NovelToon NovelToon
Menyamar Demi Kamu

Menyamar Demi Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Idola sekolah
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Umi Nurhuda

Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.

Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.

Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.

​Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.

Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 06. Aksi Konyol & Duka

Posisi mendarat mereka terlihat jauh dari kata aman untuk dilihat. ​Tatapan Naru langsung terkunci pada wajah Nuha yang terpejam syok. Jarak mereka begitu pangkas. Sangat dekat, hingga deru napas mereka yang memburu terasa hangat saling menyapu kulit.

Saat itulah,

Detak matanya mendadak berdegup seirama dengan debar jantungnya yang kian liar. Kulit bahu putih bersih itu terekspos begitu saja di bawah temaram cahaya, menampilkan fakta bahwa gaun terusan di balik cardigan ternyata hanya ditopang oleh seutas tali spageti yang tipis.

​Butuh usaha keras bagi Naru untuk mengembalikan kesadarannya yang sempat menguap. Ia menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha mengusir ketegangan yang mendadak melumpuhkan logikanya.

​"O-- Oi, sorry!" sentaknya lirih.

Ia segera memegang kedua bahu gadis itu, membantunya bangkit berdiri.

"Daijoubu?" tanyanya.

​Tepat saat itu, kelopak mata Nuha terbuka. Netranya membulat sempurna, persis seperti seekor kucing yang tengah terancam. ​

"Aaaa!!"

​"So-- sorry,"

​Pria muda itu buru-buru menyembunyikan kedua tangannya yang mendadak gemetar setelah merasakan kelembutan bahu kecil tadi. Di balik wajahnya yang berusaha tetap datar, Naru merutuk dalam hati. Ada apa dengan detak jantungnya yang mendadak menggila tanpa kendali seperti ini?

"Aaaaa!!"

Naru melongo, "Heh?"

Tiba-tiba Nuha menjerit lagi, "Aaaaaa!!" Tanpa aba-aba, tas kain kecil di tangannya langsung dilayangkan bertubi-tubi ke arah Naru. Ingatannya kembali terbang di moment insiden tabrakan di tanggul waktu lalu.

​Bugh! Plak!

Bugh! Bugh!

"Eh, eh! Tunggu. Jangan pukul!"

Dan Nuha terus saja memukulinya. ​"Kamu lagi? Kamu siapa Penjahat?! Makhluk palsu, pergi dari sini! Aku nggak butuh hadirmu! Pergi sana! Aku nggak mau kamu ada!" amuk Nuha.

​"Aw! Stop-- aw! Wait! Aw ..." Naru meringis-ringis kewalahan, melompat-lompat kecil menghindari amukan kaki Nuha yang mengincar tulang keringnya.

​​Naraya Muha melangkah keluar dari toko bunga sambil membawa sebuket lily segar dan sekeranjang kelopak mawar merah-putih. Begitu melihat keributan di pelataran yang belum juga usai, langkahnya memburu. Ia langsung menyambar lengan adiknya.

​"Nuha! Kamu bermain-main dengan khayalanmu lagi?!" bentaknya, salah paham. Dengan gerakan protektif, ia menarik tubuh Nuha ke belakang punggung tegapnya, menyembunyikan gadis itu dari hadapan sang pemuda asing.

​"Kakak sudah bilang berapa kali, jangan mencoba menghidupkan imajinasimu! Apalagi menciptakan makhluk aneh. Itu bahaya! Paham?!"

​"Aku nggak melakukannya, Kak! Dia datang sendiri!" bela Nuha panik, wajahnya bersemu antara kesal dan salah. "Makanya aku takut, langsung kupukul aja dia terus-terusan!"

​Wajah Muha mengeras, memancarkan aura protektif seorang kakak laki-laki yang siap menghajar siapa saja. Ia melemparkan tatapan setajam silet pada pemuda asing di hadapannya.

​"Maaf atas kelakuan adik saya. Sebaiknya Anda tidak perlu menganggap ini serius," suaranya ditekan rendah namun penuh penekanan. Lalu menarik adiknya pergi dari TKP.

​Naru hanya diam, menatap bingung pada interaksi sepasang kakak-beradik yang terasa absurd di telinganya. Menciptakan makhluk? Khayalan? Apa yang mereka bicarakan?

​Gadis itu mengekor di belakang kakaknya. Namun, Nuha mendadak memutar tubuh. Ia melemparkan tatapan paling galak yang ia punya ke arah Naru. Menyipit sinis, menantang sebuah perang tak kasat mata. ​Tatapannya sempat membuat Naru mengira gadis itu akan melakukan tindakan berbahaya.

Detik berikutnya, Nuha justru mendesis pelan. "Ssshhh ... bleeehh!" Nuha menjulurkan lidahnya, mengejek habis-habisan sambil melayangkan pukulan angin ke udara. Ia menggembungkan sebelah pipinya, lalu melotot tajam sebelum akhirnya buru-buru naik ke boncengan motor kakaknya.

​Naru mendadak kesulitan menelan ludahnya sendiri melihat kelakuan ajaib itu. ​"Apa-apaan sih ... Kenapa aku lagi yang salah disini? Dasar cewek aneh!" gumamnya pelan, menatap kepergian motor matic tersebut dengan dahi berkerut dalam.

​Dari balik kaca mobil mewahnya yang perlahan melaju mengikuti motor tersebut dari jarak aman, Naru terus memperhatikan. Melihat gurat wajah Nuha dari samping membuat tatapan matanya lambat laun berubah menjadi teduh.

​Entah kenapa,

Nuha yang baru saja mengamuk galak kini terlihat murung. Tidak tampak seperti gadis culun berseragam sekolah seperti pertama bertemu, tidak ada pula teriakan kata-kata kasar. Yang tersisa hanya seorang gadis tulus yang rambut indahnya bergerak ditiup angin sore, menatap langit senja dengan binar kerinduan yang amat dalam.

​Tanpa sadar, untuk pertama kalinya, Naru berharap gadis itu tidak perlu memasang wajah galaknya lagi. Hanya dengan melihat pemandangan sesederhana itu, dendamnya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa penasaran yang mulai bergeser arah.

​Begitu mereka sampai di area pemakaman, Naru berniat turun untuk membuntuti lebih jauh, namun sang sopir segera mencegahnya.

​"Tuan, cukup sampai di sini."

​"Sebentar lagi," desis Naru tak sabar.

​"Tidak, Tuan. Ini bahaya."

Sopir itu melirik sekilas ke arah sekitar. Di sudut-sudut jalanan yang sepi, terlihat beberapa pergerakan mencurigakan dari mata-mata yang mencoba bersembunyi.

​"Ck! Baiklah," akhirnya Naru menyerah.

​Terpaksa meninggalkan rasa penasaran yang tinggi tentang siapa yang Nuha kunjungi di area pemakaman itu, Naru menggeram kesal. Ia bersedekap, mencoba meredam gejolak emosinya yang campur aduk.

Suasana pemakaman mulai diselimuti temaram senja. Bayang-bayang pohon kamboja bergoyang pelan diterpa angin, mengiringi langkah Nuha yang terasa semakin berat saat ia berjalan menyusuri jalan setapak di antara deretan nisan. Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah sudut yang begitu familier.

"Ibu," sapa Nuha lembut.

Seorang wanita paruh baya berwajah teduh menoleh. Senyum tipis yang getir menghiasi wajahnya saat menyambut kedatangan kedua anaknya. Rupanya, sejak tadi beliau telah menunggu di sana sambil mencabuti rumput liar hingga area makam suaminya tampak bersih dan rapi.

"Kami datang, Ayah," ucap Muha lirih seraya berlutut. Telapak tangannya mengusap perlahan permukaan nisan batu yang dingin.

"Nuha bawain bunga, Ayah."

Nuha ikut bersimpuh, lalu meletakkan buket bunga lily dengan hati-hati di depan pusara. Bersama sang ibu, jemari lentiknya menaburkan kelopak-kelopak mawar dari keranjang kecil, membiarkan warna merah muda itu menghiasi tanah makam yang masih lembap.

Muha kemudian memimpin doa singkat dengan khusyuk. Di bawah langit senja yang perlahan kehilangan cahayanya, ketiganya larut dalam keheningan yang dipenuhi rindu dan duka.

"Hari ini genap seratus hari sejak kepergianmu, Ayah," bisik sang ibu dengan suara bergetar. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya mengembun di pelupuk mata. "Rasanya masih sesakit ini ... tapi kami terus belajar untuk tegar. Kami sudah mengikhlaskanmu pergi."

Muha menatap pusara di hadapannya dengan sorot mata penuh tekad. "Ayah tidak perlu mengkhawatirkan kami. Ibu dan Nuha ada bersamaku. Aku akan menjaga mereka, apa pun yang terjadi. Aku tidak akan membiarkan mereka merasa sendirian."

Nuha hanya mampu menundukkan kepala. Ucapan kakaknya justru meruntuhkan benteng yang sedari tadi ia bangun.

Menyadari bahu adiknya mulai bergetar, Muha mengulurkan tangan, mengusap pelan kepalanya. Sebagai kakak laki-laki yang terpaut usia 12 tahun, Muha bukan sekadar figur saudara bagi Nuha. Dia adalah gabungan antara otoritas seorang ayah dan pelindung yang tangguh. Sejak pundaknya dipaksa menjadi tulang punggung keluarga di usia muda, gurat kedewasaan Muha terasa begitu protektif, tegas, namun menyimpan kehangatan yang menenangkan.

Sang ibu segera menggeser duduk, lalu merangkul tubuh ringkih putri bungsunya itu ke dalam pelukan hangat. Mereka bertiga saling merangkul, memeluk untuk seorang ayah yang paling mereka sayangi di atas sana.

Nuha masihlah seorang gadis labil yang sedang mencari jati diri. Di usia yang begitu muda, ia sudah dipaksa memikul luka yang bahkan sulit ditanggung oleh orang dewasa. Ayahnya meninggal bukan karena sakit ataupun kecelakaan biasa. Beliau mengakhiri hidupnya sendiri.

Penyakit skizofrenia parah yang diidap sang ayah selama bertahun-tahun telah memanipulasi fungsi otak dan meningkatkan halusinasi tanpa ampun.

Digiring oleh bayangan-bayangan mengerikan yang tercipta akibat ketidakseimbangan kimia di otaknya, sang ayah nekat menabrakkan diri dalam sebuah kecelakaan tunggal di jalan raya.

​Itulah alasan terbesar mengapa Muha sangat keras melarang adiknya tenggelam terlalu dalam pada imajinasi visualnya. Ia tidak ingin Nuha membiasakan diri menciptakan "dunia fiktif" yang lambat laun bisa dianggap nyata oleh otaknya sendiri.

Muha tahu betul, jika batasan antara fiksi dan kenyataan itu kabur, pesan-pesan halusinasi akan mulai mengambil alih kesadaran Nuha. Riwayat genetik itu seperti bom waktu yang mengerikan, Muha hanya tidak ingin Nuha berakhir di jalan gelap yang sama seperti ayah.

.

.

. Next bab 7? Rehat dulu lah 👋

1
Surya Alfian
WKWKWK "BAMBANG" gue ngakak.
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
Surya Alfian
gue kira mau dicipok ini ciwi, deg-degan woy!! 😳❤️ Kelihatan kalau dia udah mulai jatuh hati tanpa sadar.
Surya Alfian
Gue jadi pengen tahu pas Kakeknya nanti turun tangan bakal segila apa. 🍿😏
Surya Alfian
Ending-nya manis banget, asli bikin senyum. 😆💕 Waduh, fix ini mah udah masuk fase salah tingkah. 😂🌸
Surya Alfian
Scene Muha sama Nuha di meja makan tuh adem banget. 🥹☕ Kakaknya galak tapi kelihatan banget sayangnya tulus, sementara Nuha polos banget sampai bikin gue senyum-senyum sendiri. Chemistry kakak-adiknya enak dibaca.
Surya Alfian
Wkwkwk Naru ini licik level dewa.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Surya Alfian
😭📖 Doa Naru ke kakeknya kerasa tulus banget. Gue fix lanjut baca cuma buat tahu kenapa dia sampai harus minta "kebebasan". 🚀
Surya Alfian
🤔❤️ Dia perhatian banget sampai hafal detail-detail kecil tentang Nuha, tapi kalimat "cuma gue yang boleh memahami dia" itu vibes-nya agak posesif. Gue jadi penasaran dia bakal jadi green flag atau malah red flag nantinya. 👀
Surya Alfian
Dilan akhirnya kena mental. 😮‍💨👏
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
Muft Smoker
mereka lucuu kan ,, 😂😂😂😂 ,,



kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Mega Siregar
padahal sebagai seorang dokter jiwa seharusnya tahu bahwa memanjakan anak tanpa ada kasih sayang dan perhatian dan pengajaran tentang hidup dari orang tua, hanya membuat seorang anak menjadi rusak
ginevra
ketikannya.... sumpah alay banget ini dilan....
ginevra
kakeknya keterlaluan sih... nggak heran baru jadi nggak betah. kasih kelonggaran dikit lah ...
Xlyzy
sumpah keterlaluan banget, pengen tak ketuk pala nya pakek martil
Xlyzy
Jahat ih kalian jangan gitu lah aku ketuk nih kening nya kalau nakal
Filan
gimana kalau diajak pacaran sama Naru? apa dia ga mikir ke sana?
Kan dia suka sama Naru.
Miu.Nuha: iya nanti dilemanya disitu...
Nuha blm sadar kalo dia suka, dia cuma lagi seneng2nya jatuh cinta #eh
total 1 replies
Filan
btw, Muha ini emang gampang marah juga ya.
Filan
ya ampun, tidur dua hari?
Filan
'persahabatan' yang punya arti lain,
Filan
tanggung jawabnya macam apa, aslinya lu ga punya apa-apa.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!