NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16 : Liontin Perak

Di dalamnya hanya terdapat kantong-kantong sampah medis. Anggota Moretti memeriksanya satu per satu, tidak ada yang mencurigakan.

Petugas itu mulai bernapas lega, namun saat hendak pergi...

"Sepatumu."

Petugas itu langsung menegang. "Apa?"

"Angkat kakimu."

Perlahan ia mengangkat salah satu kaki, telapak sepatunya dipenuhi lumpur hitam pekat.

Anggota Moretti saling berpandangan. "Di mana kau mendapatkan lumpur ini?"

Petugas itu gugup. "A-aku tidak tahu."

Brak!

Dalam satu gerakan cepat, salah seorang pengawal membanting pria itu ke lantai.

"Aaagh!"

Tangannya langsung dipelintir ke belakang.

Petugas itu berteriak kesakitan.

"Jangan! Jangan!"

Johan datang menghampiri. "Apa yang terjadi?"

"Orang ini memakai sepatu dengan lumpur yang sama seperti yang Don lihat."

Tatapan Johan berubah tajam. "Bawa dia."

"Baik."

Namun tepat ketika mereka hendak menyeretnya, pria itu tiba-tiba tertawa pelan. "Hehehe.."

Johan mengernyit. "Kenapa kau tertawa?"

Pria itu mengangkat wajahnya perlahan. "Sudah terlambat."

"Apa maksudmu?"

Senyumnya semakin lebar. "Kalian tidak akan pernah menemukan kebenarannya."

Mata Johan menyipit. "Siapa yang menyuruhmu?"

Pria itu tidak menjawab. Sebaliknya, ia menggigit sesuatu yang tersembunyi di dalam mulutnya.

"Aaaa!" Seorang perawat berteriak.

Darah hitam mengalir dari sudut bibir pria itu.

"Racun!"

Johan langsung berlutut. "Hei!"

Namun semuanya sudah terlambat. Beberapa detik kemudian tubuh pria itu kejang hebat sebelum akhirnya terkulai tak bergerak. Koridor kembali dipenuhi keheningan.

Johan mengepalkan kedua tangannya. "Sial..."

Saat itulah Adrian keluar dari kamar Anton. Tatapannya jatuh pada jasad petugas kebersihan itu.

Tanpa sedikit pun perubahan ekspresi, ia berkata pelan, "mereka lebih memilih mati daripada tertangkap."

Johan mengangguk pelan. "Organisasi ini jauh lebih terlatih daripada yang kita duga."

Adrian menatap ke arah jendela koridor. Langit mulai berubah gelap. "Kalau begitu..." Ia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Carlo.

"Carlo."

"Ya Don."

"Mulai sekarang ubah status keamanan Mansion Moretti menjadi Tingkat Merah."

Carlo terdiam sejenak. "Tingkat Merah?"

"Ya."

"Itu berarti..."

"Mulai malam ini," suara Adrian terdengar dingin namun tegas, "Aurora tidak boleh berada sendirian, bahkan untuk satu menit pun."

"Dimengerti, Don."

Adrian mengakhiri panggilan. Ia menatap jauh ke arah pegunungan yang mulai diselimuti senja. Dalam hati ia menyadari satu hal. Musuh yang mereka hadapi bukan lagi sekadar orang yang mencari Aurora. Melainkan organisasi bayangan yang telah merencanakan semuanya selama puluhan tahun.

Sementara itu...

Mansion Moretti yang biasanya tenang kini berubah menjadi jauh lebih sibuk. Suara langkah kaki para petugas keamanan terdengar silih berganti di setiap koridor. Beberapa orang memasang alat pemindai tambahan di pintu masuk, sementara yang lain memeriksa seluruh kamera pengawas.

Lampu indikator di ruang pusat keamanan berkedip tanpa henti. Carlo berdiri di tengah ruangan sambil memberikan instruksi.

"Tim Alpha, periksa seluruh pagar luar."

"Siap."

"Tim Bravo, aktifkan sensor gerak di taman belakang."

"Siap."

"Tim Charlie, mulai patroli setiap lima belas menit."

"Dimengerti."

Tak lama kemudian, salah seorang petugas menghampiri Carlo. "Tuan Carlo."

"Ada apa?"

"Seluruh sistem keamanan Tingkat Merah sudah aktif."

Carlo mengangguk puas.n"Pastikan tidak ada satu titik pun yang kosong."

"Baik."

Di lantai tiga...

Aurora baru saja selesai membaca beberapa halaman buku sejarah keluarga Moretti ketika suara ketukan terdengar.

Tok... tok...

"Masuk."

Pintu terbuka perlahan.

Isabel masuk bersama dua wanita berpakaian hitam putih yang belum pernah Aurora lihat sebelumnya.

Aurora langsung berdiri. "Kak Isabel?"

Isabel tersenyum kecil. "Mulai malam ini, mereka akan membantu kebutuhanmu."

Aurora memandang kedua wanita itu bergantian. "Apakah mereka pelayan baru?"

"Kurang lebih seperti itu."

Kedua wanita itu membungkukkan badan bersamaan. "Selamat malam, Nona Aurora."

Aurora segera membalas dengan canggung. "Selamat malam." Ia kembali menoleh kepada Isabel. "Tapi... bukankah sebelumnya hanya Kak Isabel yang menemaniku?"

Isabel mengangguk. "Itu sebelum status keamanan berubah."

Aurora sedikit terkejut."Berubah?"

"Don Muda baru saja menaikkan status keamanan mansion menjadi Tingkat Merah."

Aurora terdiam sejenak.

"Mulai sekarang, Anda tidak boleh sendirian."

Aurora tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Memangnya aku ini anak kecil?"

Tak seorang pun tertawa.

Melihat ekspresi serius mereka, senyum Aurora perlahan menghilang. "Kalian... serius?"

Isabel mengangguk pelan. "Sangat serius."

Aurora menghela napas. "Baiklah..."

Di saat yang sama...

Sebuah mobil SUV hitam melaju pelan melewati jalan raya yang mengarah ke Zurich.

Di dalamnya, Johan masih membaca laporan terbaru. "Don, hasil pemeriksaan awal terhadap jasad Anton sudah keluar."

"Apa kata dokter forensik?" tanyanya sambil menatap Johan.

"Dia bukan terkena serangan jantung alami."

Adrian tidak tampak terkejut. "Lalu apa yang terjadi?"

"Ditemukan racun dalam jumlah sangat kecil yang mampu memicu gagal jantung hanya dalam beberapa menit."

Adrian memejamkan mata sejenak. "Jejaknya bagaimana?"

"Hampir tidak ada." Johan mengembuskan napas. "Kalau bukan karena Don melihat bekas suntikan itu, semua orang pasti menganggap kematiannya alami."

Adrian membuka matanya kembali. "Itulah tujuan mereka."

Johan mengangguk dan berkata. "Mereka tidak hanya ingin membunuh, mereka ingin menghapus semua bukti."

Beberapa detik kemudian, ponsel Johan kembali berdering. Ia segera mengangkatnya. "Ya?" Wajahnya perlahan berubah serius. "Apa kau yakin? Baik. Terus awasi."

Telepon ditutup.

Adrian menoleh padanya. "Apa ada perkembangan?"

"Ya, Don."

"Cepat katakan," ucap Adrian dengan wajah serius.

"Tim kita menemukan rekaman CCTV," jelas Johan.

"CCTV dari mana?" tanyanya lagi, ia berusaha memastikan.

"Dari pom bensin sekitar tiga kilometer dari panti jompo." Johan membuka tablet lalu menyerahkannya. "Lima belas menit sebelum Anton meninggal, sebuah sedan abu-abu berhenti di sana."

Adrian memperhatikan layar itu, mobil tersebut tampak biasa saja. Namun, tatapannya berhenti pada pelat nomor kendaraan.

"Apakah plat itu palsu?" tanyanya.

Johan mengangguk. "Benar Tuan, sudah kami cek."

Adrian terus memperhatikan rekaman. Kemudian, seorang wanita turun dari kursi belakang. Ia mengenakan mantel panjang, topi lebar, dan masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya.

Namun saat wanita itu menoleh sesaat ke arah kamera... Adrian menghentikan video. "Perbesar."

Johan segera melakukannya. Gambar memang buram, tetapi ada satu hal yang terlihat jelas. Di leher wanita itu tergantung sebuah liontin perak berbentuk bunga lily.

Ruangan di dalam mobil mendadak sunyi. Johan memandang Adrian. "Don..."

Adrian tidak menjawab, tatapannya tetap terpaku pada liontin itu. Bentuknya sama persis dengan kalung yang pernah dikenakan Aurora saat masih kecil di foto panti asuhan.

Perlahan rahang Adrian mengeras. "Itu bukan hanya kebetulan."

Johan ikut menegang. "Berarti wanita ini..."

Adrian menatap kembali rekaman tersebut. "Dia mengetahui masa lalu Aurora."

Kini Adrian merasa mereka bukan lagi mengejar bayangan. Mereka akhirnya menemukan jejak yang benar-benar mengarah kepada orang yang selama bertahun-tahun bersembunyi di balik semua misteri. Dan jejak itu... semakin dekat dengan Aurora.

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!