NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Perlindungan Sang Majikan

Suasana di depan gerbang menjadi hening seketika. Paman Surya dan Bibi Rina menatap Aldo dari ujung kaki hingga kepala, matanya berbinar melihat penampilan mewah dan wibawa yang terpancar dari pria itu. Namun, di balik rasa kagum, masih tersimpan niat serakah yang tidak kunjung hilang.

Aldo melangkah mendekat, berdiri tepat di samping Naura. Tatapannya yang tajam tertuju pada kedua orang asing itu, membuat mereka merasa sedikit ciut meski berusaha tetap terlihat berani.

"Saya tanya sekali lagi. Kalian siapa? Dan apa urusan kalian datang ke sini membuat keributan?" tanya Aldo dengan nada dingin dan tegas, suaranya terdengar berwibawa hingga membuat bulu kuduk meremang.

Bibi Rina segera menyunggingkan senyum palsu, berusaha terlihat sopan. "Kami ini paman dan bibinya Naura, Tuan. Kami datang hanya untuk menjenguknya sekaligus membicarakan soal tanggung jawabnya sebagai anak yang berterima kasih. Selama ini kami membesarkannya, jadi sudah sepantasnya dia memberi sebagian penghasilannya untuk kami."

Aldo menoleh sekilas ke arah Naura, lalu kembali menatap kedua orang itu. "Benarkah begitu, Naura?" tanyanya singkat.

Naura menunduk, suaranya bergetar namun tegas. "Tidak sepenuhnya benar, Tuan. Mereka memang yang mengasuh saya setelah orang tua saya tiada, tapi selama ini saya selalu bekerja keras untuk membiayai hidup saya sendiri dan sekolah. Bahkan gaji saya yang sebelumnya selalu mereka ambil paksa tanpa sisa. Sekarang saya sudah punya tempat tinggal dan pekerjaan sendiri, saya berharap mereka tidak mengganggu lagi."

Mendengar penjelasan itu, raut wajah Aldo semakin dingin. Ia sudah bisa menilai situasi yang sebenarnya. Sebagai orang yang terbiasa berurusan dengan berbagai karakter orang dalam dunia bisnis, ia dengan mudah melihat keserakahan yang terpancar dari mata Paman Surya dan Bibi Rina.

"Jadi maksud kalian datang ke sini hanyalah untuk memeras uang darinya?" tanya Aldo dengan nada dingin yang menusuk.

Paman Surya langsung membalas dengan nada tinggi. "Tidak memeras! Itu hak kami! Kalau dia tidak mau memberi, kami akan laporkan dia ke polisi sebagai anak tidak tahu berterima kasih, atau sebarkan berita buruk tentangnya di mana-mana! Majikan macam apa yang membiarkan pekerjanya tidak punya rasa hormat pada keluarga sendiri?"

Ancaman itu membuat Naura merasa takut. Ia tahu betul, kedua orang itu mampu melakukan hal-hal rendah untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun, sebelum ia sempat merasa putus asa, Aldo justru tersenyum tipis—senyum yang bukan tanda persahabatan, melainkan senyum yang penuh tekanan.

"Cobalah lakukan hal itu," tantang Aldo dengan tenang namun penuh ancaman. "Saya Aldo Pratama, pemilik Grup Pratama. Kalian pikir ancaman kosong seperti itu bisa membuat saya takut? Kalau kalian berani menyebarkan berita bohong atau mengganggu ketenangan di sini, saya akan pastikan kalian tidak bisa bekerja atau hidup tenang di kota ini. Hukum dan jalur yang saya miliki lebih dari cukup untuk membuat kalian menyesal telah berbuat sembarangan."

Nama Aldo Pratama jelas sudah tidak asing di telinga mereka. Paman Surya dan Bibi Rina saling pandang, wajah mereka memucat. Mereka baru sadar bahwa gadis yang mereka anggap tidak berdaya itu kini bekerja di rumah orang yang memiliki kekuasaan besar. Ancaman mereka tiba-tiba terasa tidak berarti apa-apa.

"Tapi... tapi dia tetap keluarga kami..." gumam Bibi Rina dengan nada tidak yakin.

"Keluarga yang datang hanya saat butuh uang? Maaf, menurut saya kalian tidak pantas disebut keluarga. Mulai hari ini, jangan pernah menginjakkan kaki di tempat ini lagi. Kalau masih berani datang atau mengganggu Naura, saya tidak akan segan mengambil tindakan hukum. Mengerti?" tegas Aldo tanpa memberi ruang untuk berdebat.

Paman Surya dan Bibi Rina merasa tidak berdaya. Mereka tahu mereka tidak akan menang melawan orang sekaya dan sekuat Aldo. Dengan wajah cemberut dan hati penuh dendam, mereka akhirnya memutar balik motornya dan pergi sambil menggumamkan kata-kata kasar yang tidak jelas.

Setelah mereka pergi, suasana kembali hening. Naura masih berdiri di tempatnya, merasa lega sekaligus terharu. Ini adalah pertama kalinya ada orang yang berdiri membela dirinya dengan sekuat tenaga. Selama ini ia selalu sendirian menghadapi tekanan hidup.

"Terima kasih banyak, Tuan Aldo. Kalau tidak ada Tuan, saya pasti tidak tahu harus berbuat apa lagi," ucap Naura dengan suara lembut, matanya berkaca-kaca menahan rasa haru.

Aldo menatapnya sebentar, lalu mengalihkan pandangan. "Saya tidak melakukannya semata-mata untukmu. Kalau mereka terus datang membuat keributan, itu akan mengganggu ketenangan rumah ini dan urusan saya. Lagi pula, saya tidak suka orang yang berbuat curang dan memeras orang lemah."

Meskipun nadanya tetap dingin dan seolah tidak peduli, hati Naura bisa merasakan ketulusan di balik kata-katanya. Ia mengangguk pelan. "Tetap saja, saya sangat berterima kasih. Saya janji akan bekerja lebih giat lagi agar Tuan tidak menyesal telah mempekerjakan saya."

Aldo hanya mengangguk singkat lalu berjalan masuk kembali ke dalam rumah. Namun, sejak kejadian itu, ada perubahan kecil dalam sikapnya. Ia tidak lagi bersikap sepenuhnya acuh tak acuh. Kadang-kadang, saat melewati dapur, ia akan bertanya apakah persediaan makanan masih cukup, atau mengingatkan Naura untuk beristirahat jika terlihat lelah.

Suatu sore, saat hujan turun sangat deras disertai angin kencang, salah satu genteng di bagian belakang rumah bocor. Naura berusaha memperbaikinya sendiri dengan tangga sederhana, takut mengganggu Aldo yang sedang sibuk di ruang kerja. Namun, karena lantai di atas licin terkena air, kakinya tergelincir dan tubuhnya terjatuh. Untungnya ia bisa berpegangan pada tiang penyangga sehingga tidak jatuh ke tanah, namun pergelangan tangannya terkilir dan terasa sangat sakit.

Suara benda jatuh membuat Aldo keluar dari ruang kerjanya. Ia melihat Naura sedang memegang pergelangan tangannya dengan wajah menahan sakit, berdiri di dekat tangga yang terbalik. Tanpa berpikir panjang, Aldo segera mendekat.

"Apa yang kamu lakukan? Mau bunuh diri?" bentaknya, meski nada bicaranya terdengar khawatir. Ia segera memegang pergelangan tangan Naura dengan hati-hati. "Ini bengkak. Kamu harus diobati."

"Tidak apa-apa, Tuan. Ini hanya terkilir sedikit. Saya bisa mengompresnya sendiri nanti," tolak Naura pelan, tidak mau merepotkan.

"Tidak boleh dianggap remeh. Ayo, ikut saya," perintah Aldo tegas. Ia membawa Naura masuk ke dalam rumah, meminta dia duduk di sofa ruang tengah, lalu mengambil kotak obat dari lemari. Dengan gerakan yang tidak terduga hati-hati, ia mengoleskan obat pereda nyeri dan membalut pergelangan tangan Naura dengan perban.

Naura hanya diam menatapnya. Ia tidak menyangka pria yang terlihat sedingin es itu bisa bersikap selembut ini. Jantungnya berdebar aneh, perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Sekarang istirahatlah. Jangan angkat beban berat selama beberapa hari. Saya akan minta asisten saya mengirim orang untuk memperbaiki genteng itu besok pagi," kata Aldo setelah selesai, lalu berdiri dan menyingkirkan peralatan obat.

"Terima kasih, Tuan Aldo..." ucap Naura pelan.

Aldo menoleh sebentar, lalu berjalan pergi sambil berkata singkat, "Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau ada masalah, bilang saja."

Hari-hari berikutnya berlalu dengan lebih tenang. Naura semakin terbiasa dengan lingkungan barunya, dan Aldo perlahan mulai merasa nyaman dengan kehadiran gadis itu. Ia merasa rumahnya yang selama ini terasa sepi dan dingin, kini terasa sedikit lebih hangat. Bahkan, di kantor pun, rekan kerja dan asisten pribadinya mulai menyadari ada perubahan pada sikap bos mereka.

"Pak Aldo, laporan rapat minggu depan sudah disiapkan," lapor Rina, asisten pribadi Aldo, suatu hari. Ia menatap bosnya yang sedang duduk di kursi besar sambil memegang pulpen, namun pandangannya kosong seolah sedang memikirkan sesuatu.

"Eh? Iya, taruh saja di meja," jawab Aldo agak terkejut, seolah baru sadar berada di ruang kerjanya sendiri.

Rina mengernyitkan dahi heran. Sudah beberapa hari ini, bosnya sering terlihat melamun, dan sesekali bahkan tersenyum tipis tanpa sadar—sesuatu yang sangat jarang terjadi. Biasanya Aldo selalu fokus dan serius pada pekerjaan.

"Apakah ada yang mengganggu pikiran Bapak? Apakah ada masalah dengan proyek baru?" tanya Rina berani.

Aldo menggeleng pelan. "Tidak ada. Hanya sedikit lelah saja. Kamu boleh keluar."

Namun, setelah asistennya pergi, Aldo kembali menatap ke luar jendela gedung pencakar langit. Bayangan wajah Naura, senyumnya yang sederhana, dan ketabahannya selalu terlintas di pikirannya. Ia mulai menyadari sesuatu yang asing dalam hatinya—sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan terhadap wanita mana pun.

Sementara itu, di rumah, Naura juga merasakan hal yang sama. Setiap kali Aldo pulang larut, ia merasa cemas menunggu. Setiap kali Aldo berbicara dengannya, hatinya berdebar tidak karuan. Ia sadar ada perasaan yang tumbuh di hatinya, namun ia segera menepisnya. Bagaimana mungkin seorang gadis miskin sepertinya bisa berharap pada seorang CEO kaya dan berkuasa seperti Aldo? Jarak di antara mereka terlalu jauh.

Namun, takdir berkata lain. Perasaan itu perlahan tumbuh semakin kuat, dan keduanya tidak bisa lagi menyangkalnya.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!