Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10
#10
Menjelang subuh, Dinda terbangun karena mendengar getaran ponselnya, wanita itu bangkit perlahan, agar tak membangunkan Eyang Tuti yang masih terlelap.
Dinda mengendap-endap keluar dari kamar tamu yang sementara ini menjadi tempat istirahat Eyang Tuti. Langkahnya terhenti di depan pintu samping yang menghubungkan area dalam rumah dengan taman mungil yang ada di sana.
“Mbak, dimana?!” pekik Dara sebelum Dinda mengucap sapaan.
“Di rumah Mas Bagas.”
“Hah?! Nginep di sana?! Nekat, ya, Mbak Dinda ini.”
Dinda memijat pelipisnya, ia pun bimbang, terombang ambing antara iya dan tidak. Entah langkahnya benar atau salah di mata Tuhan, tapi Dinda tulus, murni ingin membahagiakan Eyang, meski setiap tarikan nafasnya terasa berat setiap kali melihat ke arah pintu kamar Abel.
“Bukan nekat, tapi aku kasihan sama Eyang Tuti, sakit jantungnya sudah parah, ditambah penyakit demensia yang kadang membuat orang-orang di sekitarnya harus terus memanjangkan sumbu kesabaran.”
“Memang Eyang Tuti minta apa?” tanya Dara gemas.
“Eyang ingin menginap dua bulan di rumah yang dulu ku tempati bersama Mas Bagas,” jawab Dinda lesu.
Adara terkekeh, “Mbak, Mbak, itu, sih, bukan menginap namanya, tapi pindahan!”
“Entah ini benar atau tidak, aku tak tahu lagi, Ra. Mama gimana, nanyain aku nggak?” Dinda mengalihkan topik pembicaraan.
“Iya, lah, masa anak sulung kesayangannya Gak di tanyain.”
“Terus, kamu jawab apa?”
“Apalagi, ya jawaban paling netral, Mbak lagi sibuk di butik, kemungkinan nginep. Untungnya Mama percaya.”
Dinda menghembuskan nafas lega, “Syukurlah, nanti malam, Mbak usahakan pulang. Semoga nggak ada drama sama Eyang.”
“Baiklah, Mbak mau ku bawain baju ganti?” tanya Dara sebelum mengakhiri panggilan.
“Huum, boleh, deh. Beberapa aja, untuk cadangan di butik.”
“Oke, deh. Oh iya, Mbak—”
“Apalagi?”
“Jangan sampai salah masuk kamar Mas Bagas, hahaha, kan, gawat kalau annu dan anni,” ledek Dara.
“Adara Prameswari!”
“Bye, Mbak. Salam buat Mas Bagas.”
Dara segera mematikan ponselnya, sebelum Adinda mengomel panjang.
Dinda terpekur menatap layar ponselnya sejenak sebelum suara itu datang dan mengejutkannya.
“Kok, di tempat gelap?” Entah sejak kapan Bagas duduk di sofa, mungkin pria itu mendengar percakapannya dengan Dara.
Dinda menoleh sinis, “Terima telepon saja, gak perlu lampu.”
Meski remang-remang, hanya diterangi lampu taman, tapi Bagas ingin bisa melihat wajah Dinda dengan jelas, jadi pria itu mencondongkan tubuhnya agar bisa memandang Dinda lebih dekat lagi. “Jam 8 dokter jantungnya eyang akan datang, pada saat itulah aku akan mengatakan segalanya—”
“Dua bulan, hanya dua bulan saja, aku akan mengikuti apa maunya eyang.” Dengan kecamuk perasaannya yang tak menentu Dinda menyetujui permintaan Eyang Tuti.
Fiks, Dinda bukan hanya masuk dalam perangkap yang dipasang keluarga Samudera, tapi dengan sukarela menceburkan diri ke dalam permainan yang tak tahu kapan akan berakhir. Semoga benar hanya dua bulan saja.
Kedua mata Bagas melebar, tubuhnya pun secara reflek kembali tegak. “Maksudmu, Dind?” tanya Bagas mencoba memastikan apa yang baru saja ia dengar.
“Kau tahu apa maksudku, Mas! Puas?”
Bagas berdehem, tetap berusaha cool, padahal hatinya jumpalitan koprol kanan kiri jungkir balik tak karuan seperti kera sakti. “Padahal aku sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk,” katanya santai, demi menutupi perasaan bahagia yang menyelimuti hatinya.
Dinda berdecih, “Kalian semua benar tega sama eyang, jika eyang tahu, dia pasti kecewa dengan sikap kalian.”
“Demi kebaikan, Dind.”
“Terus aja begitu alasannya.” Nada suara Dinda sedikit lebih tinggi, geram juga sebab hanya itu alasan yang Bagas kemukakan. “Seandainya sejak awal Mas, Mbak Tari, Papa dan Mama mau jujur sama Eyang, pasti masalahnya tak akan separah ini.”
Bagas meraup wajahnya kasar, “Ini upaya terbaik yang bisa aku lakukan, Dind. Beberapa bulan sebelum Eyang divonis demensia, Eyang selalu menangis dan menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa ikut berperan menjaga Abel pada saat itu. Malahan meminta kita menjaga Biandra yang saat itu sedang dalam kondisi mental tak stabil.”
“Eyang menyalahkan dirinya setiap hari, apalagi kamu benar-benar menutup diri dan keberadaanmu pada kami. Seolah tak pernah ada masa lalu diantara kita.”
Nafas Bagas naik turun, dadanya bergemuruh ketika mengingat pahitnya perpisahan mereka. Dinda pergi begitu saja setelah hakim mengetuk palu pengesahan, padahal Bagas sudah memintanya tetap tinggal hingga masa iddahnya berakhir. Tapi hal sederhana itu pun tak bisa Dinda turuti.
Jika tak memikirkan keberadaan Eyang Tuti, tentu pada saat ini, mereka akan saling berteriak seperti dulu. “Aku pun sama sepertimu, tak tega melakukan kebohongan ini, tapi aku tak berdaya, karena rasa sayangku pada Eyang terlalu besar.”
Dinda melengos, tak sanggup lagi menatap wajah Bagas yang kini bertabur kesedihan. Dinda tahu kali ini Bagas tidak sedang berbohong. “Dua bulan, Mas. Itu batas toleransi maksimal yang bisa kuberikan. Selama dua bulan kedepan, aku akan bersandiwara, berperan sebagai istrimu. Tapi malam hari aku akan pulang ke rumah, dan esok pagi-pagi aku datang sebelum Eyang bangun.”
Terlepas dari semua masalah yang akan timbul nantinya, Bagas sangat bahagia mendengar keputusan Dinda. Pria itu mendekat lalu menangkup wajah Dinda. “Terima kasih, Dind. Aku berhutang budi padamu, dan tak akan pernah melupakan jasamu ini.”
•••
Di tempat lain.
“Nggak jadi, Dok?”
“Hmm, Pak Bagas membatalkannya, tapi, sewaktu-waktu ia mungkin butuh bantuanmu. Jadi, aku sudah memberikan nomor ponselmu pada beliau.”
“Siap, Dok. Terima kasih sudah percaya padaku.”
Setelah panggilan Dokter Kris berakhir, Dokter Dewi Candra Kirana meletakkan ponselnya kembali. Ia sudah bersiap untuk menggantikan Dokter Bagas yang satu minggu kedepan ada acara seminar di Kalimantan Barat.
“Aku bisa bermain dulu dengan Alisha, karena tak harus berangkat pagi di hari pertamaku bekerja,” gumam Candra senang.
“Alisha—”
“Iya, Mi—” sahut Alisha yang rambutnya sedang disisir oleh pengasuhnya.
Alisha menoleh ketika sang mami sudah bersandar di kusen pintu kamar. “Mami nggak jadi berangkat pagi?”
“Nggak, dong. Doa anak Mami memang manjur, pasiennya langsung sehat, jadi Mami gak perlu datang.”
“Ye!!” Alisha melonjak bahagia.
“Non, jangan lompat dulu, kepangnya jadi miring, kan?” keluh sang pengasuh.
Tapi Alisha mengabaikannya, “Nggak papa, Mbak Nani, biar Mami yang benerin.”
“Iya Mbak. Biar aku yang benerin. Tolong siapin sarapan Alisha, ya?”
“Baik, Bu.”
Dengan patuh, Mbak Nani pun beranjak pergi ke dapur, menyiapkan sarapan untuk majikan kecilnya.
“Jadi, mami bisa anterin aku, kan?” tanya Alisha berharap maminya bersedia mengantarnya pergi ke playgroup di hari pertama masuk sekolah.
“Bisa, dong. Apa, sih, yang nggak buat anak Mami, hmm?” jawab Candra sementara kedua tangannya merapikan kepang rambut putri kecilnya.
Alisha memeluk sang mami erat-erat, “Jadi nggak sabar pengen cepet hari libur.”
“Emang mau apa di hari libur?”
“Mau main, dong. Kan, Mami bilang, di Jakarta ada banyak wahana permainan yang seru ketimbang di Yogya,” bisik Alisha malu-malu.
“Dih, bener, kan, ada maunya, makanya peluk-peluk Mami.” Candra menggelitik perut Alisha, gadis kecil itu tergelak di pelukan maminya.
“Ampun, Mami. Geli—” Alisha menggeliat meronta, karena serangan rasa geli yang menjalar di seluruh permukaan kulit perutnya.
aku lupa nama Kaka nya bagas