NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:59.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Tersisih

Jena tidak tahu sejak kapan senyum di wajahnya mulai terasa melelahkan. Namun siang itu, duduk di ruang keluarga rumah Ardhana sambil melihat Michelle bercanda akrab dengan orang-orang yang selama ini sudah dianggap keluarganya sendiri berhasil membuat dadanya perlahan sesak. Dan yang paling menyakitkan, tidak ada seorang pun yang peduli pada dirinya. Seolah dirinya hanyalah patung yang duduk di sana.

"Michelle, coba lihat katalog yang kemarin Tante kirim," ujar Sifa sambil menyerahkan tablet.

Michelle langsung mendekat antusias. "Yang dress evening itu ya, Tante?"

"Iya. Menurut kamu bagus nggak?"

"Bagus sih, tapi kalau dipakai untuk charity event lebih cantik warna emerald."

"Nah iya! Tante juga mikir gitu."

Percakapan kembali mengalir hangat. Sementara Jena hanya duduk diam sambil memegang cangkir tehnya yang sejak tadi bahkan belum disentuh. Tatapannya sesekali beralih pada Jovian. Berharap, sangat berharap lelaki itu akan mengajaknya berbicara. Atau sekadar pindah duduk di dekatnya.

Namun tidak. Jovian justru sibuk membahas konsep campaign bersama Michelle. Tertawa kecil. Saling melempar komentar dan terlihat sangat nyaman.

Pemandangan itu terasa seperti pisau yang diputar perlahan di dada Jena.

Dulu, posisi itu miliknya. Perhatian itu miliknya. Tatapan hangat Jovian itu ... miliknya. Namun sekarang, semuanya terasa berubah begitu cepat sampai Jena sendiri tidak sempat memahami kapan ia mulai tersisih.

"Eh iya," ujar Michelle sambil menoleh pada Jovian. "Minggu depan kamu kosong nggak?"

"Kenapa?"

"Papa ngajak makan malam. Sekalian bahas kerja sama lanjutan."

Jena spontan menatap mereka.

Tidak ada penolakan di wajah Jovian.

"Lihat jadwal dulu," jawab lelaki itu santai.

Michelle tersenyum. "Jangan sibuk terus dong. Sekali-sekali healing."

Jovian terkekeh kecil. "Aku kan CEO, jadi ya ..." Jovian mengangkat kedua bahunya.

"Excuse me, aku juga CEO tahu," balas Michelle.

Mereka tertawa lagi.

Jena benar-benar merasa dirinya tidak seharusnya berada di sana. Ia menunduk pelan. Menahan sesuatu yang mulai menyesakkan tenggorokannya. Ia merasa kalah. Bukan oleh kecantikan Michelle.

Bukan oleh status sosialnya. Melainkan oleh kenyataan bahwa orang-orang yang dulu memilihnya ... kini perlahan mulai memilih perempuan lain.

Cahaya matahari di luar sana sudah mulai meninggi. Langit makin terang benderang. Namun suasana di hati Jena justru semakin gelap. Ia melirik jam tangan pelan lalu mencoba tersenyum. "Permisi, Tante ... aku mau pamit pulang dulu."

Seketika ruang keluarga sedikit hening.

Namun hanya sesaat.

"Oh," jawab Sifa singkat. "Hati-hati ya Jena."

Tidak ada kalimat ...

"Loh, kok pulang?"

Atau:

"Makan siang dulu, Jena."

Tidak ada.

Jena memaksakan bibirnya mengulas senyum kecil. "Iya, Tante." Ia lalu menoleh pada Jihan. "Kakak duluan ya, Jihan."

"Hmm ... iya Kak." Remaja itu bahkan tidak menoleh sedikit pun padanya, ia sibuk melihat sesuatu di tablet bersama Michelle.

Dada Jena kembali terasa nyeri. Namun ia tetap tersenyum pelan. Sampai akhirnya tatapannya beralih pada Jovian. Lelaki itu duduk santai di sofa sambil memegang ponsel. "Mas ..."

Jovian mendongak. "Mau pulang naik apa, Jen?"

"Naik taksi, Mas."

"Oke."

Hanya itu.

Tidak ada usaha menahan, tidak ada basa-basi, "Ayo aku antar."

Tidak ada tatapan khawatir seperti dulu.

Padahal dulu, bahkan jika Jena pulang sedikit malam, Jovian selalu mengantarnya sampai depan pintu apartemen.

Jovian juga pernah memarahi Jena karena pulang sendiri.

Namun sekarang, seolah keberadaan Jena tidak lagi sepenting itu.

Michelle tiba-tiba tersenyum tipis. "Hati-hati ya, Jena."

Jena mengangguk kecil. "Iya, Bu Michelle." Ia lalu berdiri sambil menggenggam tasnya erat-erat. "Mari semua." Langkahnya menuju pintu terasa sangat berat.

Begitu keluar dari rumah Ardhana, udara panas langsung menyambut wajah Jena. Cahaya matahari menyengat tubuhnya.

Jena buru-buru memesan taksi online sambil berdiri dekat gerbang. Tangannya sedikit gemetar saat mengetik. Matanya terasa panas. Namun ia terus menahan. "Jangan nangis. Jangan nangis sekarang, Jena," batinnya koyak. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan.

Beberapa menit kemudian mobil pesanannya datang. Jena langsung masuk sambil tersenyum kecil pada sopir.

Mobil mulai melaju meninggalkan rumah besar keluarga Ardhana. Dan tepat saat gerbang rumah itu perlahan menjauh dari pandangannya ... sesuatu di dalam dada Jena runtuh. Air matanya jatuh begitu saja. Sangat cepat tanpa bisa ditahan.

Jena buru-buru memalingkan wajah ke arah jendela mobil. Tangannya menutup mulut pelan agar isaknya tidak terdengar. Namun semakin ditahan, semakin sakit rasanya.

Karena baru hari ini ia benar-benar sadar, semuanya sudah berubah.

Rumah itu berubah, Mama Jovian, Jihan, dan yang paling menyakitkan ... Jovian juga ikut berubah.

Ponselnya yang sejak tadi digenggam terasa dingin di tangan. Tak ada pesan, tak ada telepon.

Jena menunduk sambil menangis diam-diam. Bayangan barusan terus berputar di kepalanya.

Michelle duduk dekat Jovian.

Michelle tertawa bersama keluarga Jovian.

Michelle diperlakukan hangat oleh orang-orang yang dulu begitu menyayanginya.

Dan dirinya?

Malah seperti orang asing. Didiamkan begitu saja.

Sopir taksi sempat melirik dari kaca depan. "Mbak tidak apa-apa?"

Jena buru-buru menghapus air matanya. "Iya Pak ... saya nggak apa-apa." Namun suaranya terdengar pecah. Ia lalu kembali menatap keluar jendela. "Pak, bisa antarkan saya ke TPU Tanah Merah?"

"Bisa, Mbak."

"Terima kasih." Jena tak jadi pulang ke apartemen. Ia mengubah tujuan menjadi ke kuburan kedua orang tuanya.

Mobil terus melaju. Hingga akhirnya sampai di depan gerbang TPU Tanah Merah.

Jena turun dari taksi setelah membayar ongkos. Ia tak langsung masuk, tapi membeli dulu sebotol air mineral dan taburan kelopak bunga serta dua buket bunga dari pedagang yang mangkal di situ. Barulah setelah itu, kakinya melangkah menuju peristirahatan

kedua orang tuanya.

Jena berjalan perlahan melewati deretan makam yang berjajar rapi di kiri dan kanan jalan setapak. Langkahnya terasa berat, seolah setiap pijakan membawa kembali kenangan yang selama ini ia coba simpan rapat di dalam hati.

Angin siang berembus pelan, menggerakkan dedaunan pohon besar yang tumbuh di sekitar area pemakaman. Suasananya sunyi. Hanya terdengar suara burung sesekali dan langkah kaki Jena yang pelan menyusuri jalan.

Matanya menyapu satu per satu nama yang terukir di batu nisan. Banyak orang yang datang ke tempat ini untuk mengenang mereka yang telah pergi. Sama sepertinya.

Namun bedanya, hari ini Jena datang bukan hanya untuk melepas rindu. Ia datang karena hatinya terlalu penuh. Karena ia tidak tahu harus menangis di hadapan siapa lagi.

Beberapa langkah kemudian, ia berhenti. Dua makam yang berdampingan itu akhirnya terlihat di hadapannya.

Ihsan dan Jasmine.

Kedua orang yang dahulu menjadi rumah paling aman untuknya.

Senyum Jena yang sejak tadi dipaksakan akhirnya benar-benar menghilang.

"Ayah ... Bunda ..." bisiknya lirih. Suara itu begitu pelan, namun langsung menghancurkan benteng yang sejak tadi ia bangun. Air mata kembali mengalir deras.

Jena berjongkok di depan makam kedua orang tuanya. Dengan tangan yang bergetar, ia meletakkan dua buket bunga di atas pusara mereka. "Jena datang." Kalimat sederhana itu keluar bersama isak yang tertahan. "Maaf ya ... Jena baru datang lagi." Ia membuka botol air mineral, menyiram perlahan permukaan makam yang sedikit berdebu, lalu menaburkan kelopak bunga dengan hati-hati. Gerakannya begitu lembut. Seolah ia takut mengganggu tidur panjang kedua orang tuanya.

Setelah selesai, Jena duduk bersimpuh di sana. Kedua tangannya menggenggam erat tas di pangkuannya. "Yah ..." suaranya bergetar. "Kalau Ayah sama Bunda masih ada ... mungkin Jena nggak akan sesakit ini." Air matanya jatuh tanpa bisa ia hentikan. "Jena capek, Yah. Capek sekali." Ia menunduk, bahunya mulai bergetar karena tangis yang selama ini ia tahan. "Dulu waktu Ayah dan Bunda pergi, Jena pikir Jena masih punya keluarga lain. Jena punya Jovian, punya Tante Sifa, punya Jihan dan Om Bimo." Ia menjeda ucapannya sedetik. "Jena pikir mereka akan selalu jadi rumah untuk Jena."

Senyumnya yang pahit muncul di sela tangisan. "Tapi ternyata Jena salah."

Jena menatap foto kecil kedua orang tuanya yang menempel di batu nisan. "Ayah ... Bunda tahu nggak?" Ia menghela napas panjang.

"Orang-orang yang dulu bilang sayang sama Jena, sekarang bisa tertawa bahagia dengan orang lain di depan Jena. Mereka bahkan nggak sadar kalau Jena terluka." Tangannya menggenggam ujung rok dengan kuat. "Barusan Jena pulang dari rumah keluarga Ardhana. Dan untuk pertama kalinya ... Jena merasa seperti tamu di tempat yang dulu seperti rumah sendiri." Tangisnya pecah semakin keras. "Jovian juga berubah, Yah. Dia bahkan nggak bertanya kenapa Jena pulang lebih cepat. Nggak mengantar Jena, nggak menahan Jena. Seolah kepergian Jena nggak penting lagi." Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Jena takut, Yah ..." Suaranya begitu kecil. "Takut suatu hari nanti semua orang benar-benar melupakan Jena. Takut kalau ternyata selama ini Jena cuma menumpang di kehidupan mereka." Tangisnya kembali memenuhi keheningan makam.

Di tempat yang penuh dengan kehilangan itu, Jena kembali menjadi anak kecil yang merindukan pelukan orang tuanya.

Anak kecil yang ingin mendengar ayahnya berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan untuk beberapa menit, Jena hanya menangis. Membiarkan seluruh rasa sakit, cemburu, kecewa, dan kesepian yang selama ini ia sembunyikan mengalir keluar di hadapan dua orang yang tidak akan pernah menghakiminya. "Ayah, Bunda," bisiknya lagi sambil menyentuh nisan itu pelan. "Semuanya sudah berubah. Dan jika suatu saat nanti Jena harus melepaskan Jovian ... Jena harus bagaimana?" Pertanyaan itu menggantung di udara. Tidak ada jawaban. Hanya embusan angin yang menyapu wajahnya, seolah menjadi satu-satunya pelukan yang masih bisa ia rasakan dari kedua orang yang paling ia rindukan.

1
partini
ortumu mah Very good 👍
Ama Apr: belum tahu dia😂
total 1 replies
Asphia fia
lanjut thor update LBH byk lg💪
Ama Apr: Insya Allah kk
total 1 replies
Nining Sariningsih
wah orang tua yang bijak,,,,,gak kayak keluarga si Jovan yang tonik,cocok thoorrrrrr kalau jena dapat keluarga kayak keluarga pak Trisno ma bunda Laila aku doa in mudah2an jodohnya jena,,,,,semangat thooorrr💪💪💪
Ama Apr: Aamiin, makasih kk🫰
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
namanya unik loh...Obi alias mas Toto 😅
Ama Apr: hahaha, berarti bs aja 2 orh yg beda🤭
total 3 replies
Dartihuti
masya'allah betul ortu yg bijak ...kebahagian yg hakiki lbh utama dr pd gelimangan harta tp hati terasa hampa...harta bisa di cari bersama kebahagian gk akan mampu di beli dng semua yg harta punya aaa...betul " 👍pak Trisnoudah maruk dqn nafsu harta apapun susah tuk menyadarkan kl org dah egois bin srakah
Ama Apr: kan, masih ada orkay yg bijak🫰
total 1 replies
Yeni Astriani
Bimo belum tahu saja kalau Mas Toto itu Obi laki2 yg direndahkan derajat nya oleh anak istrimu kalau ketemu pasti menolak 100%, sebab kelakuan anak istrinya, dan untuk Jihan belum tentu dia masih perawan siapa tau udah jebol duluan melihat pergaulan nya saja begitu sama kaya Michelle
Ama Apr: hihi, kena mental mereka🤣
total 1 replies
partini
wah ternyata ga mulus ya pak Bimo mua main curang Tah jangan" Bimo kepikiran menjebak biar tangung jawab macam obat perangsang mungkin setalah tau siapa anak pak Tris tentu nya
pak Tris ortu yg 👍
Ama Apr: hehe, iya kk
total 3 replies
Andriyati
aku rasa dia punya gangguan mental,,
Ama Apr: michelle kk?
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
terlalu berambisi pengen jodoh in anak nya sama keluarga konglomerat 😏
Ama Apr: betul kk
total 3 replies
Oma Gavin
jangan mau pak trisno temen mu itu licik matre dan sombong
Ama Apr: hoho iya
total 1 replies
Eneng Farida
aduh beneran bkn toto kan anak pak tresno?
Ama Apr: kita lihat nanti
total 1 replies
Dartihuti
Percaya deh dng crita Nikita kl sikap Pak Trisno lbh bijak gk seegois main trima si Bimo main asal jodohi anak hanya buat urusan bisnis...jg bisa bedain sikap org tulus apa fulus
Ama Apr: yap, betull
total 1 replies
partini
semoga ga Jena sama Niki kedepannya ga ada masalah takut nya cinta bertepuk sebelah kaki wehhh🤦
pak Bimo to the point sekali wehhh
pak tri responnya seperti apa yah penasaran langsung gas atau seak seok
Ama Apr: hehe, besok y kk
mau up lagi, nggak keburu🤣
total 3 replies
Amy
semoga pak trisno nggak mau jodohin anaknya sama jihan,,,,tolak mentah2 aja
Ama Apr: wkwkwk
total 1 replies
Dartihuti
Diiih...nafsu amat ingin c4 berbesan orang kaya biar + bonafit biar di pang tak terkalahkan gk tahu tar sok ...Pak Tridno mang kayak anda tuan Bimo yg gila akan sumber kekayaan hingga meremehkan org
Ama Apr: kita buktikan, apa trisno sm gila harta
total 1 replies
Oma Gavin
weleh ngarep banget anaknya bisa tunangan sama anak pak trisno yg sudah kesengsem sama jena jgn harap bisa yg ada kamu terkejut setelah tau jena kerja di perusahaan pak trisno
Ama Apr: hahaha
total 1 replies
partini
sat set sekali mau di jodohin,aihhh ga jadi mendoakan kamu jadi mantu pak tri Jen 🤭
Ama Apr: belum tentu pk tris nya mau🤭
total 1 replies
Yeni Astriani
semoga pak Trisno menolak perjodohan itu sama Jihan jangan Terima keluarga sombong☺☺☺
Ama Apr: wkwkwk, aamiin
total 1 replies
Kota Tegalan
PD BANGET si Bimo 🤣🤣🤣🤣 yg ada ntarr Jihan mewek 😆
Ama Apr: ketawain aja kk
total 1 replies
Dartihuti
Moga di mudahkan ya Jena...
Pak Trisnonya terkesan dng prilaku jg kinerjamu...begitu jg Authour nya🥰
Ama Apr: aamiin, makasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!