Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.
Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.
Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.
Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.
Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.
Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikhlaskan, Allah yang akan Ganti (Part 2)
Flashback On
"Aku sudah bilang berulang kali, aku nggak ada hubungan apa-apa sama Revi. Kenapa kamu masih tidak percaya, Runi?!"
"Kalau begitu, kenapa barang-barangnya ada padamu, Mas?" cecar wanita yang dipanggil Runi.
"Dia nitip ke aku. Hanya nitip! Dengar! Kalau kamu terus cemburu tanpa alasan seperti ini, jangan salahkan aku kalau pergi meninggalkanmu!" teriak lelaki di depan Runi dengan suara lebih tinggi. Tanpa menoleh, lelaki itu meninggalkan Runi yang terduduk di sofa.
Brak!!!
Lelaki itu membanting pintu keras-keras. Dia berjalan dengan amarah menuju garasi. Sementara itu, seorang gadis cantik berjilbab pastel dengan gamis senada tersentak kaget saat mendengar pintu dibanting. Dia merapatkan tubuh ke dinding dan memeluk tasnya erat-erat, berharap lelaki itu tidak menyadari keberadaannya.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil Honda Civic Type R melaju kencang meninggalkan rumah. Satpam rumah besar itu bergegas menutup pintu pagar dan pintu garasi.
Setelah mobil itu menjauh, gadis berjilbab tadi mengendap-endap mendekati pintu rumah dan mengetuknya pelan.
"Mbak ... Mbak Runi. Ini aku," bisiknya.
"Azra ...?"
"Iya, Mbak."
Begitu pintu terbuka, Azra langsung ditarik masuk ke dalam rumah oleh Runi. Berdua mereka duduk berdampingan di sofa ruang tamu.
"Bertengkar lagi? Gara-gara Revi, ya?" tanya Azra sambil mengelus punggung Runi dengan lembut.
"Mbak capek, Zra. Tadi Mbak menemukan barang-barang wanita itu di tas masmu. Itu pun, Mbak baru berani membuka tas Mas Toni setelah dapat pesan WA dari wanita gila itu! Dia menyuruh Mbak mengambilkan flashdisk di tas Mas Toni," ucap Runi dengan emosi tertahan.
"Dan kamu tahu? Tidak hanya flashdisk yang Mbak temukan. Ada lipstik, dua set sikat gigi, dan yang paling bikin Mbak muak, ada pakaian dalam wanita yang sudah dipakai." Runi memandang kosong ke langit-langit ruangan. Azra memeluk Runi erat dari samping, membawa kepala kakak angkatnya itu bersandar di bahunya.
"Seminggu lalu, mamanya Mas Toni datang kemari dan menginap selama tiga hari. Dan kamu tahu? Hampir setiap waktu dia selalu membahas tentang anak." Runi tertawa hambar.
"Seperti biasa, dengan tanpa beban dia bilang ke aku, 'Empat tahun menikah tapi rumah ini masih sepi. Apa gunanya jadi istri kalau bahkan pewaris keluarga saja tidak bisa kau beri?' Dasar wanita mandul, rahim nggak sehat, nggak bisa kasih keturunan, dan bla... bla... bla... Ujung-ujungnya, aku selalu dibandingkan dengan sekretaris jalang itu!" Mata Runi kembali berkabut.
"Dan lucunya, kamu tahu tidak? Sedikit pun Mas Toni tidak membela aku sebagai istrinya." Napas Runi memburu.
"Dia malah ikut memojokkan sampai aku merasa menjadi wanita yang benar-benar buruk dan tak berharga." Tangis Runi yang ditahannya sejak tadi akhirnya pecah.
"Kebayang nggak, Zra? Sakiiit... sakit sekali rasanya..." Runi memukul-mukul dadanya sendiri. Azra segera menahan kedua tangan wanita itu agar tidak melukai dirinya sendiri.
"Padahal Mas Toni sudah berulang kali aku ajak periksa infertilitas, tapi nggak pernah mau. Selalu saja alasannya sibuk. Entah apa yang dia katakan ke mamanya, sehingga mamanya selalu menyalahkan dan menghakimi aku yang mandul!" Runi mendengus, membuang napas kesal di sela isak tangisnya.
Sudah banyak tisu berserakan di lantai. Sementara Azra, seperti biasa, menjadi pendengar yang baik bagi kakak angkatnya. Dibiarkannya Runi menyampaikan seluruh uneg-uneg di hatinya sampai tuntas.
Setelah terdiam beberapa saat...
"Bagaimana skripsimu? Sudah rampung?" tanya Runi mengalihkan topik sambil mengelus bahu Azra.
"Alhamdulillah... iya, Mbak. Insya Allah minggu kedua bulan depan sudah sidang." Azra tersenyum menatap Runi. Lesung pipinya langsung menyembul, menghiasi wajah cantiknya. Runi paling suka dengan senyum Azra. Menenangkan hati, begitu kata Runi setiap kali melihat Azra tersenyum.
"Alhamdulillah... Anak pintar kesayangan Mbak. Semoga lancar sidangnya ya, Cantik. Aamiin... Tidur di sini saja ya malam ini, nggak usah pulang ke kosan. Mas Toni nggak mungkin pulang juga. Temani aku." Azra mengangguk setuju.
Malam makin larut. Azra baru saja terlelap ketika mendengar suara teriakan bersahutan dengan tangisan dari kamar Runi. Dia segera duduk, merapikan pakaiannya, dan menyalakan ponsel. Jarinya bergerak lincah mengetik nomor darurat tertentu, bersiap untuk menekan tombol panggil.
"Apa yang kamu bilang ke Revi?! Kenapa dia marah-marah dan menangis di rumah Mama?!" Toni berteriak kesal kepada Runi.
"Aku tidak bilang apa-apa, Mas! Demi Allah, aku nggak bilang apa-apa sama dia!" Runi membalas ucapan Toni dengan teriakan di sela isak tangisnya.
Azra gemetar di kamarnya. Dia kembali mendengar pertengkaran hebat kakak angkatnya. Azra merasa bahwa badai rumah tangga Runi malam ini akan mencapai klimaksnya. Sambil memegang ponselnya erat-erat, dia bersiap untuk menjaga keselamatan diri dan kakak angkatnya bila terjadi sesuatu yang buruk.
"Keluar kamu dari rumah ini! Sekarang juga, keluar!" teriak Toni sambil menyeret tubuh Runi keluar kamar. Dia menghempaskannya keras ke pintu hingga menimbulkan suara benturan keras dan disusul teriakan kesakitan dari mulut Runi.
Azra terkesiap, urat-uratnya menegang. Seketika itu juga dia meraih tasnya, lalu menyambar sapu di sudut kamar. Perlahan dia membuka pintu. Matanya terbelalak saat melihat Toni hendak melayangkan tinju ke arah Runi.
"Menjauh dari Mbak Runi!!" teriak Azra.
Secepat kilat dia berlari ke arah Toni, lalu memukul kepala bagian belakang lelaki itu dengan gagang sapu sekuat tenaga. Toni terhuyung ke samping tanpa sempat menghindar, lalu terjatuh di sofa.
"Hei... dasar wanita brengsek!" Toni mengumpat sambil memegangi kepalanya yang berdenyut hebat.
Azra tidak mempedulikannya. Tanpa pikir panjang, Azra menarik lengan Runi dan membawanya lari meninggalkan rumah. Mereka berlari sejauh mungkin, menjauhi lelaki yang telah menjadi suami Runi selama empat tahun itu.
Runi menggenggam erat tangan Azra dengan linangan air mata yang tiada henti. Mereka berdua berlari menyusuri gelapnya malam tanpa alas kaki. Mereka tidak peduli lagi. Saat ini, hanya keselamatan diri yang mereka cari.
Flashback Off
Genggaman tangan di malam kelam itu seolah masih menyisakan hangat di jemari Azra. Tepukan halus di pundak seketika membuyarkan lamunannya, menariknya kembali ke bangku taman Puskesmas yang sejuk.
Azra menoleh. Pak Kades dan Bu Kades sudah berdiri di dekatnya. Wajah sepuh mereka masih basah oleh sisa air wudu. Azra bergegas bangkit, menyunggingkan senyum hormat.
"Terima kasih, ya, Nduk. Sudah menyelamatkan mbakmu lagi," ujar Bu Kades menghampiri Azra dan memeluknya hangat.
"Saya hanya membantu, Bu. Maaf, calon cucu Ibu tidak bisa diselamatkan." bisik Azra lirih, menyuarakan penyesalan yang sedari tadi mengganjal di dadanya.
"Ora popo, Nduk. Ora popo. Sudah takdir. Kamu sudah berupaya yang terbaik buat mbakyumu," hibur Pak Kades sembari menepuk-nepuk bahu Azra, berusaha tegar meski matanya sendiri berkaca-kaca.
"Iya, doakan saja mbakyumu cepat pulih dan bisa melanjutkan aktivitasnya. Menata hidupnya lagi." Bu Kades melepaskan pelukannya, lalu menggandeng Azra untuk duduk di bangku taman.
"Arunika sudah siuman. Dia tidak mau bicara dengan siapa pun. Dengan Lukman juga tidak mau bicara. Kalau kamu sudah tidak sibuk, tolong temui mbakyumu, ya. Jam dua siang nanti Sekar baru bisa ke sini. Dia sudah terlanjur ada janji dengan klien hari ini."
"Inggih, Bu. Insya Allah akan saya temani. Tidak apa-apa Mbak Arun istirahat di sini sama saya. Sudah lama juga tidak mengobrol dengan Mbak Arun," jawab Azra sambil menyeka air mata yang mengalir di pipi tirus Bu Kades.
"Makasih, ya, Nduk... sekali lagi terima kasih."
"Sudah, Bu. Jangan menangis terus. Azra, kami pamit dulu. Ada urusan yang harus kami selesaikan di desa. Tadi langsung saya tinggal ke sini begitu mendengar kabar Arun jatuh."
"Inggih, monggo, Pak. Dilanjut saja. Insya Allah Mbak Arun segera membaik." Azra memeluk Bu Kades sekali lagi.
Sepasang suami istri itu berjalan meninggalkan taman Puskesmas menuju tempat parkir. Lukman, suami Arunika, sudah menunggu di mobil. Dia diminta untuk pulang dulu dan baru kembali untuk menjaga istrinya nanti malam. Selain itu, Raden Sastro dan istrinya ingin memberikan ruang dan waktu bagi Azra dan Arunika untuk saling berbagi rasa dan cerita.