanya kau yang berani mengatakan itu padaku."

Liora berkedip. "Hah?"

"Tidak ada orang lain yang berani menganggap lucu saat aku marah."

Liora tersenyum kecil. "Berarti aku berbeda?"

Marco langsung mengalihkan pandangan. "Jangan percaya diri."

"Padahal paman baru saja mengaku."

"Aku tidak mengakui apa pun."

Liora tertawa kecil. Dan untuk alasan yang tidak ia pahami, suara tawa itu tidak lagi terasa mengganggu bagi Marco.

Malam itu, Marco tidak memikirkan masa lalunya. Karena ada seseorang yang berhasil membuat pikirannya beralih. Liora. Si gadis bermata empat.

1
Lilyyy
HALLO GUYS, JANGAN LUPA BERIKAN ULASAN YA JIKA BERKENAN TRIMAKASIH UNTUK YANG SUDAH MAMPIR 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!